Love Expectations

Love Expectations
bab 4



Ana dan Yudha terduduk kaku di sova ruang tamu yang ada di rumah Yudha, mama Yudha bertindak sangat cepat dalam menghubungi kedua orang tua Ana, dan kedua orang tua Ana juga bertindak sangat cepat dengan segera datang ke rumah Yudha, padahal seingat Ana, pagi ini kedua orang tuanya berencana pergi berlibur ke bali


Melihat kedua orang tuanya berdiri di hadapan mereka saat ini, meyakinkan Ana bahwa kedua orang tuanya membatalkan rencana liburan itu


"Jadi semalam kamu bersama Yudha? Bukannya Rani?" tanya ayah Ana berusaha menahan kemarahannya, terlihat dari raut wajahnya yang menegang, Ana mencoba memberanikan diri menatap ayahnya


"Tapi ayah, kami hanya tidur bersama, tid.." suara PLAK yang cukup keras membuat Ana terpaksa berhenti berbicara, ayahnya menampar Ana dengan cukup keras, membuat pipi Ana terasa panas


Ana yakin tidak hanya dirinya yang kaget, orang-orang yang berada di sana pun pasti kaget melihat ayah Ana menampar Ana dengan tatapan marah


"Sejak kapan kamu menjadi seperti ini Ana! Ayah tidak pernah mengajarkan kamu untuk tidur dengan seorang pria sebelum menikah! Kamu benar-benar membuat ayah kecewa Ana!" bentak ayah Ana membuat nafas Ana tercekat


Ana tidak menyangka kalau untuk meluruskan sebuah kesalah pahaman adalah hal yang sangat berat


Baik mama Yudha, atau kedua orang tuanya, mereka semua sudah menganggap Ana dan Yudha melakukan hal yang tidak senonoh


"Mas Arwan, maafkan saya, ini semua kesalahan putra saya, putra saya adalah pria yang kurang ajar sehingga menodai putri mas yang masih polos ini," ujar mama Yudha sedih, Yudha menghembuskan nafas berat


"Kalian harus menikah!" putus ayah Ana tegas, membuat Ana dan Yudha langsung menatap ayah Ana


"Ayah! Tidak! Aku tidak akan menikah dengan Yudha, kami tidak..." seperti halnya mama Yudha, ayah Ana juga langsung menyela perkataan Ana dengan wajah dingin


"Kalau kalian tidak menikah, kamu bisa keluar dari rumah kami, kami tidak akan mengakui kamu lagi sebagai putri kami, kami tidak pernah memiliki seorang putri yang memiliki kelakuan yang tidak baik seperti ini," ujar ayah Ana dingin, membuat nafas Ana tercekat, Ana kehilangan kata-kata saat mendengar semua perkataan ayahnya


"Saya akan bertanggung jawab, saya akan menikahi Ana," jelas Yudha dengan tegas dan mantap


Ana sontak menatap ke arah Yudha dengan tatapan tidak percaya, sementara Yudha dan ayahnya saling bertatap-tatapan


"Tentu! Sebagai seorang laki-laki yang sudah menodai putri saya, kamu harus bertanggung jawab!" ujar ayah Ana tegas


Mama Yudha menghembuskan nafas lega, mama Ana juga mulai bisa tersenyum


"Meskipun saya tidak tau apakah kamu sudah menghamili putri saya atau tidak, tapi untuk berjaga-jaha, kalian harus menikah secepatnya, kalau bisa dalam bulan ini," jelas ayah Ana tegas, membuat Ana dan Yudha kaget


"Apa??!?" teriak keduanya bersamaan, tapi suara Analah yang paling keras


"Pa, saya tidak hamil, kami tidak pernah.." Ana berusaha menjelaskan, tapi lagi-lagi perkataannya dipotong


"Tanggal 28, kalian harus menikah pada tanggal 28" putus ayah Ana mantap


"Kamu harus menikahi putri paman pada tanggal 28," ujar ayah Ana sambil menatap Yudha tajam, Yudha tercekat sesaat


"Baik paman, saya pasti menikahi Ana pada tanggal 28," jawab Yudha dengan suara yang berusaha tetap tenang


Ayah Ana duduk sambil menghembuskan nafas lega, mama Ana menghampiri mama Yudha


"Walaupun sebenarnya saya sudah lama sangat ingin berbesan dengan kamu, tapi saya juga tidak menyangka awal mula terjadinya pernikahan putra puti kita adalah dengan cara seperti ini," ujar mama Ana nembuat mama Yudha tersenyum pelan


"Maafkan kelakuan putra saya ya jeng, seharusnya saya menepati janji saya agar Yudha menjaga Ana dengan baik, tapi tidak taunya malah putra saya sendiri yang merusak anak jeng," ujar mama Yudha merasa bersalah, mama Ana tersenyum lembut


"Ini sepenunya bukan kesalahan jeng, ini kesalahan kita semua yang terlalu memberikan anak-anak kita kebebasan, sehingga mereka kehilangan kontrol," ujar mama Ana


Ana dan Yudha saling bertatapan, Ana menatap Yudha dengan wajah panik yang tidak bisa di jelaskan


Yudha menatap Ana dengan wajah putus asa yang menyerah


Ana mendengus jengkel mengingat bahwa mamanya berteman baik dengan mama Yudha, mamanya bahkan kadang terang-terangan membuat Ana dan Yudha selalu dekat


Apalagi sejak tau Ana dan Yudha dulunya bersekolah di SMA yang sama


Saat itu mama Ana arisan di rumah mama Yudha, Ana terpaksa menemani mamanya


"Oh Ana sekolah di SMA Kusuma juga? Kelas berapa? Anak saya juga sekolah di sana loh," ujar mama Yudha senang


"Baru kelas 1, Yudha kelas berapa sekarang?" tanya mama Ana ramah


"Kelas 2, nah itu dia anaknya baru bangun tidur jam segini," komentar mama Yudha sambil menunjuk ke arah Yudha yang baru keluar dari kamar dengan rambut acak-acakan, jelas terlihat baru bangun tidur


"Yud, sini nak, kenalan sama anak teman mama," ujar mama Yudha,membuat Yudha mendekati mereka dengan langkah lesu


"Yudha masih kecil ma, belum terima dijodoh-jodohin," ujar Yudha sambil menguap lebar, Ana hanya bisa menatap Yudha dengan tatapan risih


"Siapa juga yang mau jodohin, cuma ngenelin kok, ini Ana, anaknya tante Mila, katanya sekolah di sekolah kamu, kelas 1," jelas mama Yudha semangat, membuat Yudha langsung menatap Ana


"Oh dia," ujar Yudha membuat mama Yudha dan mama Ana kaget


bersambung