
“Hai, Manda. Lama lo enggak ke sini." Pria bernama Beji itu menghampiri mereka setelah menyajikan minuman kepada pria di samping Manda.
Manda tertawa renyah, tawa yang disukai banyak orang. Tawa yang indah. “Biasa lah, orang sibuk. Eh, gue di sini bareng temen." Manda menatap ke arah Nada, dan dengan kikuk Nada mengulurkan tangannya ke arah Beji yang tersenyum ramah, tapi diam-diam matanya meneliti penampilan Nada jeli.
“Gue enggak nyangka kalau Manda punya temen kayak kamu. Kalian berbeda banget," komentar Beji.
Nada hanya tersenyum menanggapinya. Beji bukan orang pertama yang bilang begitu, ada puluhan orang lainnya, atau mungkin ratusan lainnya. Entahlah, karena ia sendiri juga bingung, kenapa Manda mau berteman dengannya yang terlihat cupu ini.
Manda merangkul bahunya. “Kita ini sahabat. Gue sama Nada udah kenal lama, tapi nih anak emang kurang gaul, makanya gue ajak ke sini," ujar Manda pongah.
Beji terkekeh pelan. “Karena lo baru pertama kali ke sini, minuman untuk malam ini gratis."
“Cuma Nada, gue enggak?" tanya Manda, nadanya protes.
Beji tergelak kali ini, ia mencubit pipi Manda dengan gemas dan kelihatannya cewek itu tidak risih. “Oke, kalian berdua minum gratis malam ini. Khusus untuk dua sahabat."
Manda bersorak kesenangan. “Yeay! Gue pesen minuman yang biasa aja deh!"
Mendengar itu, kening Nada berkerut. “Gue enggak minum, Man."
Manda berdecak. “Lo harus coba. Gue akan pesenin sesuatu yang pasti lo suka." Cewek itu memalingkan wajahnya dan memilih untuk menatap Beji yang sudah siap menerima pesanan.
“Gue minta satu botol Smirnoff dan satu gelas martini extra dry, gue enggak pengin dia mabuk." Tunjuk Manda pada Nada.
Beji mengangguk, ia mulai beraksi sebagai bartender. Pria itu mulai meracik sesuatu ke dalam sheaker set. Nada yang diam memperhatikan merasa takjub, bagaimana cepatnya Beji menggerakkan tangannya kemudian menuangkan minuman itu ke dalam martini glass yang pinggirannya telah dilapisi oleh gula dan seiris lemon.
Pria itu lalu mengambil sebotol vodka entah darimana dan dua high ball. Setelah selesai, ia menyajikannya di depan Nada yang menganga. “Anda hebat," katanya tulus pada Beji.
Beji mengulum senyumnya. “Thanks, Nad. Lo kayak sama Manda, pandai muji orang."
“Oh, jelas. Beji memang bartender terbaik di Jakarta. Dia bisa apa aja," sahut Manda.
Beji hanya menggelengkan kepalanya kemudian berkata kalau dia harus melayani pelanggan yang lain dan meminta Nada untuk datang lagi lain kali. Nada hanya mengendikkan bahunya, ia juga belum memutuskan untuk kembali lagi atau tidak, tapi untuk saat ini, ia cukup menyukai tempat ini, seperti tadi, terlepas dari musiknya yang masih terlalu aneh di telinga cewek itu.
Sambil memperhatikan Manda yang menuangkan vodka dari botol ke gelas. Nada menarik gelas minumannya dan mengusap coktail yang telah dibuatkan oleh Beji. Dari aromanya, terlihat minuman ini tidak terlalu buruk, Nada mengendikkan bahunya, ia belum bisa menilai, karena belum meminumnya.
“Tunggu apalagi?" tanya Manda saat menyadari kalau Nada hanya memandangi minumannya. “Ayo minum."
Nada mengangguk, ia melihat Manda yang mengacungkan gelas kecil berisi vodka, Tidak ada warna dalam minuman milik Manda, bening. Jadi begitu rupa vodka? Batin Nada bertanya.
“Cheers," ucap mereka berdua. Manda mendekatkan pinggiran gelas itu ke mulutnya, ia menghembuskan nafasnya sambil memejamkan mata kemudian menggeleng pelan, Nada bisa melihat cewek itu mendesah pelan pada minumannya. Matanya kembali terbuka dan menatap Nada berbinar karena senang. "Smirnoff memang yang terbaik," katanya lalu meminum alkohol itu dalam sekali teguk. Nada yang melihatnya melotot.
“Lo enggak apa-apa, Manda? Itu alkohol."
Manda menyeka sudut bibirnya sembari menyeringai. Ia meletakkan gelasnya kemudian kembali mengisi gelas itu dengan vodka. “Gue udah biasa," katanya. “Lagipula ini vodka kualitas terbaik, rasanya creamy dan halus. Bukan vodka murahan yang bisa bakar mulut lo."
Nada mengangguk, ia kembali menatap coctailnya dan ragu-ragu menyesap minuman itu sedikit. Rasanya unik, sedikit hangat tapi tidak terlalu keras karena Manda meminta martini itu dengan extra dry, artinya vermouth yang dipakai hanya dioles dipinggiran gelas, jadi minuman itu tak akan membuatnya mabuk.
“Gimana?" tanya Manda penasaran.
Nada menjilat bibir bawahnya sambil mengangguk pelan. “Enggak buruk," komentarnya.
Manda tertawa, ia menggelengkan kepalanya setelah itu kembali meneguk minuman itu tanpa ragu sedangkan Nada kembali memperhatikan sekitarnya. Semakin larut, tempat ini semakin penuh. Banyak sekali wanita-wanita cantik yang berpakaian seksi, mereka semua tampak menari bersama pria-pria yang kelihatan keren.
Nada memandang takjub semua itu, ini pertama kalinya ia datang ke club secara langsung, apalagi sepertinya ini adalah salah satu tempat hiburan malam yang mahal dan berkelas. Nada tersenyum, ia beruntung bisa pergi ke tempat seperti ini, walaupun hanya satu kali seumur hidupnya, dan ini semua karena Manda, sahabatnya yang luar biasa.
“Gue mau turun," ucap Manda tiba-tiba, matanya sedikit sayu tapi binar itu tak pernah lenyap, malahan ia kelihatan semakin bergairah. Nada menebak sahabatnya sedikit mabuk, tapi masih tetap sadar untuk mengontrol dirinya sendiri. “Lo mau ikut?"
Nada menggeleng. Ia tidak ingin beranjak dari kursinya, di sini sudah nyaman. Ia tidak ingin sepatunya terinjak heells yang dipakai wanita-wanita itu.
“Nanti aja deh," sahutnya seraya kembali menyesap martini itu perlahan dan menikmati rasanya.
“Oke, gue turun dulu, hati-hati ya. Banyak buaya darat di sini," kata Manda kemudian yang tergelak, dia melambaikan tangannya ke arah Nada yang menggelengkan kepalanya.
Mata cewek itu memperhatikan sahabatnya yang mulai menari di atas lantai dansa, tak sampai semenit, beberapa pria mulai menari bersama gadis itu.
Manda benar-benar magnet bagi pria-pria yang butuh asupan pada mata mereka itu.
Tiba-tiba saja, cewek itu tersenyum. Ia mengeluarkan sketchbook miliknya dan spidol artline yang sering ia bawa. Cewek itu sedikit menyingkirkan gelas martininya kemudian mulai membuat sebuah sketsa abstrak, sambil menggambar, cewek itu sesekali menyesap minumannya.
Senyumnya semakin mengembang ketika gambar itu sudah jadi, hanya hitam putih, tapi dengan jelas menggambarkan bagaimana tempat itu. Gelap, berisik, tetapi hangat? Nada melenguh, ia menatap gelasnya yang sudah kosong. Cewek itu lalu menatap gelas milik Manda yang masih tersisa vodka. Penasaran, ia mengambil gelas itu, mengendusnya lalu mengernyit. Mungkin mencobanya sedikit tidak akan membuatnya mabuk, buktinya walaupun ia telah meminum segelas martini, kesadarannya masih utuh.
Namun, ini vodka murni, bukan martini yang telah dicampur dengan banyak bahan. Kadar alkoholnya pasti lebih tinggi. Nada menoleh pada Beji yang sibuk berbincang dengan salah seorang pelanggan pria, tetapi kemudian menatap gelas kecil itu kembali.
Hanya sedikit, batinnya. Ia lalu melakukan apa yang dilakukan Manda. Menghirupnya aromanya dan seketika memejamkan mata. Manda benar, aromanya begitu memikat hingga ia menyesap minuman itu dengan pelan lalu mencecap rasanya. Halus, dan nikmat.
Nada tidak pernah merasakan minuman senikmat ini, itu mengingatkannya pada film Percy Jackson, di mana Percy sering berkata kalau nektar yaitu minuman dewa adalah hal yang paling nikmat di dunia ini. Dan apa mungkin nektar adalah vodka ini?
“Saya tidak tahu kalau perempuan sepolos kamu tenyata suka bermain di klub seperti ini?"
Nada menyimpan kembali gelas itu lalu perlahan menoleh. Keningnya mengernyit ketika melihat wajah seorang pria di balik remangnya tempat itu. Namun ketika lampu disko menyorot ke arah mereka. Matanya membulat lebar.
“Oom Air?"
Bola mata pria itu berputar dan Airlangga duduk di tempat Manda tadi. Senyum sinis terbit di sudut bibirnya. “Harus berapa kali saya bilang? Airlangga ini tidak setua itu."
Nada bergeming, hanya matanya yang diam-diam menelusuri apa yang dipakai pria itu. Kemeja berwarna merah muda yang dipadukan dengan jas navy yang bagian lengannya ia gulung sampai siku serta jeans.
Melihatnya memakai pakaian semi-formal itu entah kenapa membuat Airlangga terlihat lebih tampan. Dan Nada akui, pria itu memang tidak pantas dipanggil Oom kecuali oleh anak berusia 5 tahun.
“Baik, jadi harus panggil apa? Bapak, Mas, Abang, atau?"
“Cukup Airlangga. Atau Air, saya juga enggak keberatan dipanggil Angga. Semua orang panggil saya begitu."
“Air saja." Dan sekonyong-konyong Nada terkekeh pelan. Nama pria itu terdengar unik di lidahnya. Air, ya, Air, ia kembali tertawa.
“Apa kamu mabuk?" tanya Airlangga.
Airlangga menunjuk gelas kosong yang tadi berisi vodka itu. “Dan untuk vodka itu?"
“Oh." Nada menoleh pada Manda yang masih asyik menari. “Itu punya teman saya. Saya cuma coba-coba."
Sebelah alis Airlangga naik. “Cuma coba-coba?" tanyanya, nadanya sedikit ragu tapi Nada mendengarnya seperti sedang mengejek cewek itu, seakan berkata kalau datang ke club malam bergengsi seperti ini hanya untuk minum segelas martini yang bahkan kadar alkoholnya sedikit, dan ia takut untuk mencoba sesuatu yang lebih keras.
“Memangnya kenapa?" tanya cewek itu sembari menaikkan dagunya, sedikit menantang.
Airlangga menggelengkan kepalanya dengan senyum tipis. “Tidak apa-apa," katanya, memalingkan wajah kemudian mengangkat tangan.
Beji yang melihatnya langsung menghampiri mereka. “Anda memerlukan sesuatu, Sir?"
“Saya ingin sazeraz."
Raut wajah Beji bersinar. “Butuh sedikit gigitan untuk malam ini, Tuan?"
Airlangga sedikit tergelak. “Ah, itu minuman kesukaan saya saat di New Orleans dan ingin merasakannya kembali di sini, apakah rasanya akan sama?"
Nada mengangguk dalam hatinya, ia mengerti sekarang. Airlangga ini orangnya memang suka sekali menantang orang-orang di sekitarnya.
“Tentu saja, saya pastikan sama. Silakan tunggu." Beji berlalu.
Airlangga kembali memusatkan perhatiannya pada Nada. Dan cewek itu tidak menyukainya. Ia bergerak gelisah di tempatnya, apalagi saat Airlangga memerhatikan apa yang dia pakai.
“Apa kamu tidak ingin memesan sesuatu? Segelas martini lagi?" tanya Airlangga kemudian.
Nada menoleh, ia mencondongkan sedikit wajahnya. “Apa?"
“Segelas martini lagi?" ulang Airlangga.
Nada mengibaskan tangannya cepat. Ia tidak ingin terpengaruh alkohol di depan pria ini. Ia ingin sadar sepenuhnya sampai rumah nanti. Ah, ingat rumah membuatnya rindu dengan ranjang tuanya itu.
“Sebentar lagi saya pulang," ujar cewek itu.
“Perlu saya antar? Kebetulan bawa mobil."
Lagi-lagi Nada menggeleng. “Enggak usah, Air. Saya datang sama teman."
“Gue enggak tahu kalau malam ini buayanya lebih banyak—OMG!" Manda tiba-tiba sudah berdiri di samping Nada. Cewek itu bergeming di tempatnya dengan mulut yang menganga lebar.
Nada yang melihatnya meringis, ia menutup mulut sahabatnya tersebut. “Manda," katanya. “Ini—"
“Kamu Airlangga Adiyasa, 'kan? Pemilih Air Corp. itu?" tanya Manda bersemangat. Ia bahkan mengulurkan tangannya dan Airlangga menerimanya tanpa sedikitpun riskan dengan antusias Manda.
“Ya, dan anda pasti teman Nada."
Manda menoleh ke arah Nada, senyumnya sangat lebar dan Nada mulai merasakan sesuatu yang tidak beres. Manda merangkul Nada erat. “Tentu, kami sahabat dari SMA."
Mendengar itu, Nada hampir berharap Airlangga kembali mengajukan pertanyaan kenapa orang seperti Manda dan Nada bisa berteman, tetapi Airlangga hanya mengangguk sambil mengulum senyumnya.
“Manda, gue mau pulang."
“Kenapa cepet-cepet?" Kening cewek itu mengerut, Manda sepertinya tidak ingin pergi terlalu cepat. Apalagi saat melihat pria tampan seperti Air, yang sepertinya juga seorang pengusaha kaya.
“Lo udah janji tadi," tekan Nada. Ia ingin segera enyah dari sana, bukan berarti obrolan singkat dengan Airlangga ini mengubah pemikirannya tentang pria itu, Airlangga masih berstatus sebagai pria menyebalkan yang ia temui.
“Tapi, enggak enak sama Pak Air. Masa—"
Nada beranjak dari duduknya. “Kalau begitu, gue pulang lebih dulu."
Manda gelagapan. “Eh, tapi—"
“Biar saya yang antar Nada kalau begitu."
Kedua cewek itu sama-sama menoleh. Melongo seperti orang bodoh. Hingga Nada yang pertama kali tersadar segera menutup mulutnya. “Enggak," katanya cepat.
“Saya bisa pulang sendiri, lagipula rumah saya dekat sini."
“Ya karena dekat itu—"
Nada melirik ke arah Manda, dan diam-diam meminta bantuan. Manda yang menangkap sinyal itu dengan senang hati membantunya. “Pak Angga tidak tahu, ya?" tanyanya dan bersorak dalam hati ketika perhatian Airlangga kembali padanya.
“Nada menolak karena dijemput sama pacarnya."
Kening Airlangga mengerut, sementara Nada diam-diam menepuk keningnya. “Lho, di bandara bilang, Nada itu tidak punya pacar."
“Baru jadian tadi sore," sahut Nada langsung.
“Oh, ya?"
“Iya!" sahut keduanya.
Dan Airlangga semakin tidak percaya, tapi pria itu hanya diam. “Ya sudah kalau begitu, toh saya enggak bisa memaksa bukan?"
Nada meringis, ia menepuk bahu Manda beberapa kali, memberikan senyum perpisahan kepada Airlangga dan berjalan mundur kemudian berbalik setelah itu berjalan cepat menuju pintu keluar, diikuti tatapan Airlangga yang tak pernah lepas hingga punggung cewek itu tidak terlihat kembali.
***
________________________
Jangan lupa untuk meninggalkan komentar di bawah, ya! Baca ceritaku yang lain juga dan jangan sampai ketinggalan info-info terkait Let Me Introduce Myself maupun cerita lainnya dengan bergabung di grup ECHI. Atau kunjungi akun Instagram @Echilo_19 atau @Loxerious_
Luv U
Loxerious