
Ashwind Kingdom
Di Istana Kerajaan Ashwind, sang raja muda, Alexander IV baru saja bangun dari tidurnya ketika sang Ibu Ratu hendak masuk ke kamarnya itu. Melihat sang ibu kini mulai memasuki kamarnya, Alexander berpura-pura tidur kembali.
"Raja macam apa yang masih tidur di pukul 7!" bentak sang ibu sambil menarik selimut di tubuh Alexander.
Alexander menarik selimutnya kembali dengan mata yang masih terpejam, "Raja yang ingin mencari ketenangan dari ibunya yang selalu memintanya untuk menikah."
Mendengar jawaban kurang ajar putranya itu, Ibu Ratu terlihat gusar.
"Ya itu memang harus, karena itu sudah menjadi tanggung jawabmu untuk memiliki seorang ratu serta pewaris." ucap Ibu Ratu sambil duduk di samping Alexander yang berbaring membelakanginya. "Jika kau ingin menjadi raja yang baik untuk rakyatmu, lakukan itu"
Alexander membuka matanya dan membalikan tubuhnya menghadap Ibu Ratu, "Tentu aku raja yang baik, raja yang baik selalu mementingkan rakyatnya terlebih dahulu bukan mengurusi soal wanita."
"Ya terserah padamu, Alexi"
Sulitnya membujuk sang putra untuk mencari calon pasangan membuat Ibu Ratu tidak tahan dan berniat mencari kandidat pasangan bagi Alexander. Ibu Ratu dibantu dengan bangsawan istana mengumpulkan informasi soal gadis-gadis bangsawan yang siap untuk dijodohkan. Bahkan adik Alexander yang telah menikah, Princess Katherine turun tangan untuk mencari kandidat yang cocok bagi kakaknya. Operasi pencarian kandidat ini tentu dilakukan tanpa sepengetahuan sang raja muda.
"Yang Mulia saya telah mengumpulkan info-info soal gadis bangsawan yang saat ini siap dijodohkan, ini ada 44 daftar nama yang cocok." ucap Margery, Countess of Flare, seorang bangsawan istana sekaligus teman dari Ibu Ratu.
"Berdasarkan pencarianku ada 20 kandidat yang cocok untuk Alexi." ucap Princess Katherine sambil menyerahkan selembar kertas berisi daftar nama-nama kandidat.
"Ini semua sudah cukup, aku akan mengundang gadis-gadis ini beserta keluarganya untuk pesta debut kandidat di istana" ucap Ibu Ratu.
Di sisi lain, di sebuah kota yang tidak jauh dari Istana Ashwind tepatnya kota Afifth, tinggalah dua bersaudari dari keluarga bangsawan yang terhormat dan terkenal di kota itu. Ayah mereka adalah Arthur Greenfield dengan gelar Duke of Afifth. Dua bersaudari ini adalah Lady Cecily dan Lady Elizabeth, Lady Cecily merupakan si sulung yang berusia 21 tahun dan memiliki jarak 4 tahun dengan adiknya, Lady Elizabeth. Dari segi usia serta kesiapan, Lady Cecily tentu menjadi kandidat yang cocok bagi Alexander, maka dari itu Princess Katherine mendatangi sang Duke pada tempo hari dengan maksud menjadikan Lady Cecily sebagai kandidat. Tentu saja hal itu disetujui sang Duke dan kini mereka hanya tinggal menunggu keputusan Ibu Ratu di pesta debut para kandidat besok. Mendengar sang kakak telah dijadikan kandidat bagi Raja Alexander, Lady Elizabeth terlihat sangat senang kepada kakaknya.
"Aku sudah tidak membayangkan menjadi adik ipar raja! Bukankah itu keren?" ucap Elizabeth kepada kakaknya itu.
"Tentu saja! Aku berharap mereka berkesempatan melihat potensiku sebagai calon ratu" jawab Cecily.
"Ratu Cecily dari Kerajaan Ashwind! Benar-benar gelar yang keren, aku tak sabar mengunjungimu di istana dan curtsy kepadamu." kata Elizabeth sambil mempraktikkan gerakan curtsy kepada sang kakak.
"Jangan mengganggu kakakmu, Lizzie, Cecily harus mempersiapkan dirinya untuk debut di istana besok!"
Philippa, Duchess of Afifth atau ibu mereka tiba-tiba masuk ke dalam kamar Cecily dengan dua pelayan yang membawa beberapa gaun, sepatu, dan perhiasan yang dikhususkan untuk Cecily.
"Lizzie kembali ke kamarmu, Cecily harus bersiap-siap untuk debut di istana besok!"
"Wow mum, apakah itu kalung safir punyamu?" tanya Elizabeth sambil menunjuk sebuah kalung yang berada di nampan yang dipegang salah satu pelayan.
"Ya dan Cecily akan memakainya besok untuk debut di istana" jawab Duchess Philippa.
"Aku yakin kau akan menjadi pemenang bagi raja, kak!"
"Tentu saja!" jawab Cecily percaya diri.
Keesokan harinya, Cecily telah bersiap-siap untuk ke istana, ia telah memakai gaun farthingale tercantik yang didesain khusus untuknya. Kalung safir milik ibunya pun telah menggantung di lehernya dengan anggun. Dengan debut Cecily di istana hari ini, semua orang tahu bahwa ia telah menjadi kandidat bagi Raja Alexander. Duke dan Duchess serta adiknya, Elizabeth pun turut ikut ke istana. Bedanya dengan Cecily, Elizabeth tampil dengan sederhana, ia hanya memakai perhiasan seperlunya untuk menandakan bahwa ia bukan debut atau kandidat pasangan.
Sementara itu, Alexander tampak bingung dengan kehadiran banyak gadis-gadis di istana. Ia sempat berpikir bahwa ibunya mengadakan pesta wanita atau apalah namun ia tidak ingin ambil pusing dan melanjutkan aktivitasnya. Tapi ia segera menyadari ada yang tidak beres ketika seorang gadis tiba-tiba menghampirinya dengan antusias yang tinggi dan berkata, "Oh Yang Mulia, aku harap kau bersedia memilihku sebagai calonmu, aku hambamu, Lady Anne Farland." Gadis itu pun cursty di hadapannya setelah itu.
"Maaf tapi aku tidak mengerti maksudmu soal memilihmu sebagai calonku."
Gadis itu hanya cekikikan, "Yang Mulia, janganlah kau bermain pura-pura, aku berharap kesediaanmu, Yang Mulia."
Alexander masih belum mengerti apa yang gadis itu maksud, dan tiba-tiba dari seberang ruangan ada seorang wanita paruh baya mendekati mereka dengan tergesa-gesa.
"Oh Yang Mulia maafkan aku karena putriku telah mengangguku, Anne kau tidak diperkenankan menemui Yang Mulia sebelum acara dimulai!" ucap wanita tersebut sambil menggenggam lengan putrinya. "Yang Mulia kami pamit dari sini, sekali lagi maafkan putriku, Lady Anne." wanita itu pun lalu pergi sambil menyeret putrinya.
Dengan pikiran penuh rasa tanya dan heran, Alexander pun menemui sang ibu yang saat itu sudah berada di aula istana. Di aula, sudah banyak orang berkumpul terutama gadis-gadis dan keluarganya. Para gadis dan ibu mereka pun sudah menatap Alexander dengan haus setibanya sang raja muda itu memasuki aula istana. Alexander yang benar-benar merasa seperti sedang diincar segera membawa sang ibu keluar dari aula untuk mendapatkan keamanan.
"Ibu! Apa-apaan ini! Apa acara yang sedang kau adakan sekarang? Kenapa gadis-gadis itu terlihat seperti memangsaku sih?" protes Alexander.
Sang ibu menghela nafas, "Alexi, kau seorang raja dan ibu sedang merencanakan yang terbaik untukmu, para gadis itu ibu undang kemari untuk melihat kelayakan mereka denganmu."
Alexander terbelalak kaget mendengar jawaban sang ibu, ia tak menyangka ibunya merencanakan hal semacam itu dibelakangnya tanpa sepengetahuan dirinya. "IBU! apa-apaan?! kau merencanakan semua ini dibelakangku dan TANPA PERSETUJUANKU?! ini pengkhianatan!".
"Alexi pelankan suaramu!" ucap Ibu Ratu sambil mencubit lengan putranya itu, "Aku tetap ibumu dan seorang ibu ingin yang terbaik untuk anaknya terutama anak sulung! gadis-gadis itu bukan orang sembarangan, mereka datang dari keluarga bangsawan terbaik di negeri ini. Biar ibu beritahu, usiamu sudah menginjak 25 tahun, dan sebenarnya di belakangmu, para dewan istana mendesak ibu untuk menyuruhmu menikah!"
Alexander terdiam sejenak saat mendengar ucapan ibunya itu, ia seperti tidak percaya hal tersebut.
"Benarkah?"
"Buat apa aku berbohong? para dewan istana mengatakan kepadaku bahwa dana kerajaan sedang menurun pesat karena konflik kita dengan Kerajaan Kartenhal!" jelas Ibu Ratu. "Jika kau ingin Ashwind memenangkan kepemilikan wilayah selatan, kau harus mencari pasangan secepatnya agar dapat mendapatkan mahar yang bisa menyumbangkan dana!"
Alexander tidak bisa berkata apa-apa. Selama ini tugasnya sebagai raja adalah melindungi rakyatnya dan menjaga negeri ini tetap damai. Namun, akhir-akhir ini wilayah selatan kerajaannya berusaha diklaim oleh kerajaan lain, yaitu Kartenhal yang wilayah kekuasaannya memang bersebelahan dengan Kerajaan Ashwind. Sebagai seorang raja yang bertanggung jawab, Alexander berusaha penuh melindungi dan memenangkan kepemilikannya atas wilayah selatan tersebut.
Tetapi pengakuan ibunya tentang dewan yang selama ini lebih bekerja sama dengan ibunya dibandingkan dirinya membuatnya terganggu dan kesal. Di sisi lain, apa yang sang Ibu Ratu katakan itu ada benarnya.
"Bagaimana? kau sadar kan?"
Alexander hanya mengangguk dengan tatapan kosong ke Ibu Ratu.
"Jika kau sudah sadar, cepat masuk dan sambut para gadis itu dan ajaklah berdansa, setidaknya kau memilih beberapa gadis untuk diseleksi lagi." perintah Ibu Ratu.
Alexander hanya mengangguk dan ia pun kembali masuk ke aula yang dipenuhi para gadis dan keluarganya yang berharap putri mereka dipilih oleh sang raja muda itu.
"Baiklah, ini mudah dan aku bisa melakukannya demi Ashwind" ucap sang raja dalam hati.