Let's Fall In Luv

Let's Fall In Luv
Joey Wanna Break Up?



Alarm clock: 04: 30 am.!!!!!


Mereka berdua kaget dan langsung bangun, duduk dengan keadaan setengah sadar.


Prok! Prok!


J.o menyalakan lampu kamarnya dengan dua kali tepukan tangan. Dengan mata yang belum terbuka sempurna, dia beranjak turun dari kasurnya.


"Om mau kemana?!" Tanya Anna tiba-tiba.


"Jesus Christ!!!! WHO ARE YOU!??" Kaget J.o yang mendapati perempuan didalam kamarnya. Dia berjalan mundur menatap gadis cantik yang tampak bingung menatap kearahnya.


Keduanya terdiam beberapa saat.


Krik!


Krik!


"Om lupa kalau sudah menikah?!" Tanya Anna santai sembari membuka selimutnya lalu turun.


"... Tidurlah kembali om! Ini masih subuh, saya akan membangunkan om nanti." Ucap Anna pelan sambil berjalan menuju kamar mandi.


Sedangkan J.o, dia diam sejenak...


Mengusap kasar wajahnya, bagaimana mungkin dia lupa jika dia sudah menikah?


"Aku sudah menikah ternyata,... Hooaammm.... Baiklah mari tidur kembali." Ucapnya berjalan kembali ke kasur.


J.o mencoba untuk tidur kembali namun kondisinya dimana dia baru saja kaget membuat ngantuknya menghilang. Meskipun begitu, dia tetap bermalas-malasan.


Dia merasa senang, mulai sekarang dia tidak akan khawatir terlambat ke kantor dan ke kampus karena bangun telat. "Sekarang aku punya orang yang akan mengurus ku."


"Sekarang saya punya bank dirumah." Anna menyahuti ucapan suaminya yang terdengar di telinga nya tepat saat dia keluar dari kamar mandi.


"Bank?!" Tanya J.o kebingungan. Berbincang dengan Anna sepertinya harus mengetahui banyak istilah.


Anna diam tidak menjawab, dia berjalan mendekati suaminya yang sedang memeluk guling, "tidurlah.. ini masih terlalu pagi untuk berdebat." Ucapnya sambil menyelimuti suaminya dan mematikan lampu.


*


*


*


06: 17 AM.!!!


Anna baru saja mengganti pakaiannya dan bersiap kekampus, dia membuka tirai jendela kamar mereka lalu menghampiri J.o yang masih terlelap. Dia menatap sejenak pria itu yang sudah menjadi suaminya itu.


Menghelah nafasnya sebelum membangunkannya.


"Om... Om... Bangun lah, ini sudah pagi!" Ucapnya mengusap-usap lengan J.o.


Beruntung suaminya tidak seperti kebanyakan orang yang butuh waktu untuk dibangunkan.


"Jam berapa?!" Tanya J.o sambil duduk. Dia diam sejenak, wangi parfum Anna benar-benar menyeruak masuk kedalam hidungnya. Begitu wangi, pikirnya.


"Hampir setengah tujuh... Ini handuknya, langsung mandi saja biar segar." Dia meletakkan handuk yang dia ambil dari balkon tadi diatas bahu J.o.


Tanpa menjawab, J.o langsung turun dari kasur menuju kamar mandi.


Selagi suaminya mandi, Anna merapikan kamar mereka.


Tok!


Tok!


Tok!


"Om.! Om.!" Panggil Anna mengetuk pintu kamar mandi.


"Um!"


"Hari ini mau kemana dulu?! Kantor atau kampus?" Tanya Anna karena dia bingung harus menyiapkan setelan suaminya dengan pakaian yang seperti apa.


Sebelum menikah, Anna terkadang berpas-pasan dengan J.o di kampus, kadang pria itu menggunakan setelan informal, kadang juga formal.


"Tidak kekantor, aku mau ke pabrik dulu baru ke kampus."


"Setelan formal atau informal?" Tanya Anna lagi.


"Informal. Kenapa?!"


J.o menunggu Anna untuk menjawabnya namun suara gadis itu tak kunjung terdengar.


J.o hanya mendengus kesal.


Tak lama, J.o keluar. Mendapati kamarnya yang sudah rapi dan bersih. Memberikan kepuasan tersendiri baginya, kadang dia mendengus kesal saat harus buru-buru dan apartemen masih berantakan.


Dia mendapati pakaiannya sudah siap, tinggal dia pakai.


Anna masuk tepat saat dia sudah memakai bajunya. "Sudah?!" Tanya Anna.


"Menurut mu?" Tanya J.o balik, dia mengeringkan rambutnya lalu membuang handuknya kekasur.


Anna tidak berkomentar sama sekali, "Mau jam yang mana?" Tanya Anna memperlihatkan dua arloji mewah milik J.o


"Kiri."


Tanpa bicara, Anna meraih tangan kiri J.o dan mengenakan Jam itu padanya, "Sepertinya Om cocok menggunakan gelang." Ucapnya.


"Aku tidak punya gelang."


"Om bisa membelinya nanti." Jawab Anna berlalu mengambil handuk dan membawanya ke balkon.


Saat kembali, suaminya sudah menyisir rambutnya, "kau lihat laptopku?" Tanyanya pada Anna.


"Ada di meja makan, apa masih ada yang lain?"


"Sudah.!" Jawab J.o singkat meninggalkan Anna lebih dulu keluar. Saat hendak menyusul, Anna tak sengaja mendapati kaki suaminya yang masih telanjang, lalu menatap ke arah kasur, ternyata kaos kakinya masih tertinggal, "gini nih kalo punya suami tua. Pikun." Gumamnya mengambil kaos kaki J.o lalu menyusul nya ke dapur.


Anna duduk di samping J.o, "Kakinya kenapa om?" Tanya Anna menunduk menatap kaki J.o.


J.o ikut menunduk menatap kakinya, "Ngapapa kok?" Dia memutar kakinya untuk mencari sesuatu.


"Om tidak merasakan apa-apa?"


"Apanya? Tidak luka dan tidak memar."


"Tidak pakai kaos. Tadi katanya sudah selesai." Anna meletakkan kaos kaki J.O keatas paha suaminya. "Pakai dulu." Lanjutnya.


"Nanti saja kalau sudah selesai sarapan... Ini kapan sarapannya? Aku sudah lapar." Dia memang menunggu Anna untuk sarapan bersama.


"Kakinya diangkat om.!" Anna menggeser kursinya kesamping, "Buat?" J.o kebingungan.


Anna meraih kaos kaki J.o, "Mumpung saya lagi baik." Ucapnya mengangkat kaos itu didepan J.o.


Dengan sedikit heran dan ragu, J.o mengangkat kakinya, meletakkan nya di paha Anna.


Dia terus menatap Anna yang sedang memakaikannya kaos kaki, "Mau minta sesuatu?!" Tanya J.o, melihat tindakan Anna, mengingatkannya pada sikap Naura kekasihnya yang pasti ujung-ujungnya minta sesuatu jika tiba-tiba baik.


"Katakan kalau sudah selesai! Jangan menghempas nya?!" Kesal J.o menahan denyutan tumitnya yang mencium lantai.


Tanpa peduli, Anna mulai menyantap roti panggang nya.


Tidak ada yang berbicara sama sekali disaat mereka sedang sarapan.


Tiba-tiba terdengar pintu apartemen mereka seperti ada yang mencoba masuk terdengar dari suara digit angka yang di tekan.


"Siapa?!" Tanya Anna. Belum sempat J.o menjawab, terdengar suara cempreng dari balik tembok.


"James!!!! James!!! Kau dimana?! JAAAAMMES...!!!" Diakhiri dengan teriakan yang lebih keras.


Tanpa bertanya lagi, Anna langsung tanggap siapa perempuan itu.


Naura. Yah itu adalah Naura, kekasih J.o yang datang meneriaki apartemen J.o. Penampilannya benar-benar terbuka di mata Anna, baju terusan ketat yang hanya sampai di pahanya, makeup nya membuat Anna geleng kepala, sangat tebal. Bibir nya sangat merah.


"James!!!" Dengan wajah yang emosi dia mendekati James, lalu matanya menangkap seorang gadis yaaa...ng dia berat hati untuk mengakui bahwa gadis itu cantik.


"What the F*CK.... IS... THIS!!!!" Naura membanting tablet keatas meja makan membuat Anna sedikit kaget.


Anna melirik layar tablet itu, ternyata itu adalah foto pernikahannya dengan J.o. Tanpa peduli dengan kehadiran Naura, Anna dengan santainya kembali melanjutkan sarapannya.


"Jadi dia istri mu itu?! Kau menikahi anak kecil?! Hahahah... Yang benar saja James. Bagaimana ceritanya kau menyetujui pernikahan mu dengan anak kecil yang masih bau minyak telon?!"


Mendengar Naura menyebutnya wangi minyak telon membuat Anna membulatkan matanya, kesal tentu saja, namun dengan segera mengendalikan diri dan emosinya, dia tidak tahu dengan kondisi bagaimana perempuan tua itu akan keluar dari apartemennya jika dia terpancing emosi dan menghajarnya.


Berbeda dengan J.o yang malah menggigit lidahnya, itu hal yang lucu, pikirnya. Dia merilekskan wajahnya dan berdiri memeluk kekasihnya.


"Sayang... Kita duduk disana, aku akan menjelaskannya." Suaranya begitu lembut, tangan kirinya meraih tablet dan tangan kanannya menggenggam tangan Naura, mengajak nya ke ruang tengah.


Anna benar-benar tidak peduli dengan situasi itu. Bodoh amat pikirnya.


Kepergian J.o dan Naura tidak hanya sampai tiga menit. Suaminya kembali saat berhasil menyuruh Naura pulang.


"Kau bawa mobilmu kemarin kan?!" Tanya J.o sambil duduk dan melanjutkan sarapannya yang tertunda.


"Om lupa kemarin saya dan Om satu mobil kesini?"


"Oh yah?! whatever it is, jadi bagaimana hari ini?! Aku harus ke pabrik dulu."


"Joey menghubungi saya kalau dia akan menjemput saya pagi ini."


"Joey?! Dia siapa?" Tanya J.o.


"Pacar saya... Berhenti mengajak saya mengobrol dan habiskan sarapan om."


"Hati-hati jika ingin bepergian dengan pria lain. Aku tidak mau salah satu keluargaku melihatmu keluar dengan pria lain, apalagi nenek dan orang tuaku, termasuk ketiga kakakku, lebih baik orang tuaku atau nenek yang melihatnya daripada mereka. kau kuberi waktu satu Minggu untuk memberikan pengertian kepada pacarmu, bukan hanya kau, tapi aku juga. Aku harap kau ingat kalimatku kemarin."


"Saya tidak pikun seperti anda." Jawab Anna tanpa ekspresi.


"Huh?!! Pikun katamu?!!" Siapa yang mau menerima jika dikatai pikun?


"Lupa memakai kaos kaki yang ada didepan mata... Kejadiannya baru kemarin dan anda sudah melupakannya, itu namanya apa kalau bukan pikun?!"


Gadis ini benar-benar membuat mentalnya down.


...


Anna dan Joey mampir ke danau sebelum lanjut kekampus.


"Bagaimana suamimu?!" Tanya Joey tanpa menatap Anna.


Anna terdiam, tidak tahu ingin menjawab apa.


"Pemandangan pohonnya masih sama seperti saat aku mengatakan perasaanku padamu disini lima tahun yang lalu." Lanjut Joey.


"lima tahun tujuh bulan yang lalu." Sahut Anna.


"Kau masih teliti ternyata." Joey tersenyum ringan.


"Ternyata begini yah rasanya menjaga jodoh orang." Dia menatap Anna dan merangkul bahunya.


"Jangan ngomong seperti itu lah, ini semua di luar kemauan aku." Ucap Anna memeluk tubuh Joey.


"Diluar kemauan kok di terima?" Joey tetap tersenyum mengacak rambut Anna. Meskipun sebenarnya hatinya sangat sakit. Pacarmu tiba-tiba menikah? Perjalanan kisah mereka sampai hubungan mereka jelas dramatis. Akan banyak orang yang lupa bagaimana mereka bertemu di hari pertama karena pertemuan mereka benar-benar biasa, joging di sore hari dan membagi air minum dengan orang asing lalu jatuh hati, tapi itu bukan Joey dan Anna.


"Ceritanya panjang Bae... Ini seperti janji di masa lalu, singkatnya, sebelum bunda meninggal, bunda nitip aku pada nenek pria itu... Aku juga heran mengapa aku dititip pada orang lain padahal saudara bunda masih ada."


"Tapi kau bukannya dibesarkan bibi?!" Tanya Joey kebingungan.


"Bibi dan nenek pria itu dulu nya berdebat mengenai dengan siapa aku seharusnya. Nenek mengatakan kalau aku dititip secara langsung padanya, tapi bibi tidak mau, aku juga saat itu masih kecil dan lebih nyaman dengan bibi... Lalu bibi dan nenek membuat kesepakatan lagi, jika aku dewasa nanti barulah aku tinggal dengan nenek... Tapi nyatanya saat aku dewasa, paman menolak lagi, dengan alasan sudah menganggap ku sebagai anak kandung, Bae tau kan kalo paman dan bibi tidak punya anak?. Paman juga beralasan, aku sudah tumbuh dengan mereka, bukan hal yang mudah untuk menyerahkan aku kepada orang yang bukan keluarga... Memang saat itu keadaan mulai panas, nenek pria itu dalam kondisi sakit, paman dan nenek pria itu sama-sama keras kepala, jadilah bibi memutuskan untuk menikahkan aku saja dengan salah satu cucu nenek agar aku bisa terikat dengan nenek, bibi juga tidak ingin ingkar janji."


Anna mengatakan singkat cerita, tapi hasilnya lengkap cerita.


"Maaf." Kata terakhir Anna.


"Kau bahagia dengannya?!" Tanya Joey dengan lembut.


"Apakah dia menyakitimu?!" Lanjutnya.


"Tidak Bae... Dia baik padaku tapi aku tidak bahagia dengannya."


"Kebahagiaanmu akan muncul secara perlahan selagi dia memperlakukan mu dengan baik."


"Baeee... Jangan bicara seperti itu. Aku hanya bahagia denganmu, aku tidak menyukainya, sebaik apapun dia padaku jika aku tidak mencintainya, aku tidak akan bahagia." Air mata Anna lolos begitu saja.


"Sayang... Seharusnya aku yang mengatakan "jangan bicara seperti itu" bagaimana pun sekarang, dia adalah suamimu dan kau adalah istrinya. Aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin mengajarimu untuk berbuat salah, berhubungan dengan orang lain saat sudah menikah adalah sesuatu yang salah."


"Kami bisa bercerai nantinya, kita tidak berbuat salah."


"Sayang... Dengarkan aku, jadikan pernikahanmu hanya satu kali seumur hidup... Jangan pernah mencari jalan untuk bercerai dengannya.."


"... Bae?! Mengapa mengatakan hal itu? Kau tidak menyukaiku lagi?!"


"No.!! No.!! Aku selalu jatuh cinta padamu setiap kali aku mengingat namamu, menatap fotomu, mengingat senyummu, every time I look into your eyes. I always fall in love with you, Bae.! Pernikahan bukan mainan sayang. Kau percaya nasib? Takdir? Jika kita memang ditakdirkan untuk bersama, kau di kutub Utara dan aku di kutub selatan pun pasti akan bertemu...


"... Lihat, bagaimana kita menghabiskan waktu bersama selama ini, tapi takdir berkata lain."


"Kau bilang kau mencintaiku. Tapi kau tidak berusaha untuk membantuku keluar dari ini, Bae... Aku tidak bahagia dengannya.!"


"Aku bisa membantumu seandainya aku tahu hal ini lebih awal Bae... Apa kau pikir aku hanya akan diam jika tahu kau akan menik.."


"... Pernikahannya tiba-tiba sayang." Potong Anna.


"That's it baby... Tiba-tiba dan aku tidak punya waktu untuk mengeluarkan mu dari sana. Karena itu lah takdir.!!" Joey membentak nya tiba-tiba membuat Anna langsung terdiam.


"... Maaf sayang, aku tidak berniat membentak mu..." Meraih tubuh Anna dan memeluknya, "Aku bukannya tidak memperjuangkan mu, hanya saja hal yang kurang ajar jika aku merebut istri orang."


"Kau kuajak kesini untuk mengembalikan semuanya, di tempat ini kita jadian dengan perasaan bahagia, memintamu menjadi kekasihku dengan baik. Lalu memulai status baru dengan bahagia juga... Aku ingin, disini kita juga mengakhiri hubungan kita dengan baik, memutuskan hubungan kita dengan baik, dan memulai status yang baru lagi dengan baik." Bibirnya bergetar saat mengatakan kalimat itu, meskipun begitu Joey berusaha memberikan pemahaman kepada Anna.


Jangan lupa like dan comen juga vote dan hadiahnya.


hope you enjoy it guys.. happy Sunday.


you can find me on my Instagram account laa_ucn2t