
Nada membuang nafasnya beberapa kali. Dia memasang senyum semanis mungkin. “Pak Airlangga," katanya sambil menunjuk pintu keluar. “Tadi keluar dari sana, kok saya enggak lihat?"
Airlangga berdecak dan telunjuknya menempel di kening cewek itu, ia menoyornya. “Itu karena kamu terlalu sibuk merhatiin cowok-cowok ganteng."
Nada meringis lagi, ia tidak berkutik ketika melihat pria-pria oriental khas Tiongkok dengan wajah yang tampan berhamburan keluar dari terminal kedatangan. Sekalian cuci mata sambil menunggu, tapi siapa kira kalau Nada bisa luput memperhatikan om—maksudnya pria tampan satu ini.
“Harusnya Pak Airlangga nyamperin saya dan bilang kalau itu Bapak. Bukan—"
“Saya nyamperin kamu kok, tapi kamu terlalu sibuk mendumel dan—"
“Oke," potong Nada lancang, ia hanya mengendikkan bahunya, pria itu juga memotong ucapannya dengan seenaknya.
“Saya minta maaf ya, Pak."
“Saya juga minta maaf," ujar Airlangga, ia mengacungkan es krimnya yang tersisa setengah. “Tadi pergi ke Baskin Robbins dulu. Enggak marah, 'kan? Kita satu sama lho, kamu enggak akan buang saya ke laut, 'kan?"
Ya ampun, nih Om. Yang ada mau gue ketekin terus bawa ke apartemen dan ajak skidipapap, pikir cewek itu tapi langsung menggelengkan kepalanya, mengusir bayangan kotor dari pikirannya. “Kebiasan, duh!" gumamnya.
“Jadi, mau tetep buang saya ke Ciliwung."
“Enggak, Pak. Nanti saya digantung sama profesor," balas cewek itu.
“Ya udah deh, sekarang kamu bawa mobil?" tanya Airlangga kemudian.
“Saya bawa sedan, Pak Airlangga bawa banyak barang?" tanya Nada sambil menunjuk pintu keluar menuju parkiran.
“Enggak terlalu banyak sih. Tuh di sana." Airlangga mengendikkan dagunya ke arah sederetan koper. Dan Nada menatap pria itu masam. Sudah satu jam menunggu lama, sekarang, ia harus membawa barang bawaan pria itu pula, yang jumlahnya tidak terkira. Si China ini mau ngapain sih sebenarnya?
“Kalau begitu ayo, Pak. Saya bawakan barangnya."
“Bisa sendiri emang?"
Nada menggelengkan kepalanya dengan polos dan meringis saat pria di hadapannya memutar bola mata. “Saya bantu, ayok."
Nada mengambil koper yang paling besar dan menyeretnya susah payah. Sementara Airlangga hanya membawa barrel bag yang ia sampirkan di bahu.
“Oh ya, nama kamu siapa?" tanya Airlangga, sambil memperhatikan punggung Nada yang berjalan di depannya.
“Nada," balas cewek itu singkat.
“Nada punya pacar?"
“Eh?"
***
“Dia memang salah satu mahasiswi saya yang blak-blakan. Mulutnya kayak enggak punya rem, apalagi saat kesal." Perut Profesor Damar ikut bergoyang saat pria paruh baya itu tertawa ketika Airlangga menceritakan kejadian di Bandara tadi.
“Enggak gitu kok, Pak," sela Nada kesal. Ia melirik Airlangga yang juga ikut terkekeh. “Salah Pak Air juga."
Profesor Damar menepuk punggung Nada dan salah satu tangannya mengusap sudut matanya yang berair. “Sudah-sudah," katanya. “Kamu sekarang beli kopi buat kami berdua, ya?"
Nada hendak protes, tapi Airlangga keburu menyelanya. “Saya tidak minum kopi, Prof."
“Ah, masa?"
“Sudah berhenti minum kafein sejak lama, tapi kalau bubble tea mungkin boleh." Pria itu tersenyum ke arah Nada yang dibalas gadis itu dengan delikan.
“Dengar, Nada? Pak Air pesan apa? saya kopi yang biasa ya? Tanpa gula."
“Sebentar saja, saya tidak mungkin turun tangga menuju kantin. Kaki saya masih sakit, kalau saja tadi kamu tidak—"
“Oke-oke." Nada memotong dengan cepat. Ia tidak mungkin membiarkan Profesor Damar menceritakan kalau perban yang melilit pergelangan kakinya itu karena ulah Nada sendiri.
“Saya permisi, Prof."
Buru-buru cewek itu keluar dari ruangan. Ia menutup pintu di belakangnya dengan lumayan keras hingga kedua pria itu sedikit terkekeh.
“Mahasiswi bapak yang satu itu lucu."
“Ah, Airlangga," desah Profesor Damar sambil memperbaiki duduknya. “Panggil saja Paman, itu juga kalau kamu masih menganggap kita keluarga."
***
Nada duduk di salah satu kursi sambil menunggu pesanannya datang. Cewek itu mencorat-coret bukunya dengan asal hingga tidak sadar ia menggambar sketsa wajah seseorang. Keningnya berkerut, dan dengan kesal cewek itu merobek lembaran sketchbook miliknya lalu membuangnya sembarangan.
“Buang sampah sembarangan ini namanya, Nad. Bisa kena denda."
Nada menoleh cepat hingga ia merasakan lehernya sakit. Cewek itu tersipu malu saat mendapati Azra berjalan ke arahnya sambil menimang-nimang gumpalan kertas di tangannya.
Cowok itu duduk di samping Nada, dan menyangga kepalanya dengan telapak tangan. Tatapannya tertuju pada buku gambar milik cewek itu. “Lo kalau mulai ngegambar terus dibuang, itu tandanya lagi bete," ujar cowok itu.
Nada menelan ludahnya saat melihat smirk tercetak di bibir cowok itu. Ia tidak bisa tahan pada pesona Azra yang menakutkan. Azra itu terlalu mendominasi dengan ketampanannya yang maksimal.
“Eng-gak kok, Kak. Aku cuma iseng."
Azra tertawa renyah, tawa yang juga dapat melemahkan iman Nada. Rasanya cewek itu ingin membelai wajah cowok itu, mencium bibirnya, membungkam cowok itu dan mengatakan kalau Nada suka padanya!
Ia ingin sekali melakukannya, sedari dulu. Namun, Azra jauh untuk dicapai. Karena cowok itu tidak menyukai dirinya, Azra lebih menyukai cewek dengan badan seperti gitar spanyol, berlekuk, dan yang lebih penting berisi! Bibirnya juga harus merah ranum, rambutnya panjang hitam dan lurus serta lebat, wajahnya juga harus cantik, secantik artis-artis Korea sana. Dan semua itu ada dalam diri Manda, sahabatnya sendiri.
“Oh gitu, by the way, mana Manda? Gue engga liat dia dari pagi."
Nah! Betul kan? Kata batinnya miris. Azra hanya menginginkan Manda dan tidak mungkin mau melirik gadis sepertinya yang jauuuhhh dari kata gitar spanyol. Tubuhnya lempeng seperti jalan tol, dan rata seperti triplek, nomor BH-nya juga kecil, rambutnya juga tidak panjang lurus seperti idaman Azra, dan tingginya juga hanya 155 cm. Benar-benar bukan idaman pria manapun. Pantas saja ia menjomlo dari sejak bayi hingga Juni ini berumur 21 tahun. Dan ketika ditanya pria itu—aih! Si Airlangga itu, ia hanya bisa bungkam tanpa menjawab apapun, lagipula kenapa si Airlangga itu ... eh?
Airlangga. Sebentar-sebentar, sepertinya Nada melupakan sesuatu yang penting. Cewek itu berusaha mengingat, tapi kemudian dia menggebrak meja saat mengingat sesuatu. Kopinya!
Azra tersentak, cowok itu mendongak tanpa berkedip pada Nada yang musuh-musuh tidak jelas.
“Maaf ya, Kak. Nada pergi dulu, ada urusan penting!" Dengan gesit Nada merapikan buku miliknya dan memasukkan benda itu ke ransel. Cewek itu langsung menghampiri salah satu stand dan meminta pesanan yang tadi ia tinggalkan. Setelah membayar, dengan kecepatan kilat, ia pergi menuju ruang rektor yang ada di gedung utama fakultasnya.
Setelah sampai, tanpa menarik nafas, Nada membuka pintu ruangan itu dengan keras. Cewek itu menunduk dengan terengah-engah. Ia masuk ke ruangan dan menjulurkan pesanan kedua pria itu.
“Nada," panggil Profesor Damar pelan.
Nada perlahan mendongak, cewek itu terdiam saat melihat cangkir kopi dan segelas bubble tea dingin terhidang di atas meja.
“Kamu tadi kelamaan, ya udah saya pesan lewat GFood saja, lebih cepat dan praktis." Profesor Damar menyesap kopinya dengan nikmat tanpa memperdulikan raut wajah Nada yang perlahan keruh. Sial*n! Aku dikerjain!
***
___________________
Jangan lupa tinggalkan komentar ya, kunjungi juga ceritaku yang lain, dan jangan sampai ketinggalan info tentang Let Me Introduce Myself, maupun cerita lainnya. Echi senang kalau kalian bergabung dengan grup. Informasi yang berkaitan akan diposting pada akun Instagram @Echilo_19 atau @Loxerious.
Luv U
Loxerious