Let's Fall In Luv

Let's Fall In Luv
Not a cool person



Di jodohkan di zaman dulu memang hal yang lazim. Tapi bagaimana dengan zaman sekarang? Di zaman modern? Siapa yang mau dijodohkan?


Apalagi jika yang di jodohkan adalah orang dewasa dimana mereka sudah bisa menentukan pilihan sendiri, tahu mana yang cocok dan mana yang tidak, tahu mana yang nyaman dan yang tidak, tahu yang menerima apa adanya dan yang tidak.


Mengenai perasaan, itu muncul dengan sendirinya atau tidak dipaksa. Hal yang tidak bisa untuk dilawan dan di bantah, hal yang tidak bisa dialihkan secara tiba-tiba.


Lalu bagaimana jika keduanya tidak cocok? Jika keduanya saling tidak menyukai? Oke! Banyak orang yang mengatakan bahwa cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Lalu bagaimana jika keduanya sudah memiliki pasangan?


Disini ada salah satu alasan mengapa dua manusia 'ini' dijodohkan, katanya karena janji di masa lalu. Nenek pria dewasa ini ingin menjadikan gadis itu sebagai bagian dari keluarganya sesuai janji itu.


Lalu mengapa harus dengan jalan menikah jika gadis itu bisa dijadikan keluarga angkat? Begitulah pikiran pria dewasa itu.


Alasan sang nenek sebaliknya, agar ada yang menjaga gadis itu sampai saat dia 'menyusul' bundanya.


Alasan konyol.


Kata itu hanya ada di kepala pria dewasa itu, tidak keluar dari mulutnya.


Tapi janji adalah hutang. Dimana pria dewasa ini juga sudah berjanji pada sang nenek bahwa jika wanita tua itu berhasil melawan penyakitnya, apapun permintaannya akan dia lakukan.


Dan disinilah kisahnya bermula.


...


Di Sebuah Unit Apartment.


Dua manusia, berbeda jenis kelamin, beda generasi, satu atap, dengan status suami-istri.


James O'Conner, Augustine Shaw, kini marga Augustinne berganti menjadi O'Conner.


Dosen gelar Profesor+CEO. J.O! Begitulah keluarganya memanggil namanya, pria 34 tahun, anak terakhir dari empat bersaudara, ketiga saudaranya adalah laki-laki.


Mendapatkan warisan yang paling banyak membuat ketiga saudaranya tidak menyukainya, padahal bukan dia yang menentukan dan membagikan warisan itu, tapi keluarga tertua mereka lah yang membaginya.


Bisa mengembangkan bisnis dan membangun perusahaan sendiri membuat tetua keluarganya mempercayakan lebih banyak aset perusahaan kepada nya dibandingkan dengan ketiga kakaknya. Kakak pertama dan keduanya pernah ditipu dalam jumlah yang besar membuat tetua ragu untuk memberikan mereka aset sebanyak yang di berikan kepada J.o.


Lalu kakak ke tiganya, pria itu sudah beberapa kali terlibat perkelahian dengan beberapa klien membuat perusahaan rugi.


Alasan yang logis mengapa bagian J.o lebih banyak.


Dia pria yang 'diam makan didalam'. Diamnya bukan sekedar diam, bukan hanya dirinya yang tidak disukai oleh ketiga saudaranya, tapi begitupun sebaliknya, dia bahkan tidak ketiga saudaranya itu. Pria dengan emosional yang bisa berubah-ubah dalam hitungan detik. Kadang bertindak kasar, kadang bertindak lembut.


Tapi... Dia pria yang penurut, menuruti orang tuanya dan juga neneknya, dan istrinya? Kita belum tahu... Mereka baru menikah satu hari yang lalu.


Lalu bagaimana dengan ketiga kakaknya? Yang selalu menyudutkan nya saat ada acara dimana mereka semua harus berkumpul. Dia hanya diam dan melampiaskannya nanti, nanti saat mereka sudah pulang, nanti dia akan melampiaskannya pada benda-benda di apartemennya.


Lalu istrinya. Gadis yang baru saja genap berusia 20 tahun 19 hari yang lalu. Dia memiliki sifat yang HAMPIR sama dengan suaminya. 'Tsundere', itulah karakter nya, terlihat cuek namun perhatian. Setidaknya dia gadis yang ramah. Dia tipe gadis yang benar-benar memperhatikan 'barang'nya.


Benda ataupun manusia.


Satu sifatnya yang benar-benar mirip dengan J.O adalah, bicara tanpa ekspresi. Bukan berarti mereka tidak akan pernah nangis, marah, tertawa, dan semua emosional lainnya tidak akan mereka perlihatkan, hanya saja karena sifat mereka yang sama-sama pendiam dan dingin membuat mereka jarang berekspresi. Tapi jika dibandingkan, gadis itu lebih banyak bicara dari suaminya.


Anna nama panggilannya, lumayan jauh dari nama aslinya. Dia mahasiswi kedokteran dikampus dimana suaminya mengajar. Hanya saja suaminya itu dosen fakultas hukum.


Saat ini, keduanya sedang duduk bersama sambil menonton TV.


"Saya harus panggil apa?" Tanya Anna pada J.o. Dia bingung harus memanggil suaminya dengan sebutan apa. Usia mereka benar-benar terpaut jauh.


"Terserah, dari kau saja, yang penting bukan namaku." Jawab J.o tanpa mengalihkan pandangannya dari layar TV.


Mulutnya sibuk mengunyah ice cream.


"Yah sudah... Saya ingin mengatakan bahwa saya sebenarnya punya pacar. Pernikahan ini benar-benar mendadak, tidak ada persiapan sama sekali dari saya, pikiran dan juga hati." Ucap Anna seketika, ia melirik J.o sejenak untuk melihat raut wajahnya.


Biasa saja.


"Dan dia masih pacarmu?!" Tanya J.o kemudian.


"Bisa dikatakan begitu, saya belum sempat bicara dengannya... Tapi dia sudah tahu bahwa saya sudah menikah. Saya usahakan besok kami sudah tidak berhubungan."


"Seharusnya begitu." Jawaban sederhana yang membuat Anna legah karena pria itu tidak marah.


J.o melanjutkan, "... Bukan kesalahan dan hal yang sepatutnya di permasalahkan sekarang jika kita berdua punya kekasih masing-masing. Pernikahan kita tiba-tiba, dan tidak ada waktu untuk menjelaskan kepada mereka bahwa kita akan menikah. Tapi harus dipastikan, saat Minggu ini terlipat, tidak ada hubungan seperti itu lagi. Kurasa kau tahu maksud ku." Jelasnya.


Bukannya dia cemburu pada gadis itu, dia malah tidak ada rasa dengan Anna. Dia masih mencintai kekasihnya. Tapi mungkin seperti itulah pemikiran orang berpendidikan, memiliki hubungan dengan wanita lain saat sudah menikah adalah hal yang salah. Dan J.o menyadari itu. Tapi apakah itu bukan hanya sekedar ucapan? Apakah dia benar-benar akan melakukannya?


Mengenai gadis ini yang masih punya pacar saat status mereka sudah sah suami-istri, bukan hal yang membuatnya kaget, wajar menurutnya. Tapi dia tidak ingin status istrinya yang masih punya kekasih membuat neneknya kecewa dan sakit hati. Kesehatan neneknya adalah penentu emosianal nya.


"Sangat saya mengerti... Baiklah, saya tidur duluan... Om sudah menghabiskan dua ice cream malam ini, saya harap saat itu sudah habis, anda gosok gigi dan tidur." Ucapnya sebelum masuk kedalam kamar meninggalkan suaminya yang masih nonton tv.


"Om?!" J.o menyahuti Anna dengan suara dan ekspresi kaget.


Lalu Anna berbalik, "... Yang bilang terserah yang penting bukan nama, siapa?!" Tanya Anna tanpa ekspresi.


J.o tidak menjawab, dia hanya mengalihkan pandangannya, menghabiskan ice cream nya dalam gigitan terakhir.


Baru dua hari mereka dekat, tapi Anna sudah tahu bahwa suaminya itu menggilai ice cream. Anna sempat terngaga saat membuka lemari es tadi, tidak mendapati bahan makanan apapun. Hanya ada tumpukan ice cream, beer kaleng dan air botol mineral. Untunglah dia memeriksa lemari es lebih awal, jadi dia punya waktu untuk membeli stok makanan.


Anna masuk kedalam kamar dengan sedikit canggung, rasanya aneh saat harus tidur satu kasur dengan pria. Dia bukan gadis polos yang tidak tahu 'malam pertama'.


Lalu.


Dia mengingat bahwa suaminya yang dia panggil Om itu ternyata punya kekasih, itu berarti mustahil jika suaminya itu menyukainya. Jika suaminya tidak menyukainya, berarti hal 'itu' tidak akan terjadi.


Simpulannya mampu membuat dirinya tenang sesaat. Anna melangkah ke kamar mandi, gosok gigi, membasuh kaki dan wajahnya lalu mengeringkannya dengan handuk kering. Lalu menuju di balkon.


Dia masuk dan menuju meja rias, "Yah Tuhan, aku melupakan skin care ku di rumah." Gumamnya. Jadilah dia langsung beranjak ke kasur.


Tiba-tiba J.o masuk dan langsung ke kamar mandi. Sekitar tiga menit dia keluar, mendapati Anna masih duduk bersandar sambil membaca buku. Lalu dia ikut naik ke kasur.


"Sudah cuci wajah dan kaki?" Tanya Anna menatap suaminya sejenak.


"Tidak." Jawab J.o sambil menarik selimut.


"Om bisa melakukannya sekarang sebelum benar-benar mengantuk."


"Itu bukan hal yang wajib dan tidak ada hukumannya jika tidak dilakukan." Dengan santainya J.o meraih ponselnya.


"Bukan berarti tidak dilakukan, bukan?"


"Aku malas bergerak kalau sudah terlilit selimut, besok saja." Jawabnya terlihat malas. Posisinya yang tidur tengkurap sambil bermain ponsel adalah posisi paling favorit nya dan tidak bisa diganggu gugat.


"Tidur tanpa membasuh wajah biasanya menimbulkan jerawat."


"Ssshhh...!!! Selama ini aku tidur tanpa cuci muka dan tidak pernah jerawatan, lagian umur 30-an mana mungkin jerawatan." J.o juga mulai kesal karena Anna yang bawel.


"Tua bukan berarti tidak akan berjerawat Om, umur 40-an pun masih bisa berjerawat."


"Tua katamu?!" Bukannya langsung ke kamar mandi, dia malah mempertanyakan sebutan Anna padanya.


"Orang akan selalu merasa muda dengan umurnya sendiri, tapi orang yang lebih muda akan menyebutnya tua. Jadi Om bisa cuci wajah sekarang?."


Telinganya sudah lelah mendengar ocehan Anna, tidak ada salahnya juga melakukannya, hanya saja dia sudah terlalu malas untuk bergerak. Tapi tetap saja dia melakukannya di akhir.


Sekitar tujuh menit barulah J.o keluar, "puas?! Aku bahkan mencuci tanganku. Jangan ada protes apapun lagi." Kesalnya menatap Anna sambil berjalan menuju kasur. Sedangkan yang ditatap tidak berekspresi apapun.


"Basah seperti itu mau naik kekasur?!" Tanya Anna sambil menaikkan alisnya sebelah.


"Hufftt... Kau itu!!! Makanya jangan mengatakan sesuatu dengan setengah-setengah!! Apa susahnya sekali ngomong.?" Kakinya yang hendak terangkat ke kasur dia turunkan lagi.


"Lagian om juga. Masa hal seperti itu harus dibilangin dulu.?" Jawab Anna dengan ekspresi kesal. Dia turun dari kasur dan mengambil handuk di balkon.


Anna kembali dan mendekati J.o, "Itu adalah jadwal sebelum tidur, sikat gigi dan basuh wajah dan KERINGKAN dengan handuk, handuk kering bukan basah." Jelas Anna sambil mengeringkan lengan suaminya, Anna beralih mengeringkan wajahnya.


Anna kembali kebalkon untuk menjemur handuk itu, lalu saat masuk, ia mendapati J.o masih berdiri di tempatnya. "Kok masih berdiri?!" Tanya Anna sambil mendekatinya.


"Apa kau pikir aku sebodoh itu?! Memberitahuku untuk mengeringkan wajah basah dengan handuk kering bukan handuk basah... Anak tiga tahun pun akan tahu jika mengeringkan sesuatu harus dengan benda kering juga.!" Kesalnya mengingat Anna menyindir keras padanya tadi.


"Maaf om... Lagian masa untuk mengeringkan kaki harus dibilangin dulu. Tidurlah, besok bukan tanggal merah, om harus kerja, sekarang om menanggung dua orang." Anna mendorong pelan tubuh J.o ke kasur.


Dengan perasaan yang masih kesal, J.o lalu naik ke kasur, begitupun dengan Anna.


"Masih mau main ponsel?!" Tanya Anna.


"Apa urusanmu?!" Jawabnya sewot. Gadis itu tidak pernah diam, selalu saja ada bahan yang keluar dari mulutnya, pikir J.o.


"Kalau iya, saya tidak akan padamkan lampunya." Tapi masalahnya, semua bahan yang keluar dari mulutnya bukan sekedar ocehan garing yang tidak bermanfaat.


"Um" jawab J.o singkat.


"Um apa? Um iya, atau um tidak?" Menatap J.O dengan ekspresi curious.


"Tidak.!! Hah!!" J.o kesal karena Anna yang menurutnya lambat tanggap.


"..."


"Kau bisa diam tidak?! Dari tadi kau terus saja bicara.!" Kepalanya mulai pusing dengan sikap Anna yang cerewet.


Tanpa menjawab Anna mematikan lampu, bahkan lampu tidur pun dia matikan membuat kamar mereka gelap gulita. Meletakkan bantal guling di antara mereka, dan Anna tidur memunggungi suaminya begitupun sebaliknya.


"Besok kau kuliah?!" Tanya J.o tiba-tiba.


"Baru tahu saya, besok tanggal merah."


"Apakah aku mengatakan besok tanggal merah?"


Bahkan dalam keadaan gelap pun mereka masih berdebat.


"Tidak." Jawab Anna singkat.


"Lalu mengapa jawabanmu seakan-akan mengatakan kalau aku mengatakan besok tanggal merah?!"


"Jadi anda tidak mengatakannya?!"


"Apakah kalimatku barusan mengiyakan bahwa aku mengatakan besok libur?"


"Lalu mengapa om bertanya besok saya kuliah atau tidak jika tahu besok bukan tanggal merah?!"


"Apa susahnya kau jawab iya dari tadi." Anna terlalu berbelit-belit jika berbicara membuatnya terkadang bingung.


"Salah sendiri, siapa suruh menanyakan hal yang sudah om tahu."


"Hanya guru yang menanyakan hal yang mereka tahu." Perdebatan berlanjut.


"Wajar sih. Guru itu tenaga pengajar."


"What the hell do you mean?!" Anna merasakan jika bed nya bergerak menandakan J.o mengubah posisinya.


Yah! J.o berbalik menatap kearah Anna yang tidak terlihat karena gelap, wajahnya benar-benar kesal.


"Dosen juga tenaga pengajar, itu artinya dosen juga menanyakan hal yang sudah mereka tahu, makanya saya bilang wajar mengingat anda menanyakan hal yang sudah anda tahu."


"Stres lama-lama bicara denganmu."


Hening!


Diam!


Tenang!


"Biasanya, om sarapan dengan apa?!"


"Ngapain nanya?!" Sepertinya mereka akan berbincang yang berujung perdebatan sampai pagi. Anna masih punya bahan perbincangan.


"Biar besok pagi saya tahu membuatkan anda sarapan"


"Kadang roti kadang bubur gandum."


"Baiklah, selamat malam."


"Bibimu bilang, kau orang pendiam, tapi mengapa aku malah menilai jika kau gadis cerewet?"


Mungkin mereka akan tidur jika J.o tidak bicara lagi.


"Yah saya juga." Jawaban ambigu seperti biasa dari Anna yang membuat kepala J.o berdenyut.


"Juga apa?"


"Nenek om bilang, om orangnya pendiam dan dingin, tapi mengapa saya malah menilai jika om pria cerewet?"


"Ooohh... Jadi wanita tua itu bukan nenekmu juga yah? Baiklah, akan aku katakan padanya besok jika kau mengatakan bahwa dia bukan nenekmu."


"Lah?! Kok..??? Maksud saya, nenek kita... Yah nenek kita, sekarang juga nenek saya."


"Terlambat anda, besok akan tetap kukatakan."


"Yah sudah.. katakan saja. Saya juga akan mengatakan pada nenek bahwa om menyebutnya wanita tua." Besok. Mereka berdua akan dihukum jika salah satu dari mereka benar-benar mengadukan hal yang sepele.


"Sejak kapan aku bilang seperti itu?!"


"Sejak zaman purba. Bye.! Saya mau tidur, selamat malam."


Semoga itu benar-benar perbincangan terakhir mereka, tid...


"... Awas saja jika om macam-macam jika saya terlelap nanti."


Okay..! Anna sudah berani memotong perkataan author.


"Maksudnya macam-macam apa?!" Suaranya seperti tidak terima dengan kalimat Anna. Dia sebenarnya mengerti maksud gadis itu.


"... Maaf harus mengatakan ini, aku tidak ada rasa padamu, aku masih mencintai kekasihku. Apa menurutmu aku akan melakukannya padamu? Aku bahkan tidak berselera dengan tubuhmu. Aku tidak berselera dengan anak kecil." Lanjut J.o yang terdengar mengejek.


"Jangan minta maaf om... Saya sangat berterimakasih anda tidak berselera dengan saya. Dan juga saya tidak peduli anda menyukai saya atau tidak karena saya juga mencintai pacar saya dan tidak ada rasa sama sekali dengan anda."


"Bagus! Jangan khawatir dengan malam-malam kita. Karena hal yang kau takutkan tidak akan terjadi."


"Tidak khawatir bagaimana?! Saya tidur dengan pria normal, siapa tahu om hilang akal pas saya terlelap... Sebelum nya, saya ingin mengatakan bahwa saya sudah memakai sabuk hitam taekwondo empat bulan yang lalu, sebagai informasi saja agar anda berpikir dua kali sebelum menatap saya dengan tatapan menakutkan itu." Jelas Anna panjang lebar.


Sepertinya dia benar-benar takut dengan nasibnya yang mulai hari ini harus tidur sekamar dengan pria tua itu.


"Ouw... Sabuk hitam taekwondo yah? Maksudmu kau akan menghajar ku jika menyentuh mu, begitu? Kau tahu ilmu kick boxing dan Muay Thai?!" Jawab J.o dengan senyum mengejeknya.


Anna terdiam sejenak, sepertinya dia kalah. Sebenarnya itu juga hanya ancamannya, dia juga berpikir bahkan dengan ilmu taekwondo nya, akan sangat sulit mengalahkan J.o mengingat pria itu yang tinggi dengan tubuh yang atletis.


Bahkan otot-ototnya tercetak dengan jelas dari balik pakaiannya, lengan J.o yang berurat membuatnya merinding.


"Tidurlah." Kalimat penutup nya.


Tanpa menjawab, J.o mulai fokus dengan menerapkan teknik cara tidur dalam satu menit yang dia baca di internet. Membayangkan dirinya tidur dalam kano yang berada di danau dimana hanya ada suara alam. Syukurlah itu bekerja.


My first novel guys, hope you enjoy it!!!


Jangan lupa like dan comen, juga vote dan hadiahnya yah guys?


Find me on instagram laa_ucn2t if you want to