LA MENTIRA

LA MENTIRA
CINTA YANG DIBAWA MATI



aku masih setia berdiri di samping makam kakakku itu. aku gak menyangka kalau dia mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri, aku tidak tau ada masalah apa sebenarnya, hingga dia memilih jalan pintas yang salah.


"david, ayo kita pulang, sudah hampir hujan. kita berdoa saja, semoga dimitri mendapatkan tempat yang layak di sisiNya." pesan om dion kepadaku.


saat ini keluarga yang kumiliki hanya tinggal om dion saja, karena kedua orangtuaku sudah meninggal sejak kami masih kecil. sedangkan, om dion adalah adik kandung dari ayahku.


dan sejak saat itulah aku dan dimitri diasuh oleh om dion dan tante sonya. hanya saja tante sonya juga sudah berpulang karena penyakit kankernya dan mereka berdua tidak dikaruniai anak, oleh sebab itu mereka membesarkan aku dan dimitri seperti anak sendiri.


setelah lulus SMA aku melanjutkan kuliahku di new york, sedangkan dimitri memutuskan untuk tetap melanjutkan kuliahnya di jakarta.


jadi aku tidak tau masalah apa yang membuatnya sampai harus bunuh diri seperti itu. karena yang aku tau dimitri sudah menjadi CEO di perusahaan yang ayah tinggalkan untuk kami yang selama ini diurus oleh om dion.


sedangkan aku sendiri setelah lulus kuliah langsung membuka perusahaan sendiri di new york, dan menetap di sana. aku pulang ke indonesia karena mendapat kabar kematian saudaraku itu.


"david, kita sudah sampai di rumah. kamu asyik sekali melamunnya, sampai tidak mendengar panggilan dari om." om dion memukul pundakku hingga aku pun kaget sendiri.


"maaf om, aku hanya masih memikirkan kenapa dimitri bisa sampai melakukan hal bodoh itu, rasanya tidak percaya sampai saat ini om. ayah dan ibu sudah meninggalkanku, sekarang dimitri pun pergi. kenapa mereka tega padaku" tanyaku dengan mata berkaca-kaca.


"kamu jangan berkata seperti itu david, setiap orang mempunyai jalan hidupnya masing-masing. mungkin, dimitri memang harus meninggal dengan cara seperti itu. dan kamu jangan sedih karena kamu masih punya om yang akan selalu ada untuk kamu." hibur om dion sambil memelukku.


"sekarang kita masuk dulu ke dalam rumah. kamu mandi dan istirahat dulu. karena nanti ada yang ingin om bicarakan dengan kamu." jelas om dion padaku.


aku pun menganggukkan kepalaku dan kami pun turun dari mobil dan masuk ke kamar masing-masing.


aku merasa sangat lelah dan kepalaku juga rasanya sangat sakit dan aku pun tertidur dengan sangat lelap.


aku tersadar karena mendengar bunyi ketukan pintu kamar.


TOKK..TOKK..TOKK..


aku pun segera membuka pintu kamarku. "selamat sore tuan muda, tuan besar menyuruh saya memanggil anda dan beliau menunggu anda di ruang kerjanya." seorang pelayan datang membawakan pesan dari om dion padaku.


"oke, saya mandi dulu. setelah itu saya akan meyusul ke sana, terimakasih." ucapku pada pelayan itu.


pelayan itu pun segera pamit dan kembali ke belakang.


aku pun segera mandi dan berpakaian, lalu aku pun menyusul om dion ke ruang kerjanya.


aku mengetuk pintu setelah mendengar jawaban dari om dion aku pun segera membuka pintu dan masuk ke dalam ruang kerja itu.


aku segera duduk di sofa dan bertanya kepada om dion, "om ada apa memanggilku ke sini? apa ada hal penting yang perlu dibicarakan?"


"iya david, ada hal penting yang ingin om bicarakan dengan kamu. ini tentang perusahaan yang selama ini dipimpin oleh dimitri. tapi kamu tau sekarang dimitri sudah tidak ada, otomatis perusahaan itu sekarang butuh pemimpin baru." jelas om dion padaku, aku pun mendengarkannya dengan seksama


"bagaimana kalau perusahaan itu sekarang om saja yang pimpin?" tanyaku padanya


"tidak mungkin david, om sudah tua. om tidak mau lagi berurusan dengan segala ***** bengek yang nantinya akan membuat kepala om sakit.


apalagi perusahaan itu milik kamu dan dimitri, tapi karena dimitri sudah tidak ada maka perusahaan itu sekarang jadi milik kamu.


om mohon kamu jangan tolak permintaan om ini. tinggallah di indonesia dan mengurusi perusahaanmu di sini." pinta om dion kepadaku.


"kamu bisa minta orang kepercayaanmu untuk mengurusi perusahaanmu di sana dan kamu pun bisa mengeceknya setiap sebulan sekali." usul om dion padaku.


"baiklah om, aku terima permintaan om itu. tapi, ijinkan aku untuk pergi dulu ke new york lusa untuk mengurus semuanya di sana, baru aku akan kembali ke sini dan memimpin perusahaan yang di sini." jawabku dengan tegas kepada om dion.


"oke, terimakasih david. hanya kamu yang bisa om andalkan saat ini." ucap om dion padaku.


"baiklah, kalau begitu kita makan malam saja dulu." ajak om dion


akhirnya kami pun makan malam dengan tenang tanpa adanya pembicaraan di antara kami berdua.


"paman selesai makan boleh aku melihat-lihat kamar dimitri?" tanyaku


"tentu boleh, silakan saja. kamar itu tidak pernah dikunci." jawab om dion


setelah selesai makan aku pun pamit menuju kamar dimitri.


kamar ini masih sama seperti dulu hanya saja cat tembok kamar ini berubah, dan kamar ini selalu bersih dan rapi dari dulu. kamar ini menyimpan beribu kenangan, kamar pertama kami tapi setelah aku beranjak dewasa, aku mendapatkan kamar baru.


aku ingat dimitri yang selalu membelaku kalau ada anak-anak nakal yang menggangguku ataupun membuatku menangis.


dimitri adalah pahlawanku, aku mengaguminya dan sangat menyayanginya. dia merupakan pribadi yang sangat kuat, rasanya aneh kalau dia mengambil jalan pintas bunuh diri, kecuali memang ada sesuatu yang membuatnya sampai seperti itu.


aku menatap sekeliling kamar ini sampai aku menemukan sebuah surat terjatuh di samping tempat tidur.


aku pun segera mengambil surat yang sudah kusut itu dan mulai membacanya,


"tidak usah mencari aku lagi, karena aku sudah mempunyai cinta yang baru. kamu bisa mencari perempuan lain yang mencintaimu dengan tulus. karena memang selama ini aku tidak pernah mencintaimu. aku hanya terpaksa saja menerima cintamu itu karena aku kasihan padamu.


dari aku yang tidak pernah mencintaimu, A."


aku kaget sekali membaca surat ini. tega sekali perempuan ini berbuat seperti itu pada dimitri.


aku pun mencoba mencari buku harian dimitri karena yang aku tau dimitri suka menulis buku harian.


aku menemukan buku harian itu di dalam laci meja milik dimitri.


aku membuka halaman demi halaman, sampai aku menemukan isi hati dimitri yang ditulis pada hari sebelum kematiannya itu.


"aku tidak menyangka cinta yang aku jalani selama 5 tahun berakhir dengan cara seperti ini. ternyata selama ini dia tidak pernah mencintaiku, dia hanya memanfaatkanku karena kekayaanku. padahal aku selalu memberikan apa yang dia mau tapi dia tidak pernah menghargai perasaanku. daripada aku tidak bisa memilikinya lebih baik aku mati. apa artinya aku hidup kalau aku tidak bisa memiliki dirinya. mungkin setelah kamu menemukan buku harianku, aku sudah tidak ada di dunia ini lagi. selamat tinggal cintaku, selamat tinggal sayang. Aku selalu mencintaimu, A."


aku harus mencari tau siapa perempuan yang berinisial A ini.


aku bersumpah dimitri, aku akan membalaskan rasa sakit hatimu ini. aku tidak akan pernah membuat perempuan itu hidup tenang.


***BERSAMBUNG***


jangan lupa like, vote dan comment ya untuk karya ke duaku ini.