Love Cat

Love Cat
Jane (Instant Noodle Never Felt This Good)



                                                                                Jane


                                                         (Instant Noodle Never Felt This Good)


“Nolan, nama ku Nolan. Aku teman kencan mu yang sudah menunggu selama 2 jam di café sialan itu” jawab Pria itu dengan wajah menyeringai. Mendengar hal itu jane bak terkena serangan jantung mendadak. Wajah nya memerah dan kepalanya otomatis menunduk seperti menyerah untuk mendongak. Kakinya yang sedari tadi sore sudah berlari-lari kini bergemetar hebat. Bukan karena lelah, melainkan karena malu. Ingin rasanya ia membeberkan kerja keras nya untuk bisa sampai ke café tersebut, tapi apa daya. Tubuhnya saat ini juga sudah terlalu lelah untuk berdebat. Maka pada akhirnya Jane memutuskn untuk menyerah dan menanggung segala kesalahan dan menerima segala makian.


“Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf” Jane membungkuk pada Nolan. Tatapan matanya kosong. Entah Nolan akan menerima maaf nya atau tidak, ia sudah tidak peduli. Pertama, Jane merasa bodoh kalau ia bahkan tak tahu wajah teman kencannya yang ternyata adalah pria yang tadi ditabraknya. Yang kedua, Jane kembali ingat semua percakapan Jane dengan Nolan sewaktu di café tadi. Ia bahkan memberitahu Nolan kalau ia sudah terlambat 2 jam untuk kencan. Ketiga, mengapa ia sangat tak beruntung untuk bertemu dengan Nolan disini. Bukankah tadi Nolan dan Jane sudah pulang sendiri-sendiri dari café. Yaaah… kucing abu-abu yang telah memakan makan malam nya lah yang menjadi biang kerok.


Jane mendengar Nolan menanggapi permintaan maaf Jane dengan kagok. Walaupun terdengar suaranya, namun taka da satu kalimat pun yang Jane pahami. Pikirannya masih terjebak di lini masa saat dia bertemu dengan Nolan di café. “Maafkan aku, aku minta maafsekali…. Aku sama sekali tak ada niat untuk terlamabt, sungguh!” kata Jane sekali lagi sambil membungkuk. Rasa malu terkadang membuat manusia membicarakan sesuatu berulang-ulang. “Maafkan aku, tapi aku hanya bisa naik bis kota untuk bisa pergi ke café itu” Kata Jane masih sambil membungkuk “tak terduga tadi dijalan macet…..sangat macet……” Macet, salah satu alasan klasik. Namun memang benar saat itu benar-benar macet. . “Terimakasih kau akhirnya pulang dan tidak menunggu ku. Terima kaih banyak” kata Jane, yang masih terngiang kejadian di café. Nolan terus terus menanggapi dengan kata “Tidak apa-apa’. “Tidak apa-apa” memanglah sindrom bagi orang yang disalahi. Dari raut wajahnya tadi, terlambat 2 jam sudah jelas bukanlah kejadian yang bisa dianggap “Tidak apa-apa”.


Sambil terus membungkukan badan, Jane terus meminta maaf kepada Nolan hingga…..Nolan melangkah mendekati Jane dan menepuk pundaknya. Seketika itu juga, Jane berhenti meracau. Kepalanya yang tertunduk kini mulai mempunyai kekuatan untuk mendongak. Dilihatnya sosok Nolan yang tinggi dengan wajah yang canggung. “Apakah kau mau makan di supermarket itu?” begitu katanya. Kata kata itu dengan halus keluar dari mulutnya. Jane yang mendengar itu menjadi diam seribu bahasa. Ia benar-benar tidak tahu bagaimana harus menanggapi perkataanNolan tadi. “Eh sebelumya, apakah kau sudah makan?” Noaln kini tampak malu, dengan senyum canggung nya yang sedari tadi tersungging di wajahnya. “Belum, makan malamku telah dicuri hahahha” Jane kini merasa bersyukur kalau dia dan Nolan dipertemukan kembali oleh kucing abu-abu yang ada didepan nya.


Tak lama setelah itu, setelah mereka memilih mie instant. Jane memilih mie rebus super pedas dan Nolan memilih mie goring original. Merek duduk berhadapan di depan bangku yang disediakan di depan supermarket. “Si..silahkan dimakan..” rasa gugup jelas kentara di perkataan Nolan. Jane yang memang lapar langsung menyeruput kuah mie rebusnya yang terlihat merah menyala sangat menggoda. “Hmmm…” Jane bergumam pelan. Tak sengaja Jane menangkap Nolan yang sedang memperhatikannya. Setelah mata mereka bertemu, Nolan menunduk malu dan mulai memakan mie nya. “Apakah kau tadi sudah makan?” Tanya Jane basa basi


“Apakah kau benar-benar menunggu 2 jam di café tadi?” Tanya Jane pelan


“Eng….iya….tapi taka pa. Aku tak begitu keberatan hahahha” jawab Nolan yang jelas-jelas berbohong. Mendengar itu, Jane hanya bisa memandangnya tak percaya. “Baiklah kalau begitu, aku seharusnya tidak minta maaf” kata Jane enteng sambil mengedikan bahu.


“Oke baiklah, aku berbohong. Aku sangat kesal harus menunggu 2 jam disana. Tapi kau terus meminta maaf membuatku merasa tak enak” jika ada gelar orang yang paling tidak bisa berbohong sedunia, maka Nolan lah orang nya.


“Well, I’m sorry…. Apa yang harus ku katakan selain maaf saat aku


terlambat begitu lama?” Tanya Jane bingung. “Oke…oke… kau mulai meminta maaf lagi.” Nolan kini menahan tawa mendengar jawaban Jane.


“Biar ku ceritakan bagaimana usaha ku untuk bertemu dengan mu” Jane mulai bersiap menceritakan kisah tentang dirinya dan bis kota. Nolan tertawa mendengar celotehan Jane. “Aku berangkat pukul 5 sore,setengah 5 malah kalau tidak salah” kata Jane dengan wajah serius. “Lalu bagaimana bisa kau telat” Nolan menimpali. “Apakah kau tahu betapa sibuknya kota yang kita berdua tinggali? Betapa sibuknya kota ini. Aku sudah berdiri di bis, berdesak-desakan selama entah berapa jam! Setelah aitu aku lari tunggang langgang karena, tentu saja, karena aku terlambat!” tanpa sadar Jane mulai mengomel sendiri. “Ma-maafkan aku, aku tidak tahu kalau kau harus melalui itu” Nolan merasa tidak enak mendengar omelan Jane. “Hmmm….sudahlah. Semua sudah berlalu…. Lain kali kalau kau mau bertemu dengan ku lagi, aku mau nya dijemput. Atau ke tempat yang dekat dengan rumah ku” Jane bicara tanpa berpikir panjang. Dia baru sadar dengan apa yang telah dikatakannya. “Jadi…. Akan ada kencan kedua?” Tanya Nolan ragu. “Ta-tapi kalau kau tidak mau, juga tak apa. Jangan….jangan merasa terbebani” Jane buru buru memulihkan keadaan. “Ti-tidak bukan begitu!!! Maksudku… apakah kau yakin mau kencan lagi dengan ku? Kita hanya makan mie instant seperti ini” jawab Nolan malu-malu. “ Eng… ya, tentu saja! Apa salahnya dengan mie instan, ini adalah makanan yang paling kusukai di dunia ini” jawab Jane juga malu-malu “Tapi syaratnya aku dijemput. Aku tidak mau naik bis seperti tadi lagi” lanjutnya dengan cepat. “Kalau soal itu… tenang saja… menjemputmu lebih baik dari pada menunggu lama” mendengar itu Jane tertawa sambil tersipu malu. Hmmm sepertinya memberi kesempatan kepada Nolan, pria yang ada di depannya ini bukanlah ide buruk.