
Kediaman Duke of Afifth
Setelah kejadian di istana minggu lalu, keluarga Greenfield berusaha melupakan kejadian tersebut dan menganggap hal itu tidak pernah terjadi. Hal ini dilakukan untuk Cecily yang masih tidak bisa move on dari kejadian sang Raja. Jadi untuk mengurangi rasa sedih Cecily, keluarganya berusaha menganggap kejadian itu tidak ada.
Di sabtu pagi yang cerah, ketika keluarga Greenfield hendak sarapan di ruang makan, seorang pelayan membawakan surat yang masih tersegel dengan rapih ke hadapan Arthur.
"Surat dari Ibu Ratu, your grace" ucap pelayan itu sambil menaruh nampan surat di depan Arthur.
Arthur segera mengambil surat itu. Istri dan kedua putrinya pun seketika langsung menatap Arthur untuk menunggu dibacakan isi surat dari Ibu Ratu tersebut.
"Semoga kabar baik." ucap Philippa.
Arthur pun membuka segel lilin yang ada di surat itu dan mulai membacanya.
My Lord Afifth,
Saya sangat berterima kasih atas kehadiran keluargamu di pesta minggu lalu. Tampaknya Putraku ingin mengenal keluargamu lebih dekat. Saya berharap kehadiran keluarga Anda di istana untuk makan malam besok.
Ibu Ratu Louisa Joyland.
Philippa yang mendengar kabar tersebut seketika langsung bahagia dan tersenyum lebar. Cecily yang murung sejak pesta minggu kemarin, kini merasa ada harapan. Begitu juga dengan Arthur yang sangat bahagia untuk putrinya.
Tapi tidak dengan Elizabeth, ia terlihat biasa saja dan melanjutkan sarapannya.
"Cecily, mum akan memakaikanmu gaun yang paling indah serta perhiasan keluarga untuk besok!" ucap Philippa.
Cecily tersenyum lebar, air mata kebahagiaan pun jatuh ke pipinya, "Tentu mum!".
"Lizzie, kenapa kamu terlihat biasa saja?" tanya Arthur yang menyadari ekspresi putri bungsunya itu.
"Yah, aku senang tapi aku tidak ingin mengacaukan kesempatan untuk Cecily lagi. Jadi aku tidak akan ikut besok." jawab Elizabeth.
Philippa yang mendengar jawaban Elizabeth terkekeh, "Ya keputusanmu benar, nak. Biarkan kakakmu mendapatkan keuntungannya besok. Kamu masih punya waktu 4 tahun lagi."
Arthur menghela nafas, "Ikutlah saja Liz, dad yakin kamu tidak mengacaukan apa-apa. Kamu akan aman."
"Biarkan saja kalau dia tidak ingin ikut, Arthur." jawab Philippa.
"Ya biarkan saja." tambah Cecily.
Elizabeth sedikit terkejut dengan ucapan Cecily namun ia tetap bersikap tenang karena ia tidak mau menimbulkan masalah.
"Baiklah, Liz. dad tidak akan memaksamu, tapi kalau kamu berubah pikiran, bilang saja pada dad ya." ucap Arthur.
Elizabeth mengangguk dan melanjutkan sarapannya.
Setelah sarapan, Elizabeth melanjutkan aktivitasnya dengan melukis di pinggir danau yang ada di dekat kediamannya. Pinggir danau ini biasanya tempat ia dan Cecily melukis dan menghabiskan waktu bersama namun saat ini ia hanya sendirian ditemani burung-burung yang berkicau di atas pohon-pohon.
Elizabeth menyiapkan kanvas kecilnya dan mulai menggores warna di atas kanvas dengan kuas kasarnya. Biasanya ia melukis pemandangan, hewan, dan tumbuh-tumbuhan, tapi kali ini ia melukis mengikuti imajinasi acaknya. Ia mulai membuat sketsa sebuah ruangan istana dan menggambar seorang pria yang merupakan raja serta seorang putri yang berdansa dengan sang raja.
Seorang putri itu bukanlah si Anne Farland ataupun Cecily melainkan ia menggambar dirinya sendiri.
Saat ia masih fokus menggambar serta melukis sketsanya, tiba-tiba sebuah panah yang entah datang dari mana meluncur ke arahnya, untungnya panah itu tidak mengenai Elizabeth melainkan ke sampingnya dan menancap di sebuah pohon. Hal itu membuat Elizabeth terkejut dan menjatuhkan cat lukis serta kanvasnya, dan membuat sketsa yang ia buat berantakan.
"Siallll.." umpat Elizabeth, "SIAPA ITU?" ia pun berteriak ke arah datangnya panah.
Tak lama seorang pria dengan kudanya menghampiri Elizabeth dengan terengah-engah.
"Maafkan aku, My Lady, aku sedang memburu seorang rusa tapi panahku melesat." ucap pria itu.
Elizabeth menatap tajam pria itu dengan penuh kesal.
"Siapa kau huh?"
Pria itu turun dari kudanya lalu berdiri di hadapan Elizabeth.
"Maafkan aku, My Lady. Namaku Henry." ucapnya sambil mengulurkan tangan kanannya.
Elizabeth membalas uluran tangannya itu.
"Darimana asalmu?" tanya Elizabeth.
Pria itu terkekeh, "Aku dari Wolverton."
Seusai pria itu menjawab pertanyaannya, Elizabeth langsung membalikkan tubuhnya dan menuju pohon dimana panah itu menancap. Ia pun kembali ke hadapan Henry dengan membawa panah itu.
"Ini panahmu kukembalikan, syukurlah aku masih hidup dan kau masih punya skill memanah yang bagus walaupun meleset." ucap Elizabeth dengan nada sarkas.
"My Lady, maafkan aku, aku harap kau memaafkan kesalahanku yang bodoh."
"Ya aku maafkan." jawab Elizabeth sambil membereskan barang-barangnya yang berantakan.
Henry seketika dengan sigap membantu Elizabeth merapikan barang-barangnya. Henry pun memungut kanvas yang sudah kotor terkena tanah dan melihatnya sebentar.
"Wow apakah ini si raja?" tanya Henry.
Elizabeth pun segera merebut kanvas itu dari tangan Henry.
"Kau sedang menggambar raja dan dirimu ya?" tanya Henry dengan nada menggoda.
"Sstt.. diamlah."
"Diamlah, anggap kita tidak pernah bertemu dan lupakan semua kejadian ini." jawab Elizabeth.
"Baik, baik maafkan aku, My Lady. Kebetulan aku tau betul perasaanmu, pasti kau suka si raja tapi terhalang sesuatu ya."
Elizabeth menoleh ke arah Henry dengan wajah terkejut.
"Apa maksudmu?"
"Gadis-gadis sepertimu memiliki permasalahan yang rumit soal hubungan, tapi aku memahaminya."
"Tau darimana kau? apakah kau seorang penyihir?"
"Eh jangan beranggapan seperti itu." ucap Henry dan ia pun mengambil kanvas yang dipegang oleh Elizabeth. "Aku lihat dari sketsa kasarmu. Kau menggambar raja yang berdansa denganmu tapi posisimu dengan raja tidak intim, bahkan jarakmu dengan raja agak jauh seakan-akan kau sengaja ingin menjauhinya."
Elizabeth tercengang dengan penjelasan Henry itu, dia tidak berkata sepatah kata apapun.
"Lalu aku beranggapan bahwa kau menyukai si raja tapi ada sesuatu yang menghalangimu. Coba aku pikir, biasanya apa sih yang menghalangi seorang gadis untuk mendekati pujaannya? apakah status sosial? Hmm enggak juga, kau terlihat seperti orang kaya! Bahkan tutur katamu sangat halus dan sopan sekali seperti bangsawan. Jadi tidak mungkin status sosial menghalangimu, aku berpikiran mungkin ada seseorang yang membuatmu tidak yakin mendekati si raja." jelas Henry. "Bagaimana, apakah aku benar sejauh ini?"
Elizabeth masih tercengang dan ia menganggukan kepalanya sedikit dengan raut wajah yang mulai sedih.
"Nah jadi aku beranggapan mungkinkah seorang saudari, kakak perempuanmu yang lebih cocok untuk raja? aku tidak yakin itu orang lain, kalau iya tidak mungkin kau ingin mundur. Pastilah seorang saudari makanya kau merelakan pujaanmu"
"Ya ya ya itu benar, Tuan Paling Tau Segalanya." jawab Elizabeth.
"Hmm..."
"Kau benar kau benar, aku memang menyukai Raja Alexander walaupun aku sadar usiaku masih belum cukup, tapi aku tidak ingin menyakiti hati saudariku."
Henry menyandarkan tubuhnya di batang pohon, "Usia itu hanyalah angka, My Lady. Lagian usiamu memangnya berapa sih? aku tidak yakin kau dibawah umur banget."
"17 tahun!"
Henry terkekeh, "Hey My Lady, jika kamu pergi ke desa-desa yang jauh dari sini, banyak wanita yang sudah memiliki anak di usia sepertimu! Hahahaha"
"Huh tau darimana kau?"
"My Lady, aku ini bukan pria sembarangan! aku sudah berkeliling ke seluruh negeri ini makanya aku tau!"
"Oh ya? berarti sedang apa kau di kota Afifth ini?"
Henry pun mulai duduk di bawah pohon tempat dimana Elizabeth sebelumnya melukis, "Hanya ada bisnis kecil dan kebetulan hari ini tidak ada pertemuan jadi aku jalan-jalan dan berburu. Aku lihat di pinggiran danau ini ada banyak rusa yang minum, jadi aku ingin menembaknya satu untuk makan malam tapi sayangnya aku belum beruntung."
"Dan panahmu itu hampir membunuhku."
"Sorry ya, My Lady"
Lama kelamaan berbincang dengan Henry membuat Elizabeth nyaman. Ia tidak pernah bercakap santai dengan seorang pria asing selama ini, apalagi pria asing ini terlihat bukan dari kaum bangsawan. Elizabeth seakan-akan menemukan relasi baru, dan cara Henry menceritakan sesuatu membuat Elizabeth makin tertarik. Elizabeth pun mengambil posisi duduk di samping Henry seakan-akan ingin mengobrol lebih lanjut.
"Jadi gimana, My Lady? apa yang kau lakukan soal hubunganmu dengan raja?" tanya Henry.
Elizabeth menaikkan kedua pundaknya, "Entahlah, aku tidak tau mau berbuat apa lagi." jawabnya, "Lagipula aku berniat menjauhinya, seperti katamu, karena aku tidak ditakdirkan bersama raja melainkan kakakku yang dikandidatkan sebagai calon pasangannya."
"Ah, itu kan masih calon, My Lady.."
"Elizabeth saja tolong."
"Oh jadi itu namamu, ah tapi aku tidak akan memanggilmu seperti aku ini anggota keluargamu atau apalah, aku akan tetap menyebutmu My Lady karena kau adalah wanita terhormat."
Elizabeth mengernyitkan dahinya, "Jadi kalau bukan wanita terhormat, kau tidak akan menyebut My Lady?"
Henry tertawa kecil, "Bagiku semua wanita terhormat bahkan seorang pelacur sekalipun."
"Apa itu pelacur?"
"Oh Tuhan, aku lupa kau masih 'dibawah umur' "
"Tolong beritahu!" ucap Elizabeth memaksa.
"Oh tidak akan, aku tidak mau, kau harus cukup umur untuk mengetahuinya."
Elizabeth pun berdiri di hadapan Henry yang masih duduk sambl bersandar di pohon, "Jika kau tidak mau beritahu aku, aku akan memberitahu ayahku, Sang Duke of Afifth, jika kau hampir membunuhku dengan panah." ancam Elizabeth dengan senyum licik.
Henry yang mendengar bahwa Elizabeth merupakan putri Duke of Afifth seketika terkejut dan agak takut.
"Eh jangan begitu dong, My Lady. Aku tidak tau kalau dia adalah ayahmu."
Elizabeth hanya tersenyum seakan-akan ia menang.
"Baiklah pelacur itu adalah wanita yang terpaksa mencari uang dengan tidur bersama para pria, pria manapun! tidak memandang status sosialnya yang terpenting para pria itu memberinya uang atas jasanya." jelas Henry dengan bahasa sehalus yang ia bisa.
Elizabeth mengangguk-anggukan kepalanya seakan-akan ia paham, "Baik, terima kasih penjelasannya. Sekarang aku ingin pulang, aku takut ayahku mencariku."
"Mau kuantar pulang?" tawar Henry.
Elizabeth awalnya tidak yakin namun karena Henry sepertinya bukan orang jahat, ia pun mengiyakannya dan naik ke atas kuda setelah Henry. Henry mengantarnya hingga di gerbang kediaman Elizabeth.
Cecily melihat kedatangan mereka dari jendela kamarnya. Walaupun jarak pandangnya jauh, Cecily bisa melihat bahwa seorang pria yang terlihat gagah mengantar adiknya itu. Tetapi ia tidak bisa menyingkirkan pikiran buruk atas apa yang dilihatnya itu.
"Kenapa Lizzie bisa bersama seorang pria, hanya berduaan? Ada yang tidak beres!"