LOVE DESIRE

LOVE DESIRE
Dua



Ivy tidak pernah menyangka jika dia bisa bekerja di sebuah restoran mewah selayaknya The Rhys Restaurant. Meskipun hanya menjadi seorang pramusaji dia sangat bersyukur karena sebelumnya pekerjaannya hanyalah mengepel lantai kotor saja. Dua bulan yang lalu, dia menerima panggilan telpon yang menyatakan jika dia bisa bekerja di restoran tersebut. Wanita itu tidak bisa menyembunyikan rasa suka citanya, dia bahkan telah bertekad jika akan menjadi pelayan yang teladan. Ivy tidak akan menyiakan setiap peluh keringatnya hanya supaya dia bisa bertahan di bawah tekanan pekerjaannya yang ternyata lumayan membuatnya gugup.


Terlebih ketika bertemu dengan sang manager yang tidak mentoleransi kesalahn terkecil. Ivy tidak ingin mendapatkan masalah sehingga harus didepak dari restoran ini. Dia lelah berlari ke sana ke mari hanya untuk mendapatkan sebuah pekerjaan yang layak.


Impiannya kini hanya menabung sebanyak yang dia bisa supaya bisa keluar dari rumahnya yang lebih mirip neraka ketimbang tempat untuk berteduh. Dan gaji bekerja di restoran ini sangat cukup jika dia bisa bertahan sekurangnya satu tahun. Ivy tinggal di rumah peninggalan orangtuanya bersama sang kakak, tapi bukannya menjadi tulang punggung keluarga pria itu lebih gemar menghabiskan uang untuk membeli minuman keras.


Ivy harus bersembunyi bahkan terkadang memutuskan untuk tidur di teras rumah jika kakaknya, Jason, sedang mabuk berat. Pria itu suka memukul dan memakinya. Sejak dulu Jason memang biang masalah dalam keluarga, jika bukan karena kakaknya maka Ivy mungkin bisa sekolah dan lulus dengan layak. Wanita itu bahkan tidak lulus SMA karena sang kakak ketahuan mencuri properti sekolahan yang membuatnya harus dikeluarkan dari sekolahan. Tentu Ivy harus menerima imbas dari kelakuan sang kakak. Pengeluaran keluarga yang membengkak karena Jason sering mengambil tabungan sang ibu membuat keluarganya semakin sengsara. Puncaknya, Ivy harus berhenti sekolah.


Kedua orangtuanya sudah meninggal. Ayahnya meninggal saat sedang bekerja di pabrik, terkena serangan jantung. Setahun kemudian ibunya memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan menelan selusin pil tidur. Hidup Ivy seolah berakhir pada saat dia menemukan tubuh sang ibu. Di usia delapan belas tahun dia harus menerima kenyataan bahwa kini dia harus bertahan seorang diri.


Salahkah dia ketika mengetahui sang kakak harus dipenjara selama lima tahun karena kedapatan mencuri sebuah mobil. Udara segar seolah memasuki kerongkongannya pada saat itu, mungkin dengan Jason berada di balik jeruji akan membuat pria itu sadar akan semua perbuatannya. Nyatanya ketika kembali menghirup udara bebas, pria itu tetaplah Jason yang sama bahkan perangainya semakin buruk. Sepertinya dia mendapatkan tekanan yang besar di dalam penjara. Ivy melihat bekas luka hampir di sekujur tubuh Jason.


Ivy tiba di restoran pukul dua siang dan seperti biasa, pekerjaan menyambutnya seolah tidak pernah surut. Ivy berganti seragam mengenakan kemeja warna abu tua dengan sebuah dasi kupu-kupu yang melekat pada kerahnya, untuk bawahannya dia mengenakan rok span warna hitam serta celemek dengan warna yang sama untuk menaruh buku catatan. Kakinya yang ramping terbungkus oleh stoking sheer warna gelap. Rambut panjang warna hitamnya dikuncir kuda.


Manager restoran menegaskan pada pelayan wanita untuk berdandan supaya menarik perhatian para pengunjung. Oleh kareba itu Ivy memoleskan lipstick warna rose pink pada bibir tipisnya. Tanpa perlu merias diri pun sejujurnya Ivy sudah begitu memikat, kulitnya yang berwarna sawo matang membuatnya semakin eksotis.


Ivy memperhatikan para pengunjung satu per satu di mana tidak ada sekalipun dari mereka yang terlihat biasa saja, semuanya begitu memukau. Ivy bertanya-tanya dalam hati berapakah harga dari outfit yang dipakai oleh mereka dari atas kepala sampai kaki. Dia pernah bekerja pada sebuah butik yang menjual pakaian bermerk, Ivy tercengang begitu melihat harganya, gajinya selama satu semester pun tidak akan sanggup untuk membeli salah satu dari pakaian tersebut. Kendati demikian dia besyukur meski hanya membeli pakaian di pasar atau sekedar baju bekas yang masih layak pakai. Uangnya lebih berharga untuk dipergunakan membeli bahan makanan.


Seumut hidup Ivy selalu membayangkan bagaimana rasanya hidup bergelimang harta seperti para manusia yang memenuhi restoran ini. Mereka hidup tanpa perlu memikirkan tagihan yang menggunung atau khawatir tentang kehabisan bahan makanan, Ivy bahkan ragu jika mereka pernah merasa kelaparan barang sekali. Apakah jika suatu hari, Ivy memiliki uang yang sangat banyak dia pun akan menghabiskan uangnya hanya untuk menikmati sepiring pasta yang seharga sebuah cincin emas.


Ivy menatap takjub pada seorang pria yang barusaja masuk ke dalam restoran bersama pasangannya. Ada sesuatu dalan diri pria itu yang menunjukkan sebuah kekuasaan mutlak yang membuatnya merasa begitu gugup hanya dengan menatapnya.


Ivy tak bisa melepaskan pandangannya pada sosok tampan yang memikat secara seksual itu, memaksa tiap wanita utuk bertekuk lutut pada pandangan pertama. Tubuh tinggi tegap dengan bahu yang lebar itu pasti memiliki otot-otot keras dibalik stelan yang dikenakannya. Secara mengejutkan Ivy ingin merasakan seperti apa rasanya bila berada dalam dekapan lengan kuat tersebut. Para mantan pacarnya tidak ada yang memiliki tubuh sedemikian rupa sementara kekasihnya yang sekarang meski memiliki wajah yang rupawan tapi malas berolahraga sehingga tubuhnya sedikit berlemak.


Ivy tidak mau berkomentar lebih banyak karena bisa berpacaran dengan Ric menjadi pencapaian terbesarnya. Ric merupakan pria kaya yang sudah beberapa bulan ini dipacarinya. Ric penuh perhatian, meski mereka tidak setiap hari bertemu tapi pria itu selalu mengirim pesan untuknya. Sayangnya setiap mereka tidur bersama, pria itu hanya bertahan selama beberapa menit saja, bahkan Ivy nyaris belum merasakan gairah yang menyala-nyala. Tapi cinta itu bukan melulu mengenai **** kan?


Ivy melihat sang menager yang melesat secepat Sonic untuk menyapa pengunjung tampan tadi, dia belum pernah sekalipun melihat managernya menunduk-nunduk seperti itu. Siapakah gerangan sang pengunjung tersebut? Apakah salah seseorang yang begitu penting di New York, atau mungkin pria itu merupakan pelanggan VIP di restoran ini karena rupanya sang manager membimbingnya menuju meja VIP.


Sang manager langsung memerintahkan Ivy untuk memberi tahu jika tuan Edvan ada di sini kepada, Enzo sang kepala koki. Selebihnya dia diminta menuangakn sebotol anggur merah kepada pria yang ternyata bernama Edvan. Ivy masih bertanya dalam hati mengenai jati diri Edvan, kenapa managernya bisa begitu patuh, tidak mungkin hanya karena pria itu merupakan seorang tamu VIP. Karena wanita itu jelas pernah melihat managernya menggerutu selama sejam hanya karena kedatangan tamu VIP dari kalangan selebriti.


Ivy memegang botol anggur merah dengan begitu gugup. Dia diberitahu betapa mahalnya minuman menyegarkan bewarna merah itu. Seumur hidup belum pernah sekalipun Ivy mencicipi minuman mahal seperti yang dibawanya. Dia tergoda untuk mencobanya tapi gajinya tidak akan cukup untuk membayar segelas anggur ini. Tapi hati kecilnya tidak bisa berdusta jika kerongkongan terasa begitu kering ketika menyaksikan setiap kali para tamu menegak anggur mahal tersebut seolah sedang meminun air putih biasa.


Begitu berdiri di samping meja pelanggan bernama Edvan tersebut, Ivy tidak bisa mengindahkan tatapannya pada struktur garis sempurna di wajah milik Edvan. Terlebih ketika pria itu meliriknya sehingga membuat mata mereka bertemu, jantung Ivy seolah berhenti berdetak karena iris mata biru kobalt yang seperti sebuah magnet.


Dengan tangan yang gemetaran Ivy menuangkan separuh gelas anggur merah pada masing-masing gelas milik Edvan dan pasangannya. Ivy sempat melihat piring Eva yang masih penuh, dalam hati dia mengumpat bagaimana wanita itu bisa menyiakan makanan semahal dan selezat itu. Jika saja manager mengijinkan para pelayan mencicipi makanan tersebut maka dia tidak akan keberatan mendapatakan makanan sisa dari restoran mahal seperti ini. Mengingat kehidupannya yang terkadang kekurangan makanan di rumah.


Ivy sudah kembali ke tempatnya semula setelah mengembalikan botol anggur pada rak yang sengaja dipajang di tengah sisi untuk menunjukkan pada para tamu jika restoran ini memiliki koleksi anggur yang menggiurkan. Sayangnya sang manager menyuruhnya untuk mengantarkan pesanan dari meja nomor dua puluh yang berada tidak jauh dari meja VIP. Wanita itu mendorong troli makanan untuk dihidangkan pada sang tamu yang sudah menunggu seraya menggenggan jemari kekasihnya.


Tapi alangkah terkejutnya dirinya ketika mendapati bawa pengunjung itu ialah Ric, kekasihnya. Iris mata hitam Ivy melebar seketika terlebih ketika seakan baru menyadari jika yang sedang bersama dengan Ric adalah seorang wanita muda dengan rambut bewarna madu dengan kecantikan yang mengingatkannya pada Ester Exposito. Ric masih menggenggam jemari tangan wanita itu ketika Ivy menghampiri. Kini Ivy ingin sekali menyiramkan isi anggur ke kepala Ric seraya menuntut penjelasan.


"Ivy." Ric menyebut namanya. Tapi bukan itu yang diinginkan oleh Ivy dia ingin penjelasan sekarang juga.


"Kau bilang padaku jika kau harus lembur?" Sebelah alis Ivy dinaikkan. Memang benar satu jam yang lalu Ric mengirimnya pesan karena malam ini Ivy ingin bercengkerama dengan pria itu.


"Dan katakan siapa wanita ini?" Ivy menunjuk wanita yang menemani Ric makan malam.


"Ric, ada apa ini? Kau kenal pelayan yang bersikap kurang ajar ini?" Ucap wanita itu memandang remeh Ivy seolah dia merupakan bakteri yang harus dihindari.


"Aku Ivy, kekasih Ric." Jawab Ivy tanpa ragu.


"Kekasih? Omong kosong. Akulah kekasihnya, kami sudah berkencan selama dua tahun." Ujar wanita cantik itu menahan tawa seolah apa yang dikatakan Ivy hanya sebuah bualan semata.


Ivy balik menatap Ric yang hanya bungkam, "Ric, katakan padanya jika aku memang kekasihmu." Tuntut Ivy kali ini harus merendahkan tubuhnya supaya wajahnya bisa berada tepat di depan wajah pria itu.


Ric menatap Ivy dengan mata seolah menatang, sejurus kemudian pria itu pun terkekeh-kekeh seolah ada kejadian yang menggelikan. Lalu pria itu kembali menatap Ivy, dia memicingkan matanya. "Dia memang kekasihku dan kami memang telah berkencan selama dua tahun." Jelas Ric tanpa dosa.


Gigi Ivy bergemeletak mencoba menahan emosinya, "Katakan jika kau sedang bercanda? Lalu yang terjadi beberapa bulan diantara kita ini apa? Kau yang secara terang-terangan mendekatiku."


"Berkacalah dan sadarkanlah dirimu, sayang. Jika ada pria sepertiku mendekati wanita sepertimu tidak lain karena masalah ranjang. Untuk apa kami repot-repot berkencan dengan seorang pramusaji? Membuang waktu saja." Kalimat keji itu meluncur dengan mudahnya dari bibir Ric. Bibir yang selama berbulan-bulan ini menjamah Ivy.


Merasa dipermalukan dan dipermainkan, Ivy mengambil piring Ric yang berisi pasta lalu menumpahkan isinya pada jas warna krem milik pria itu yang secara jelas meninggalkan noda.


"Apa-apaan ini!!" Protes Ric seraya membersihkan pasta yang mendarat sempurna pada dadanya.


Lalu Ivy menoleh untuk menatap kekasih Ric. Ivy marah karena wanita itu hanya bergeming setelah mendengar fakta kejam yang barusan diakui oleh kekasihnya.


"Aku kasihan padamu karena harus berkencan dengan pria seperti ini. Dan kau." Ivy kembali mengarahkan tatapannya pada Ric yang sedang sibuk membersihkan jasnya.


Belum sempat Ivy melanjutkan kalimatnya, Ric meraih botol anggur yang berada di atas meja, dengan cekatan pria itu membuka tutup anggur seraya berdiri. Sedetik kemudian Ric menuangkan amggur tersebut di kepala Ivy tanpa tersisa menyebabkan wanita itu basah kuyup. Sementara Ivy masih berusaha memproses yang terjadi padanya, manager restoran sudah berlati dan menghampiri mereka.


"Kukatakan padamu, berhentilah bermimpi. Kau tidak lebih dari pemuas nafsu belaka. Kau itu sama halnya dengan para pelacur yang menjajakan diri mereka." Ric menunjuk-nunjuk Ivy menggunakan telunjuknya. Suaranya begitu lantang sehingga membuat beberapa pengunjung menoleh ke arah mereka.


Ivy begitu terguncang sampai-sampai yang bisa dilakukannya hanyalah menangis. Hatinya merasa begitu sakit seolah seseorang telah dengan sengaja menancapkan sebilah pisau tajam tepat mengenai hatinya. Dia ingin sekali membalas ucapan Ric yang dengan serta merta telah melukainya dan membuat Ivy seolah ditelanjangi di muka umum. Ivy terlalu malu untuk menegakkan kepalanya namun kedua tangannya terkepal di samping pahanya. Ivy yakin kuku-kukunya telah melukai telapak tangannya karena dia bisa merasakan perih di sana. Tapi siapa peduli hatinya lebih sakit sehingga rasa sakit lainnya seolah tersamarkan.


Manager restoran meminta maaf pada Ric lalu menarik Ivy dari kekacauan yang telah diciptakannya. Dia berderai air mata tapi berusaha untuk tetap tegar. Sementara tatapan para pengunjung masih menemani kepergiannya.