Let Me Introduce Myself

Let Me Introduce Myself
BAB 1 | Anada Atmajiana




Hanya satu hal yang mampu membuat Nada lemas. Cowok ganteng dari Fakultas Kedokteran. Walaupun dandanannya sedikit menyerupai cowok, tapi ia menyukai cowok berkacamata dengan tampang nerd! Apalagi dengan kumis tipis itu! Benar-benar menggoda iman!


Untung saja Fakultas Seni dan Kedokteran berada dalam kawasan yang sama, dengan tempat parkir yang disatukan pula, jadi setiap pagi dia bisa mencuci mata. Seperti salah satu pagi ini, dengan kaos putih yang ia pakai di balik kemeja kotak-kotak yang ujungnya dimasukkan secara asal ke dalam jeans, cewek itu sudah duduk manis di depan gedung Fakultas Kedokteran dengan sebungkus gorengan yang ia beli di jalan tadi, dan jangan lupakan kopi hitam andalannya ketika harus lembur.


Sudah setengah jam ia duduk di sana, mengamati para cowok tampan yang mulai berdatangan, menenteng tas laptop dan buku yang tebalnya tidak terkira itu. Sebenarnya, bukan tanpa alasan juga dia duduk di tempat tersebut, cewek itu sedang menunggu sahabatnya yang seharusnya sudah datang sepuluh menit yang lalu.


Nada mendengkus setelah melirik jam tangannya, gorengan yang ia beli juga sudah habis berpindah ke perutnya, tapi sahabatnya itu juga belum terlihat batang hidungnya.


Drrtt


Ting!


Nada meraba-raba saku celana jeans-nya saat merasakan sebuah getaran yang berasal dari ponselnya. Sebuah pesan masuk, dari Manda—sahabatnya.


From : Manda bahenol


To : Me


Sorry, **Nadnad. Nyokap suruh anter ke butik dulu, ambil baju buat ke kondangan. Lu duluan, jangan tunggu gue.


Dari cewek paling cantik, Manda**.


Nada mendengkus setelah membaca pesan itu. Ia memasukkan ponselnya kembali ke saku jeans dan membuang bungkus gorengan serta cup berisi kopi hitam yang tinggal ampas ke dalam tong sampah di sampingnya. Setelah itu, ia menyampirkan backpack di punggungnya dan mendekap sketchbook.


Ia berjalan santai menuju gedung Fakultas Kesenian, sambil bersiul dan memperhatikan beberapa mahasiswa dari Fakultas Kedokteran yang lewat dari arah parkiran.


“Nada!"


Nada menolehkan kepalanya saat mendengar seseorang meneriakkan namanya. Seorang cowok berambut gondrong dan pakaian longgar dengan motif pantai itu menghampiri cewek itu dengan nafas terengah-engah.


“Kenapa jalan lu santai banget?" tanya cowok itu.


Alis Nada naik dengan heran. “Emang kenapa, Go? Biasanya gue jalan kayak gini," balasnya. Setiap pagi ia juga biasa berjalan santai seperti ini. Kecuali kalau ia terlambat, tapi mustahil, ia hanya terlambat jika malamnya tidur larut karena harus lembur karena bekerja atau karena besoknya ada tes atau ujian.


“Lo lupa?" tanya balik cowok yang sering dijuluki Hago itu. “Hari ini ada tes sama Profesor Damar."


Mata Nada membulat, ia menepuk jidatnya ketika telah mengingat sesuatu. Pantas saja Manda lebih memilih mengantar ibunya untuk ke butik daripada kuliah pagi, ternyata untuk menghindari tes dari Profesor paling galak itu. ******!


“Gue lupa, Go!" balas Nada panik.


“Ya udah, buru, kita lari bareng-bareng sebelum profesor dateng lebih dulu ke kelas."


Tanpa menjawab, Nada segera berlari bersama Hago menuju lantai empat gedung. Kedua orang itu harus sampai ke kelas sebelum Dosen mereka, karena kalau tidak, Nada dan Hago itu tidak akan diizinkan masuk ke dalam kelas, dan otomatis mereka tidak bisa mengikuti tes. Dan sekali saja tidak mengikuti tes, bisa-bisa Nada harus mengulang mata kuliah dengan dosen menyebalkan itu.


Saat berada di lantai tiga, tiba-tiba saja Nada berhenti berlari. Ia memegang besi pembatas dengan erat. Napasnya sudah amburadul, dan ia tidak bisa melangkah lebih jauh. Hago yang sudah berada di pertengahan anak tangga menoleh ke belakang, ia berdecak ketika melihat Nada yang malah berhenti.


“Nada cepetan!" pekik cowok itu sambil melirik jam tangannya. Sudah telat dua menit!


Nada menggelengkan kepalanya, ia lahir bukan untuk berlari seperti dikejar setan seperti ini. Cewek itu sudah tidak kuat, ia menyilangkan tangannya membentuk huruf X. “Gue nyerah, Go."


“Ck! Cepetan ****! Lu cewek lemah, rapuh, payah! Masa' gitu aja nyerah. Ah, cemen!" ledek Hago supaya Nada gusar dan mau mengejarnya.


Terbukti, cewek itu mendongak dan menatap Hago dengan marah. Satu jurusan tahu kalau dia bukan cewek sembarangan. Dan cowok bernama Hago itu cari mati dengannya.


“Hago!" teriak Nada gusar. “Lu ngatain gue apa?"


“Payah, cemen!" balas Hago yang kemudian menelan ludahnya saat Nada mengambil ancang-ancang.


“Gue sentil biji lo, tau rasa ya!"


Hago menggelengkan kepalanya panik sambil berbalik dan berlari dengan kecepatan super sementara Nada mengejar di belakangnya.


“Hago! Sini lo!" Nada menaiki anak tangga dengan penuh nafsu. Ia berbelok di ujung tangga menuju kelasnya, tapi sesuatu terjadi begitu cepat. Cewek itu bahkan tidak bisa menghentikkan kakinya. Matanya membulat saat seseorang tiba-tiba berada di depannya. Yang Nada ingat, kakinya tersandung sesuatu sehingga ia jatuh ke depan, dan seseorang itu juga mengalami hal yang sama, tetapi parahnya, ia jatuh ke arah tangga dan tulang keringnya terantuk sudut tangga.


Nada meringis, tapi cewek itu buru-buru menoleh untuk mengetahui siapa orang yang tersandung kakinya. Matanya tiba-tiba saja membulat, dan darah surut dari wajahnya saat mengetahui siapa orang itu.


“Pro-Profesor Damar?"


***


Profesor Damar duduk di kursinya. Ia meringis kesakitan saat merasakan nyeri di tulang keringnya, apalagi pergelangan kakinya yang diperban kuat. Jika bukan karena mahasiswi bar-bar di hadapannya ini, ia sudah pasti tidak akan pernah mengalami hal ini, cedera parah!


“Kamu benar-benar pembawa sial, Nada!"


Nada meringis, ia menunduk dan sesekali melirik Profesor Damar. Pergelangan kaki kanan pria paruh baya itu diperban, dan dokter di ruang perawatan bilang, pergelangan kaki Profesor Damar mengalami cedera dan harus diperban selama satu minggu, untuk saja tidak patah tulang, karena kalau sampai itu terjadi, Nada pasti akan mati.


“Maafkan saya, Prof," cicit cewek itu khawatir. Ia mengkhawatirkan nilai mata kuliahnya. Bisa-bisa cewek itu mendapat nilai D, tidak-tidak, pasti lebih buruk daripada itu.


Nada tersentak. Ia menggeleng kuat. Tidak, tidak! Raungnya dalam hati. Ia harus lulus kuliah tahun ini, dan cewek itu tidak bisa membiarkan satu mata kuliah menghambat tujuannya.


“Maafkan saya, Prof. Tapi tolong jangan buat saya mengulang mata kuliah, saya telah berusaha selama ini."


Profesor Damar mendongak, ia memperhatikan wajah pucat gadis itu. “Tapi gara-gara kamu!"


Nada bersimpuh, ia menyatukan kedua tangannya. “Sayaa mohoon banget, Prof," pinta Nada. “Saya harus luluh kuliah tahun ini."


“Tapi karena kamu ...!"


“Profesor!" potong Nada, ia memasang puppy eye-nya dan berharap Profesor Damar sedikit luruh. “Saya akan melakukan apapun, asalkan itu bukan sesuatu yang menyimpang. Saya akan menurutinya, saya janji!"


Alis Profesor Damar naik. Ia mengetukkan jari telunjuknya di atas meja sambil menatap gadis itu sangsi. Sedangkan, Nada berharap-harap cemas.


“Baiklah," ucap Profesor Damar. Pria paruh baya itu tersenyum simpul kemudian merangkum jari-jemarinya di bawah dagu. “Saya akan meluluskan kamu di mata pelajaran saya, tapi dengan satu syarat."


Nada mengangguk yakin. Apapun syaratnya, jika itu masih di dalam akal sehat. Maka ia akan menurutinya. “Apapun, Prof. Apapun, saya akan melakukannya."


***


Nada menunggu dengan sabar sambil terus mengangkat papan nama yang mencetak jelas nama seseorang. Cewek itu mengeluh saat merasakan sakit di kedua tangannya, ia juga mengernyit saat merasakan tenggorokannya yang kering. Menyiksa!


Namun, seseorang yang ditunggunya juga belum muncul. Cewek itu mendesah keras. Ia menatap pintu keluar itu dengan gusar. Sudah hampir satu jam ia berdiri di sana seperti orang bodoh, menunggu seseorang yang bahkan ia tidak tahu bagaimana rupanya, hanya namanya saja yang Nada tahu dan ciri-ciri orang itu.


“Permisi," ucapnya pelan pada seorang pria yang baru saja keluar dari terminal kedatangan dengan backpack di punggungnya. “Pak Air?"


Tanpa menatap Nada, pria itu menggelengkan kepalanya dan melengos begitu saja. Sama seperti puluhan pria lainnya yang Nada hampiri, jawaban mereka sama, mereka bukan Airlangga, pria yang dicari oleh Nada.


Cewek itu mendesah kecewa. Ia kembali berdiri di samping pagar pembatas sambil mengangkat tinggi papan nama dengan wajah cemberut. Kalau bukan karena profesor yang menyuruhnya untuk menjemput pria bernama Airlangga itu, Nada ogah sekali, ia memilih pergi ke Starbuck dan menggosip bersama teman-temannya yang lain, bukan menunggu tidak jelas di sini seperti orang bodoh.


“Tuh orang kalau ketemu gue ajak perang! Belum liat wajahnya aja udah kesel duluan," dumel cewek itu. “Pengen gue ajak ke pinggiran kali Ciliwung, cemplungin ke sana biar kebawa ke laut, biar dimangsa hiu, paus sekalian! Kayak—"


“Kalo ngomong sendirian kayak gitu bisa dianggap orang gila lho, dek."


Nada menoleh sengit, di sampingnya ada pria yang mengenakan pakaian batik, anehnya pria itu memakai topi dan kacamata hitam. Pria itu tidak menatap Nada, sebaliknya, tatapan pria itu tertuju pada pintu kedatangan sambil menjilat es krim cokelat di tangannya, seakan kalimat yang tadi ia lontarkan bukan untuk Nada, melainkan orang lain, tapi Nada tidak melihat orang lain di dekat mereka berdua. Jadi, jelas kalimat itu untuknya.


“Om kalo enggak tahu apa-apa mending diam aja," balasnya ketus.


Kali ini pria itu menolehkan kepalanya. Ia melepas kacamatanya hingga Nada bisa melihat tatapan tersinggung di mata sipit pria itu. “Saya gini-gini masih muda ya, bukan om-om," tukas pria itu tajam.


Nada mendesis sinis. Cewek itu kembali menghampiri seorang pria berwajah oriental. Ia kembali bertanya dengan sopan, tapi jawabannya tetap sama, dia bukan Airlangga yang dicari Nada.


“Kamu nanya ke orang yang salah, dek. Mereka bukan Airlangga."


Nada menghembuskan nafasnya gusar. Ini kenapa tiba-tiba om itu mencampuri urusannya dan membuat dirinya semakin gusar kepada cowok bernama Airlangga itu.


“Om, diem aja kenapa? Bukan urusan om juga!" sentak cewek itu kesal.


Namun pria itu hanya mendengkus lalu memutar bola matanya dan memilih memperhatikan Nada yang kembali menghampiri seorang pria gendut.


Nada tersenyum manis, ia berharap kalau pria ini adalah Airlangga yang ditunggunya. Jika tidak, ia bersumpah akan pergi dari sana, dan menemui profesornya untuk mengatakan bahwa dia tidak peduli lagi dengan tugas untuk menjemput pria menyebalkan yang tidak ia ketahui wajahnya itu.


Namun, jawaban dari pria ini kurang lebih sama. Dia bukan Airlangga. Nada menahan senyumnya dan membiarkan pria gendut itu pergi, sampai kemudian, bibirnya yang sedari tadi menampakkan senyum kini mencebik kesal. Ia berbalik dan kembali ke tempatnya.


“Sudah saya bilang, 'kan?" kata pria itu yang ternyata belum juga pergi dari tempatnya. “Mereka bukan Airlangga yang kamu cari. Sampai kapanpun, kamu enggak akan bisa menemukan dia."


Nada berkacak pinggang. Dia menatap pria itu tajam. “Om ini siapa sih? Kalau enggak bisa bantu pergi aja sana."


Tiba-tiba saja pria itu tertawa. “Padahal saya udah ngasih kode dari tadi, lho. Ini profesor Damar kenapa minta cewek enggak pekaan kayak kamu buat jemput saya?"


“Eh, om! Jangan asal panggil saja cewek yang—APA?" Cewek itu membuka mulutnya lebar-lebar seperti tidak percaya. Perlahan kupingnya memerah, dan dia menatap pria itu lamat-lamat.


Putih, oriental, tinggi, dan tampan. Astaga! Pria ini memang Airlangga, sesuai dengan apa yang disebutkan profesor kepadanya. Nada mengalihkan tatapannya perlahan sambil meringis pelan. ****! Teriaknya dalam hati.


“Nah sekarang udah ketemu dengan Airlangga, 'kan? Mau ngajak perang? Mau dibawa ke kali Ciliwung? Mau dibuang ke laut?"


....


_____________________


Jangan lupa untuk meninggalkan komentar. Baca juga karyaku yang lain, dan jangan sampai ketinggalan info terkait ceritaku, kalian bisa bergabung di grup penulis ECHI LO/LOXERIOUS. Atau di akun Instagram @echilo_19 dan @Loxerious_


LUV U


Loxerious