LOVE DESIRE

LOVE DESIRE
Empat



Ivy bangkit dan mulai melangkahkan kakinya menuruni anak tangga teras rumahnya. Dia menenteng tas ranselnya yang merupakan satu-satunya barang bawaannya. Harus pergi meninggalkan istana yang seumur hidup ditinggalinya rasanya menyesakkan seolah dirinya sedang tenggelam di dasar laut sementara paru-parunya telah dipenuhi oleh air. Namun di sisi lain dia juga merasa lega karena untuk kali pertama dirinya terbebas dari belenggu sang kakak. Pikirnya, Jason tidak akan bisa mengganggunya lagi, pria itu tidak akan pernah menghabiskan uang tabungannya untuk berjudi ataupun membeli alkohol. Masa-masa dirinya berada dalam penjara sudah usai.


Namun saat ini bukan itu yang dipikirkannya melainkan hari semakin malam dan Ivy tidak memiliki tempat untuk beristirahat. Satu-satunya tempat yang akan didatanginya adalah motel murah di pinggir kota. Selanjutnya dia akan memikirkan untuk mencari rumah sewa serta pekerjaan baru esok harinya. Tubuhnya yang lelah sudah meronta untuk diistirahatkan.


Ivy bisa saja menghubungi temannya, Lea, seorang keturunan Meksiko yang selama lima tahun ini setia mendengarkan keluhannya mengenai sang kakak. Tapi Ivy ingat benar bahwa Lea tinggal bersama sang kekasih yang sifatnya kurang ramah, terlebih jika seseorang berkunjung di malam hari, apalagi Ivy datang bukan sekedar untuk bertamu melainkan menginap. Kekasih Lea bekerja sebagai seorang sales minuman berkarbonasi yang membuatnya sangat tidak menyenangkan untuk diajak mengobrol, mungkin beban pekerjaan yang membuat pria itu menjadi begitu serius meski terhadap hal yang paling kecil sekalipun. Lea pernah bercerita ketika sarapan dan di kulkas hanya terdapat satu butir telur, Lea mengusulkan untuk membeli sarapan di kafe dekat apartemen mereka tapi kekasihnya bersikeras untuk memilih tidak sarapan.


Ivy menatap angka jam pada layar ponselnya, sudah hampir tengah malam. Sekelompok tunawisma serta para anak muda bengal gemar berkumpul di blok tempatnya tinggal dan seringnya mereka begituĀ  meresahkan dengan menodong beberapa pejalan kaki yang sialnya srdang melintas area tersebut. Wanita seperti Ivy pastilah menjadi sasaran empuk dan Ivy bukanlah tipe wanita pemberani selayaknya para karaker wanita pada serial Arrow.


Dalam hati Ivy berdoa semoga malam ini kesialannya tidak menggunung karena jelas sekali Tuhan tengah mengujinya dengan selusin masalah yang datang hanya dalam semalam. Wanita itu merapatkan jaketnya karena udara malam membekukan kulitnya, jaketnya sudah usang dan terlalu tipis sudah semestinya dia membeli yang baru. Tapi uang bagaikan harta karun yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya, sehingga Ivy mengabaikan semua jeritan mengenai bagaimana buruknya koleksi pakaiannya.


Bohong jika Ivy tidak ingin membeli pakaian baru yang dipajang di butik yang setiap hari dilewatinya. Dia juga merupakan wanita normal yang ingin nampak cantik serta menarik di depan lawan jenis. Sekarang dia mengerti kenapa Ric tidak pernah berkomentar mengenai caranya berpakaian atau kenapa Ivy tidak pernah mengenakan pakaian bermerk dan lebih senang membeli baju di pasar kelontong, alasannya karena Ric tidak pernah mencintainya. Pria itu mengencaninya hanya untuk memuaskan nafsu lelakinya saja. Sial! Kenapa Ivy terus memikirkan pria brengsek tersebut. Ric tidak pantas berenang di dalam otaknya.


Seraya melangkah lebar meninggalkan halaman rumahnya yang penuh dengan kaleng bekas bir, sorot mata Ivy menangkap sesuatu yang janggal dalam hidupnya. Sebuah limosin diparkir di seberang jalan, belum pernah sekalipun mobil mewah melintasi area ini, karena memang lingkungan tempat tinggalnya bukanlah tempat yang ramah untuk para jutawan. Tapi limosin bewarna hitam legam yang begitu mewah serta sangat seksi itu seolah menantang para preman yang tinggal di sini. Entah kepentingan apa yang dimiliki oleh sang penumpang tapi semakin diamati limosin itu semakin terlihat menakutkan.


Mungkinkah Jason terlibat sesuatu yang mengerikan yang melibatkan para jutawan tersebut. Mungkinkah sang kakak mencuri atau sengaja melukai salah satu keluarga mereka sehingga mereka sengaja mengawasi rumahnya. Seharusnya Ivy tidak peduli pada sang kakak seperti selayaknya Jason tidak mempedulikannya. Namun entah kenapa secara tiba-tiba Ivy merasa ketakutan, dia takut jika nanti jadinya nasib sang kakak seperti dalan film-film Itali yang melibatkan para mafia.


Sebelum wanita itu semakin mencenaskan sang kakak, dia mempercepat langkah kakinya. Tidak ada yang tahu jika nanti Ivy dijadikan tawanan untuk memancing Jason keluar. Dan dari film yang pernah dilihatnya, menjadi tawanan tidak pernah berakhir dengan baik.


Benar saja, baru beberapa meter menajuh dari rumahnya, Ivy mendengar suara mesin limosin tersebut di balik punggungnya. Jelas kentara sekali jika limosin tersebut sengaja mengikutinya. Meski jantungnya bergemuruh selayaknya genderang yang bersiap untuk perang tapi sebisa mungkin wanita itu berjalan dengan normal untuk tidak menarik perhatian dari penumpang limosin. Ivy sudah merencanakan diri jika dia akan melewati gang kecil beberapa meter di depan sehingga limosin ini tidak bisa mengikutinya.


Sayangnya Tuhan tidak merestui keinginannya karena sejurus kemudian indera pendengarannya menangkap sebuah suara berat yang memanggil namanya.


Ivy sengaja tidak menoleh dan terus memantapkan langkahnya tapi limosin tersebut sudah menyejajarkan diri dengan Ivy. Wanita itu tergoda untuk menoleh terlebih saat suara berat itu masih berusaha menarik perhatiannya dengan memanggil-manggil namanya.


Ivy bernapas lega ketika melihat limosin tesebut mendahuluinya, mungkin sang penumpang merasa sebal karena diacuhkan. Namun tiba-tiba saja limosin tersebut berhenti sejauh dua meter darinya lalu pintu penumpang terbuka. Ivy merasa cemas sekaligus gugup ketika pintu penumpang mobil mewah tersebut terbuka. Wanita itu mengamati dengan seksama sosok berstelan yang keluar dari dalam limusin tersebut. Sosok tinggi tegap serta dada lebar kini berdiri dua meter darinya, sayangnya wajah pria tersebut tidak terlihat begitu jelas karena penerangan jalan yang minim. Naamun Ivy bisa menerka jikalau pria itu pastilah memiliki rupa yang rupawan. Setiap pria kaya selalu terlihat menawan.


Ivy tidak berani melangkah maju, wanita itu mematung di tempatnya. Dia bahkan menahan napasnya saat sosok pria itu mulai melangkahkan kaki menuju tempatnya berada. Irama jantung Ivy berdebar begitu kencang seolah ingin melompat dari tempatnya. Perutnya pun terasa bergolak dan kini ditambah dengnb tenggorokannya yang ikut tersekat, Ivy benci sensasi seperti ini, yang membuatnya terlihat seperti wanita lemah.


Suara langkah kaki yang diciptakan oleh sepatu yang terbuat dari kulit tersebut terdengar semakin keras sejurus dengan sosok pria itu yang kini nampak jelas. Ivy mengernyitkan keningnya karena jelas sekali dia mengenali pria yang berdiri di hadapannya. Pria itu merupakan seorang tamu VVIP yang sempat dilayaninya di restoran sebelum Antony, manager sialan itu memecatnya. Rupanya pria itu begitu tinggi sampai-sampai Ivy harus mendongak untuk menatapnya. Mungkin tingginya sekitar 184 cm, karena Ivy hanya setinggi dagunya sementara tinggi badannya sendiri 168 cm.


Ivy masih bertanya-tanya kenapa pria ini mendatanginya? Karena Ivy tidak merasa memiliki kesalahn apapun ketika tadi melayaninya. Terlebih hal yang paling ganjil adalah bagaimana pria itu mengetahui namanya, Ivy tidak pernah berkenalan dengan para tamu restoran, dia juga tidak mengenakan nametag.


"Sorry sir, apakah aku melakukan suatu kesalahan?" Tanya wanita itu, perutnya bergolak.


Pria itu tersenyum dan senyumannya begitu menawan, sebelumnya Ivy tidak memperhatikan jika pria itu sungguh tampan.


"Kau tidak melakukan kesalahan apapun, justru kau telah menyelamatkan hidupku." Ucapnya. Suaranya yang berat terass menenangakan ketika tertangkap indera pendengaran membuat debaran jantung Ivy perlahan normal kembali.


Ivy mengeryitkan keningnya karena tidak mengerti dengan arah pembicaraan pria tersebut. Seingatnya Ivy tidak melakukan apapun lantas kenapa pria itu berujar jika Ivy telah menyelamatkan hidupnya. Mungkinkah pria ini salah mengenali orang atau mungkin pria ini mabuk sehingga melantur. Kedua alasan tersebut sama-sama masuk akalnya.


"Kupikir kau salah mengenali orang. Namaku memang Ivy tapi aku tidak mengenalmu, sir. Aku baru melihatmu malam ini sewaktu di restoran." Jelas Ivy seraya menatap bola mata biru kobalt itu.


"Benarkah? Kau tidak mengingatnya?" Tanya pria itu. Raut wajahnya tidak menunjukkan jika dia sedang bercanda.


Ivy menggeleng. "Ingatanku sangat baik dan aku yakin sebelum malam ini kita belum pernah bertemu."


"Musim panas tahun dua ribu empat, SMA NYC pagi hari di kolam renang." Jelas suara berat itu.


Ivy tertegun, secara samar-samar dia bisa mengingat sebuah kenangan dari ingatannya. Lalu Ivy mengamati wajah pria yang berdiri di hadapannya, kali ini lebih dalam. Mulutnya terpekik ketika menyadari jika pria itu merupakan siswa yang pernah ditolongnya. Ivy masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana dia terkejut ketika dia keluar dari kamar mandi kolam renang lalu mendapati salah seorang siswa terjatuh dari papan lompat kolam renang. Dan siswa itu tidak bergerak.


Secara naluriah Ivy berlari ke arah kolam lalu terjun guna menyelamatkan siswa tersebut. Meski sedikit kesulitan karena berat badan mereka berbeda Ivy tetap berhasil mengeluarkan siswa terdebeut dari dalam kolam. Sebelum memanggil guru jaga UKS, Ivy sempat memberikan napas buatan untuk siswa tetsebut. Ivy bwgitu penasaran bagaimana siswa tersebut jatuh dari papan kolam. Terlebih sepertinya siswa tersebut bukanlah salah satu anggota tim renang.


Ivy sempat mengira jika siswa itu sengaja ingin bunuh diri, sampai saat ini Ivy masih menerka-nerka. Ivy hanya tidak menyangka jika siswa itu saat ini tengah berdiri di hadapannya.


"Aku ingat." Ucap Ivy seraya menatap Edvan dengan takjub. Bagaimana Ivy bisa melupakan kejadian tersebut meskipun wanita itu pangling dengan sosok masa kini siswa yang ditolongnya karena Demi Tuhan, penampilan Edvan jauh berbeda. Dulu pria itu sedikit kurus, wajahnya tampan tapi sekarang selain tampan juga berkarakter. Tubuhnya juga verbeda kini lebih tegsp dan berotot, jelas sekali jika pria itu rajin berolahraga.


"Tapi bagaimana kau bisa mengingatku? Kau bahkan tidak sadar saat aku mengeluarkanmu dari kolam."


Ivy terdiam dia bingung bagaimana cara menanggapi pengakuan Edvan barusan. Yang dilakukannta justru menatap ke bawah, ke arah sepatu ketsnya dan sepatu kulit yang dikenakan Edvan. Sesaat kemudian Ivy tersadar bagaimana status sosial antara dirinya dan pria yang berdiri di hadapannya ini terpaut begitu jauh selayaknya jarak bumi ke jupiter. Ivy selalu merasa tidak percaya diri setiap kali berhadapan dengan mereka yang strata sosialnya tinggi, kebiasaan orang-orang tersebut yang suka mengejek oranf miskin sepertinya membuatnya sedih, jengkel dan jengah.


"Sudah larut, kau mau ke mana?" Selidik Edvan. Pri itu menerka-nerka jika Ivy mungkin hendak mencari hotel atau motel untuk menginap atau mungkin dia berencana untuk pergi ke apartemen temannya. Yang jelas apa yang dilihatnya tadi menunjukkan jika kakak Ivy bukanlah pria ramah yang melindungi sang adik karena tidak mungkin seoranf kakak membiarkan adik perempuannya terseok-seok mencari tempat menginap, terlebih saat ini sudah begitu larut sangat berbahaya untuk wanita seperti Ivy.


"Ehmm.. aku" belum sempat Ivy menyelesaikan kalimatnya, Edvan sudah memotongnya terlebih dulu.


"Biarkan aku mengantarmu."


Ivy mengibaskan tangannya di depan dada. "Tidak perlu, tujuanku hanya beberapa blok dari sini, aku tidak akan merepotkanmu."


"Aku sama sekali tidak repot. Masuklah ke dalam mobil, sudah sangat larut dan suasana malam hari tidak begitu bersahabat untuk para wanita." Suara berat Edvan terdengar begitu lembut di telinga Ivy membuat wanita itu seolah tersihir dan menuruti perkataan Edvan.


Ini merupakan kali pertamanya berada di dalam sebuah limosin. Ivy tidak akan menyangkal jika semasa remaja dia seperti kebanyakan gadis lainnya yang berkhayal datang ke pesta dansa dengan mengendarai limusin. Meski mimpinya mungkin terlalu tinggi siapa sangka semua itu kini terwujud, Ivy bahkan sudah melupakan mimpinya tersebut karena dia sadar diri bahwa wanita sepertinya hanya pantas naik subway.


Ivy berdecak kagum mengamati interior mobil mewah milik Edvan. Kursi penumpangnya sangat empuk dsn nyaman sekali untum diduduki bahkan lebih empuk ketimbang kasurnya di rumah, wanita itu bahkan yakin akan tidur dengan pulasnya di kursi yang didudukinya.


Interiornya didominasi warna hitam yang begitu maskulin dan cocok sekali dengan penampilan Edvan. Terdapat televisi serta beberapa gelas coktail beserta wine berjajar pada meja, tidak lupa buah seperti anggur ruby roman yang bewarna merah, stroberi, juga apel pun tersaji dan siap untuk dinikmati.


Ivy menoleh menatap Edvan yang duduk pada kursi single dekat dengan pintu. Dalam hatinya, Ivy merasa lega karena pria itu tidak memilih duduk di sebelahnya karena biar bagaimana pun sebelumbya mereka tidak pernah berbincang.


"Sebelumnya aku minta maaf, tapi aku belum mengetahui namanmu meski kita pernah bersekolah di tempat yang sama." Ivy meringis mengingat dia memang tidak tahu nama Edvan.


Edvan tersenyum, "Ed, Edvan."


Ivy balas tersenyum, "Edvan, okay." Wanita itu memainkan saku jaketnya seraya memeperhatikan atap limosin yang terang karena lampu led.


"Maaf karena kau harus kehilangan pekerjaanmu." Tukas Edvan yang membuat kening Ivy mngernyit.


"Bagaimana kau bisa tahu jika aku dipecat?" Wajahnya mendadak pucat, dia takut jika Edvan merupakan pria kaya pshyco yang diam-diam sudah lama menguntitnya.


Melihat reaksi dari Ivy Edvan spertinya paham jika wanita itu merasa takut dab cemas. "Aku sudah memecat Antony, seharusnya sudah kulakukan sejak dulu. Dia memang tidak becus bekerja terlebih caranya memeperlakukan karyawan sama sekali tidak bijak. Kupikir tadinya dia hanya akan menskorsmu saja atau setidaknya memberikan dukungan moral. Jadi sekali lagi, aku minta maaf."


"Bagaimana bisa kau memecat Antony?" Ivy masih merass kebingunagn dengan penjelasan Edvan. Ivy tidak pernah tahu siapa pemilik dari restoran tempatnya bekerja, mungkinkah Edvan adalah orangnya.


"Rhys adalah nama tengahku. Edvan Rhys Cavali, apa sekarang kau merasa tidak asing dengan nama itu?"


Ivy membekap mulutnya karena dia sudah pasti melongo. Suatu kebetulan yang tidak disengaja. "Fakta ini sungguh menarik. Lalu kenapa sebelum ini kau tidak pernah muncul di restoran? Aku sempat mengira restoran itu milik Enzo karena semua orang patuh padanya. Dan aku memang malas untuk membaca secara lengkap mengenai Rhys Restaurant." Ivy mengakhiri kalimatnya dengan mememarkan senyuman tanpa dosanya.


"Sekarang kau sudah tahu." Edvan meraih sebotol white wine jenis riesling lalu menuangakan seperempat gelas untuk diberikan kepada Ivy. "Kau minum anggur, kan?"


Ivy menerima gelas tersebut lalu menyesap anggurnya, dia belum pernah mencicipi anggur mahal seperti ini, sensasinya ketika melewati tenggorokan sungguh nikmat dan menyegarkan.


"Setelah menyelmatkanku dari dalam kolam, aku mencoba menemuimu tapi kudengar kau keluar dari sekolah. Aku mendapatkan alamatmu dari kepala sekolah tapi rupanya kau dan keluargamu pindah rumah. Malam ini saat tiba-tiba kau muncul sambil menuangkan anggur untukku, aku tidak percaya bahwa setelah empat belas tahun akhirnya aku bisa mengucapkan terimakasih padamu." Mata biru kobalt itu menatap Ivy yang membuat wanita itu salah tingkah.


"Dunia ini memang terkadang lucu, bukan?" Ivy kembali menikmati anggurnya. Kemudian dia mengamati jalanan yang terasa asing baginya. "Kupikir aku menumpang terlalu jauh, bisakah kau meminta sopirmu menghentikan mobilnya di depan sana?"


Edvan menggeleng, "Sudah sangat larut, aku tahu kau sedang mencari tempat untuk menginap, aku melihat bagaimana pria itu melemparmu ke luar rumah. Sebagai ucapan terimakasihku, malam ini menginaplah di rumahku."


Wajah Ivy murung sekaligus merasa malu karena seseorang melihat bagaimana Jason memperlakukannya. Namun dia tidak bisa menerima tawaran Edvan begitu saja, rasanya aneh dan tidak nyaman karena mereka baru saja bertemu. Ivy tidak ingin tampak seperti wanita panggilan atau semacamnya.


"Terimakasih tapi kurasa tidak perlu, aku bisa menginap di motel."


"Aku bersikeras. Jangan khawatir, aku bukan pria brengsek yang memanfaatkan kelemahan wanita, kau aman di rumahku."