
Ana mendengus jengkel, meskipun para wanita lainnya akan menjerit histeris melihat penampilan pria itu bertelanjang dada, tapi bagi Ana, seperti apapun penampilan pria itu di hadapannya, Ana tidak akan pernah terpesona, bagi Ana hatinya sudah di miliki oleh seorang pria bernama Dafa, pria yang membuatnya jatuh cinta dari SMA dan sampai saat ini
"Tidak ada urusannya dengan kamu!" bentak Ana jengkel, membuat pria itu terkekeh pelan, pria itu kemudian duduk santai di sova
"Well, kamu benar, tapi aku sangat penasaran, siapa pria yang sedang ada di dalam mimpi kamu tadi? Sampai-sampai wajah kamu memerah dan kamu mendesah, astaga An! Kalau saja aku tidak membangunkan kamu secepatnya, aku rasa aku bisa tegang karena suara-suara erotis yang kamu keluarkan," ujar pria itu membuat Ana membelalakkan mata kaget, pipi Ana memanas karena malu saat menyadari pria itu sudah memergoki Ana mengigau saat Ana tidur lagi
Tapi tiba-tiba saja Ana tersentak kaget, baru menyadari kejanggalan yang terjadi, Ana langsung mengamati kondisi kamar itu dan Ana yakin itu bukanlah kamarnya, jika itu kamar Ana, suasana kamar Ana tidak akan bernuansa putih hitam seperti itu, dan pria itu tidak mungkin ada di dalam kamarnya
Ana langsung sontak melihat ke arah tubuh dan langsung ternganga kaget menyadari saat ini dirinya hanya mengenakan kemeja hitam yang terlihat sangat besar ditubuh mungilnya, aroma maskulin dari kemeja itu juga memperjelas bahwa kemeja yang tengah melekat ditubuhnya adalah milik pria yang tengah duduk di sova.
Ana langsung menatap tajam ke arah pria itu
"Kenapa aku bisa di sini? Dan kenapa aku bisa menggunakan kemeja ini?" tanya Ana panik dan cemas, alih-alih segera menjawab pertanyaan Ana, pria itu malah langsung tertawa terbahak-bahak, membuat Ana jengkel,marah dan sekaligus bingung
"Yudha! Aku bertanya! Apa kamu melakukan sesuatu terhadapku?!" tanya Ana cemas, nyaris berteriak
"Ehm sorry," ujar Yudha berusaha untuk tidak tertawa lagi, Ana masih menatap Yudha dengan tatapan jengkel sekaligus panik
"Jika yang kamu maksud melakukan apa-apa terhadapmu maksudnya adalah aku menidurimu, jawabannya tidak An, aku tidak suka mengambil kesempatan dari seorang gadis yang tidak sadarkan diri, kalau kamu tidak percaya, kamu bisa merasakan sendiri, apakah ada yang terasa sakit?" tanya Yudha sambil mengerling nakal ke bagian paha Ana membuat Ana langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, Ana masih merasa cemas
"Tapi kenapa aku memakai kemeja kamu?" tanya Ana masih tidak puas dengan jawaban Yudha, Yudha tersenyum geli
"Kamu muntah semalam An,mau tidak mau pakaian kamu harus diganti, kalau memang tidak bisa minum dan tidak pernah meminum minuman berakohol, jangan lakukan itu lagi," pinta Yudha berubah sedikit tegas
pipi Ana memanas lagi karena malu, karena hatinya yang kacau semalam di pesta ulang tahun Siska, Ana nekad meminum alkohol dan tentunya mabuk berat, Ana sama sekali tidak tau kenapa dirinya bisa berada di kamar Yudha sekarang, mengingat hubungannya dengan Yudha tidak seakrab itu, meskipun Yudha adalah teman baik Dafa
Ana lagi-lagi tersentak kaget saat menyadari sesuatu hal yang lagi-lagi membuatnya panik
"Tentu saja, memangnya siapa lagi?" tanya Yudha tegas membuat Ana menganga kaget, menatap tidak percaya ke arah Yudha, sama sekali tidak bisa membayangkan bahwa Yudha lah yang mengganti pakaiannya, dan pastinya Yudha sudah melihat hampir seluruh tubuhnya, hal itu membuat pipi Ana lagi-lagi memanas karena malu, Ana bahkan tidak pernah berganti baju bersama teman-teman wanitanya
Yudhla lagi-lagi tertawa kencang membuat Ana kembali jengkel, Yudha perlahan menghentikan tawanya
"Ana, Ana, kamu itu lucu sekali, tenang saja, bukan aku yang mengganti pakaianmu, tapi pembantuku, bik Lila, kamu tenang saja, aku tidak mungkin berani mengganti pakaianmu, aku tidak sanggup, bisa saja aku lepas kendali dan melakukan sesuatu terhadap kamu, tapi kamu pasti akan membunuhku jika menyadarinya," jelas Yudha membuat Ana menatap jengkel ke arah Yudha
"Tentu saja aku akan langsung membunuh kamu, jika kamu berani melakukan hal-hal aneh terhadapku," ujar Ana geram membuat Yudha tersenyum geli
"Kamu tenang saja An, selama kamu tidak mengijinkannya, aku tidak melakukan sesuatu terhadap kamu, kecuali jika kamu mengijinkan, akudengan senang hati melakukan sesuatu terhadap kamu," ujar Yudha sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Ana, Ana makin jengkel dan langsung melemparkan bantal ke arah Yudha, Yudha refleks menangkapnya dengan tepat
"Never!" ujar Ana jengkel membuat Yudha tersenyum geli
"Tapi kenapa kamu harus membawa aku ke rumah kamu? Bukannya ke rumah ku sendiri?" tanya Ana jengkel
"Aku tidak yakin membawa kamu pulang ke rumah mu sendiri dalam keadaan mabuk adalah pilihan bagus, seingat yang aku tau tentang paman Anwat, beliau sama sekali tidak mentolelir kesalahan, aku yakin paman Anwar akan membunuhmu jika beliau melihat kamu pulang dalam keadaan mabuk," jelas Yudha membuat Ana seketika bergidik ngeri, membayangkan betapa tegas dan kejamnya ayahnya kalau sudah marah, Ana merasa Yudha kali ini benar
Ana tidak mungkin pulang dalam keadaan mabuk, tapi hal yang lebih menakutkan lagi adalah Ana tidak pulang ke rumah semalaman
"Aku sudah menelpon Rani dan meminta Rani untuk mengatakan kepada ayahmu kalau kamu menginap di rumah Rani, jadi untuk sementara kamu bebas dari amukan ganas ayahmu itu," ujar Yudha sambil tersenyum geli, Ana ternganga kaget, bagi Ana sikap Yudha yang meminta bantuan pada Rani malah membuat masalah semakin rumit, Rani adalah teman dekat Ana yang paling aneh
Rani pasti akan memikirkan hal lain saat mengetahui Ana bermalam di rumah Yudha, Ana mengacak rambutnya prustasi, kemudian menghela nafas berat, setidaknya ayahnya tidak tau kalau Ana menginap di rumaj seorang pria, Ana menoleh ke arah Yudha lagi, Ana mengerutkan keningnya bingung saat melihat Yudha menghirup teh panasnya dengan santai
bersambung