LOVE DESIRE

LOVE DESIRE
Satu



Sebuah limusin hitam berhenti tepat di depan sebuah restoran mewah yang terletak di kawasan Manhattan, The Rhys Restaurant. Seorang pria berpawakan tinggi dengan tubuh atletis serta wajah dengan garis-garis tulang yang begitu tegas keluar dari dalam limusin. Selain fakta memiliki mobil mewah, pria itu tidak bisa menutupi status sosialnya jika ditilik dari stelan yang dikenakannya. Sebuah jas Ermenegildo Zegna Bespoke besutan dari Gildo Zegna melekat sempurna pada tubuh yang menyembunyikan otot-otot seksi dibaliknya. Harga jas yang dipakainya senilai dua puluh dua juta dollar amerika, dengan harga segitu orang biasa bisa membeli sebuah mobil.


Edvan Rhys Calvani merupakan milliuner muda yang memiliki perusahan bergerak di bidang teknologi serta multimedia. Sebut saja komputer, laptop, smartphone, serta beberapa perabot rumah tangga diproduksi oleh perusahannya. Untuk mencapai kesuksesan yang diperolehnya saat ini tidaklah semudah menjentikkan jari, karena selama tiga tahun pertama bisnisnya jatuh bangun. Baru pada tahun kelima pria itu memperoleh secercah harapan dan kini namanya masuk ke dalam sepuluh besar daftar nama pengusaha muda terkaya di Amerika.


Memiliki darah campuran Italia dan Amerika membuat struktur wajahnya begitu menawan dan memikat para kaum hawa. Edvan tidak perlu repot-repot mencari teman kencan karena lusinan wanita sudah mengantre di bawah kakinya.


Seorang wanita layaknya jelmaan dewi yunani menyusul Edvan. Wanita itu, Eva,merupakan salah seorang sosialita Los Angeles yang dikenal Edvan melalui pesta sebulan yang lalu. Tidak sulit untuk menaklukkan Eva yang berambut coklat tua itu dan memiliki mata secantik milik Alexandra Daddario itu, karena sejak awal Edvan sudah mengetahui jika Eva tidak bisa mengalihkan pandangan darinya.


Mereka terlihat begitu serasi berjalan berdampingan menuju pintu masuk restoran. Eva tidak bisa menyembunyikan lekukan tubuhnya yang seksi dari balik gaun jenis bodycon yang dikenakananya, terlebih wanita itu memamerkan pundaknya yang menggoda.


Eva melingkarkan lengannya pada lengan Edvan seolah menegaskan jika pria itu ialah miliknya. Sementara Edvan menuntunnya memasuki restoran yang merupakan miliknya. Benar, The Rhys Restaurant diambil dari nama tengahnya seperti nama perusahaannya. Restoran ini baru berdiri selama tiga tahun tapi jangan salah karena pada tahun ini rakingnya melesat naik pada posisi kelima dalam salah satu website yang mengulas tentang resoran-restoran berbintang michelin.


Semua ini berkat sahabatnya yang dupercayai Edvan menjadi sang juru masak. Semegah apapun sebuah restoran yang akan menjadi sorotan utama ialah hidangan serta rasanya.


Restorannya sendiri menyajikan masakan italia yang selama seminggu sekali berganti menu. Hal ini bertujuan agar pelangganannya tidak merasa bosan dengan masakan yang disajikan.


Begitu berada di dalam restoran, kau seolah dituntun menuju ke sebuah aula kerajaan. Lantai restoran terbuat dari keramik bermotif geometrik. Edvan tidak hanya mempertimbangkan aspek efektivitas dan fungsionalnya saja, akan tetapi dia juga perlu berpikir memgenai estetikanya.


Dinding yang menjulang tinggi dengan selusin lampu gantung yang menghias langit-langit berbentuk kubah memancarkan kilauan cahaya kristal. Jendela raksasa setinggi langit-langit dengan tirai beludru berwarna krem pucat selaras dengan cat dindingnya.


Cara berjalan Edvan menunjukkan kepercayaan dirinya yang tinggi serta sikap penuh kuasa yang secara tidak langsung mengintimidasi orang-orang yang berada di sekitarnya. Kharisma yang terpancar pada dirinya seolah memang sengaja Tuhan anugerahkan untuknya. Tiada satu pria pun di dalan restoran ini yang mampu menandingi bagaimana Edvan memberi pengaruh yang luar biasa bagi setiap insan yang memandangnya.


Edvan disambut oleh manager restoran, seorang pria berusia awal empat puluh tahunan dengan potongan rambut klimis dan kumis tipis, yang dipekerjakan oleh Edvan kuramg lebih selama tiga bulan inu. Manager yang sebelumnya dipecatnya karena ketahuan mengambil puluhan dollar dari penghasilan restoran.


Sang manager lengsung membimbingnya menuju kursi VIP yang terletak di bagian lebih dalam dengan pemandangan taman yang menakjubkan. Begitu Edvan serta Eva mendaratkan bokong mereka pada kursi bergaya victoria, sang manager pamit untuk memanggil pelayan. Tapi alih-alih menunggu si palayan Edvan lebih memilih sang manager memberikan hidangan menu utama malam ini. Dia juga berpesan untuk memberikan anggur terbaik yang dimiliki oleh restoran ini.


"Jadi katakan padaku, selain perusahan dan restoran ini, kau memiliki berapa banyak aset lagi, Ed?" Tanya Eva dengan suara seraknya yang seksi membelai indera pendengaran Edvan.


Pria itu tersenyum meremehkan, ternyata para wanita dimanapun sama saja, mereka mengejarnya karena status sosialnya. Bukan berarti dia besikap naif dengan tidak pernah menduga-duganya, karena cepat atau lambat para hawa itu akan menunjukkan tabiat asli mereka yang tidak bisa menolak sebongkah emas di depan mata. "Jika kukatakan aku memiliki sebuah pulau di Maldives, apa yang akan kau lakukan?"


Mata Eva melebar beberapa inchi, bahkan Edvan nyaris bisa melihat air liur Eva yang hampir menetes. Wanita itu bahkan tidak sungkan untuk menutupi reaksinya yang terang-terangan menegaskan jika dia hanya peduli pada harta Edvan. "Bawa aku ke sana, kalau perlu selama seminggu atau sebulan."


"Jangan terlalu terburu-buru, sayang. Masih banyak kesenangan yang belum kita lakukan." Ed menaikkan sebelah alisnya untuk membaca ekspresi wajah Eva yang berubah datar. Edvan tidak perlu repot-repot untuk mengembalikan kecerian di wajah cantik Eva, karena sepertinya setelah malam ini pria itu akan mencampakkan Eva. Tepat setelah makan malam, niat awal mengajak Eva bergelut di ranjang menguap meski tadinya pria itu tidak bisa menahan gejolak hasrat yang sudah beberapa hari ini tidak disalurkan. Sepertinya Edvan perlu bersabar lebih lama lagi.


Kendati Edvan gemar gonta-ganti teman tidur, tapi dia tidak pernah asal memilih wanita. Cantik dan seksi tentu saja menjadi pilihan utama, sementara watak bisa dikesampingkannya. Hanya malam ini saja dia tidak bisa mengacuhkan sikap Eva yang terlalu blak-blakan. Meski Edvan yakin jika Eva akan mampu memberikan kenikmataan di atas ranjangnya.


Seorang pelayan wanita berambut hitam yang dikuncir kuda membawakan sebotol anggur merah, Chateau Lafite yang merupakan salah satu botol pertama yang dibuat oleh Baron James de Rothschild di tahun 1869. Harga sebotol anggur ini cukup mencengangakan, bagaimaba tidak pada pelelangan di Hongkong sebotol anggur ini dijual dengan harga jutaan dollar. Rasa dari anggur merah ini ialah ceri, bisa dipastikan baik pria atau wanita akan menyukainya.


Pelayan wanita itu memiliki kulit sawo matang seperti orang Asia. Tingginya sekitar 165 cm dengan tubuh yang cukup seksi dan wajah terlalu menawan untuk ukuran seorang pelayan. Ada sesuatu pada diri sang pelayan yang membuat Edvan teringat pada seseorang.


Pelayan itu berlalu seraya menyunginggkan senyumnya pada Edvan dan Eva. Tapi iris mata biru kobalt milik Edvan seakan tidak ingin meloloskan pelayan wanita itu dari pantulan di matanya. Edvan memperhatikan si pelayan sampai wanita itu menghilang di balik konter dan meletakkan kembali anggur yang dibawahnya ke dalam lusinan botol anggur koleksi restoran.


Edvan kembali memusatkan perhatiannya pada Eva yang sedang menceritakan pengalamannya menjadi model pada acara New York fashion week seminggu yang lalu. Bagaimana saat dia mengenakan gaun rancangan dari sahabatnya yang bertemakan harajuku masa kini. Eva bahkan memperlihatkan foto yang diambil dari ponselnya kepada Edvan. Pria itu hanya mengulas senyuman tipis. Dia tidak peduli dengan kegiatan teman kencannya tersebut.


Sejak dulu Edvan sudah menegaskan pada dirinya sendiri jika akan memberi batasan pada setiap teman kencannya nanti. Pria itu akan membiarkan teman wanitanya berceloteh mengenai semua aspek kehidupannya tapi Edvan tidak akan memberikab imbal balik itu. Dia hanya bicara seperlunya saja dan selama ini hal tersebut selalu berhasil.


Seorang pelayan pria membawakan makanan pembuka ke meja Edvan, dua piring Basil Tomato Bruschetta mendarat di atas meja, harumnya memberi sensasi bergejolak pada perut Edvan. Bruschetta merupakan salah satu makanan pembuka khas Italia yang sejujurnya bisa dijumpai pada setiap restoran Italia, yang membuat olahan roti pada restoran ini istimewa ialah karena terdapat taburan jamur trufflr alba putih yang hanya bisa dijumpai di Italia bagian Utara saja.


Eva mengambil garpu serta pisau makannya lalu mulai mengiris kecil bruschetta miliknya. Teman kencan Edvan selalu memasukkan makanan ke dalam mulut dalam potongan yang kecil dan porsi yang sedikit. Para wanita itu tidak pernah bersedia menghabiskan makanan dalam piringnya seolah makan hanyalah sebuah syarat dalam berkencan. Mungkin mereka hanya takut menjadi gendut.


"Jadi, bagaimana hidangan ini menurutmu?" Edvan mengajukan oertanyaan seraya memotong bruschettanya lalu separuh dari roti itu hilang ditelan mulutnya.


"Sangat lezat, aku bisa menghabiskannya jika tidak ingat akan kenaikan berat badanku." Eva meletakkan garpunya padahal bruschetta itu masih terlihat utuh. Sepertinya wanita itu tidak akan menghabiskannya.


Pelayan yang membawakan makanan pembuka tadi terlihat keluar dari arah dapur dan mendorong troli makanan, siap menyajikan menu utama pada meja Edvan. Bruschetta miliknya sendiri sudah tandas tak bersisa, Edvan tidak pernah menyiakan makanan yang disajikan untuknya. Dia menghargai koki serta makanan itu sendiri. Meski sudah menjadi milliuner dia tidak boleh menganggap remeh sebuah makanan, baik yang disajikan oleh restoran berbintang maupun yang dijual di pinggir jalan. Edvan selalu menghargai hasil jerih payah dan ketulusan dalam proses pembutannya. Karena dia sendiri tahu bagaimana rqsanya jika karyanya dianggap sebelah mata oleh orang.


Chicken cacciatore kini tersaji di meja, makanan tersebut sedang memanngil-manggil untuk segera disantap. Nick menyantapnya terlebih dulu sementara Eva adalah Eva, dia makan tetapi tidak menunjukkan jika dia menikmatinya. Jam malam lah yang membuat wanita itu tidak berselera, dia sedang menjalani diet dan tidak ingin merusak tubuhnya dengan menumpuk lemak.


"Kau tidak suka dengan menunya ya?" Edvan pura-pura bertanya meski dia sudah tahu jika Eva memang tidak berniat mengkonsumsi makanan tersebut. Hal ini membuatnya merasa miris, wanita cantik yang menyiakan makanan.


Eva menggeleng yang mengakibatkan rambut coklat ikalnya bergoyang, "Bukan seperti itu, aku sedang menjalani proses diet yang mengharuskanku mengatur pola makanku."


"Kujamin tubuhmu tidak akan bertambah gemuk jika memakan ini." Edvan melirik Eva dari sudut matanya, wanita itu tersenyum getir.


"Yang kutakutkan jika setelah ini aku jadi tidak bisa mengontrol nafsu makanku." Eva menelan ayamnya bersusah payah seolah potongan ayamnya sebesar bola pingpong.


Edvan hendak menanggapi, tapi sudut matanya tertarik pada sesuatu yang lain tidak jauh dari tempatnya berada. Terjadi keributan di meja yang diduduki oleh sepasang kekasih, seorang pria berambut pirang berombak dengan wajah penuh bintik-bintik dan wanita yang sepertinya lebih tua dari si pria. Yang membuat Edvan tertarik adalah karena di sana berdiri pelayan wanita yang tadi, wajahnya terlihat marah serta kecewa. Yang jelas wajahnya sudah begitu merah. Edvan jadi penasaran setengah mati apa yang membuat pelayan wanita itu gusar.


Eva sempat menoleh untuk melihat keributan apa yang sedang terjadi tapi kemudian dia kembali menatap Edvan seraya menggelengkan kepalanya. "Pelayan itu pasti membuat kesalahan besar karena membuat pria itu marah besar seperti itu."


Edvan membiarkan Eva berceloteh sesuja hatinya tapi diam-diam pria itu tetap menyaksikan setiap detik pertikaian yang sedang terjadi di hadapannya. Biasanya dia akan membiarkan hal tersebut dan mengurusi kehidupannya sendiri tapi anehnya dia tidak bisa berpaling.


Jantungnya berdetak lebih cepat dibanding biasanya dia bahkan mencengkeram serbet yang tergeletak di atas meja ketika sang pengunjung pria menyiramkan anggur merah pada si pelayan. Dalam hati Edvan berharap pelayan wanita itu membalas dengan lebih keji seperti ganti menumpahkan isi botol anggur yang dibawanya ke atas kepala si pria, membuatnya basah kuyup. Tapi si pelayan tetap bergeming bahkan saat si pria menunjuk-nunjuknya mengguanakn jari telunjuknya seraya mengeluarkan kalimat yang tidak pantas untuk diucapkan.


Manager restoran menghampiri dan mencoba untuk melerai pertengkaran tersebut, tapi si pria terlanjur emosi. Pada akhirnya manager menarik pergelangan tangan sang pelayan wanita secara kasar, setelah membungkuk untuk meminta maaf pada sang tamu pria.


Edvan begitu tergelitik untuk melihat kebijakan apa yang akan diambil oleh sang manager. Oleh karenanya dia menyela cerita Eva seraya membersihkan mulutnya dari sisa makanan yang menempel pada bibirnya. "Permisi sebentar, aku akan harus ke toilet."