
Ruang Makan Istana Ashwind
Cecily duduk di samping Alexander berdasarkan pengaturan untuk makan malam saat itu. Sedangkan Elizabeth duduk berhadapan di seberang Alexander. Merupakan anggapan yang salah besar jika Cecily berpikir Alexander akan sering menolehnya, faktanya sang Raja tak henti-hentinya menatap Elizabeth yang berada di hadapannya. Cecily pun sengaja mengajak sang Raja berbincang untuk mendapatkan perhatiannya.
"Tuan, bagaimana tanggapan tuan terhadap Kartenhal yang bersikeras mengklaim bahwa selatan adalah daerahnya?" tanya Cecily.
"Ya itu memalukan, seharusnya mereka tau batasannya." jawab Alexander tanpa menoleh ke arah Cecily.
"Apa yang Tuan akan lakukan terhadap itu?"
"Aku berusaha melawannya bersama dewan istana." ucap Alexander dengan tatapan yang masih tertuju ke Elizabeth.
Cecily sadar bahwa Alexander terfokus pada adiknya namun ia masih ingin tetap berpikir positif. Lagipula ia tahu bahwa Elizabeth masih 17 tahun, dan masih jauh untuk usia pernikahan dibandingkan dirinya. Cecily juga berpikir bahwa Alexander tak mungkin tidak akan menikah dengannya kalau ia tidak mencari pasangan di saat ini.
Setelah makan malam hampir habis, dan Alexander sudah merasa hampir kenyang, ia pun berdiri sambil mengetuk gelas dengan sendoknya secara pelan untuk mendapatkan perhatian dari tamu-tamunya.
"Terima kasih atas perhatiannya."
Cecily mengira bahwa Alexander mungkin akan mengumumkan berita yang penting antara dirinya dan sang Raja. Philippa juga berpikir demikian hingga senyum lebar menghiasi wajahnya. Sedangkan Elizabeth hanya terdiam dan tidak menunjukkan ekspresi apapun.
"Aku sangat berterima kasih kepada keluarga Greenfield yang telah hadir di sini secara lengkap, dan aku sangat senang bisa memiliki relasi yang baik dengan kalian semua. Aku ingin mengumumkan suatu pengumuman penting tetapi ini tidak akan berhasil tanpa adanya restu dari Anda, Duke of Afifth."
Cecily tersenyum bahagia, ia tau apa maksud Alexander.
"Maukah kau memberikanku restu untuk melamar putri Anda, Afifth?" tanya Alexander ke Arthur.
Philippa kegirangan, ia menggenggam erat tangan Arthur yang berada di sebelahnya. Arthur menganggukan kepalanya "Saya memberikanmu restu yang terbaik, Yang Mulia." jawab Arthur.
Cecily tak berhenti tersenyum dan semakin bahagia mendengar jawaban ayahnya.
"Terima kasih atas restumu, Duke of Afifth. Aku, Raja Alexander IV dari Kerajaan Ashwind hendak melamar putri Arthur, Duke of Afifth. Namun, aku harus menunggu 2 tahun untuk melangsungkan pernikahan tersebut."
Ucapan Alexander membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu terkejut kecuali Ibu Ratu. Sepanjang makan malam, Ibu Ratu memang tidak cerewet seperti biasanya, ia seperti was-was terhadap putranya itu dan akhirnya rasa was-wasnya itu terjawab ketika Alexander mengumumkan kalimat terakhir. Ia tahu Alexander akan melamar Elizabeth malam ini.
"Kenapa mesti menunggu 2 tahun, Yang Mulia? Lady Cecily sudah siap untuk pernikahan." ucap Philippa.
Cecily pun mengangguk setuju, "Benar, Yang Mulia, 2 tahun itu waktu yang cukup lama untuk melangsungkan pernikahan."
"Maaf atas kekeliruanmu, My Lady serta mohon maaf atas pengumumanku yang kurang spesifik, kukira kalian tahu jika aku perlu waktu yang lebih untuk melangsungkan pernikahan karena aku hendak melamar Lady Elizabeth Greenfield sebagai calon Ratu Kerajaan Ashwind."
Jantung Elizabeth serasa copot mendengar ucapan Alexander. Sedangkan Cecily melongo tak percaya, ia menatap Elizabeth dengan tatapan terkejut, menyangkal, dan amarah mulai menguasainya. Sedangkan Philippa yang sebelumnya tersenyum gembira kini ia menutup mulutnya dengan rasa keterkejutan parah.
"Maka dari itu, Nyonya Greenfield, aku memberi waktu 2 tahun agar Elizabeth siap. Aku akan menunggunya dan aku janji aku takkan mengganggunya." jawab Alexander.
Cecily yang sudah tidak kuat mendengar itu semua kini ia bangkit dari kursinya dan keluar dari ruangan itu.
"Yang Mulia, bisakah aku berbicara dengan ayahku secara pribadi?" tanya Elizabeth kepada Alexander.
"Silahkan"
Elizabeth pun keluar ruangan bersama ayahnya. Badannya gemetar, ia seperti panik dan masih dalam kondisi terkejut.
"Lizzie, tenanglah, semua akan baik-baik saja," ucap Arthur menenangkan Elizabeth.
"Bagaimana bisa, Dad? itulah kenapa aku tidak ingin ikut ke tempat ini." jawab Elizabeth.
"Dad juga sama terkejutnya denganmu, tapi apa boleh buat? dia seorang raja, nak. Tapi tenanglah, semua akan baik-baik saja, kita segera harus masuk kembali. Kau harus bisa menghadapinya, dad akan selalu mendukungmu."
"Tapi Cecily..."
"Dia akan baik-baik saja, nak."
Arthur menenangkan Elizabeth dan tak lama kemudian mereka masuk kembali ke ruang makan. Elizabeth mendekati Alexander dan memberikan curtsy.
"Terima kasih, Yang Mulia atas lamaranmu dan kesediaan Yang Mulia untuk menungguku 2 tahun."
Alexander tersenyum bahagia dan ia pun mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya.
"Terimalah cincin ini Elizabeth, ini cincin tunangan milik Ibu Ratu dengan mendiang ayahku, Raja William. Sekarang ini milikmu."
Alexander pun memakaikan cincin emas yang menampilkan batu ruby burma 13 karat dengan potongan kotak yang dikelilingi 12 berlian solitaire itu di jari manis tangan kiri Elizabeth. Alexander bisa merasakan tangan indah Elizabeth itu sedikit bergetar.
"Terlihat cantik di tanganmu, Elizabeth."
"Terima kasih, Yang Mulia."
Philippa mendekati Elizabeth dengan ekspresi yang masih terkejut, "Oh Tuhan berkati aku." ucapnya sambil meraih tangan kiri Elizabeth dan melihat cincin itu dengan tatapan tak percaya.
Ibu Ratu yang sejak awal hanya diam dan menyaksikan semua kejadian itu di depan matanya kini menghampiri Philippa.
"Nyonya Afifth, aku yakinkan padamu semuanya akan baik-baik saja, putrimu, Elizabeth akan memiliki masa depan yang cerah."