
Nada melenguh, cewek itu mengerjapkan matanya yang terasa berat dan lengket, kemudian menguceknya. Sambil mengumpulkan nyawa, cewek itu memandangi sudut kamarnya yang luar biasa berantakan. Kertas sketch yang menggunung di tempat sampah, baju dan celana tergantung di mana-mana, hingga piring dan gelas bekas makan malam kemarin belum ia bereskan.
Cewek itu mendesah pelan, ia melirik jam dinding, masih pukul tujuh. Jam kerjanya dimulai pukul sembilan. Masih ada waktu dua jam lagi. Namun, dering ponsel menyita perhatiannya.
Dengan malas ia meraba kasur, kemudian menarik benda tipis yang bergetar itu. Tak ada nama, hanya dua belas angka nomor asing. Nada mendesah, jika bukan tantenya yang kembali menelpon hanya untuk meminta uang, pasti salah sambung atau si penipu dengan embel-embel saudara atau anak yang kecelakaan jika tidak terkena kasus narkoba.
“Halo?” Akhirnya Nada mengangkat telepon itu.
“Anada Atmajiana, benar?”
Kening Nada mengerut, suara laki-laki itu jelas bukan tantenya, si penipu juga tidak mungkin mengetahui namanya selengkap itu. “Siapa?"
“Kamu lupa?" Laki-laki di sana sedikit memekik.
“Kak Azra, ya?" Tebak Nada walaupun tidak mungkin juga, Azra yang disukainya melakukan telepon iseng seperti ini.
“Bukan, ini om kamu," balasnya ketus.
Seluruh wajah Nada berkerut. Om? Nada tidak punya oom. Satu-satunya om yang dia pernah punya meninggal beberapa tahun yang lalu, tapi ia sepertinya kenal suara bass yang terdengar menggoda ini.
“Airlangga?!"
“Ya.”
Mata Nada membeliak, cewek itu duduk dari tidurnya. Dapat darimana om-om menyebalkan itu nomornya? Manda? Ah, tidak. Manda hanya sukarela memberikan nomornya sendiri.
“Saya dapat nomor kamu dari pak Damar," ujar Airlangga seakan bisa membaca pikirannya dari jauh.
Nada menghembuskan napas berat. Tentu saja, profesor killer-nya itu yang memberikan. Saat itu Nada ingat kalau dosennya menyuruh ia untuk menemani Air hari ini.
“Maaf ya, Oom.”
“Airlangga saja tolong," koreksi otomatis dari seberang yang dibalas putaran mata oleh Nada.
“Maaf ya, O—Airlangga, hari ini saya tidak bisa menemani kamu, saya harus kerja paruh waktu, dan saya juga sudah bilang sama pak Damar kalau—”
“Ehm, Nada?" Pria itu menginterupsinya.
“Ya?"
“Nomor kamar kost-an kamu enam? Di lantai dua, 'kan?"
“Kok tau?"
Tak ada jawaban, tapi kemudian seseorang mengetuk pintu kost-an Nada. Kepala gadis itu berputar cepat. “Airlangga?” panggilnya. Namun panggilan diputuskan secara sepihak oleh si tuan menyebalkan itu.
Balasannya, teriakan pria terdengar dari depan. “Nada, kamu ada di dalam?"
Bangs*t! Maki gadis itu dalam hatinya. Ia segera beranjak dari ranjang, berlari ke kamar mandi, membasuh wajahnya asal, memeriksa pakaiannya lalu meraih handle pintu dan menyentaknya hingga terbuka.
Nada melongo, ia benar-benar seperti idiot saat itu. Bagaimana tidak, pria yang dipanggil om-om olehnya terlihat sangat keren kala itu. Dengan blazer hitam dan kaos putih serta celana kain, tampangnya yang segar berbanding terbalik dengan Nada yang kucel.
Nada menelan ludah, pikirannya kini lari menuju sesuatu yang tidak boleh ia pikirkan, seperti menarik pria itu ke dalam kamar kost-nya dan menciumnya saat itu juga misalnya. Namun kemudian, kenyataan kembali menarik gadis itu saat ia mendengar bisik-bisik dari sekitarnya.
Nada melongok keluar dari pintu, menoleh ke kiri dan kanan, melihat barisan mahasiswa yang juga nge-kost di sana, memandangi Nada dan Airlangga penasaran. Lebih tepatnya mereka penasaran pada Airlangga, apalagi pagi-pagi seperti ini sudah disuguhkan pemandangan paling indah ciptaan Tuhan.
“Nada, bisa kita pergi sekarang?"
Nada kembali menatap Airlangga. “Om," panggilnya, lantas meringis saat melihat wajah Airlangga berubah masam. Gadis itu nyengir. “Sorry, kebiasaan lama. Tapiii saya nggak bisa menemani kamu.”
“Kenapa?"
“Karena saya ada pekerjaan hari ini. Saya juga sudah bilang tidak ke pak Damar.”
“Tapi dia bilang kamu setuju.”
“Saya nggak pernah bilang seperti itu. Saya ingat kok, kata pak Damar, dia akan telpon saya pagi ini, meminta jawaban, tapi malah kamu yang nelpon dan tiba-tiba sudah ada di depan pintu kost saya. Tapi tunggu!” Nada menatap Airlangga tajam dan penuh intimidasi walaupun yang ditatap biasa-biasa saja. “Darimana kamu tahu alamat kost saya.”
Airlangga tersenyum. “Sahabat kamu kalau mabuk ternyata sangat mudah membuka mulut.”
“Apa?!" pekik Nada, gadis itu melotot garang. “KAMU APAIN MANDA, HAH?" Nada siap menerjang Airlangga saat itu, tetapi pria tersebut mengulurkan tangannya untuk menenangkan.
“Saya nggak ngapain-ngapain dia kok.” Tersempil cengiran di sudut bibir Airlangga yang membuat Nada masih tidak percaya. “Serius," tambah Airlangga dengan dua jari telunjuk dan tengahnya.
“Kami hanya mengobrol sambil minum, tapi dia ternyata sangat jujur dan baik. Mau memberitahu saya alamat kamu, dengan sangat lengkap pula.”
“Kalau dia mabuk, pulangnya bagaimana? Kamu nggak ngajak dia ke hotel kemudian—" Nada menarik napas terkejut, matanya membeliak, salah satu kakinya siap menendang kalau-kalau pria itu melakukan sesuatu yang buruk pada sahabatnya.
“Tenang, ada cowok yang jemput dia. Saya tidak tahu, tapi kalau tidak salah namanya Ijrail?”
“Azra," koreksi Nada dibalas anggukan cepat Airlangga. Kini Nada menghembuskan napas kasar. Tentu saja, Azra yang disukainya pasti akan selalu siap sedia membantu Manda, malahan mungkin ini kesempatan cowok itu untuk mendapatkan perhatian sahabatnya sendiri.
“Jadi bagaimana? Kita pergi?"
Nada memandang Airlangga penuh cemooh. “Kata siapa? Saya harus kerja. Permisi.”
“Tapi—” Tanpa menunggu apa yang akan dikatakan Airlangga, dengan telak ia menutup pintu di depan hidung pria itu. Airlangga mungkin tampan dan keren, bahkan sedikit melebihi Azra. Namun, tetap saja, orang menyebalkan itu akan selalu ada di dalam daftar hitam Nada.
Gadis itu tersenyum puas saat Airlangga mengetuk pintu kost-nya dan meminta gadis itu untuk menemaninya hari ini. “Cuih, memang gue siapa elu?"
Nada menatap ponselnya, sudah setengah delapan. Lebih baik ia bersiap-siap untuk pergi bekerja. Gadis itu lalu pergi mandi. Setelahnya, ia memakai kaos oblong putih yang ditutupi kemeja kotak-kotak berwarna kuning kesukaannya, tidak lupa rambut kuncir kudanya. Jam delapan, ia sudah siap pergi.
Namun ketika membuka pintu, manusia itu masih berdiri di depannya, siapa lagi kalau bukan Airlangga.
“Betah banget om diem di sini, pasti karena dikelilingi cewek-cewek cantik, ya?" tanya Nada sinis sembari mendelik pada penghuni kost lain yang mencoba mendapat perhatian Airlangga.
“Halo?"
“Nada?"
“Ya, prof?"
“Bukannya saya sudah bilang tolong temani Airlangga hari ini?"
“Sudah, prof. Tapi bukannya saya sudah bilang kalau hari ini saya harus bekerja.”
“Saya ingat, tapi mungkin kamu lupa, saya pernah bilang, kalau kamu mungkin akan mengulang lagi di pelajaran saya.”
Nada berubah gelagapan, gadis itu menggaruk tengkuknya, lantas melemparkan tatapan sengit pada Airlangga yang tersenyum puas. “Profesor Damar, saya, saya ....”
“Pokoknya hari ini saya ingin kamu menemani Airlangga. Titik.”
“Profesor!"
Tuuuut
Nada menatap ponsel itu nelangsa, ia menengadah dan dengan kesal mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya.
“Jadi, bagaimana?" Alis pria itu naik dengan jenaka. Tahu bahwa Nada tidak bisa melawan lagi setelah profesor Damar mengancamnya dengan sesuatu yang tidak gadis itu sukai.
“Terserah om, deh.” Nada berbalik, mengunci pintu kost-nya dan berjalan terlebih dahulu sementara Airlangga mengekor dari belakang dengan senyum lebar, padahal dengan sengaja Nada menyebutnya om tadi.
Sesaat sebelum sampai di parkiran, Airlangga berjalan mendahului, pria itu menghampiri sebuah SUV hitam, lalu membuka pintu penumpang. “Ayo masuk.”
Nada mendengkus, ia hanya menatap Air ketus lantas melengos pergi, cewek itu melirik jam tangannya, masih ada setengah jam lebih lagi menuju jam sembilan.
Dari arah kanan, angkot pun datang, Nada menjulurkan tangannya, tapi seseorang tiba-tiba menarik kerah belakang cewek itu. “Eh, apaan nih!" protes Nada sembari memberontak, ia lantas berbalik dan memasang sikap defensif.
Biang keroknya hanya nyengir sambil menunjuk pintu mobil yang terbuka. “Silakan masuk Anada Atmajiana," pintanya manis.
“Dasar sinting," gumam Nada, tapi mau tidak mau ia masuk ke mobil.
Airlangga tersenyum lebar, ia memakai kacamatanya kemudian duduk di kursi pengemudi. Pria itu melirik sekilas Nada yang bertampang masam.
“Kamu kerja di mana?" tanya pria itu, salah satu tangannya terjulur untuk menghidupkan radio, lantas salah satu lagu Kahitna bergaung memenuhi isi mobil.
“Belok kiri," ucap Nada ketika Airlangga hampir berbelok ke kanan, dan jelas ia tidak mengacuhkan pertanyaan pria di sampingnya dan memilih untuk menatap jalanan yang mulai padat.
“Restoran, Cafe, atau di sebuah perusahaan.”
“Anak magang?"
“Tukang bubur?”
Nada menoleh pada Airlangga saat ucapan pria itu semakin melantur. “Air," panggilnya.
“Hm," balas Airlangga tanpa menatap Nada dan mengalihkan tatapannya pada spion samping.
“Tau arti kepo, nggak?"
“Nggak," katanya. Mobil pun tiba-tiba berhenti, Nada memutar kepalanya ke depan, mereka parkir di pinggir jalan, dan tepat di depan mereka, ada gerobak tukang bubur.
“Mau bubur?" tanya Airlangga, memindahkan persneling dan mematikan kendaraan.
“Kenapa berhenti?" sahut Nada, menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lagi. “Airlangga.”
Namun Airlangga tidak membalas, pria itu turun dari mobilnya, menghampiri gerobak tukang bubur. Nada yang masih berada di dalam mobil hanya mampu melongo. Buru-buru ia melepas seatbelt dan menyusul Airlangga yang sudah duduk manis di salah satu kursi yang disediakan.
“Airlangga," panggilnya lagi.
Airlangga mendongak, menatap Nada polos.
“Ngapain kita ke sini?" bisik Nada, melirik tukang bubur dari sudut matanya.
“Nonton sirkus." Pria itu tergelak atas jawabannya, tapi ketika Nada tidak ikut tertawa, ia mengibaskan tangannya. “Sarapan, Nada. Saya tahu kamu belum makan apapun.”
Nada menghembuskan napas frustasi, ia melirik jam tangannya, tinggal dua puluh lagi. Cewek itu menggeleng. “Nggak bisa, saya harus kerja," katanya.
“Jam berapa kamu masuk?"
“Sembilan.”
“Oh, masih lama.”
Nada membuka mulutnya untuk membalas, matanya sudah kepalang melotot. Namun, ia tahu, semuanya percuma. Airlangga hanya membuat paginya buruk, tambah buruk. Gadis itu mengangguk pelan. “Oke," katanya.
“Kamu tahu nomor ponsel saya, 'kan?"
Airlangga mengangguk. “Kita ketemu nanti siang, setelah saya selesai kerja. Dan sekarang—" Gadis itu mengambil ancang-ancang, ia memperbaiki letak backpack di pundaknya. “Saya mau pergi kerja, bye!"
Cewek itu berbalik, ia menghentikan sebuah angkot yang kebetulan lewat dan naik sebelum Airlangga kembali menarik belakang kerahnya. Saat duduk di dalam angkot, ia melambaikan tangannya pada Airlangga yang terdiam, menatapnya tanpa senyum, momen itu Nada abadikan dengan senyuman tipis.
***
_______________________
Jangan lupa tinggalkan komentar ya, kunjungi juga ceritaku yang lain, dan jangan sampai ketinggalan info tentang Let Me Introduce Myself, maupun cerita lainnya. Echi senang kalau kalian bergabung dengan grup. Informasi yang berkaitan akan diposting pada akun Instagram @Echilo_19 atau @Loxerious.
Luv U
Loxerious