Let's Fall In Luv

Let's Fall In Luv
Ice Cream



*10 minutes


*15 minutes


*20 minutes


J.o mulai sadar kalau Anna sudah sangat lama di kamar mandi dan dia belum mendengar suara gemericik air dari dalam.


Tok!


Tok!


Tok!


"Hei.!" Panggilnya.


"Kau mandi atau bersemedi?! Kenapa kau sangat lama?!"


Masih tidak ada jawaban.!


"Hei!!! Bayi!!! Jawab lah.!!" Mungkin dengan mengejek, gadis itu akan menjawab.


"Walaupun bayi, setidaknya cantik saya lebih alami dari kekasih om yang cantik hanya karena makeup... Berhenti berteriak dan mengetuk pintu." Benar saja, Anna langsung menjawab. J.o mendengar jelas ucapan Anna meskipun tidak dengan teriakan.


"Apa katamu?!" J.o merasa kesal saat Anna membandingkan kecantikannya dengan kekasih kesayangannya itu.


Anna hanya membisu tidak menjawab. Dia keluar dari dalam bathub, jika bukan karena teriakan suaminya yang mengangetkan nya dan membuatnya sadar bahwa dia sudah lama berendam, mungkin dia masih akan berendam.


Barulah Anna mandi. Matanya terasa panas karena menangis.


Dia keluar dengan hanya menggunakan handuk kimono dan rambut yang di bungkus handuk biasa. J.o yang menyadari kehadiran Anna, mengalihkan pandangannya kearah pintu kamar mandi.


Mendapati wajah Anna yang seharusnya terlihat segar karena baru saja mandi tapi malah sebaliknya, matanya merah dan bibirnya juga menghitam, hidungnya juga merah. Dia seakan tidak peduli, pandangannya mengarah kebawah, menatap kaki jenjang Anna yang putih mulus. Baru kali ini dia melihat itu, karena sejak kemarin gadis itu selalu memakai celana panjang.


Sialan!


Seperti ada seseorang yang meniup tengkuk lehernya membuatnya merinding seketika.


"Saya tidak nyaman dengan tatapan om. Bisa menatap ke hal lain?!" Ucap Anna sambil berjalan ke walk in closet.


"Maksudmu tidak nyaman dengan tatapan ku?! Dari kemarin aku menatapmu, lalu mengapa baru sekarang mengatakan kalau kau tidak nyaman?!"


"Sudah saya katakan, berpikirlah dua kali sebelum memberikan tatapan 'menakutkan' itu, saya bukan orang yang pandai mengontrol emosi, saya bukan orang bodoh yang tidak bisa membedakan jenis tatapan." Jelasnya dengan wajah datar.


"Kau bahkan tidak menatap ke arahku. Lalu tau darimana kau kalau aku menatapmu?!"


Anna berhenti dan berbalik menatap suaminya yang sedang duduk bersandar di kasur, "Just stop talking! Please!!! Kepala saya rasanya mau pecah!!"


"Biar kuluruskan NONA AUGUSTINE O'CONNER.! Aku tidak menatapmu lama karena penampilan mu yang hanya memakai handuk. Aku menatap wajahmu yang mirip zombie itu." Ucap J.o kesal meninggalkan Anna dari kamar.


J.o memijat pelipisnya yang berdenyut-denyut, "Sampai kapan semua ini?!" Gumamnya,


Tujuan utamanya adalah kulkas, mengambil dua cup ice cream dan berjalan menuju balkon samping ruang tengah dan menelfon kekasihnya.


Mungkin berbincang sejenak dengan Naura bisa membuatnya lebih rileks.


*


Anna melirik jam


18: 13 PM


Setelah mengeringkan rambutnya dengan hair dryer, barulah Anna keluar untuk masak makan malam. Dia menatap sekeliling mencari suaminya, namun tidak ada.


Sayu-sayu dia mendengar suara J.o dari balkon. Lalu segera menuju kesana.


"Kaos tanpa lengan, angin malam, makan ice cream... Om mau sakit?. Masuklah Om." Seharusnya Anna dijuluki sebagai gadis belit karena ucapannya yang melilit kemana-mana dulu sebelum ke intinya.


J.o setengah kaget mendengar suara Anna tiba-tiba dari belakang.


"Bisa tidak?! Nyapa dulu sebelum bicara?!" Kesal J.o berbalik kearah Anna. Tapi gadis itu sudah tidak ada.


"Anak kecil itu sayang?!" Tanya Naura dari seberang telepon.


"Ngapapa sayang, dia bilang apa memangnya?!" Satu hal dari Naura yang membuat J.o terkadang kesal padanya adalah selalu menanyakan semua hal, penting atau tidak.


"Menyuruhku masuk... Sudah dulu yah sayang? Aku masuk dulu. Kuhubungi lagi kau nanti."


Panggilan berakhir.


J.o berjalan menuju dapur dan mendapati Anna masih masak. "Kau menyuruhku masuk padahal kau belum selesai masak!"


Tanpa berbalik Anna menjawab, "Saya meminta om masuk bukan karena saya sudah masak, tapi karena kesehatan om. Om diluar mencari penyakit."


"Mulai besok, makan ice cream nya saya batasi." Lanjut Anna, dia benar-benar geleng kepala melihat bagaimana pria itu menghabiskan sekitar tujuh ice cream dalam sehari. Dia menghitung kekurangan jumlah yang tadi pagi masih ada 23 cup sekarang sisa 16 cup.


"Enak saja! Tidak akan.!" Tolak J.o.


"itu bukan untuk saya Om! Itu untuk kesehatan om.. Makan ice cream dua atau tiga kali seminggu bukan masalah, tapi om makan ice tiap hari, bahkan hari ini anda menghabiskan tujuh cup. Anda mau menambah berat badan? Om merasa kurus? Om mau gemuk? Seperti pesumo?!" Omel Anna panjang lebar.


'Aku menghabiskan tujuh cup dari kulkas, lalu di kantor dua, ke apartemen Naura satu... Jadi aku menghabiskan sepuluh ice cream hari ini.' batin J.o menghitung berapa banyak dia menghabiskan ice cream.


Sebenarnya dia juga bingung dengan hal itu. Dia


Begitu addict dengan ice cream, mirip dengan pria pecandu rokok atau sejenisnya. Kepalanya pusing saat mengingat ice cream dan tidak memakannya.


"Abs ku masih utuh kok." Jawabnya meninggalkan Anna dari dapur. Sampai di kamar, dia berdiri di depan cermin menatap dirinya, "Tidak berubah sama sekali" gumamnya melihat wajahnya yang tidak membengkak karena gemuk.


Lalu dia mengangkat bajunya keatas, "Abs ku juga masih sempurna, tidak berubah sama sekali." Lanjutnya bergumam menepuk perutnya yang berkotak-kotak.


***


Anna mencari J.o untuk memanggilnya makan malam. Jika tidak ada di ruang tengah, berarti dikamar.


Anna masuk kedalam kamar dan benar saja, suaminya sedang berbaring sambil memainkan ponselnya, "Om.. makan malamnya sudah siap. Makan dulu." Ucap Anna.


Tanpa menjawab, J.o meletakkan ponselnya di meja nakas dan keluar.


"Kau masak apa?!" Tanya J.o sambil menatap lauknya satu persatu.


"Makanan." Jawab Anna singkat.


"Kau kalau kutanya, jawab dengan benar.! Buang kebiasaan mu yang seperti itu karena aku tidak suka.!" Kesal J.o mendudukkan dirinya.


"Dan saya tidak suka dengan orang yang menanyakan sesuatu yang sudah jelas." Jawab Anna santai, tangannya bergerak mengambilkan suaminya makanan.


"Apa salahnya basa basi?!"


"Apalagi basa basi. Saya tidak suka. Makanlah." Anna memberikan makanan yang sudah dia ambil pada J.o kemudian ikut duduk di samping J.o dan mengambil makanannya sendiri.


"Tidak suka basa basi?! Bisa kau bayangkan bagaimana anehnya kalau kita tidak saling bicara padahal kita berdampingan?!"


"Karena itulah saya tidak mau membayangkannya."


J.o hendak menjawab, tapi Anna mengangkat tangannya pertanda agar J.o diam, lalu mulai makan.


"Setelah makan, kita bicara." Ekspresi J.o benar-benar serius, namun kembali menjadi kesal karena Anna yang tidak menjawab nya, bahkan gadis itu terkesan seperti tidak mendengar apa-apa.


Dia menarik kasar lengan Anna agar gadis itu menghadap kearahnya, "Kau dengar tidak?! Jangan menguji kesabaran ku Anna, aku sama sepertimu yang tidak pandai mengontrol emosi!! Aku tidak akan segan-segan untuk menyakitimu jika kau terus-menerus membuatku kesal.!!"


"Tidak ada yang menyuruh Anda untuk mengontrol emosi." Anna melepas lengannya dari cengkeraman tangan J.o. Dia meletakkan sumpitnya keatas meja dan meninggalkan J.o sendirian dengan emosi namun tidak bisa melampiaskannya karena begitulah, J.o adalah yang lebih tua darinya dan juga suaminya sekarang. Dia tahu itu bukan hal yang baik, lebih baik menghindar.


Namun J.o, pria dengan dominasi emosi yang lebih kuat merasa kesal dengan sikap Anna seperti itu. Bukan lagi kesal, tapi marah. Dia menyusul Anna kekamar, tepat saat Anna hendak memutar knop pintu, J.o menarik lengannya dengan kasar dan mendorongnya ke tembok. Menahan tubuh gadis itu dengan menekan kedua bahunya.


"Jangan karena kau tahu kau hanya anak kecil dimataku, membuatmu berpikir bahwa aku tidak akan menyakitimu!!! Kau salah besar.!! Sedari kemarin kau mengundang emosiku, aku masih diam, kupikir mendiamimu akan membuatmu berhenti membuatku marah karena aku terlihat tidak peduli.. Tapi aku salah, semakin mendiamimu, kau semakin menjadi-jadi.! Katakan jika ada yang kau mau! Jangan membisu seperti orang cacat!.."


J.o langsung diam saat ponsel Anna berdering, "Maaf." Ucap Anna lirih menatap suaminya dengan penuh kesedihan, bukan sedih karena J.o membentaknya, tapi sedih karena selalu membayangkan wajah Joey, bagaimana bisa di situasi seperti ini, yang terpikirkan hanya Joey? Bagaimana bayangan wajah pria yang sangat dia cintai itu memutuskannya.


Anna meraih kedua tangan J.o yang menekan bahunya, menurunkan dengan pelan, "... Lanjutkan makan malam om, saya angkat telefon dulu, setelah itu kita bicara."


Tanpa menunggu jawaban J.o, Anna masuk kedalam kamar untuk menerima panggilannya.


Jangan lupa like dan comen yah guys, vote juga kalo mau.