LOVE DESIRE

LOVE DESIRE
Tiga



Edvan melangkahkan kakinya dengan begitu tenang tetapi penuh tekad. Pria itu tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Ivy yang ditarik paksa oleh sang manager restoran. Pria berambut tipis yang nyaris botak itu mencengkeram lengan Ivy dengan begitu erat sehingga menyebabkan wanita itu meringis. Manager restoran membawa Ivy menuju ruangannya yang berada bersebelahan dengan dapur.


Dalam perjalanannya Edvan setidaknya melewati sekurangnya setengah lusin pramusaji yang menyapanya seraya menundukkan kepala. Pria itu membalasnya dengan seulas senyum tipis yang sungguh menawan. Sebagai seorang pemilik restoran, Edvan dibilang sangat jarang sekali berkunjung. Dia akan meminta Enzo untuk melaporkan kondisi restoran. Dan sahabatnya itu sekarang sedang sibuk menyiapkan menu karena dia tidak menyadari kehadiran Edvan.


Edvan berhenti di depan pintu ruangan sang manager yang terbuat dari kaca buram. Pria itu sengaja menahan pintu dengan kakinya supaya tetap terbuka guna untuk mendengar pembicaraan yang akan dilakukan oleh kedua orang tersebut. Beruntung karena, manager restoran tidak menyadari hal kecil tersebut, setidaknya Edvan hanya ingin melihat sisi lain dari karyawannya jika dia tidak sedang berada di sekitar. Jika menilik dari mimik muka sang manager sepertinya pembicaraannya tidak akan berjalan dengan baik.


"Jelaskan padaku, kenapa kau membuat kekacauan seperti itu? Membuat marah pelanggan dan bahkan menumpahkan makanannya." Sang manager duduk pada meja kerjanya sementara Ivy berdiri memetung seraya menundukkan wajah. Wanita itu tahu diri jika memang perbuatannya tadi keliru.


Sang manager menyugar rambut tipisnya yang klimis, lalu kembali berbicara. "Kau tahu makanan tadi setara dengan dua kali gajimu. Lalu bagaimana caramu memperbaikinya?"


Sang manager restoran bahkan tidak bertanya bagaimana perasaan Ivy yang dipermalukan di depan umum. Tangan wanita itu meremas roknya seraya menahan luapan emosinya yang belum kunjung reda. "Aku akan menggantinya, kau bisa memotong gajiku."


"Omong kosong " Tawa pria itu mencemooh.


"Aku serius, kau bisa memotongnya. Aku rela mendapat gaji separuh." Ucap Ivy, tetesan anggur merah menetes melalui ujung rambutnya yang basah.


Manager restoran memijat pelipisnya seolah pria itu merasakan pusing pada bagian tersebut, lalu menggeleng secara dramatis. "Aku tidak suka mengatakan ini, tapi kau benar-benar telah membuat kekacauan. Belum pernah sekalipun ada pelayan yang membuat onar sepertimu. Kau bahkan menarik perhatian tamu-tamu vip kita."


Ivy mengangkat wajahnya yang masih basah karena air mata yang bercampurdengan anggur merah. "Kau tidak bisa menumpahkan kesalahan padaku sepenuhnya. Ric yang membuat semuanya menjadi kacau. Kau bahkan tidak berusaha membelaku,"


Manager restoran tersenyum sinis, pria itu memotong ucapan Ivy sebelum wanita itu sempat menyelesaikannya. "For god's sake, untuk apa aku melakukannya?"


"Dia bahkan mengucapkan kalimat yang membuatku nampak seperti pelacur hina." Ivy terlonjak mendengar suaranya yang lantang.


"Well, aku sama sekali tidak peduli, nona. Jika kau pikir pria tadi mau mengencanimu dan sungguh-sungguh mencintaimu maka mungkin mimpimu ketinggian."


Wajah Ivy memerah menahan emosinya, dia ingin menubruk pria yang saat inu berada dalam pantulan bola matanya kemudian meninju wajahnya dengan segenap tenaganya. Tidak bisakah para pria memandang wanita miskin sepertinya selayaknya wanit normal pada umumnya. Tidak semua wanita sepertinya memacari pria kaya hanya untuk memperoleh uang secara cuma-cuma. Ivy bahkan tidak pernah menerima satu sen pun dari Ric. Dia memang menyukai pria itu karena Ivy berpikir jika Ric berbeda dengan pria kaya pada umumnya.


Tapi nyatanya pemikirannya salah kaprah. Ric tidak lebih dari pria hidung belang yang menjadikannya sebagai budak ****. Jika dipikir lagi Ivy merasa lebih hina dan bodoh daripada pelacur, setidaknya para pelacur masih mendapatkan uang sementara Ivy mendambakan sebuah cinta palsu.


"Aku akan mngirimkan uang pesangon pada akun bankmu. Tapi sorry aku tidak bisa memekerjakamu lagi. Aku tidak mau mengambil resiko di masa depan, kekacauan apa lagi yang kau sebabkan."


"Kau tahu di mana pintu keluarnya kan?"


Tanpa perlu dipermalukan untuk yang kedua kalinya Ivy berbalik lalu berjalan dengan langkah lebar keluar dari ruangan di mana dia berada sekarang. Wanita itu membuka pintu secara kasar, Ivy nyaris menghantamkan pintu kaca pada hidung Edvan tapi sepertinya wanita itu tidak melihat sosok Edvan, karena Ivy melenggang begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Edvan menatap kepergian Ivy dengan penuh rasa iba, beberapa menit yang lalu wanita itu harus menahan rasa malu di hadapan seluruh pengunjung restoran karena ulah pria brengsek yang rupanya kekasih wanita itu. Belum sempat bernapas lega, wanita itu harus kehilangan pekerjaannya karena seorang pria yang rupaya tidak kompeten dalam mengurusi pekerjaannya sebagai manager. Biasanya Edvan tidak akan peduli, tapi malam ini dia tidak bisa membiarkannya begitu saja.


Manager restoran terkesiap ketika mendapati Edvan berdiri dengan bahu yang begitu lebar tepat di depan pintu ruangannya. Tanpa perlu dipersilahkan Edvan melangkah masuk ke dalam ruangan seluas 3x4 m tersebut. Matanya seperti seekor elang yang sedang menelusuri seluruh isi ruangan yang didominasi warna putih tersebut. Lalu tatapannya berhenti pada sosok managernya yang berdiri tegang pada tempatnya, seolah paham jika dia merupakan mangsa yang begitu empuk.


"Jadi, bagaimana pekerjaanmu malam ini?" Edvan menempatkan diri duduk di kursi milik sang manager, kakinya diangkat ke udara lalu mendarat pada meja.


Manager restoran berbalik guna menghadap Edvan dengan tubuh yang bergetar, kehadiran pria itu benar-benar mengintimidasi. "Semuanya baik." Jawabnya gugup.


Senyum Edvan mengembang, bukan sebuah senyuman yang kau harapkan di saat situasi seperti ini melainkan senyum mencemooh yang kentara sekali. "Siapa wanita yang tadi?"


"Dia karyawan di sini dan jika kau memperhatikan, beberapa menit yang lalau sempat membuat onar pada salah satu meja tidak jauh dari tempatmu." Jelas manager tanpa menguarangi kegugupannya.


"Sepertinya dia tampak tidak senang," mata Edvan menyipit seolah sedang menyelidiki sebuah kasus kriminal, dia berperan sebagai sang polisi.


"Aku baru saja memecatnya, dia sudah mempermalukan restoran ini. Belum pernah sekalipun aku melihat seorang pelayan yang menyerang pelanggan seperti tadi." Jelasnya penuh dengan rasa bangga.


Edvan tersenyum kecut jelas tidak suka dengan penjelasan sang manager restoran. Pria itu menurunkan kakiknya dari meja lalu berdiri seraya marapikan jasnya. Kakinya melangkah menuju pintu keluar tapi dia berhenti di samping kusen, kepalanya menoleh. "Oh ya, mulai besok kau tidak perlu repot-repot untuk datang ke sini lagi, karena malam ini kau diberhentikan dari pekerjaanmu. Jangan sungkan untuk segera membereskan ruangan dan jangan sampai ada barang yang tertinggal."


Mulut si manager melongo seolah baru saja terkena sambaran petir. Otaknya masih belum bisa mencerna ucapan yang keluar dari bibir Edvan. Dia mendengar Edvan merupakan pimpinan yang disiplin dan juga tegas pada karyawannya. Tapi manager itu masih belum mengerti dengan kesalahannya. Dia merasa perlu bertanya lebih lanjut lagi, jadi dia segera berlari keluar dari ruangannya sebelum Edvan kembali duduk di kursinya seraya menikmati makanannya.


"Tuan Cavali tunggu sebentar!" Sang manager restoran berhasil meraih lengan Edvan, dia bahkan menarik jas milik Edvan beruntung karena tidak sobek.


Edvan menoleh dan mendapati managernya berdiri di hadapannya dengan wajah pucat. Lalu pandangan matanya beralih pada tangan manager tersebut yang masih berada di lengan Edvan, pria itu mengernyitkan dahi untuk menunjukkan rasa tidak sukanya. "Apa yang kukatakan padamu kurang jelas?"


Edvan meringis mendengar pernyataan amangernya yang rupanya tidak punya malu. "Kau ingin tahu kesalahanmu? Sebagai manager di sini salah satu tugasmu ialah mengayomi semua karyawanmu tanpa terkecuali. Tapi yang kulihat malam ini kau bertindak sembrono dan malah memecat salah satu karyawan yang seharusnya kau bela di depan pengunjung yang tidak menunjukkan rasa sopan santun."


"Ta.. tapi.."


"Aku tidak ingin mendengar pembelaan lagi, segera kemasi mejamu. Besok seseorang yang jauh lebih berkompeten akan menempati mejamu. Dan kupastikan orang itu tidak akan segan membela karyawannya daripada pengunjung kurang ajar seperti yang kusaksikan tadi."


***


Edvan terpaksa menyudahi acara makan malamnya dengan Eva, dia juga berencana untuk mengantarkan pasangannya itu kembali ke apartemen. Seperti dugaannya Eva sempat merajuk tapi pria itu tidak bisa meneruskan hubungannya dengan Eva, Edvan harus segera mengakhirinya.


Ketika menunggu limosinnya, Edvan bertemu dengan Ric, sang kekasih brengsek pembuat masalah di restorannya. Pria itu sedang bertengkar dengan kekasihnya, Edvan merasa terhibur dengan pemandangan tersebut terlebih ketika si wanita tanpa sungkan menendang ************ Ric lalu berlari meninggalkan pria itu untuk masuk ke dalam taxi. Edvan tidak bisa menyembunyikan senyumnya saat Ric mengaduh dan mencoba mengejar kekasihnya namun usahanya sia-sia saja. Pria seperti Ric memang perlu menerima konsekuensi ataa perbuatannya. Edvan hanya merasa kenapa harus menunggu selama itu untuk menumpahkan kekesalannya padahal wanita itu bisa membela Ivy dengan menyalahkan Ric, mungkin karena rasa malu yang membuatnya bergeming.


Begitu limosin datang, Edvan menuntun Eva untuk masuk ke dalam mobil mewah tersebut. Eva masih memberengut tapi wanita selalu bisa ditaklukan dengan sebuket bunga mawar sekaligus kalung berlian, karena itu Edvan sudah berpesan pada sopirnya yang seusia ayahnya untuk membeli dua benda tersebut. Esoknya Edvan hanya tinggal mengakhiri hubungan mereka.


Begitu menurunkan Eva dan memberikan kecupan singkat ucapan selamat malam pada wanita itu, Edvan memberikan sebuah alamat pada Harvey dan meminta pria itu untuk segera mengantarkannya ke tempat tersebut. Tanpa bertanya lebih lanjut Harvey segera melengang meninggalkan pelataran apartemen Eva.


Harvey merupakan pria berusia lima puluhan yang sudah begitu lama bekerja untuk keluarga Edvan bahkan sejak Edvan masih memakai popok, Harvey telah menjadi sopir pribadi ibunya. Seperti telah terikat pada keluarga Edvan, Harvey enggan untuk pensiun dari pekerjaannya, pria itu sudah menganggap Edvan seperti keluarganya sendiri terlebih karena pernikahannya dengan Martha tidak dianugerahi keturunan. Sehingga dengan menjadi sopir pribadi Edvan, Harvey juga merasa seolah menjaga anaknya sendiri.


Limosin milik Edvan berhenti di depan sebuah rumah sederhana di kawasan pinggiran Brooklyn. Rumah itu begitu kecil sehingga rasanya mustahil jika ditinggali lebih dari dua orang. Semua lampu penerangan masih menyala menyiratkan jika masih ada kehidupan di dalam sana.


"Apa kau mau turun? Atau biarkan aku yang masuk ke sana?" Tawar Harvey memecah pengamatan Edvan.


"Tidak perlu, aku hanya memastikan alamatnya benar."


"Jika aku boleh bertanya, ini rumah milik siapa?"


Edvan tersenyum, "Seseorang. Kau bisa kembali menyalakan mesin mobilnya." Perintah pria itu bertepatan dengan kemunculan sosok Ivy dari balik pintu. Keningnya berkerut karena apa yang disaksikannya sama sekali tidak pantas diterima oleh wanita itu.


***


Ivy masuk ke dalam rumahnya, seperti biasanya sang kakak, Jason sedang berpesta dengan teman-temannya. Botol-botol bir berserakan dan beberapa wanita teler di atas sofa. Asap rokok mengepul dari mulut sang kakak, tangannya memgang kartu remi, dia pasti sedang bertaruh seperti biasanya. Ivy berjalan melewati Jason tanpa perlu repot-repot untuk menyapa sang kakak karena dia menganggap pria itu tidak pernah ada.


Tapi sayang, sudut mata Jason menangkap keberadaannya, pria itu tertarik dengan kehadiran Ivy pada waktu yang masih terbilang sore untuk wanita itu. Biasanya Ivy sampai rumah tengah malam. "Kenapa pulang awal?" Selidik Jason tapi tidak digubris oleh Ivy karena wanita itu cepat-cepat menghilang ke dalam kamarnya.


Kamar itu berukuran dua kali tiga meter, meskipun sempit tapi Ivy tidak pernah memprotesnya. Dia masih sangat beruntung karena memiliki tempat untuk berteduh dibanding harus menggelandang di luar sana.


Ivy melempar tas selempangnya ke atas kasur sebelum akhirnya bokongnya juga mendarat pada kasur busa yang sudah begitu keras. Jika saja dia punya uang lebih, Ivy pasti akan membeli kasur baru yang begitu nyaman untuk ditempati. Setidaknya dia tidak akan merasakan serangan kram pads punggungnya setiap membuka mata. Wanita itu menekuk kedua kakinya seraya memebenamkan wajahnya diantaranya. Dia sedang menangisi kehidupannya yang berantakan seolah Tuhan memang telah menuliskan jalan hidupnya tidak akan pernah berakhir dengan mulus.


Diputuskan Ric di depan tempat umum seperti tadi, oh tidak lebih tepatnya dipermalukan, membuat Ivy tidak berani mengangkat dagunya lebih tinggi lagi. Dia merasa seperti seorang pelacur sungguhan yang hanya dibutuhkan oleh Ric jika pria itu menginginkan ****, mungkin inilah alasan kenapa Ivy tidak merasakan getaran yang menggairahkan setiap kali mereka bercinta.


Lalu melihat kekasih Ric yang hanya bungkam semakin membuatnya marah. Wanita cantik nan berkelas itu seharusnya membelanya, biar bagaimanapun juga secara tersirat dia juga dipermalukan oleh Ric. Kini Ivy hanya berdoa semoga saja kekasih Ric memutuskan pria itu setelah melihat bagaimana kelakuan asli dari Ric yang ternyata kejwm dan berhati dingin.


Yang paling membuatnya sedih adalah kehilangan pekerjaannya, kini otaknya harus bekerja keras untuk memperoleh pekerjaan yang baru. Bukan persoalan mudah untuk mendapatkannya di tengah ribuan pengangguran yang juga berjuang untuk memperoleh pekerjaan. Jika saja dia tidak dipecat mungkin jalannya untuk mendapatkan pekerjaan baru akan lebih mudah karena biar bagaimanapun bekerja di The Rhys Restaurant secara tidak langsung membuat portofolionya terlihat menarik.


Pintu kamarnya terbuka dan dia mendapati Jason berdiri di ambang pintu dengan wajah murka. Pria itu menarik tubuh Ivy dengan kasar. "Katakan kenapa barusan aku menerima telpon jika uang pesangonmu sudah ditransfer? Kebodohan apa lagi yang membuatmy dipecat?"


Ivy berusaha menyembunyikan air matanya yang tidak bisa di bendungnya. "Memamgnya kenapa jika aku dipecat? Dari dulu aku yang menghasilkan uang dan mencukupi kehidupanmu. Kau tidak pernah memperoleh uang kau hanya menghamburkannya pada hal yang sama sekali tidak penting. Dan aku muak setiap hari melihatmu mabuk bersama teman-temanmu lalu aku yang harus merapikan semua kekacauan yang kau ciptakan." Kilatan kemarahan jelas sekali terpancar dari mata hitam miliknya.


Bola mata Jason melebar hingga nyaris keluar bahkan telinganya terasa begitu panas mendengar pengakuan Ivy barusan. Berani sekali adiknya itu berkata kasar padanya. Lalu dengan dikuasai kemarahan pria itu menarik tangan sang adik lalu tidak lupa menyambar tas milik Ivy. Jason membawa Ivy melewati ruang tamu yang menyisakan tanda tanya pada wajah teman-temannya. Lalu pria itu melempar tubuh Ivy di teras rumah.


"Pergi kau dari sini! Kau pikir aku senang memiliki seorang adik sepertimu? Kau penuh dengan aturan. Dan ingat jangan pernah kembali lagi ke rumah ini." Suara Jason begitu keras sehingga pasti akan menarik perhatiab para tetangganya.


"Jason, rumah ini juga merupakan rumahku dan aku berhak untuk tetap tinggal di sini!" Ivy maju berusaha untuk kembali masuk ke dalam rumahnya tapi tubuh Jason lebih besar dan tenaga pria itu sungguh kuat, tanpa berdosa Jason mendorong tubuh Ivy sehingga membuat wanita itu terhuyung sebelum akhirnya jatuh di lantai.


"Mulai detik ini rumah ini hanya milikku, kau paham?" Sedetik kemudian pintu berdebam karena dibanting meninggalkan Ivy yang tidak memiliki tenaga lagi untuk berontak.