Lady Greenfield

Lady Greenfield
4. Makan Malam



Istana Kerajaan


Ibu Ratu bersama para lady-in-waiting serta pelayan istana sedang disibukkan oleh persiapan makan malam di hari minggu antara keluarga kerajaan dan keluarga Greenfield. Rupanya Alexander telah membatalkan pemilihan calonnya terhadap Anne Farland dan memilih untuk mendekati keluarga Greenfield.


Anne Farland memang berasal dari keluarga yang kaya namun Alexander tidak tertarik padanya. Ia sengaja membatalkan pemilihannya secara rahasia terhadap Anne 5 hari setelah pesta usai karena ia tidak ingin membuat keluarga Farland menanggung malu di hadapan banyak orang. Walaupun banyak bangsawan yang memang menggosip soal berita ini, setidaknya saat gosip itu berlangsung, keluarga Farland tidak berada di sana.


Setelah pembatalan diputuskan, Ibu Ratu pun mengirim surat undangan kepada Arthur Greenfield, Duke of Afifth.


"Ibu senang kau memilih dengan bijak, Alexi." ucap Ibu Ratu Louisa.


"Yah aku juga" jawab Alexander singkat.


"Afifth juga kaya raya pastinya jika kau bisa melangsungkan pernikahan dengan putrinya, Cecily dalam sebulan berarti kau bisa menutupi kekurangan kas kerajaan."


Alexander menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ada apa Alexi?"


"Aku tidak mau secepat itu."


"Alexi, ibu..." Ibu Ratu menahan amarahnya dan berusaha mengucapkan kata-katanya dengan jelas, "Ibu melakukan ini semua untuk kerajaan dan rakyat kita, Alexi."


Alexi tidak merespon ucapan ibunya, ia hanya berdiri melihat jendela istana dengan pemandangan taman yang dipenuhi orang-orang berlalu lalang.


"Kalau bisa kau langsung melamarnya di makan malam nanti, aku yakin Afifth akan memberimu mahar yang tinggi..."


"Ibu dengarkan aku!"


"Jangan membentak ibumu..."


"DENGARKAN AKU!" bentak Alexander hingga Ibu Ratu akhirnya pun diam dan mendengarkannya. "Aku sempat marah kepada dewan istana yang berdiskusi masalah keuangan tanpa diriku! tetapi aku lebih marah lagi ketika mendengar bahwa kau, ibuku, seorang ibu ratu kerajaan ini yang aku percayai sebagai tangan kananku justru melakukan hal yang terdengar sebagai pengkhianatan bagiku! Kenapa kau melarang kerajaan menggunakan simpanan emas royal storage untuk menutupi kekurangan dana yang sedang kita alami? Emas-emas dan harta yang berhasil ayah dapatkan digunakan untuk kesejahteraan rakyat Ashwind tetapi kau, kau sang ibu ratu malah menyuruhku untuk menikah agar mendapatkan mahar supaya menutupi kekurangan itu!"


"Alexi bukan begitu..."


"DIAM Ibu!! kau melarang dewan dan mengancam mereka agar tidak menggunakan emas-emas itu untuk kau pakai menyelenggarakan pesta-pesta dan makan malam yang membutuhkan banyak biaya daripada memperjuangkan wilayah Ashwind di selatan? itu kah yang kau maksud denganĀ 'aku melakukan semua ini untuk kerajaan dan rakyat kita' ?. Mulai sekarang dan seterusnya, aku tidak mengizinkanmu untuk ikut campur urusan penting kerajaan, Ibu. Aku bisa mengurusnya atas keputusanku sendiri."


"Alexi..." Ibu Ratu menatap putranya dengan tatapan tidak percaya. Air mata sudah membanjiri wajahnya, ia seakan-akan kehilangan kuasanya.


"Mungkin aku masih membiarkanmu untuk merencanakan pertemuan dengan keluarga Afifth kapanpun yang kau mau, hanya keluarga Afifth! Tetapi aku tidak bisa menikahi putrinya dalam sebulan karena aku butuh waktu lebih lagi." lanjut Alexander.


Tatapan Ibu Ratu kini bercampur aduk antara tidak percaya, terkejut, dan tidak mengerti. "Apa maksudmu?" tanyanya.


"Elizabeth lah yang aku taksir bukan si sulung Afifth. Usianya masih 17 tahun dan aku akan melamarnya jika usianya sudah cukup."


Alexander pun pergi meninggalkan ibunya yang dipenuhi tangisan air mata serta keterkejutan mendengar pernyataan putranya itu.


Di kediaman Afifth, Cecily sedang bersiap-siap untuk menghadiri pesta makan malam di istana nanti. Ditemani ibu serta pelayannya, Cecily berusaha tampil dengan penampilan maksimal di kesempatan keduanya memikat hati Raja Alexander. Di sisi lain, Elizabeth berada di kamarnya, ia duduk di jendela sambil membaca buku. Tak lama kemudian, Arthur pun masuk ke kamar putrinya untuk membujuk Elizabeth ikut ke istana.


"Aku benar-benar tidak berselera untuk ikut, Dad."


"Dad tidak akan memaksamu, Liz" ucap Arthur sambil duduk di samping Elizabeth, "Tapi Dad berpikir bahwa Ibu Ratu mungkin akan lebih senang jika keluarga Greenfield hadir secara lengkap di istana. Itu akan membuat keluarga kita lebih dihargai juga, nak."


Elizabeth memikirkan ucapan ayahnya itu, dan menurutnya ayahnya itu benar.


"Baiklah, Dad aku akan ikut ke istana, dan aku akan butuh bimbinganmu." ucap Elizabeth.


Arthur menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Kau harus bersiap-siap kalau begitu, dad akan keluar dan menunggumu." ucap Arthur sambil mencium kening putri bungsunya itu.


"Oh baguslah." ucap Philippa datar sambil menata rambut Cecily bersama salah satu pelayan.


"Baiklah." respon Cecily singkat. Sebenarnya ia ingin menceritakan kejadian Elizabeth yang ia lihat kemarin kepada orang tuanya, tetapi ia belum akan memberitahukannya sebelum ia tahu fakta di balik itu.


Tidak butuh waktu lama bagi Elizabeth untuk bersiap-siap. Ketika ia keluar dari kamarnya, Cecily juga sudah selesai berdandan. Keluarga Greenfield itu pun langsung menuju ke istana kerajaan dengan stagecoach milik sang Duke.


Di sisi lain, Alexander yang juga sudah bersiap untuk makan malam dengan keluarga Greenfield, kedatangan tamu seorang pria di kamarnya. Pria itu memang sudah akrab dengannya dan bersikap santai di depan rajanya. Saking santainya, kini si pria duduk di sofa yang ada di kamar itu sambil melihat sang raja sibuk merapikan penampilan pakaiannya di depan cermin sebesar diri sang raja.


"Bagaimana hasilmu? aku harap kau tidak mengecewakanku" ucap Alexander sambil melihat refleksi pria itu di cermin.


"Ck.. gampang, Lex. Aku sudah mengobrol cukup lama dengannya dan asal kau tau pasti kau senang mendengar ini..."


"Apa?"


"Dia juga menyukaimu kok."


Alexander seakan tidak percaya. Ia tersenyum sumringah tetapi senyumannya tidak bertahan lama.


"Kenapa eh? kok tiba-tiba tak jadi senang?" tanya pria itu.


"Aku lupa, dia masih 17 tahun, aku perlu 2 tahun lagi jika ingin menikahinya." jawab Alexander.


Pria itu yang awalnya berbaring di sofa kini bangun dari posisinya dan menghampiri Alexander sambil menepuk pundak sang raja.


"Lex, biar kuberi tahu, di pelosok desa gadis seusianya bahkan banyak yang sudah menikah lho."


"Seharusnya itu tidak terjadi, Henry! Gadis 17 tahun masih belum matang untuk pernikahan!"


"Yah kalau begitu kau harus sosialisasikan kepada rakyat-rakyatmu di desa pelosok itu."


"Henry.." panggil Alexander.


"Ya, Yang Mulia."


"Sepertinya aku akan berbicara langsung kepada si Afifth itu kalau aku berniat menikahi putrinya tetapi mereka harus menunggu."


"Berarti tugasku sudah selesai dong?"


Alexander menatap tajam Henry, "Tidak juga, aku butuh 2 tahun lagi untuk menikahi Elizabeth. Jadi kau akan bekerja kepadaku selama 2 tahun itu untuk memantau dia lebih dalam, kau akan cari tau segalanya tentang dia dan aku bisa mengetahui tentangnya lebih lanjut."


Henry tercengang melihat ide sang raja yang menurutnya aneh.


"Aku tau kau cerdik Henry, jadi aku tidak perlu bersusah payah karena urusan kerajaan masih banyak yang belum selesai dan aku tidak punya waktu untuk melakukan itu semua"


Meragukan ide seorang raja adalah hal yang buruk, maka dari itu Henry menyetujui permintaan Alexander.


Ketika keluarga Greenfield telah sampai di istana. Para pelayan istana langsung menyambutnya dan mengantarnya ke ruang makan yang megah di istana Ashwind itu. Cecily tampak senang dan tak sabar, melihat sambutan yang mewah seperti ini pastilah sang Raja tertarik padanya. Ketika keluarga Greenfield sudah duduk di kursi masing-masing, Ibu Ratu dan Raja Alexander pun mulai memasuki ruangan itu.


"Perhatian, Yang Mulia Raja Kita, Raja Muda Alexander IV dari Kerajaan Ashwind dan Ibu Ratu dari Kerajaan Ashwind, Ibu Ratu Louisa Joyland, memasuki ruangan!" Seru salah satu pelayan istana yang mengumumkan kedatangan mereka.


Keluarga Greenfield dengan anggun pun memberi salam hormat kepada Raja dan ibunya tersebut.


Alexander melihat gadis pujaannya hadir di sana. Ia sangat senang dan bahagia bahkan tak henti-hentinya menatap Elizabeth. Tak butuh waktu yang lama bagi Elizabeth sadar bahwa sang raja memerhatikannya, namun ia tetap bersikap biasa-biasa saja.


"Haruskah kita memulai makan malamnya?" ucap Ibu Ratu yang seakan-akan mengalihkan pikiran Alexander.


"Tentu saja, silahkan duduk di meja masing-masing." ucap Alexander.