LOVE DESIRE

LOVE DESIRE
Lima



Ivy kembali dibuat takjub oleh Edvan, awalnya Ivy mengira jika Edvan tinggal di salah satu apartemen mewah di kawasan Upper East Side,  tapi nyatanya pria itu membawanya ke sebuah tempat yang tidak akan pernah Ivy bayangkan untuk didatangi bahkan sekalipun dalam mimpi. Jangankan berkunjung melintasi daerah tersebut pun rasanya mustahil.


Rupanya Edvan benar-benar seorang jutawan. Bagaimana tidak? Pria itu tinggal di dalam sebuah kawasan ekslusif Meadow Lane di Southampston. Tempat ini merupakan hunian bagi para milliader, para pebisnis yang masuk dalam majalah Forbes juga tinggal di kawasan ini.


Sepanjang jalan netra Ivy dimanjakan oleh hunian-hunian mewah bak istana yang hanya bisa dilihatnya di dalam sebuah film saja. Tidak ada sekalipun rumah mungil selayaknya rumahnya, semua begitu besar mungkin sepuluh kali atau lima belas kali lipat luas rumahnya atau mungkin lebih dari itu. Yang jelas seumur hidupnya Ivy tidak akan bisa memiliki istana seperti itu.  Naasnya kini dia menjadi seorang tunawisma dan bertemu dengan Edvan mungkin adalah sebuah keberuntungan seolah Tuhan memang sengaja mengirimkan pria itu untuk menjadi malaikatnya dalan semalam.


Ivy menoleh, matanya berserobok dengan bola mata biru kobalt milik pria itu lalu buru-buru Ivy berpaling. Siapa sangka rupanya Edvan juga tengah menatapnya. Rasanya sungguh memalukan ketahuan menatap seseorang. Ivy mengambil ponsel dari dalam saku jaketnya lalu mengusap layarnya, wanita itu mencoba mengalihkan perhatiannya dengan mengecek ponselnya yang ternyata sepi. Tidak ada pesan atau telpon yang masuk, tentu saja, siapa pula yang akan menghubunginya, sejak dulu ponselnya tidak pernah ramai karena Ivy hanya memiliki segelintir teman yang mungkin jika dihitung setengah lusin pun tidak genap.


"Sebentar lagi kita akan sampai." Edvan memberi tahu.


Ivy kembali menoleh untuk menatap pria itu, tapi kali ini wanita itu tidak berpaling, Ivy memberikan seulas senyumnya pada pria maskulin tersebut. "Terimakasih."


Edvan menggangguk guna membalas ucapan Ivy. Pria itu merasa heran bagaimana Ivy bisa tampak begitu santai seolah malam ini tidak ada yang terjadi pada diri wanita itu. Diputuskan oleh pria brengsek, dipecat lalu diusir dari rumahnya sendiri, jika itu terjadi pada wanita lain mungkin wanita tersebut tidak akan berhenti menangis. Dalam lubuk hatinya dia senang sekaligus iba pada Ivy, senang karena rupanya Ivy ialah seorang wanita tangguh, iba karena merasa sedih itu juga perlu. Edvan mengerti mungkin dalam hatinya pun Ivy juga merasa begitu sedih dan juga marah,  alasan wanita itu tidak menunjukkan kesedihannya karena Ivy tidak ingin orang lain mengasihaninya.


Edvan pun teringat bagaimana tegarnya Ivy ketika mantan pacarnya menyiram anggur ke kepalanya. Kini bola mata Edvan beralih dari wajah ke rambut wanita itu. Rambut Ivy bewarna hitam dan wanita itu membiarkannya tergerai, tapi di beberapa bagian jelas sekali terlihat jika rambutnya menggumpal akibat dari terkena wine. Edvan yakin jika wanita itu sudah membersihkan dirinya, rambut yang tergerai itu akan tampak begitu indah.


Mengamati Ivy membuat Edvan teringat akan kejadian empat belas tahun silam. Kematian sang ibu karena kecelakaan membuat Edvan merasa begitu terpukul. Bukan tanpa alasan, Edvan merasa jika dialah yang harus bertanggung jawab atas meninggalnya sang ibu. Saat itu Edvan bersikeras ingin mengemudikan mobil seraya mengantarkan sang ibu ke Hotel Clayton, yang merupakan hotel milik keluarga sang ibu untuk rapat bersama para pemegang saham. Moira, sang ibu dengan lembut menolak permintaan Edvan dan sebagai gantinya mengajak pria itu untuk mengikuti rapat supaya kelak bisa menggantikan posisi sang ibu sebagai direktur.


Saat itu Edvan masih berusia tujuh belas tahun, dia tidak bisa mengendalikan emosinya sehingga tetap bersikeras untuk menyopiri sang ibu. Moira pun menuruti permintaan sang anak. Sayangnya dalam perjalanan saat melintasi lampu lalu lintas sebuah truk ekspedisi dengan sopir yang mengantuk menabrak mobilnya dari arah samping, tepat di mana posisi ibunya berada. Edvan hanya bisa mengingat mobilnya berguling-guling dan kaca depan maupun samping pecah, lalu sebelum dia tidak sadarkan diri, Edvan masih bisa melihat sang ibu dengan kepala yang berlumuran darah.


Berminggu-minggu Edvan larut akan kesedihan, dia pun menyalurkan kesedihannya dengan meminum alkohol. Saat memasuki gedung kolam renang di sekolaj dia hanya berjalan secara acak saja, lalu pria itu tidak sadar saat menduduki papan lompat seolah seseorang menyihirnya untuk melakukan hal tersebut. Edvan ingat saat dia mengamati air kolam yang begitu tenang, tapi anehnya semakin lama mengamati membuat kepalanya terasa berputar. Ketika terjun ke dalam kolam dia pikir jika dia sedang terbang. Lalu ketika tubuhnya bertubrukan dengan air kolam, Edvan bisa merasakan sakitnya menusuk-nusuk kulitnya, seolah dia tidak terjun ke dalam kolam berisi air melainkan kolam jarum. Saat air kolam mulai masuk ke dalam mulutnya dan mengisi paru-parunya, Edvan merasa jika dia sedang bermimpi. Karena tepat saat itu Ivy meraih tangannya, antara sadar dan tidak Edvan bisa mengingat wajah Ivy.


Limusin berbelok ke kanan ke arah jalanan berpaving, di sisi kiri dan kanannya pohon kelapa berbaris rapi. Tidak berangsur lama, sekitar sepuluh detik kemudian limusin berhenti yang disusul oleh matinya mesin.


"Kita sudah sampai." Edvan membuka pintu sejurus kemudian mempersilahkan Ivy untuk turun terlebih dahulu.


Wanita itu mendaratkan kakinya pada lantai paving seraya terpesona oleh pantulan bangunan yang berdiri dengan kokohnya pada bola mata hitamnya. Desain rumah tiga lantai milik Edvan begitu futuristik dengan lantai dasar yang dijadikan garasi. Rumah Edvan sendiri didominasi oleh jendela raksasa yang  seolah dindingnya teebuat dari kaca. Cat rumahnya sendiri berwarna monokrom, hitam dan putih. Kini dalam hati, Ivy bertanya-tanya ada berapa banyak orang yang tinggal di rumah tersebut. Karena biasanya rumah mewah selalu memiliki setengah lusin kamar.


Ivy bisa mendengar suara deburan ombak dari balik rumah. Tinggal di sini pasti serasa di surga, pemandangan pantai beserta birunya laut merupakan perpaduan yang paling indah dan mampu memanjakan mata. Tidak hanya itu pantai selalu memberikan sinyal ke otak yang mampu menghilangkan semua ketegangan. Para milliuner yang tinggal di sini pastilah sangat bersyukur dan menikmati hidupnya.


Edvan berdiri di samping Ivy kemudian mengajak wanita itu untuk masuk ke dalam rumah. Mereka berdua menaiki tangga. Pipi Ivy terasa dingin diterpa angin malam pantai, tanpa sadar dia merapatkan jaketnya. Selagi menapaki tangga Ivy menjelajah area sekitar rumah Edvan, rupanya jarak satu rumah dengan yang lainnya cukup jauh, mungkin sekitar sepuluh meter, itu bagus untuk menjaga privasi. Beberapa rumah terlihat tidak menyalakan lampu, mungkin penghuninya sudah beeistirahat karena saat ini sudah lewat tengah malam atau mungkin juga rumah-rumah tersebut hanya ditempati jika pemiliknya sedang berlibur saja. Orang kaya selalu memiliki lebih dari satu rumah.


Memasuki rumah, Ivy hanya bisa melongo melihat bagaimana mewahnya rumah Edvan. Dinding putihnya tidak bernoda, lantai marmernya sangat mengilap Ivy bahkan bisa menatap pantulan dirinya. Hanya ada tiga warna yang bisa Ivy temui di dalam ruangan ini, hitam, putih dan silver.


Menuju ke ruang tengah terdapat sebuah televisi raksasa lalu lukisan monokrom di samping kiri kanannya. Namun yang membuat Ivy tertarik bukanlah barang-barang mahal tersebut melainkan seseorang yang tengah duduk di sofa chaise sedang menonton televisi selagi seorang gadis mungil terlelap dalam pangkuannya. Wanita itu menoleh seakan menyadari kehadirannya dan Edvan. Dengan sangat hati-hati wanita tersebut memindahkan kepala si gadis kecil ke bantal lalu si wanita berdiri dan mulai berjalan menuju tempat Edvan berdiri. Suara ketukan sepatu haknya terdengar begitu elegan selaras dengan penampilannya. Wajahnya begitu cantik dengan rambut bergelombang warna madu. Tubuh tinggi langsingnya dibalut oleh midi dress garis-garis tanpa lengan dengan kerah model V, tatapan wanita itu begitu mengintimidasi.


Kini Ivy bertanya-tanya bagaimana Edvan bisa begitu santai menyakinkannya untuk menginap di rumahnya sementara istri dan anak pria itu tengah menunggunya. Ivy bisa melihat jika istri Edvan tampak tidak senang akan kehadirannya.


"Aku menelponmu puluhan kali, tapi selalu tersambung dengan kotak suara. Kau tahu Carla merengek mencarimu, aku bahkan harus membujuknya dengan makan ice cream supaya dia mau tidur." Wanita itu sudah berdiri di depan Ivy serta Edvan, tangannya dilipat di depan dada. Batin Ivy, bagaimana bisa seseorang tetap tampak begitu mempesona kendati sedang marah.


"Sorry, ponselku mati." Jawab Edvan terkesan terlalu santai yang membuat Ivy heran apakah pria yang berdiri di sampingnya ini tipe kepala keluarga yang tidak peduli dengan keluarganya.


Lalu Ivy teringat jika Edvan pergi ke restorannya bersama dengan wanita lain. Bisa-bisanya pria itu bersenang-senang dengan wanita lain sementara anak istrinya gelisah menunggunya pulang. Meski jika diperhatikan sepertinya Edvan pria yang penuh tanggung jawab tapi kini Ivy menyesali keputusannya untuk menginap di rumah mewah ini. Kehadiran Ivy tentu akan membuat kisruh rumah tangga Edvan.


Istri Edvan menatap Ivy seolah sedang menelanjanginya, "Dan siapa wanita ini?"


Edvan melirik ke arah Ivy bersamaan dengan munculnya Martha. Edvan bernapas lega karena penyelamatnya datang di waktu yang tepat. "Tolong antarkan nona ini ke kamarnya dan siapkan pakaian untuknya."


Martha mengangguk. "Mari ikuti aku, miss." Wanita berusia sekitar lima puluhan itu berjalan melewati Edvan dan menaiki tangga. Tidak ada yang bisa Ivy lakukan selain mengikutinya.


Di lantai tiga Ivy melihat begitu banyak pintu yang ditaksirnya merupakan jejeran kamar. Ivy menghitung setidaknya ada delapan pintu. Apakah suatu waktu kamar-kamar tersebut terisi penuh atau sudah menjadi sebuah tradisi jika para orang kaya selalu memiliki puluhan kamar hanya untuk menunjukkan sekaya apa dirinya.


Entah sudah untuk keberapa kali Ivy dibuat ternganga oleh semua kemewahan yang ditawarkan kepadanya. Kamar tamu yang disediakan Edvan untuknya jauh lebih bagus berkali-kali lipat dari hotel termewah yang mampu dibayarnya. Ukuran kamarnya cukup luas untuk Ivy, 4x5 m, wanita itu bahkan bisa melakukan gerakan zumba yang dipelajarinya lewat youtube.


Berbeda dengan ruangan lain dengan warna putih yang mendominasi. Kamar ini didominasi warna abu-abu, dindingnya dilapisi walpaper warna abu tua bermotif bunga salju, ranjang berukuran queen warna abu muda dengan selimut senada dengan dindingnya. Terdapat karpet beludru di bawah ranjang lalu kursi baca di seberang ranjang denga meja kopi bundar.


Ivy berjalan menuju jendela raksasa, matanya dimanjakan oleh halaman belakang rumah Edvan yang begitu mengagumkan. Kolam renang luas dengan lampu taman yang meneranginya membuat air kolam terlihat begitu biru. Di pinggiran kolam terdapat kursi kolam warna putih dengan payung di atasnya. Lalu terdapat jembatan selebar dua meter yang akan membawanya menuju pantai. Laut tampak begitu gelap di malam hari tapi dia mampu mendengar deburan ombaknya.


Martha membuka lemari yang berada di ujung kamar lalu mengeluarkan sebuah baju tidur. Wanita itu meletakkannya di atas ranjang. "Kau bisa mengganti pakaianmu dengan baju tidur ini dan biarkan aku mencuci pakaianmu."


Ivy menoleh lalu menghampiri Martha, meski sudah berumur tapi wanita itu masih terlihat cantik. Ivy tersenyum, "Terimakasih, tapi kau tidak perlu mencucinya, besok aku akan memakainya lagi."


Martha menggeleng, "No no no, Edvan akan mengomel jika aku tidak mencucinya. Dan besok bisa kupastikan kau akan mendapatkan baju yang baru. Edvan selalu memperlakukan tamunya dengan sangat baik."


"Belum pernah ada yang mencucikan bajuku selain ibuku, rasanya sangat aneh jika kau mencucikannya untukku."


Martha tersenyum, senyumnya begitu teduh mengingatkan Ivy pada sang ibu. "Mencuci adalah salah satu tugasku di rumah ini. Kau bisa mengganti pakaianmu si kamar mandi dan memberikan baju kotornya padaku."


"Tapi..."


"Aku tetap memaksa dan menunggu di sini."


Ivy pun menyerah, wanita itu meraih gaun tidur yang tergeletak di ranjang. Lalu melangkahkan kakinya menuju pintu yang mengarahkannya ke kamar mandi.


Untuk ukuran sebuah kamar mandi, ini lumayan luas. Lantai dan dindingnya perpaduan antara batu marble serta coral. Ada bathub di pinggir jendela serta shower dengan kaca sebagai penutupnya.  Ivy merasa heran bagaimana seseorang bisa dengan nyamannya mandi selagi seseorang di halaman belakang bisa melihatmu dengan begitu jelasnya.


Ivy mulai melepaskan pakaiannya, dia berjalan ke arah wastafel untuk membasuh wajahnya tapi begitu melihat pantulan wajahnya di cermin wanita itu meringis terlebih melihat kondisi rambutnya yang lengket karena anggur. Ivy pun memutuskan untuk mandi terlebih dahulu setelah itu dia pun berganti pakaian dan mengenakan baju tidur yang diberikan oleh Martha tadi.


Ivy melihat pantulan dirinya di cermin, gaun tidur yang dikenakannya begitu lembut membelai kulitnya. Gaun berwarna putih berbahan sutra kombinasi renda ini jenis gaun tidur yang sebelumnya tidak pernah dikenakan oleh Ivy, harganya pasti sangat mahal. Sementara Ivy terbiasa tidur hanya mengenakan kaos serta celana training.


Rambutnya belum benar-benar kering, di dalam kamar mandi ini tidak terdapat hairdryer. Terpaksa Ivy harus berpuas diri dengan mengeringkannya menggunakan handuk. Tapi itu berarti Ivy harus merelakan tetesan air dari rambutnya membasahi bagaian belakang gaun tidurnya.


Ivy keluar dari kamar mandi dan mendapati Martha sedang menata lemari pakaian. "Maaf membuatmu menunggu lama, aku tadi mandi dulu."


Martha menoleh seraya tersenyum, "Tidak perlu minta maaf aku juga sedang sibuk menata isi lemari ini. Di sini ada beberapa baju yang bisa kau pakai untuk besok. Edvan menyiapkan beberapa baju untuk masing-masing kamar, siapa tahu temannya tiba-tiba datang untuk menginap."


"Bahkan baju untuk wanita?" Tanya Ivy.


Marth mengangguk, "Pria dan wanita. Aku sudah memindahkan pakaian pria dari dalam lemari ini. Istirahatlah, aku akan meninggalkanmu setelah membawa pakaianmu tadi."


Ivy tersenyum, "Terimakasih."


Ivy duduk bersandar pada punggung ranjang merasakan lembutnya selimut yang menyentuh kulitnya. Ivy tidak akan menolak jika seseorang menyumbangkan satu ranjang seperti ini karena itu berarti wanita itu tidak perlu bangun seraya merasakan sakit punggung. Sementara ranjang seperti seolah diciptakan untuk mengurangi pegal-pegal di tubuh setelah seharian beraktifitas.


Martha keluar dari kamar mandi sembari membawa keranjang baju kotor. Wanita itu tersenyum pada Ivy lalu mengucapkan selamat malam padanya sebelum akhirnya keluat dari kamar dan menutup pintu.


Kini tinggal Ivy seorang diri di dalam kamar, rasanya sunyi, yang terdengar hanyalah deburan ombak. Sendirian seperti ini membuat wanita itu kembali menerawang ke dalam beberapa jam terakhir malam ini, apakah ini semacam kutukan dari Tuhan atau hanyalah sebuah cobaan semata. Jika kutukan dosa apa yang telah diperbuatnya sehingga Tuhan murka padanya. Ivy lebih suka jika yang menerpanya hanyalah cobaan atau ujian dari Tuhan yang berarti dia harus lebih rajin lagi bekerja dan lebih berhati-hati dalam memilih seorang pria karena nyatanya pria berwajah malaikat belum tentu hatinya sebersih malaikat.


Edvan, kira-kira bagaimana pria itu menghadapi sang istri, Ivy begitu penasaran dan tergelitik untuk mengintip dari lantai atas. Tapi mencuri dengar percakapan orang itu sangat tidak sopan terlebih jika mereka sedang berdebat. Jika istri Edvan marah itu wajar saja karena suaminya bertingkah seperti pria lajang, menggandeng wanita cantik untuk diajak makan malam. Lalu membawa Ivy ke rumahnya tanpa menjelaskan apapun pada sang istri, semua wanita pun akan sangat marah. Ivy bahkan merasa tidak enak, dia perlu meluruskan semuanya guna menjaga rumah tangga Edvan.