
Aula Istana Ashwind
Alexander mulai berjalan di antara gadis-gadis yang mengelilinginya. Ia melihat satu per satu wajah gadis-gadis sambil berjalan pelan langkah per langkah. Ia akui para gadis itu cantik-cantik dan memiliki keunikannya masing-masing dilihat dari penampilan mereka. Namun belum ada yang membuatnya tertarik dikarenakan pikirannya saat ini terganggu oleh kondisi kerajaannya. Ia sedikit tidak fokus dan teralihkan pada masalah yang ibunya katakan padanya.
Di sisi lain, Philippa yang melihat Raja perlahan mulai berjalan mendekati ke arahnya langsung menggandeng tangan Cecily yang berdiri di sebelahnya, lalu mereka menghampiri raja diikuti oleh Elizabeth yang mengekor di belakangnya.
"Semoga Tuhan memberkati Yang Mulia" ucap Philippa sambil memberikan curtsy diikuti oleh Cecily dan Elizabeth. "Yang Mulia, perkenalkanlah Lady Cecily Greenfield." lanjutnya sambil menganyunkan salah satu tangannya ke Cecily.
Alexander tersenyum singkat pada Cecily, lalu ia mengalihkan pandangannya terhadap gadis yang berada di belakang Cecily dan Philippa. Pikirannya yang tadi penuh dengan masalah kerajaan kini seketika menghilang karena melihat wajah gadis itu. Ia sangat manis dan menawan, pikir Alexander.
"Boleh perkenalkan dirimu, My Lady?" ucap Alexander sambil menatap Elizabeth dan melewati Cecily yang ada di hadapannya.
Hal itu tentu membuat Cecily, Philippa, bahkan Elizabeth terkejut.
"Oh Yang Mulia! Gadis ini bukan kandidat yang dipilih oleh Ibu Ratu!" ucap Philippa sambil menarik Elizabeth.
"Oh? tidak apa-apa, aku hanya ingin mengenalinya." jawab Alexander. "Siapa nama gadis menawan ini?" tanyanya.
"Aku... aku Elizabeth Greenfield, anak kedua Duke dan Duchess of Afifth, Yang Mulia." jawab Elizabeth dengan kepala tertunduk kepada sang raja.
"Yang Mulia, maaf bukannya aku tidak ingin mengenalkan Elizabeth padamu, namun usianya masih belia dibandingkan Lady Cecily yang siap menjadi calonmu." kata Philippa.
"Berapa usiamu, Lady Elizabeth?" tanya Alexander.
"17, Yang Mulia."
"Baiklah." jawab Alexander sambil tersenyum.
Seketika, Philippa menarik putrinya itu perlahan-lahan ke belakangnya seakan-akan ingin menyembunyikan gadis itu.
"Terima kasih Nyonya Greenfield telah mengenalkan putri-putrimu, aku akui Elizabeth sangat menawan tetapi aku bukan orang seperti itu." ucap Alexander.
"Sama-sama Yang Mulia. Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyinggungmu, hanya saja Elizabeth belum cukup umur untuk semua ini." jawab Philippa.
"Aku mengerti, Nyonya Greenfield."
"Ngomong-ngomong kau bukan orang seperti apa, Yang Mulia?" timpal Cecily.
Alexander menoleh ke gadis itu sambil tersenyum, "Memanfaatkan gadis di bawah umur, My Lady." ucapnya lalu pergi meninggalkan keluarga Greenfield dan melanjutkan berkeliling melihat gadis-gadis yang ada di aula istana itu.
Philippa terlihat gusar terutama pada Elizabeth. Cecily pun sudah kehilangan minatnya pada pesta ini. Cecily berniat mundur namun Philippa mencegahnya karena Ibu Ratu menghampiri mereka.
"Nyonya Greenfield" sapa Ibu Ratu.
"Yang Mulia, Ibu Ratu" jawab Philippa sambil memberikan curtsy diikuti oleh Cecily dan Elizabeth.
"Tampaknya Yang Mulia Raja menaruh minat pada keluargamu, Nyonya Greenfield" ucap Ibu Ratu.
Cecily sepertinya tidak setuju akan hal itu tetapi ia memendamnya. Sedangkan Elizabeth seakan-akan ingin menghilang dan kabur dari aula.
Ibu Ratu pun berbicang-bincang ringan dengan Philippa. Hal itu membuat keluarga gadis lain sempat berprasangka jika Cecily akan dipilih sebagai calon untuk raja, namun melihat sang raja masih berkeliling menghampiri gadis-gadis di aula, mereka masih percaya ada harapan bagi putri-putri mereka. Setelah Ibu Ratu berbincang-bincang dengan Philippa, ia pun menghampiri putranya yang tak kunjung selesai memilih gadis.
"Apa yang kau lakukan, Alexi? Cepat pilihlah gadis-gadis ini dan berkenalan atau berdansa atau apalah, aku tidak mau ini menjadi sia-sia." bisik Ibu Ratu pada Alexander.
Karena kehabisan waktu, Alexander pun menarik salah satu tangan gadis yang berada di belakangnya tanpa melihat wajah si gadis. Ketika Alexander menoleh ke belakang dan hendak menanyakan kesediaan si gadis untuk berdansa, dia sedikit terkejut bahwa si gadis itu ternyata Lady Anne Farland.
"Oh Yang Mulia, aku tak menyangka bahwa kau bersedia memilihku!"
Alexander termenung sejenak, lalu dengan bibir kaku menanyakan, "Maukah kau berdansa denganku?"
Lady Anne Farland dengan senyum lebarnya mengangguk setuju. Sempat terlintas di pikiran Alexander bahwa senyum Lady Anne Farland seperti seekor kuda.
Seketika aula istana dipenuhi suara gadis-gadis yang tidak terima bahwa Raja atau pujaan mereka telah memilih pasangannya yang bukan diri mereka. Tidak hanya gadis, para ibu gadis-gadis itu juga mengeluarkan suara kekecewaan terhadap putri mereka. Tetapi mau tidak mau acara tetap berjalan, Alexander dan Lady Anne Farland pun berdansa di tengah aula diiringi musik yang dimainkan oleh pemain musik istana. Cecily terlanjur kecewa pada dirinya bahkan sebelum Alexander memilih Anne. Cecily pun keluar dari aula, ia tidak peduli ibunya memanggilnya untuk kembali. Air matanya mulai jatuh ke pipinya karena kekecewaannya. Philippa pun akhirnya menyusuli Cecily diikuti Elizabeth, mereka pun keluar dari aula tersebut.
Alexander melihat keluarga Greenfield itu keluar dari aula. Walaupun ia sedang berdansa dengan Anne tetapi pandangan Alexander terfokus ke Elizabeth.
"Bagaimana Yang Mulia, apakah gerakan dansaku hebat?" tanya Anne.
Alexander pun kembali menatap Anne yang ada di hadapannya, "Oh yah, tentu saja"
"Pastinya! selain hebat di lantai dansa, aku juga hebat di ranjang" jawab Anne dengan senyum menggoda.
Alexander benar-benar terkejut dengan ucapan Anne. Namun gadis itu hanya cekikikan saja.
Sementara itu, Duke of Afifth, Arthur Greenfield bersama ayah-ayah gadis-gadis berada di halaman istana sedang menikmati hidangan umum bagi kaum bapak yang menunggu istri dan putri mereka di pesta. Saat Arthur sedang meminum segelas alenya, ia melihat putrinya, Cecily menangis sambil berlari di lorong istana. Arthur pun menghampiri putrinya itu dan memeluknya.
"Oh putriku? kenapa kamu menangis seperti ini?"
Cecily tidak menjawab, ia memeluk erat ayahnya itu dan menangis di pelukannya. Philippa dan Elizabeth pun menghampiri mereka.
"Pipkin, Lizzie ada apa?" tanya Arthur.
"Yah sepertinya yang mulia tidak tertarik pada Cecily dan memilih putri Farland itu." jelas Philippa sambil memijat dahinya. "Juga Yang Mulia tidak mengindahkan Cecily dan mendekati Elizabeth."
Mata Arthur membelalak, "APA?"
"Yah itu benar." ucap Philippa.
Elizabeth tertunduk, ia merasa bersalah dengan kakaknya itu. Philippa merasa Elizabeth mesti disalahkan karena membuat sang raja tidak tertarik pada Cecily. Namun berbeda dengan Arthur, ia merasa Alexander lah yang tidak pantas.
"Lizzie, sayang, kau tidak bersalah. Tidak ada yang salah di sini." ucap Arthur menghibur kedua putrinya itu sambil memeluk mereka.
Bagi Cecily, ia tidak tega menyalahkan adiknya yang membuat sang raja tidak meliriknya. Di sisi lain, ia berpikir adiknya lebih rupawan daripadanya dan menjadi iri olehnya.