
Kenapa kamu masih di sini?" tanya Ana lagi membuat Yudha menatap Ana heran
"Memangnya kenapa kalau aku di sini?" tanya Yudha heran, Ana menatap Yudha jengkel
"Kamu tidak mau kembali ke kamar kamu sendiri?" tanya Ana lagi, Yudha menatap Ana dengan heran
"Ini adalah kamar ku Ana," jawab Yudha santai membuat Ana kaget
"Jadi kamu membawa aku ke kamar kamu? Bukannya kamar tamu?" tanya Ana dengan tatapan tidak percaya, Yudha tersenyum geli
"Tidak ada kamar tamu di rumah ini An, lebih tepatnya tidak ada kamar tidur lainnya, satu-satunya kamar tidur di rumah ini hanya kamar ini," jelas Yudha santai membuat Ana membelalakan mata tidak percaya, tidak percaya kalau hanya ada satu kamar tidur di rumah Yudha
"Jadi semalam kamu tidur di kamar ini?" tanya Ana dengan tatapan tidak percaya
"Tentu, memangnya aku harus tidur di mana lagi selain di kamar ini?" tanya Yudha santai membuat Ana kaget sekaligus jengkel
"Kamu tidur di sova itu?" tanya Ana penuh harap sambil menunjuk ke arah sova yang tengah Yudha duduki
"Tidak Ana, aku tidur di sana, tepat di sebelah kamu," jawab Yudha santai sambil menunjuk ke arah ranjang yang tersisa di sebelah Ana, Ana refleks menoleh ke samping dan mendapati bahwa ranjang di sebelahnya kusut, tanda bahwa tempat itu pernah di tiduri seseorang, Ana menoleh ke arah Yudha lagi dengan tatapan tidak percaya
"Jadi kita tidur bersama?" tanya Ana nyaris berteriak membuat Yudha tertawa terbahak-bahak, Ana kali ini berharap bahwa Yudha bercanda saat mengatakan bahwa Yudha tidur di sebelah Ana semalam, Yudha menghentikan tawanya dengan susah payah
"Tenanglah An, tidak terjadi apapun, kita hanya tidur, benar-benar tidur, sungguh, aku tidak melakukan apapun terhadap kamu," ujar Yudha meyakinkan membuat Ana menghembuskan nafas pelan, menyerah, setidaknya meskipun terkenal sebagai pria yang sering berganti-ganti pasangan, tapi Yudha selalu menghargai Ana, atau bisa Ana ambil kesimpulan Yudha sama sekali tidak tertarik kepada gadis seperti dirinya
Ana melirik jam dinding yang menunjukan pukul 11, setidaknya Ana masih ingat kalau hari ini adalah hari minggu, jadi Ana tidak tergesa-gesa pergi berkerja
Pintu ruangan terbuka lebar bersamaan dengan sebuah suara wanita yang lembut
"Yudha sayang," wanita itu langsung menghentikan langkahnya di ambang pintu dengan tatapan yang sangat kaget, melihat Yudha dan Ana secara bergantian, Ana tentu saja juga kaget dengan kemunculan wanita anggun itu, Yudha bahkan langsung berdiri tegak saat menyadari siapa yang membuka pintu kamarnya tanpa mengetuk terlebih dahulu
"Kenapa mama tidak menelpon dulu kalau mama mau ke rumah Yu.." ucapan Yudha terhenti saat wanita itu menampar pipi kiri Yudha dengan sangat kencang, membuat wajah Yudha sampai menoleh ke arah kanan, Ana menatap kejadian itu engan sangat kaget, Ana beranjak turun dari ranjang dan berdiri tegak, sementara Yudha meraba bekas tamparan ibunya, dan menatap ke arah ibunya dengan bingung
"Ada apa ini ma?" tanya Yudha ingin tau, mama Yudha menatap Yudha dengan marah
"Ada apa?! Kamu masih nanya ada apa?! Kamu kali ini benar-benar keterlaluan ya Yud! Mama selama ini tidak masalah saat kamu bermain-main dengan pacar-pacar kamu, karena mama yakin mereka juga bukan wanita baik-baik, tapi ini Ana Yud! Mama tidak menyangka kamu tega sama Ana, kamu menodai Ana juga Yud, apa wanita-wanita kamu itu belum memuaskan kamu Yud, sehingga kamu merusak Ana juga?!" tanya mamanya marah membuat Yudha ternganga kaget, bukan cuma Yudha, Ana juga kaget dengan perkataan mama Yudha itu
"Ma, mama salah paham ma, Yudha dan Ana itu cuma tid.." belum sempat Yudha menjelaskan lagi, mamanya sudah menyela
"Cuma?! Kamu bilang kalian cuma tidur bersama?! Yudha! Mama benar-benar kecewa sama kamu! Mama sudah menganggap Ana itu seperti putri mama sendiri, sekarang kamu harus bertanggung jawab atas perbuatan kamu Yud! Kamu harus menikahi Ana!" pinta mama Yudha tegas membuat Ana dan Yudha ternganga kaget
"Apa?!" teriak keduanya nyaris bersamaan, Ana kaget sekaligus panik, tidak mungkin dirinya menikah dengan Yudha, apalagi kesalahpahaman yang konyol seperti itu
"Tante, begini tante, sepertinya tante sudah salah paham, Yudha tidak..." lagi-lagi mama Yudha menyela setiap penjelasan yang akan keluar dari mulut Yudha maupun Ana
"Ana, kamu tidak perlu membela Yudha, tante sadar tante tidak bisa membesarkan dan mendidik Yudha dengan bak, sehingga Yudha bisa hidup sebebas yang ia mau, tapi ini sudah menyangkut kamu Ana sayang, tante tidak akan membiarkan kamu menderita sendirian, tante berjanji Yudha pasti akan menikahi kamu, tante akan menelpon papa dan mama kamu dulu untuk membicarakan hal ini," jelas mama Yudha tegas membuat Ana ternganga tidak percaya
"Ma!" Yudha berusaha menjelaskan, tapi mamanya sudah membalikkan tubuh dan bergegas pergi meninggalkan kamar itu, Ana tiba-tiba panik saat menyadari kalau mama Yudha akan menelpon orang tuannya, peringatan besar menggema di otak Ana
"Tante!" teriak Ana tertahan sambil berusaha mengejar mama Yudha, tapi Yudha yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping Ana, menahan tangan Ana, membuat Ana menghentikan langkahnya dan menatap Yudha panik
"Yud, kita harus jelasin sama tante kalau tante cuma salah paham," pinta Ana benar-benar panik
"Aku tau An, tapi kamu gak mungkin keluar kamar dengan pakaian seperti itu, yang ada malah memperkeruh suasana, kamu ganti pakaian dulu, pakaian kamu di cuci semalam dan ada di lemari aku," jelas Yudha sambil melepaskan tangan Ana, Yudha beranjak menuju lemarinya dan membuka lebar lemarinya, Yudha mengambil pakaian Ana dan sebuah kaos, Yudha kembali berjalan ke arah Ana
"Ini," ujar Yudha sambil menyodorkan pakaian Ana, Ana meraihnya dengan cepat, Yudha kemudian memakai kaosnya kemudian beranjak pergi meninggalkan kamar
bersambung