Love Cat

Love Cat
Nolan (Turns out it’s not as bad as it seems)



                                                                                         Nolan


                                                                 (Turns out it’s not as bad as it seems)


Nolan berjalan dengan cepat menyusuri trotoar. Tujuan utama nya kali ini adalah menjauh dari café itu sejauh jauh nya. Ia tak habis pikir bagaimana Orlin menjodohkan dirinya dengan orang seperti itu. Sudah terlambat tak tahu malu lagi! Lebih parahnya lagi, wanita itu jorok sekali, hidungnya penuh ingus seperti anak kecil. Untung saja ia tadi sudah makan sembari menunggu wanita tadi. Memang benar, kencan buta itu percuma. Ending nya hanya akan ilfeel dengan teman kencan sendiri.


Nolan terus berjalan hingga ia lewat di depan supermarket. Bukan, bukan barang barang di etalase yang menarik perhatiannya. Kaki nya yang sedari tadi tak berhenti melangkah, dihentikan oleh kucing abu-abu. “Meeooong…..” kucing itu berdiri tepat di depannya. “Ada apa?” jawab Nolan. Bagi Nolan yang mendedikasikan dirinya untuk kucing, sudah sangat sering dia berbicara kepada kucing seperti ia bicara pada manusia. “Meeoong……” kucing itu menjawab Nolan bak mengerti apa yang Nolan katakan. “Carilah makanan sendiri! Aku sedang buru buru” jawab Nolan “Meeoong! Meeoong!” Kucing itu mengeong semakin kencang. Sepertinya kucing itu tersinggung karena Nolan barusan menyuruhnya mencari makan sendiri. “Baiklah-baiklah tunggu disini. Kubelikan sosis disana” setelah berkata demikian, Nolan segera masuk ke supermarket.


Dengan cepat Nolan meluncur masuk ke supermarket tersebut dan langsung berjalan ke etalase makanan. Segera ia memilih sosis kesukaan kucingnya dan membeli beberapa. Kalau kalau kucingnya dirumah juga mau. Begitu pikirnya. Dengan cepat Nolan membayar dan keluar dari supermarket tersebut.


 “Ma-maafkan saya, kucing ini tadi minta makan lalu saya belikan dulu di Supermarket” kata Nolan dengan nada yang terburu-buru sambil memberi makan sosis yang tadi ia beli kepada kucing tersebut. “I-iya nggak papa” jawab wanita itu sambil menoleh kepadanya. Kalau dipikir-pikir lagi, kenapa Nolan harus minta maaf. Harap maklum, Nolan orangnya memang canggung dalam segala situasi. Jantung Nolan seketika berhenti sedetik melihat wajah wanita itu. Barusan belum ada tiga puluh menit saat dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah mengencani gadis itu. “Ka-kamu!” wanita itu sama terkejutnya dengan Nolan. “Ka-kamu juga! Kenapa disini?” Nolan tergagap pura-pura tak tahu kalau ia adalah teman kencan gadis ini. “Teman kencan ku sudah pulang, memang salah ku juga sudah sangat terlambat” jawab wanita itu sambil menundukan kepala. ‘Apakah dia kecewa kalau kencannya gagal?’ batin Nolan dalam hati. “Tentu saja teman kencan mu sudah menunggu disana selama 2 jam” jawab Nolan singkat. Tentu saja disaat seperti ini ia harus jual mahal. “Loh, bagaimana kamu tahu” Tanya wanita itu kaget sambil membelalakan mata nya. “Dari cerita mu tadi setelah kamu terjatuh” jawab Nolan cepat. Ia masih ragu-ragu apakah ia harus mengaku atau tidak. Mendengar jawaban Nolan, wanita itu mengangguk-angguk. ‘Mungkin dia lupa obrolan tadi dengan ku saat di café’ batin Nolan ‘Bagaimana ia begitu pelupa?’ tambah nya. “Ngomong-ngomong siapa namamu?” Tanya Nolan memberanikan diri. “Jane, namaku Jane” jawab wanita itu terlihat masih bingung. . “Siapa namamu?” lanjut wanita itu. “Nolan, nama ku Nolan. Aku teman kencan mu yang sudah menunggu selama 2 jam di café sialan itu” jawab Nolan dengan tatapan sinis dan senyum menyeringai.


“A-apa…..” Nolan mendengar Jane bergumam pelan. Matanya yang tadi berbinar-binar kini terpaku menatap Nolan dengan kosong. Wajahnya memerah hingga ke telinga. Senyum yang tadi tersungging kini telah lenyap. Sedetik kemudian jane menunduk malu tak berani menatap Nolan. Nolan juga kaget melihat reaksi Jane yang berubah tiba-tiba. Ia tak siap dengan reaksi seperti itu. ‘Kenapa? Aku hanya ingin menyindirnya’ ia berbicara pada dirinya sendiri, kebingungan. Suasana seketika menjadi sangat canggung dan entah kenapa rasa dingin angin malam serasa semakin menusuk. “Hahahah Tapi.. tapi-“ Nolan yang berusaha mengembalikan suasana, kalimatnya terpotong karena Jane tiba-tiba berdiri.


“Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf” Jane membungkuk pada Nolan. Membuat Nolan merasa tidak enak. “Tidak…tidak apa apa…aku hanya-“ Nolan yang tak siap dengan rekasi seperti ini tergagap sendiri. “Maafkan aku, aku minta maaf sekali…. Aku sama sekali tak ada niat untuk terlambat, sungguh!” kata Jane sekali lagi sambil membungkuk. “Su-sudahlah, aku tidak apa apa” Nolan mulai menyesal dengan keputusannya mengungkit masa lalu. “Maafkan aku, tapi aku hanya bisa naik bis kota untuk bisa pergi ke café itu” Kata Jane masih sambil membungkuk “tak terduga tadi dijalan macet…..sangat macet……” tambahnya. “Iya tidak apa-apa…Sudah kubilang aku tak apa-apa” Nolan kini menggaruk garuk kepalanya. “Terimakasih kau akhirnya pulang dan tidak menunggu ku. Terima kasih banyak. “Sudahlah, aku hanya bercanda…hahhahahahha” Nolan kini mulai bingung harus menanggapi bagaimana. Namun, tak dipungkiri juga kalau dia memang kesal harus menunggu di cafe tadi selama 2 jam.


“Anyway, bagaimana kalau kita makan di supermarket itu saja?” Ajak Nolan. Jane yang awalnya menunduk kini mulai berani menatap Nolan lagi. “Eh,sebelumnya apakah kamu sudah makan?” Maklum, Nolan tidak biasa berinteraksi dengan manusia, biasanya hanya kucing nya dan kucing tetangga. “Belum, makan malam ku telah dicuri, hehehe” Jane tertawa canggung sambil menunjuk kucing abu-abu yang kini menjilat- jilati tangan nya di depan bungkus makanan yang kosong. “Baiklah kalau begitu, ayo” Nolan tersenyum sembari memberi isyarat pada Jane untuk mengikuti nya memasuki supermarket tersebut. Ia berjalan di depan Jane, sebisa mungkin tak menampakan wajahnya. Menyembunyikan mulutnya yang sejak dari tadi tak bisa berhenti tersenyum.