Love Cat

Love Cat
Jane (There Will Always Be a Spark of Light in The Dark)



                                                                                               Jane


                                                             (There will always be a spark of light in the dark)


Dengan terburu-buru Jane berlari menuju halte bus ke tempat café yang sudah ditentukan. Sebelumnya, Jane sudah diberi tahu Orlin kalau mereka akan makan malam di salah satu café paling romantis disini. “Tenang saja, aku sudah mengatur semuanya” begitu kata Orlin sambil mengedipkan mata. Orlin memang selalu suportif mengenai cerita cinta Jane. Kebalikan dengan Orlin, Jane malah tidak suportif sama sekali pada cerita cintanya sendiri. Berkali kali ia hendak meminta Orlin untuk merubah tempat kencan nya hari ini, namun rasa tak enak hati mengurungkan niatnya. Ia bahkan pergi berkencan pada hari ini hanya untuk menyenangkan hati Orlin. Orlin sudah terlalu banyak membantu Jane. Hampir semua masalah yang dihadapi Jane, Orlin akan selalu disana siap membantu. Jika Jane menangis, pundak Orlin selalu tersedia menjadi sandaran untuk Jane. Jika Jane tertawa, Orlin juga akan menemani nya dengan senyuman lebar dan tawa yang keras. Jane sangat menyayangi sahabatnya itu hingga jika melihat Orlin begini, ia tak tega menolaknya.


Nah, berhubung kencan kali ini akan diadakan di café paling romantis di kota, Jane di hari sebelumnya sudah berbelanja baju baju khusus untuk hari ini. Alasannya tentu saja bukan untuk menarik perhatian si teman kencannya. Alasan Jane berbelanja untuk kencan hari ini adalah agar di kencan kencan yang lain  ia sudah tidak bingung ingin mengenakan baju apa. Mungkin ini akan terdengar jahat, tapi Jane yakin kalau hubungan nya dengan teman kencannya hari ii hanya akan berjalan sebentar saja. ‘Syukur syukur bisa jalan sampai sebulan’ pikirnya dalam hati. Nah, karena alasan ini juga Jane tidak jadi mengenakan baju barunya yang telah ia beli.  Ditambah lagi ia akan berangkat menaiki bis kota yang penuh sesak dan sumuk. Maka dari itu, baju baru yang dibeli nya tempo hari yang lalu masih tersimpan rapi di lemari lengkap dengan plastiknya.


‘Aduh!! Aku udah telat banget!” Jane berlari kencang meskipun kakinya sudah letih setelah berdiri berdesakan di bis. Udara dingin angin malam merasuk ke tulang tulangnya bak jarum suntik. Ngilu! Jane mengelus ngelus lengannya dan menyesali keputusannya memakai baju tipis yang biasanya ia pakai. Kaki nya terus berlari hingga ia sampai di depan sebuah café yang terlihat sangat mewah dan romantis. Aroma bunga lavender yang menjadi ciri khas café tersebut, tercium dari ujung jalan. Kaki jane semakin cepat melangkah, khawatir akan membuat kesal teman kencannya. Semakin cepat semakin cepat…lalu BRUUUKK!!!!!!


Tanpa disadari tubuh Jane terhempas ke depan. Kaki kaki nya yang dipaksakan untuk berlari sudah letih dan menyerah kepada gaya gravitasi. Tubu jane jatuh di pintu masuk café tersebut. Jane memejamkan mata, menerima takdir bahwa tubuhnya nanti akan nyeri akibat jatuh ini. Sedetik setelah Jane sadar kalau ia sudah terjatuh, wajahnya berada diatas pundak seseorang. Tubuhnya tengkurap di atas seorang laki-laki yang juga sama kagetnya dengan Jane. ‘Apakah kau baik-baik saja’ Tanya Jane buru-buru setelah ia sadar kalau ia tadi menabrak seseorang. ‘Tidak, tidak apa apa’  jawab orang itu singkat. Sedetik kemudian, ingus yang disebabkan lari lari di dinginnya angin malam akan segera menetes dan ia harus cepat-cepat berdiri. Dengan tangan menyeka hidungnya, Jane berdiri sambil memperhatikan orang yang ditabraknya. ‘Hmmmm cakep juga’ pikir Jane. Setelah meminta maaf kepada orang yang ditabraknya. Jane segera mencari teman kencannya. Ia mencari pelanggan laki laki yang duduk sendirian. Jane mendatangi mereka satu-satu dan menanyakan “Maaf mengganggu, tapi apakah anda bernama Nolan?” namun usahanya nihil. Tak ada satu orang pun di sana bernama Nolan. Jane bingung. “Apakah dia belum datang?’ pikirnya. Jane akhirnya memutuskan untuk duduk di salah satu bangku yang kosong. “Bagaimana mungkin dia belum datang? Ini sudah terlambat lebih dari 2 jam” jane bergumam sendiri. Kalimat itu diulang ulangnya hingga akhirnya ia tersadar. Bagaimana kalau teman kencannya sudah pulang? “Oh no…….” Jane langsung menghampiri kasir dan bertanya apakah sudah ada reservasi atas nama ‘Nolan’. Dan kasir itu pun mengiyakan, namun tadi pelanggan tersebut sudah pulang.


Dengan salmon di tangan kanan dan kaki yang sudah lemah, Jane berjalan pulang menuju halte bus yang barusan tadi menjadi tempat pemberhentiannya. Dingin nya angin malam membuat Jane bersin bersin tak karuan, membuat orang orang disekitarnya menghindar. ‘Ya ampun… aku pasti terlihat sangat berantakan saat ini’ pkir Jane sambil berkali-kali menyeka ingus dari hidungnya. Inilah masalah yang tak kunjung selesai dan selalu berulang. Hidung Jane yang selalu mengeluarkan ingus yang membuat tangan Jane sibuk menyeka hidung nya. Dengan kepala menunduk, jane menyusuri jalanan kota yang terdapat genangan genangan air di permukaan nya yang cekung.


“Meong…..Meong……” seekor kucing abu-abu menghampiri Jane yang berjalan menunduk lesu. Jane yang pecinta kucing, menghentikan langkahnya dan berjongkok agar bisa lebih dekat dengan kucing tersebut. “Kamu lapar?” Tanya Jane kepada kucing abu-abu itu. Bulunya tampak kusam karena tinggal di jalanan. Tubuhnya juga kurus dan sikapnya yang terlalu affectionate kepada orang lain juga menandakan kalau kucing ini memang tidak mempunyai rumah yang merawatnya. “Meoong…..Meooonggg………”kucing tiu kini merasa lebih lapar karena mencium bau smoked salmon di tangannya. “Baiklah…baiklah…..tapi separuh saja. Setelah mengambilkan makanan untuk kucing tersebut, terdengar orang yang berlari terengah engah sambil membawa kantong belanjaan kecil di supermarket terdekat. Buru- buru pria itu mengeluarkan isi tas belanjaan tersebut dan diangkatnya sosis dan makanan kucing kemasan. “Ma-maafkan saya, kucing ini tadi minta makan lalu saya belikan dulu di Supermarket” katanya dengan nada yang terburu-buru sambil memberi makan kucing tersebut, “I-iya nggak papa” jawab Jane. “Terimakasih juga sudah diberi makan, maaf kan saya terlambat.” Kata pria itu masih sopan sekali. “Tidak, tidak apa apa” jawab Jane sambil melihat wajah orang itu.


“Ka-kamu!” Jane terkejut melihat pria itu. Pria tersebut sama kagetnya melihat bahwa ternyata yang sedari tadi diajak dirinya mengobrol adalah gadis yang ia sendiri bersumpah untuk tidak menjadikan ia pasangan untuknya. “Ka-kamu juga! Kenapa disini?” Tanya pria itu tergagap. “Teman kencan ku sudah pulang, memang salah ku juga sudah sangat terlambat” jawab Jane. “Tentu saja teman kencan mu sudah menunggu disana selama 2 jam” jawab pria itu ketus. “Loh, bagaimana kamu tahu” Tanya Jane kaget. “Dari cerita mu tadi setelah kamu terjatuh” jawab Nolan enteng. “Ngomong-ngomong siapa namamu?” lanjut pria itu. Jane mengangguk-angguk mendengar jawaban pria tersebut. “Jane, namaku Jane” jawab Jane masih bingung. “Siapa namamu?” lanjut Jane. “Nolan, nama ku Nolan. Aku teman kencan mu yang sudah menunggu selama 2 jam di café sialan itu” jawabnya dengan tatapan sinis dan senyum menyeringai.


“Meooong….” Kini kucing itu sudah selesai makan dan menjilat-jilat tangan Nolan. Jane masih terpaku mendengar jawaban pria yang ada di depannya. Rasa malu bercampur bersalah menyatu seperti adonan kue dalam hatinya. Ingin ia berlari karena rasa malu namun ia lah yang bersalah dalam scenario ini. “Meoong….” Kucing tersebut kini mengelus-ngelus tangan Jane dengan kepalanya. Sambil sesekali menjilat punggung nya yang tak bisa ia capai meskipun sudah menekuk-nekuk tubuhnya sedemikian rupa.