Let's Fall In Luv

Let's Fall In Luv
Wishes



Panggilan video dari mertuanya. Anna berusaha untuk mengatur ekspresi wajahnya, saat menerima panggilan itu malah wajah nenek J.o yang muncul.


"Halo, selamat malam nek.! Bagaimana kabar nenek?" Sapa Anna yang langsung menanyakan kabar nenek J.o.


"Malam juga sayang. Kabar nenek baik, bagaimana denganmu? J.o mana?"


Dari suaranya bagaimana dia menjawab Anna menunjukkan kalau wanita tua itu benar-benar menyayangi Anna.


"Syukurlah! Anna sama mas J.o juga baik kok nek! Mas J.o lagi makan." Jawab Anna tersenyum ramah menatap wajah keriput wanita tua itu.


"Kamu tidak makan memangnya?! Gimana hubungan kamu sama J.o?"


"Anna juga makan kok nek! Ponsel Anna di kamar pas nenek telefon, makanya Anna kesini." Untunglah dia pandai berkilah.


"Nenek juga mau lihat J.o, bisa panggilkan dia dulu?"


"Bentar yah nek!" Anna segera berjalan keluar menuju meja makan mendekati J.o yang sedang memainkan makanannya.


"Sayang, Ini nenek katanya mau lihat mas." Ucap Anna sambil duduk di samping J.o.


J.o sempat kaget saat gadis itu memanggilnya "sayang"


Terdengar manis di telinganya, ternyata itu hanya karena neneknya menelfon.


Anna lalu memberikan ponselnya kepada J.o, "Hai nek! Selamat malam.! Nenek apa kabar?!" Tanya J.o langsung.


"Malam sayang, kabar nenek baik. Lagi makan apa sayang?! Itu cucu nenek yang satu mana? Kok tidak kelihatan?!"


"Baguslah.! Ini Anna disamping aku kok,.. Sayang! Geser dikit kesini,... J.o lagi makan soup nek.!" Anna melotot saat pria itu memanggilnya "sayang", bukan karena kaget, tapi karena kesal. Untuk apa memanggilnya sayang, kasih kode kan bisa.


Anna segera mengubah ekspresi nya dan menggeser kursinya berdempetan dengan J.o agar nenek juga bisa melihatnya.


"Aduuhh... Cucu-cucu Nenek mesra banget sih panggilannya." Goda nenek.


Anna dan J.o hanya tersenyum masam.


"Nenek kok tumben telefon, ada apa nek?!" J.o segera mengalihkan perbincangan mereka.


"Nenek hanya khawatir dengan kalian, perasaan nenek dari kemarin tidak nyaman setiap mengingat kalian. Hubungan kalian baik-baik saja kan?!"


Tanya nenek dengan ekspresi sedih, dia benar-benar mengkhawatirkan hubungan pernikahan J.o dan Anna. J.o yang menyadari kesedihan neneknya juga jadi ikut sedih.


Dia segera merangkul bahu Anna dengan tangan kanannya, "Nenek tidak perlu khawatir, J.o sama Anna baik-baik aja kok. Tidak ada yang perlu nenek risaukan, iyakan sayang?!"


"Katakan iya agar nenek tidak sedih" ucap J.o kepada Anna dengan merapatkan giginya agar tidak ketahuan.


"Iya nek.! Tidak ada yang perlu di pikirkan. Hubungan kami disini baik kok. Nenek cukup do'akan agar tidak masalah diantara kami, jangan terlalu membebani kepala nenek dengan hal-hal negatif, nenek harus tetap berpikir positif, pikirkan juga kesehatan nenek.!" Tanpa sadar, Anna sudah meminta doa agar hubungan nya dengan J.o tidak bermasalah.


Mendengar penuturan J.o dan Anna membuatnya lega, kepalanya terasa ringan, dia tersenyum manis menatap keduanya.


"Nenek selalu mendoakan yang terbaik untuk hubungan kalian. Nenek hanya khawatir karena kalian menikah kan karena perjodohan, jad..."


Belum sempat nenek menyelesaikan kalimatnya, Anna sudah memotong terlebih dahulu,


"Nek.! Kami memang di jodohkan, tapi kami baik-baik saja disini, tidak ada yang perlu nenek pikirkan, mas J.o juga sangat baik padaku, kami melakukan semuanya dengan tulus, saling melayani dan membantu. Jadi nenek tidak perlu memikirkan yang tidak-tidak... Nenek tahu tidak, kadang pikiran kita dan apa yang selalu kita khawatirkan malah biasa menjadi kenyataan, apa nenek mau apa yang nenek khawatirkan itu terjadi?"


"Benar kata Anna nek. Jangan karena ini perjodohan membuat nenek ragu dengan rumah tangga kami. Nenek cukup pikirkan kesehatan nenek saja, jangan memikirkan hal yang tidak akan terjadi, iyakan sayang?!"


J.o menyahuti ucapan Anna, setuju dengan kalimat gadis itu.


Anna menganggukkan pertanyaan J.o.


CUP!


Satu kecupan mendarat di pelipis Anna. Anna langsung menatap kesal kearah J.o. Pria tua ini benar-benar menyebalkan!


Menyadari tatapan kesal dari Anna, J.o lalu tertunduk, "totalitas" ucapnya pelan.


Anna ikut menunduk, tangan kirinya terulur mencubit paha polos J.o, "Kita tidak butuh bagian itu.!" Balas Anna dengan suara pelan.


"Syukurlah kalau begitu, nenek benar-benar penasaran akan seperti apa tampan dan cantiknya cicit nenek nanti melihat cucu-cucu Nenek yang sangat cantik dan tampan ini... Jangan lama-lama buatin nenek cicit, nenek tunggu kabarnya yah?!"


Nenek terlihat lega melihat kemesraan J.o dan Anna, itu artinya pikirannya itu hanya ketakutannya, bukan kenyataannya.


Mendengar penuturan neneknya, Anna dan J.o hanya menampilkan senyum paksa, agar wanita tua itu tidak sedih.


"Iya nek!//iya nek!" Jawab keduanya serentak. Mereka bertatapan sejenak. Lalu kembali mengalihkan pandangannya.


"Yah sudah! Lanjutkan makan malam kalian. Nanti nenek telefon lagi yah?!"


"Iya nek//iya nek." Lagi-lagi keduanya menjawab serentak.


Panggilan berakhir.


"HUUUFFTT..!!!//HUUUFFTT..!!!" untuk ketiga kalinya mereka kompak membuang nafas kasar.


Anna meraih ponselnya dari tangan J.o dan pergi meninggalkan J.o ke dalam kamar. Di kamar, dia langsung menuju ke balkon.


J.o menatap pahanya yang baru saja Anna cubit, ternyata merah. Dia segera berdiri menyusul Anna tanpa menghabiskan makan malamnya karena sudah tidak berselera.


Dikamar, dia melihat pintu jendela balkon terbuka lalu segera kesana.


J.o mendapati Anna sedang berdiri di pagar pembatas, dia memilih untuk duduk di salah satu kursi di belakang Anna.


Anna sebenarnya menyadari kehadiran J.o tapi dia masih diam.


"Duduklah.!" Perintah J.o, menarik satu kursi lagi tepat didepannya untuk Anna tempati duduk.


"Saya maunya berdiri." Ucap Anna.


"Ini bukan perbincangan biasa, ini serius! Jangan membantah.!"


Huufftt....


Anna menghela kasar nafasnya lalu berbalik. Menatap kursi yang begitu dekat dengan posisi duduk J.o.


J.o menepuk kursi kosong itu sambil menatap Anna pertanda agar Anna segera duduk.


Anna melangkah satu langkah lalu menarik kursi itu sedikit menjauhi J.o lalu duduk...


"Dekatkan kursi mu agar aku bisa melihat kebohonganmu jika kau berbohong." J.o membungkukkan badannya menarik kedua kaki depan kursi Anna agar gadis itu duduk dekat didepannya. Berhenti menarik saat lutut mereka bertabrakan.


Anna sebenarnya kesal, tapi....


Terasa aneh, seperti dia punya banyak kekesalan dan tidak tahu cara melampiaskannya.


Mereka diam beberapa waktu sambil menatap satu sama lain.


"Ini yang namanya pembicaraan serius?! Hanya saling menatap?!" Tanya Anna memecah keheningan itu.


"Katakan apa masalahmu?!" Tanya J.o bersedekap dada menatap serius kearah Anna.


"Masalah apa?" Anna berbalik bertanya.


"Masalah yang membuatmu bersikap seperti tadi?"


"Sikap saya yang tadi? Menepis tangan anda? Itu karena anda menarik kasar lengan saya, jadi saya membalasnya."


"Tidak.! Kau menepisnya bukan karena aku menarik kasar lengan mu, tapi karena kau ada masalah dan melampiaskannya seperti itu."


"Masalah apa? Saya tidak ada masalah.!" Jawab Anna mengalihkan pandangannya, menatap mata J.o lama-lama membuatnya merasa terintimidasi.


"Kau ada masalah! Kau tidak bisa menyembunyikan nya. Aku tahu kau ada masalah, sekarang ceritakan semuanya padaku... Apakah dengan pacarmu?!"


"Om ini kenapa sih?! Saya kan sudah bilang tidak ada masalah. Saya harus menceritakan masalah apa jika saya tidak punya masalah. Dan juga... Meskipun saya ada masalah, om tidak berhak untuk tahu apalagi ikut campur, dan saya hanya menceritakan masalah saya kepada pacar saya, bukan orang lain." Anna berusaha untuk tidak meninggikan suaranya, biarkan saja terus terdengar datar dan pelan.


"Apa?! Orang lain?! Aku suamimu, bukan orang lain.! Sekarang masalahmu adalah masalah ku, begitu sebaliknya. Aku tidak akan memintamu lagi... Cepat ceritakan!" Okay... Dia menyebut dirinya 'suami' tapi menjanjikan perceraian mereka pada pacarnya. Ucapannya terdengar begitu peduli dengan Anna.