Let Me Introduce Myself

Let Me Introduce Myself
BAB 3 | Spidometer Turunin, Musik Kecilin




Nada baru saja menutup pintu dapur cafe, tempatnya bekerja. Cewek itu juga sudah siap untuk pulang. Namun, nada dering ponselnya berteriak nyaring tiba-tiba, menghentikan niat cewek itu sementara.


“Halo, prof."


“Nada," ucap Profesor Damar di seberang sana.


“Kamu besok sibuk? Ada jadwal kuliah pagi?"


Nada terdiam sebentar, ia mencoba mengingat jadwalnya besok. Jam kuliahnya besok hanya sore hari, jadi dari pagi sampai siang dia free, tetapi waktu itu ia gunakan untuk bekerja paruh waktu.


“Enggak ada prof. Tapi besok saya harus kerja pagi," katanya.


“Nad, ayo!" Salah satu teman Nada muncul dari balik pintu menuju tempat kasir. Menyuruh Nada untuk cepat keluar agar mereka bisa cepat pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


Nada mengangguk, dia berjalan menyusul temannya sebelum kemudian menjawab, “Saya besok kerja, pak. Kebagian shift pagi."


“Enggak bisa izin dulu?"


Nada kembali terdiam. Dia menggaruk tengkuknya sambil berdecak. “Kurang tahu sih, Prof, memangnya kenapa ya?"


“Saya minta kamu temani Airlangga besok."


Loh? Kening cewek itu berkerut. “Temani pak Air ke mana Prof?" tanyanya sambil menyelinap keluar dari pintu utama. Sambil menelpon ia juga menunggu teman kerjanya itu mengunci dan mengembok pintu utama.


“Ya temani dia pokoknya. Bisa?"


Nada menggigit bibirnya dengan bingung. Ia tidak mau lagi berurusan dengan pria bernama Airlangga itu, sudah cukup untuk kemarin Airlangga membuatnya menunggu lama, tidak perlu ditambah menemani pria itu, memangnya dia pria kesepian yang perlu di temani Nada, kalau ditemani di ranjang sih boleh-boleh saja, berbagi kehangatan mungkin—Astaga, Nada!


Cewek itu menepuk keningnya dengan keras sampai temannya yang selesai mengunci pintu menoleh heran. Nada meringis, ia menunjuk jidatnya dan berbicara tanpa suara, "Tadi ada nyamuk di sini."


“Gue mau pergi dulu, udah pesen greb, lu gimana?" tanya Fya yang merupakan rekan kerja Nada sejak enam bulan lalu itu.


Sebelum menjawab pertanyaan temannya, Nada kembali berbisa dengan Profesor Damar yang sepertinya masih setia menunggu jawaban dari cewek itu.


“Sebentar ya, Prof. Ini ada sedikit urusan dengan teman saya."


“Kalau begitu, saya telpon besok pagi. Langsung kasih jawaban ya, Nad. Saya butuh kamu lho, sebab kalau bukan karena kaki saya." Nada tahu kalau Profesor Damar hanya ingin mengingatkannya dengan kejadian itu, dan dia tidak perlu diingatkan.


“Baik, Prof."


Sambungan pun terputus ketika Nada menarik nafas lelah. Cewek itu memijat keningnya yang terasa berdenyut.


“Nad, lo enggak apa-apa?" tanya Fya khawatir, keningnya berkerut karena cemas.


Nada menggeleng sambil tersenyum tipis. “Enggak apa-apa kok, lo pergi aja duluan. Gue lagi nunggu seseorang."


“Eh, ini udah malem lho, enggak apa-apa tinggal sendirian?" tanya Fya, cewek itu melirik ke arah tukang ojek online yang berhenti di depan mereka.


“Enggak apa-apa suer!" Nada memasang jari telunjuk dan tengahnya hingga membentuk huruf V, serta senyuman lebar yang sering ia pasang untuk menyakinkan orang-orang.


Bibir Fya mengerucut, tapi akhirnya cewek itu mengangguk. Dan menoleh pada tukang ojek saat menerima helm yang disodorkan.


“Ya udah, gue pergi dulu. Hati-hati." Fya menaiki motor dan melambaikan tangannya sambil bergerak menjauh.


Nada melirik jam tangannya, dan jarum pendek itu hampir menyentuh angka setengah sepuluh. Sebenarnya, ia sedang menunggu Manda, cewek itu bilang, ia akan menjemput Nada sepulang kerja.


Tumben, pikir Nada. Karena biasanya Manda sangat malas untuk sekadar menjemput seseorang, termasuk mamanya sendiri yang kadang menyalurkan kekesalannya dengan bercerita pada Nada.


Titt!


Nyala dari lampu depan mobil menyilaukan indera penglihatan Nada. Cewek itu menyipitkan wajahnya saat memperhatikan sebuah mobil berwarna merah berhenti di depannya. Kaca mobil pun turun dan Nada membungkukkan tubuhnya. Alis cewek itu tertaut saat melihat Manda mengenakan pakaian seksi di balik kemudi.


“Ayo cepetan masuk," titah sahabatnya itu.


Nada mengangguk dan masuk ke mobil. Cewek itu mengusap lengannya tiba-tiba saat merasakan dingin dari AC. Ia lalu melirik Manda yang hanya memakai gaun di atas lutut dengan potongan dada yang rendah. Di bawah lampu mobil, glitter di gaun itu terlihat berpendar.


“Lo ngerasa dingin enggak sih? AC-nya terlalu kenceng," komentar Nada seraya merapatkan kemeja longgar yang ia pakai di balik kaos hitamnya.


“Malahan gue ngerasa gerah," balas Manda cuek. Cewek itu kembali men-starter mobilnya, ia juga menghidupkan radio mobil yang langsung meneriakkan musik-musik yang membuat telinga siapapun yang mendengarnya sakit, ditambah lagi, gaya mengemudi Manda yang terlihat ugal-ugalan membuat Nada mengernyit ngeri, dia meremas seat belt yang membelit tubuhnya dan berharap pada Tuhan untuk tidak mengambil nyawanya sekarang karena ulah sahabatnya ini.


“Pelanin, Da," tegur Nada. Ia sudah merasa terlalu ngeri.


“Apanya?" balas Manda sambil menolehkan kepalanya dari jalanan, tapi dengan cepat Nada mendorong kepala wajah sahabatnya itu supaya memperhatikan jalanan.


“Dua-duanya, spidometernya turunin, musik lo juga kecilin volumenya."


“Gue enggak mau mati muda, Manda!" teriak Nada. Cewek itu merasa jantungnya sudah lepas dari tempatnya ketika melihat Manda dengan gesit memutar setir mobil, serta menyalip beberapa kendaraan.


Manda tertawa, “Selow aja, Nad! Ini sih bukan apa-apa, nikmati adrenalinnya! Yuuuhhhuuu!" Manda malah berteriak kegirangan di atas penderitaan Nada. Cewek itu bahkan sudah pucat wajahnya, benar-benar mirip mayat hidup! Apalagi ketika nyawanya sudah diujung jari.


“Manda! Kalau kita berdua mati, gue seret lo ke neraka jahanam! Turunin enggak!" teriak Nada hampir menangis.


Manda tetap Manda, ia sangat menyukai ekspresi ketakutan di wajah sahabatnya itu. Cewek itu menyeringai, ia sengaja menurunkan kecepatannya tiba-tiba hinngga tubuh Nada sedikit terhempas ke depan.


“Manda Andarawijaya!" teriak Nada lagi, kali ini memanggil nama lengkap sahabat kurang ajarnya itu.


“Katanya turunin, udah gue turunin masih aja protes!"


“Tapi enggak gini juga gobl*k!" balas Nada kesal. Ia kembali membuka matanya dan melirik jendela mobil ketika spidometer perlahan menurun, dan Manda memasukkan mobilnya ke sebuah basement.


Kening Nada mengenyit, ini bukan parkiran depan kost-annya, jelas, karena kos-kosan cewek itu tidak memiliki tempat parkir seperti ini, dengan mobil-mobil mewah yang terpakir rapi.


“Ini di mana?" tanya Nada sembari melepaskan seat belt-nya dengan tangan bergetar, kakinya juga terasa lemas ketika cewek itu mendorong pintu mobil dan keluar dari sana diikuti Manda.


“Di tempat yang seharusnya lo kunjungi satu kali seminggu," balas Manda sambil memasang square glasses hitam miliknya dan menggandeng clutch berwarna emas yang terlihat menonjol dengan simbol huruf G yang lumayan besar di depannya. Penampilan Manda tersebut begitu kontras dengan Nada yang hanya mengenakan celana jeans, kaos hitam dengan kemeja lengan sepertiga, dan sneakers putih serta mini backpack.


“Please deh, Da. Gue udah capek, pengin bobok. Bawa gue balik ke kost-an sekarang!" rengek Nada setengah kesal. Ia benar-benar merindukan ranjang tuanya yang selalu berderit nyaring ketika cewek itu merubah posisi tidurnya.


“No, no! Pokoknya lo harus masuk ke dalam dulu, kalo emang enggak betah, gue ajak pulang," balas Nada sambil menggoyangkan telunjuknya di depan wajah Nada yang semakin kecut.


“Janji lo, ya! Awas kalau boong!" ancam Nada akhirnya, cewek itu mendesah keras. Percuma, ia tidak pernah memenangkan debat dengan Manda. Cewek itu terlalu mendominasi persahabatan mereka, hingga kadang Nada hanya mampu menurut.


Di salah satu sudut basement, terdapat sebuah lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai tempat tujuan Manda. Di dalam lift, cewek itu dengan santai membuka clutch-nya dan memoleskan kembali make up yang dirasanya sedikit luntur. Nada yang memperhatikan sambil melipat tangannya di dada hanya bisa menggelengkan kepalanya.


“Lu mau pake?" tanya Manda sambil menyodorkan lipstik merah terang yang diam-diam membuat Nada meringis ngeri. Cewek itu tidak mungkin memakai benda tersebut.


“Enggak usah, enggak minat!" kilahnya.


Manda hanya mengendikkan bahunya, ia kembali memasukkan benda itu ke clutch dan memandangi penampilan dirinya yang terpantul di dinding lift. “Gue udah cantik kan, Nad?"


Nada mengangguk, ia tersenyum tipis. Sahabatnya memang selalu cantik, bahkan dalam keadaan ileran pun. Nada menundukkan kepalanya, saat membayangkan sahabatnya dengan muka bantal sehabis tidur, sangat lucu! Dan tanpa sadar ia terkekeh pelan.


“Kenapa ketawa? Dandanan gue masih kurang? Gue enggak keliatan—"


“Cantik kok," potong Nada cepat, bisa gawat kalau tiba-tiba Manda berubah panik. Cewek itu akan susah untuk ditenangkan, dan semuanya akan berakhir kacau. “Lo udah perfect. Lo cantik banget, setiap harinya, Man."


Manda mengerutkan keningnya, ragu. Namun, cewek itu langsung tersenyum lebar dan merangkul leher Nada saat lift berdenting pelan. Tanda kalau mereka sudah sampai di lantai yang dituju.


Di balik lift tersebut, terdapat sebuah hall yang tidak terlalu luas, ada banyak orang yang berlalu lalang dengan pakaian lumayan seksi. Di salah satu sudut hall, Nada bisa menemukan sebuah pintu ganda yang dijaga oleh seorang bodyguard bertampang sangar, cewek itu meringis ngeri ketika melihatnya dan keinginannya untuk pergi dari sana secepat mungkin menjadi semakin besar. Namun, seperti tahu niat Nada, Manda menarik tangan Nada hingga cewek itu itu tidak menjalankan niatnya.


Manda bahkan tidak melepaskan tangan Nada saat cewek itu membuka clutch-nya, merogoh isinya, kemudian mengulurkan sesuatu seperti kartu kepada bodyguard yang berjaga.


Bodyguard bertubuh besar itu menatap Manda akrab. Ia bahkan tersenyum, tapi saat mengetahui Nada di belakang Manda, senyum di bibir pria itu sedikit luntur, keningnya berkerut saat memperhatikan pakaian yang digunakan Nada. Seolah cewek itu sudah datang ke tempat yang salah.


“Nona Manda, silakan masuk," kata bodyguard itu akhirnya sambil mengembalikan kartu milik Manda. Suaranya yang dalam dan serak berhasil membuat Nada mengkeret di belakang Manda.


“Terimakasih, Uno," balas Manda, mengedipkan mata pada pria tubuh besar bernama Uno itu.


Pintu yang terbuat dari baja itu perlahan terbuka. Dan Nada terperangah di depannya. Ini di luar bayangannya sendiri. Ruangan di depannya sedikit remang, dan agak berisik. Namun, ketika Manda menariknya untuk masuk, suara musiknya semakin keras dan terdengar menyakitkan, lebih parah dari musik yang disetel Manda di mobil tadi.


Di sini juga banyak orang, banyak sekali hingga bahu Nada sering bertubrukan. Cahaya dari lampu disco berpendar mengisi ruangan yang gelap. Nada tidak suka ini, ia butuh banyak cahaya, karena matanya tidak terbiasa berhadapan dengan kegelapan.


Manda menariknya menuju bar yang ada di sisi ruangan. Di sana hanya ada beberapa orang yang sedang minum, sisanya sibuk menari di dance floor atau sekedar berkeliling mencari kenalan atau teman one night stand.


“Hai, Beji." Manda melambaikan tangannya pada seorang pria yang sibuk mengocok minuman dengan sesuatu yang mirip dengan termos kecil. Pria yang Manda panggil dengan nama Beji Itu menoleh dan tersenyum ke arahnya, ia melambaikan tangannya juga dan Nada merasa tertarik pada tatto yang menghiasi kedua lengan pria itu yang memang hanya memakai kaos oblong berwarna putih dengan jeans. Kepalanya yang botak diikat kain berwarna hitam bermotif.


“Duduk di samping gue," titah Manda pada Nada yang hanya bisa menurut.


Cewek itu mengedarkan pandangannya dan merasa takjub, ia sudah sering mendengar cerita dari teman-temannya tentang tempat hiburan malam ini. Namun, baru sekarang ia bisa merasakannya langsung. Terbebas dari bagaimana bising dan gelapnya tempat ini, Nada bisa merasakan bagaimana lepasnya orang-orang di sini. Mereka semua bergembira, seperti manusia yang tanpa beban.


....


_____________________


Jangan lupa untuk meninggalkan komentar. Baca juga karyaku yang lain, dan jangan sampai ketinggalan info terkait ceritaku, kalian bisa bergabung di grup penulis ECHI LO/LOXERIOUS. Atau di akun Instagram @echilo_19 dan @Loxerious_


LUV U


Loxerious