
"Maksudnya apa Bae??? Kita putus?!" Anna kembali menangis.
"Bae... Dengarkan aku!!! Kita putus bukan berarti kita akan saling menjauhi, saling mengabaikan... Itulah alasan mengapa aku mengajakmu putus secara baik-baik agar kita bisa menjadi teman lagi, bisa akrab layaknya teman dan saling peduli, kita putus bukan berarti kita tidak akan bertemu lagi, kita bisa bertemu di waktu luang sebagai teman. Okay??? Jadi jangan sedih lagi yah?!" Joey menyeka air mata Anna dengan ibu jarinya.
"Bagaimana aku tidak sedih jika harus hidup dengan pria lain saat aku mencintai kamu?! Aku hanya mau denganmu Bae.."
"Dengarkan ini dan percaya. Kau akan merasa lebih baik. Percayalah jika takdir itu ada, kita akan bersama lagi jika memang kita ditakdirkan bersama, dan takdir itu ada, kalian punya anak pun kalau kau memang ditakdirkan denganku, kita pasti akan bertemu lagi... Percaya padaku Bae.."
#Bae//sayang.
***
J.o baru saja kembali mengecek pabrik. Dia meninggalkan sekertaris nya lebih dulu kedalam mobil karena kebetulan mereka beda mobil.
"Halo sayang.! Aku dalam perjalanan ke situ." J.o sedang menelfon Naura, sesuai dengan janjinya pagi tadi di apartemen bahwa J.o akan menemuinya setengah sepuluh nanti.
Flashback.
Apartment J.o, 07: 24 am.
J.o membawa kekasihnya ke ruang tengah.
"Sayang duduk dulu dan dengarkan semuanya secara langsung dari mulutku." Ucapnya berusaha menenangkan kekasihnya.
"Percuma James!!! Meskipun kau menjelaskan semuanya, membuatku percaya, kau sudah terlanjur menjadi suaminya." Mata Naura mulai berkaca-kaca, tentu saja dia sakit hati mendapati kenyataan itu.
"Makanya dengarkan aku dulu,... Pernikahan ini ada karena janjiku pada nenek. Apa kau ingat saat aku membawamu kerumah dulu? Aku mengatakan pada nenek kalau aku akan melakukan apapun untuknya asalkan nenek bisa sembuh, kau dengar sendiri bukan?!" Naura tampak mengangguk.
"Percayalah sayang... Aku tidak mencintai gadis itu sama sekali, begitupun sebaliknya. Dia juga tidak menyukai ku. Di..."
Naura langsung memotong ucapan J.o, "... Bohong jika anak kecil itu tidak menyukaimu, itu hanya dalil nya saja, berlagak sok polos. Aku tau alasan dia menerima perjodohan kalian karena dia tau kau kaya."
"Sayang... Pacarnya Pelaut... Kekasihnya juga kaya, bahkan dia pun kaya. Kekayaan ku tidak akan berpengaruh padanya. Dia juga tidak tahu bahwa akan dijodohkan, jadi jangan menyalahkannya, disini kami berdua korban, lebih tepatnya akulah yang salah, saat aku berjanji pada nenek waktu itu, pikiranku tidak sampai kepada perjodohan seperti ini... Aku berjanji padamu akan menceraikan gadis itu saat kondisi nenek sudah pulih sepenuhnya, sehat seperti dulu lagi, saat ini tidak bisa dulu, nenek sangat sayang padanya... Kau tahu, nenek adalah kelemahan ku... Bersabarlah sebentar lagi. Aku akan menjemputmu setengah sepuluh nanti, kembalilah dan tenangkan pikiran mu. Kita lanjutkan nanti, oke?!" Jelas J.o panjang kali lebar kali tinggi.
"Benarkah kau akan menceraikannya?!" Seketika wajah Naura berbinar-binar.
J.o mengangguk, "Kembalilah dulu, ku jemput nanti di apartemen mu."
Naura bangkit dari duduknya, "Baiklah sayang... Hubungi aku nanti."
J.o mengiyakan lalu memeluk Naura, mengecup kepala Naura beberapa kali.
"Hati-hati. Jangan ngebut, okay?!" Pesan terakhir saat dia mengantar Naura ke luar.
***
Hanya menghabiskan waktu 17 menit, J.o sudah sampai di apartemen Naura. Dia langsung masuk karena J.o tahu pin Naura.
"Sayang..." Naura segera menemui J.o dan memeluknya.
"Duduk dulu sayang." Naura menarik lengan J.o ke ruang tengah.
"Langsung saja sayang, aku ada kelas dalam satu jam." J.o menatap jam tangannya, tiba-tiba, "Mau jam yang mana?" Suara Anna terdengar ditelinganya.
J.o langsung menggeleng cepat kepalanya. "Ada apa sayang? Apa kau pusing?!" Naura jelas khawatir, "I'm okay.!" Jawab J.o langsung.
"Okay... Sesuai janjiku tadi, kau masih ingatkan kataku pagi tadi.?"
"Menceraikan gadis itu saat nenek sehat 'kan?!" Dengan penuh semangat Naura menjawab.
"Yah... Begitulah rencanaku. Menceraikan Anna setelah nenek pulih sepenuhnya dan kembali menikahimu.."
J.o menggenggam tangan Naura, "... Kau mau kan menunggu ku?!" Lanjutnya bertanya dengan penuh pengharapan.
"Bukankah janjimu pada nenek adalah apapun yang penting nenek bisa sembuh dari kankernya? Kau melakukannya sekarang, bukankah itu artinya nenek sudah sembuh?"
"Nenek belum sepenuhnya sehat sayang, aku tidak mengerti soal seperti itu, semacam kemoterapi, kurasa kau yang lebih tau. Nenek bilang, aku harus menikah agar nenek terus semangat, mama bilang nenek mogok untuk itu karena permintaannya belum kuturuti."
"Baiklah. Aku percaya padamu dan aku akan menunggumu sayang."
Mereka berdua berpelukan, "Awas saja jika kau berani dekat dengan pria lain nanti, jika ketahuan aku akan membunuh pria itu." Kata J.o.
Bisa dilihat dan dirasakan bagaimana pria itu benar-benar mencintai kekasihnya.
"Hahaha... Tidak akan sayang.!" Naura begitu bahagia saat J.o posesif padanya.
"Baiklah, aku pergi dulu... Aku usahakan akan sering mengunjungi mu. Okay?!"
"Um. Terimakasih banyak sayang, aku pikir kau tidak akan peduli padaku lagi setelah punya istri."
"Jangan berpikiran seperti itu sayang... Sikap dan perasaan ku tidak akan berubah sedikitpun padamu." Dia mengecup kepala Naura dengan penuh cinta.
J.o beranjak dari sana, "Anyway..." Dia berbalik, "Foto tadi, darimana kau mendapatkan nya?" Tanya J.o pada Naura, menanyakan foto yang ada di tablet Naura tadi.
"Dari kakakmu, dari mana lagi? Pernikahan kalian tertutup."
"Sudah kukatakan sayang, berhenti berhubungan dengan mereka bertiga."
"Sudah sayang, aku memblokir semua nomor mereka... Fotonya dari nomor baru, saat kutanya dia siapa, katanya kak Jack."
"Blokir nomor itu lagi, lihatkan bagaimana dia berusaha untuk merenggangkan hubungan kita?"
"Tapi jika saja kak Jack tidak mengirimiku foto itu, apakah kau akan jujur padaku? Aku pasti tidak akan tahu apa-apa tentang pernikahan itu.!"
Naura tampak mulai kesal.
J.o kembali mendekati Naura dan memeluknya lalu minta maaf.
***
Keduanya sudah saling membohongi, J.o dan Anna. Mereka berjanji satu sama lain untuk memutuskan hubungan dengan kekasih mereka namun ternyata keduanya berdusta.
J.o yang meminta Anna untuk putus dengan pacarnya, sebaliknya dia pun begitu, keduanya setuju.
Tapi apa? J.o menemui kekasihnya dan menjanjikannya untuk menunggunya bercerai dengan Anna lalu menikahinya dan Anna yang menemui kekasihnya agar kekasihnya mempertahankannya, bahkan meminta Joey untuk membantunya mencari jalan agar bisa bercerai dengan J.o.
Lalu akan bagaimana nasib rumah tangga mereka jika keduanya sama-sama memiliki niat bercerai? Jika tidak ada salah satu dari mereka yang mencoba untuk mempertahankan pernikahan itu.? Mereka tidak jujur satu sama lain, Anna tidak mengatakan jika dia ingin bercerai dengan J.o, begitupun J.o, mereka justru saling melempar kebohongan untuk mempertahankan pernikahan mereka.
***
Pukul 12: 30 tepat.
Anna sedang duduk di kantin kampus bersama beberapa teman kelasnya, dia meraih ponselnya, "Aku ke toilet dulu bentar yah?!" Pamitnya pada teman-teman nya.
Di toilet, Anna menelfon J.o, hanya untuk menanyakan apakah pria itu sudah makan siang atau belum. Ajaran bibinya untuk memperhatikan suaminya.
"Halo om?! Sudah makan?!" Tanya Anna to the point.
"Baru aja buka pintu ruangan. Kenapa?!"
"Jangan lupa makan siang, tadi bekalnya dibawa kan?!" Anna memang berangkat lebih dulu dari J.o pagi tadi.
"Bawa kok. Lalu kau sudah makan?!"
"Baguslah... Jangan lupa dihabiskan, sudah dulu." Anna mengakhiri panggilan telepon tanpa menjawab pertanyaan J.o.
Lalu ponselnya bergetar tanpa ada pesan masuk.
Om James O"Conner: *Sekali lagi kau abaikan panggilanku, nomormu akan ku blokir, bagaimana bisa kau bersikap seperti itu pada suamimu?!
Isi pesan dari J.o.
Anna dengan tenang membalas,
Augustinne O'Conner: *Maaf om, lagi ramai, saya dikantin, lagian mau bicara apa?
J.o membalas,
Om James O"Conner: *Aku tidak peduli kau dimana, dengan siapa, ramai atau tidak. Sekali panggilanku kau abaikan, nomormu akan ku blokir, aku tidak pernah mengembalikan nomor yang sudah ku blokir!.
Augustinne O'Conner: *Maaf om... Saya juga lagi makan.
Om James O"Conner: *Kau pulang jam berapa?
Augustinne O'Conner: *05
Om James O"Conner: *Om balik duluan, kalau kelasmu selesai, telfon saja, aku akan menjemputmu.
Augustinne O'Conner: *Baiklah. Makan dulu baru balik om.
Tidak ada balasan dari J.o sampai Anna tiba di kantin.
"Sibuk banget sih ngetik pesan, bos pelaut nya lagi cuti yah?!" Goda Jolie, salah satu teman kelas Anna.
Yah! Tidak ada orang luar yang tahu tentang pernikahan Anna dan profesor James.
"Um!" Seperti biasa, Anna hanya menjawab singkat godaan teman-temannya.
Anna tidak makan siang sama sekali, hanya menatap diam makan siangnya. Pikirannya masih stuck dengan pertemuan nya dengan Joey, dia pikir pacarnya itu... Bukan! Sekarang Joey adalah mantannya... Dia pikir mantannya itu akan mempertahankan hubungan mereka dan membantunya mencari jalan keluar dari perjodohan itu.
Nyatanya tidak.!
Dulu dia senang karena Joey pria yang sangat baik dan punya pemikiran dewasa, setiap Anna dalam masalah, Joey pasti selalu mendapatkan jalan keluarnya.
Tapi sekarang, dia kesal karena sikap Joey itu. Baik dan dewasa membuat Joey malah menentang keinginannya untuk berencana bercerai dari J.o.
"SIALAN!!!" Melempar sumpitnya keatas meja dan meninggalkan teman-temannya.
"Kenapa tuh anak?!" Tanya temannya yang kebingungan melihat sikap aneh dari Anna yang muncul tiba-tiba.
"Kayak baru kenal aja." Jolie menyahuti.
Cara bicara Anna didepan temannya dan keluarganya termasuk suaminya memang berbeda. Mungkin di keluarganya dia sering menyahuti orang dengan kalimat yang savage atau swag tapi tidak pernah mengeluarkan kata kasar seperti: s*al, f*ck, ****, d*mn dan semacamnya. Dalam perbincangan keluarga, kalimatnya terkesan lebih formal.
*
*
*
05: 12 PM.
Anna sedang berdiri di pinggir jalan menunggu taksi. Menunggu taksi padahal J.o sudah memintanya untuk menelfonnya agar J.o menjemputnya, tapi dia malas. Sebisanya dia akan kurangi untuk bertatap muka dengan J.o.
Our Home Building tidak terlalu jauh dari kampus, paling tujuh menit naik mobil sudah sampai.
Tepat saat Anna keluar dari lift, J.o menelfon.
"Saya sudah sampai om." Jawab Anna, berjalan mendekati pintu dan memasukkan menekan pin digit.
"Kok salah?!" Gumamnya..
"Hal..." Baru saja ingin bicara pada J.o, suaminya sudah muncul membuka pintunya.
"Terimakasih." Kata Anna meraih tangan J.o dan menyalimnya.
"Kenapa tidak menelfonku? Tadi siang kan aku suruh telfon kalau mau balik." Tanya J.o.
"PINnya ganti?!" Anna malah mengalihkan pertanyaan nya.
"Pin nya ku ganti ke 280818"
Anna hanya mengangguk lalu berjalan masuk, "Sudah makan siang kan?!" Tanyanya lagi.
"Sudah kok."
"Sudah mandi?!" Tanyanya lagi.
"Sudah."
Mereka berdua berbincang sambil menuju kamar, "Aku juga baru balik dari kantor, dari kampus tadi lanjut ke kantor." Ucap J.o sambil membuka pintu kamar.
Anna hanya diam tidak menyahuti. Dia hanya ingin mandi dan belajar. Tapi saat masuk kamar...
.... Bagaimana bisa kamar mereka jadi seberantakan ini? Tapi pagi dia meninggalkan kamarnya dalam keadaan rapi, aman dan damai sentosa.
"Om... Itu apa ya!" Tanya Anna menunjuk ke arah keranjang pakaian di samping pintu kamar mandi.
"Kau tidak tahu itu apa?!" Dengan polosnya dia menjawab dengan wajah mengejek.
"Iya, dari kemarin saya ingin menanyakan nya, tapi lupa."
"Bagaimana bisa anak perempuan tidak tahu itu apa?! Itu keranjang pakaian kotor. Kau itu.!"
"Om tahu kalau itu keranjang pakaian kotor. Lalu mengapa celana, jaket sama baju kaosnya di lantai seperti itu? Kaos kaki sama ikat pinggang kenapa di letakin di sofa? Handuknya? Sejak kapan kasur jadi tempat jemur handuk?... Rapi sedikitlah om, jangan jorok seperti ini... Om lihat keadaan berantakan seperti ini, enak tidak?" Omel Anna seraya memungut semuanya. Tapi dia tidak berteriak sebagaimana atasan mengomeli bawahannya. Hanya suara ringan yang begitu pelan tapi masih terdengar jelas di telinga J.o.
Meletakkan bag dan laptopnya di atas meja lalu menuju balkon untuk menjemur handuk J.o sekaligus mengambil handuknya.
"Ngga sengaja, tapi udah gerah banget, jadi langsung mandi."
"Besok jangan diulang." Jawab Anna sembari membuka jas blazer nya.
Tanpa menjawab, J.o naik kekasur dan melanjutkan tidurnya. Sebenarnya dia tidak kekantor tadi, tapi ke apartemennya Naura.
"Bagaimana dengan pacarmu? Kau sudah bicara dengannya?!" Tanya J.o sambil matanya terus mengikuti kegiatan Anna yang sedang melepas Jas blazer-nya.
Mendengar pertanyaan itu, Anna terdiam sejenak...
Lalu melanjutkannya, "um!" Jawabnya singkat lalu segera masuk kedalam kamar mandi.
"Joey..." Gumam Anna membuka semua pakaiannya.
"... Aku harus bagaimana sekarang?!"
Anna mengisi penuh bathtub lalu masuk menenggelamkan tubuhnya.
Hope you enjoy it guys...
Jangan lupa like, komen dan juga hadiahnya