KISS NOTE

KISS NOTE
DUA PULUH : Bagian Akhir



"Kau tidak akan benar-benar membatalkannya kan?” tanya presdir Kwon yang dijawab dengan helaan napas yang panjang dan berat.


“Choi Seunghyun?!” panggil Jiyong. Baru akan menjawab, sambungan telepon kembali terhubung dengan mereka.


“Bagaimana? Apa kau sudah membuat keputusan? Kau ingin aku meyakinkanmu untuk membuat keputusan?” tanya kakek dengan nada meledek yang semakin membuat presdir Choi semakin geram.


“Perhatikan ini, yang terhormat presdir Choi.” kakek itu menunjukkan ruangan sempit tempat mereka berada. Debu dan minim cahaya matahari yang membuat udara lembab menambah kekhawatiran presdir Choi. Ibu dari Seungyoon berteriak histeris melihatnya, menangis dan meraung meminta suaminya melakukan sesuatu. Membayangkan dengan apa yang terjadi pada putra bungsunya jika sugesti phobianya kambuh. Terakhir kali, Choi Seungyoon dirawat diam-diam di rumah sakit tempat Jinwoo praktek karena Alergi debu yang dimilikinya berkembang menjadi phobia. Seungyoon akan cenderung menahan nafasnya agar debu tak terhirup, dan semakin lama akan semakin kesulitan bernafas. Saat itu Jinwoo bahkan kesulitan mematahkan sugesti Seungyoon karena anak itu keras kepala.


“Kau tahu maksudku, kan? Jika kau cukup pintar, kau tidak akan berpikir dua kali untuk menghubungi J Royale Corporation dan membatalkan kontrak kerjasama itu. Kau tahu ia memiliki penyakit kan?” tawa kakek itu terdengar sangat jahat.


“Kutunggu jawabanmu, Choi Seunghyun!” ledeknya lagi.


“IBU!” suara Jiho menggema seiring dengan tangannya yang meraih tubuh nyonya Choi yang terkulai lemah karena pingsan.


“Apa sudah ada kabar dari tim pelacak, sekretaris Hong?” tanya presdir Choi. Sekretaris Hong menggeleng pelan.


“SIALAN!!!” umpat presdir Choi.


“Karena ini adalah saluran yang dibuat manual seperti ponsel dan gps mobil tuan muda, kami tidak bisa melacaknya dengan mudah. Pelacak yang dipasang di mobil tuan muda sudah terlepas di garasi. Sepertinya dia punya orang di dalam lingkungan ini.” jelas sekretaris Hong.


Presdir Choi beranjak dan berdiri di depan presdir Kwon. Tanpa ragu ia melipat lututnya di depan presdir Kwon. Presdir Choi berlutut, “izinkan aku melakukannya. Menyelamatkan Seungyoon. Aku mohon, Jiyong-ah.” mohon presdir Choi dengan air mata yang sudah turun.


Alasan kenapa presdir Choi memintanya pada presdir Kwon karena presdir Kwon adalah pencetus Bigbang Corporation walaupun presdir Choi berperan besar dalam membangun Bigbang Corporation sampai seperti saat ini. Bigbang Corporation adalah perusahan dengan lima pemimpin di dalamnya, jika salah satu menjatuhkan diri maka tidak ada kemungkinan empat lainnya dapat bertahan.


“Hyung.” panggil presdir Kwon tak percaya.


“Akan kuberikan semua yang aku dan istriku punya untuk membangun kembali Bigbang Corporation, tapi izinkan aku melakukannya untuk putraku.” Pinta presdir Choi lemah.


“CHOI SEUNGHYUN!” bentak presdir Kwon.


“Seungyoon. anakku akan kesulitan bernapas jika dia sudah melihat debu. Dia akan ketakutan, Jiyong-ah.” tangisnya lagi.


“27 tahun dan kita masih berjuang menpertahankan semua, lalu kau ingin menghancurkannya dalam beberapa jam hanya karena gertakannya?” tanya Jiyong yang mulai menitikkan air mata.


“Tapi anakku akan berhadapan dengan maut. Bantu aku menyelematkannya.”


Baik presdir Dong, presdir Kang maupun presdir Lee tak tega mendengar suara rintihan kepedihan presdir Choi yang mereka kenal sebagai hyungnim yang biasanya terlihat tegas, kuat dan berwibawa.


* * *


“Hyung. Choi Seungyoon tidak akan apa-apa kan jika phobianya kembali?"tanya Taehyun tiba-tiba.


"Aku tidak yakin. Kalian tahu bagaimana keadaannya ketika ia kembangkan alerginya itu menjadi phobia kan? Semua dari kita sangat bekerja keras membantunya saat itu, aku bahkan merasa hari itu adalah hari terburukku sebagai Psikiater. Karena, butuh waktu lama membuat Seungyoon kembali ke kehidupan normal. Kau dan Seunghoon membantu mencairkan kekeras kepalaannya, Mino sampai harus bergadang karena hampir setiap kesempatan ia harus memakaikan alat bantu pernafasan ketika Seungyoon mulai menahan nafasnya. Semoga saja semua yang kita khawatirkan tidak terjadi." ujar Jinwoo menjelaskan.


"Tapi, kemana kita akan mulai mencarinya? Bukankah ini hanya akan membuang-buang waktu?” tanya Seunghoon.


“Tunggu! Apa kalian lihat kursi dimana Seungyoon duduk tadi? Bukankah itu kursi tua buatan Charles Boulver? Kursi itu adalah kursi antik dari tahun 1900-an dan hanya diproduksi tiga buah saja. Satu dimiliki oleh pangeran arab.” jelas Jinwoo.


“Satu dimiliki museum nasional Inggris, dan yang terakhir dimiliki oleh orang Korea. Taehyun!” lanjut Mino.


“Sedang kulacak!” sahut Taehyun. Ia mencari semua info yang berhubungan dengan kursi tua itu, baik dari info resmi maupun ilegal. Tak butuh waktu lama bagi Taehyun untuk menemukan lokasinya.


“Sukjaedong, 1 kilometer dari Namgyudong.” Sahut Taehyun.


* * *


“Aku belum mendengar jawabanmu, Choi Seunghyun.”Senyuman jahat kakek itu terkembang lagi, ia terlihat senang membuat presdir Choi menderita dengan bermain-main menggunakan Seungyoon.


“Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!” umpat presdir Choi.


“Tidak ada gunanya membuatku kesal. Lihat ini!” pamernya.


Kakek itu membuka plester mulut dan ikatan Seungyoon, lalu menampar Seungyoon setengah keras untuk membangunkannya. Nadanya meninggi saat Seungyoon tak juga bangun dan presdir Choi memintanya berhenti.


“BANGUN, CHOI SEUNGYOON!” tamparan terakhir yang dilayangkan kakek itu membuat Seungyoon merintih kesakitan di sekitar kepalanya.


“CHOI SEUNGYOON! Tutup matamu! Tutup matamu, Seungyoon-ah.” teriak presdir Choi.


Seungyoon terkejut menemukan ayahnya di layar tv, keheranannya dengan yang terjadi membuat Seungyoon mulai menyisir ruangan tempat ia berada sekarang. Tiba-tiba, Seungyoon bergetar, bahkan tubuhnya menjadi kaku tak bisa bergerak karena menemukan debu yang banyak di sekitarnya bahkan ada debu yang menempel di telapak tangannya. Seungyoon mulai terbatuk dan sulit bernapas.


Seungyoon mencoba memberikan sugesti pada dirinya, Jangan bernapas dengan hidung atau debu akan masuk memenuhi paru-paruku. Aku akan tercekik bila bernapas dengan hidung. Seungyoon mengulang itu dalam dirinya.


Seungyoon memiliki Amathophobia atau ketakutan akan debu dan fobianya ini sudah pada tahap yang cukup serius. Saat masih kecil, ia pernah terhirup pasir pantai Okinawa hingga membuatnya kesulitan bernapas dengan rasa seperti dicekik dan perih yang luar biasa. Sejak itu ia tak bisa berada di ruangan berdebu atau wilayah dengan butiran debu yang banyak dan terlihat oleh mata. Satu-satunya yang bisa Jinwoo bantu adalah menanamkan sugesti baru untuk mencegah Seungyoon membunuh dirinya dengan sugesti buruk yang ia ciptakan ketika panik.


“Akan kulakukan, Go Hyunki! Tapi keluarkan dia dari sana!! Akan kubatalkan kontrak seperti yang kau mau!!” presdir Choi memohon pada kakek yang menyekap putranya setelah melihat yang terjadi pada Seungyoon.


Wajah Seungyoon memerah, ia terjatuh dari kursi yang didudukinya lalu mulai menahan nafasnya.


"Seungyoon-ah! Andwe! Seungyoon-ah!". Tangis Presdir Choi.


-BRAK!-


Suara pintu terbuka yang ditendang Taehyun, “Eii~ sudah tua masih saja bertingkah.” Ejek Taehyun.


-DORR!-


Letusan pistol yang dipegang kakek itu mengenai lengan kiri Taehyun. Tanpa ragu Taehyun membalasnya dengan menendang tangan yang memegang senjata hingga senjata itu terlempar jauh dari tangannya, kemudian memukul kakek itu dengan sangat keras hingga pingsan.


“Dia memang hanya kakek-kakek. Dipukul sekali langsung pingsan.” remeh Taehyun yang membuat Mino tertawa kecil.


Taehyun melihat ke layar tv, “Appa-deul, everything is under control now. Jangan khawatir apalagi sampai menghancurkan perusahaan yang kalian bangun. Kami akan membawa Seungyoon ke rumah sakit sekarang. Sampai jumpa di sana.”


Mereka membawa Seungyoon keluar dari sana, namun ada kemacetan karena kecelakaan yang terjadi. Jinwoo dan Mino masih terus berusaha mematahkan sugesti Seungyoon.


“Bukankah itu ambulan? Aku akan bertanya apakah mereka tidak memiliki pasien.” Mino melihat sebuah ambulan diantara kemacetan jalan menuju Seoul. Ia turun dan berlari mendekat ke ambulan, menanyakan pada pengendara setelah menyebutkan dirinya dokter, izin diberikan. Beruntung ambulan itu baru pulang dari mengantar pasien, jadi Mino segera memberi kode pada teman-temannya untuk membawa Seungyoon ke ambulan.


Mino mulai memasangkan alat bantu pernapasan pada Seungyoon tapi saat akan mengaktifkannya, alat itu tak berfungsi bahkan mesin oksigen tak hidup. Mino sedikit panik melihat ketidakberuntungannya.


“Kenapa tidak ada yang berfungsi?” tanya Mino pada seorang perawat yang masih terkejut melihat penumpang asing dalam ambulannya.


“HEY! AKU BERTANYA!” bentak Mino.


“Eh?! Alatnya belum diperbaiki, dok-dokter.” Ucapnya ragu.


“Sial!” umpat Mino.


“Seungyoon, bertahanlah!” kuat Jinwoo yang semakin panik karena wajah Seungyoon mulai membiru. Anak itu masih terus menahan nafasnya.


“Kau punya kantung karton? Atau sesuatu yang mirip dengan itu?” Jinwoo bertanya pada perawat, Mino mencerna sesaat kemudian ikut mencari dan membongkar semua laci yang ada di ambulan.


Lagi-lagi keberuntungan tak berpihak pada mereka, Mino tak menemukan satu bendapun yang bisa membantu Seungyoon memperlancar napasnya. Jinwoo tak punya pilihan lain, ia terus memberi Seungyoon sugesti positif walaupun kekuatan sugesti Seungyoon jauh lebih besar.


Begitu tiba di rumah sakit, presdir Choi bersama keempat presdir lainnya termasuk Taehyun dan Seunghoon juga nyonya Choi dan Jiho menyambut kedatangan Seungyoon dengan perasaan yang campur aduk. Mino berlarian lebih dulu ke dalam ruang emergency, ia memeriksa semua selang oksigen. Berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, namun sayangnya tak ada yang bisa digunakan. Tidak ada yang menyadari jika semua selang oksigen telah rusak, bahkan beberapa tabung oksigen mengalami kebocoran.


Go Hyunki yang pernah dirawat di rumah sakit Ildong menjadi tersangka tunggal pengrusakan selang oksigen di rumah sakit Ildong, ia telah merencanakan ini dari awal saat melihat Seungyoon mulai berempati terhadapnya. Rekaman CCTV Go Hyunki diperlihatkan ke Mino saat ia mulai berang melihat kelalaian petugas emergency dan seluruh staff rumah sakit.


“Hyung, bantu aku. Salurkan sugesti kepadanya untuk tetap tenang. Aku harus melubangi sedikit tenggorokannya agar Seungyoon bernapas normal.” Ucap Mino yang berlarian kesana-kemari mencari alat yang bisa dipakai sambil mensterilkan tangannya. Namun, sugesti yang diberikan Jinwoo tak lagi bekerja untuk Seungyoon.


Kepanikan Jinwoo ditangkap jelas oleh Mino, “Presdir Choi. Dia butuh ayahnya, Hyung!” saran Mino. Jinwoo berlari keluar dan memanggil presdir Choi lalu masuk kembali bersama presdir Choi yang terlihat sangat khawatir pada putra bungsunya.


Tapi Presdir Choi pun mematung sebentar melihat bagaimana putranya menahan nafasnya hanya karena ia ketakutan debu masuk ke tubuhnya. Wajah Seungyoon yang membiru membuat tangannya gemetar.


"Presdir Choi!". Tegur Jinwoo. Presdir Choi menatap Jinwoo.


"Bantu kami.". Kata Jinwoo.


“Seungyoon-ah, kau dengar aku? Aku ayahmu. Kau percaya padaku kan? Ayo kita coba bernapas perlahan dengan hidung. Jangan takut, debunya sudah hilang. Aku sudah membersihkannya, bahkan pada tanganmu. Kau aman sekarang. Ayo bernapaslah seperti biasa.” presdir Choi berusaha menguatkan diri sambil membantu Seungyoon secara perlahan sampai anaknya bernapas dengan normal.


Setelah melihat Seungyoon mulai bernapas, presdir Choi berbisik pada Seungyoon, “anak pintar.”


Saat Seungyoon mencoba menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya, Seungyoon mengalami kesulitan. Napasnya benar-benar tercekat seakan ada benda besar yang menimpa dadanya. Melihat ada yang aneh, presdir Choi menatap lekat wajah anaknya.


"Seungyoon-ah!"


“Ayah. C. B. C. Huuuff.” Ucap Seungyoon terbata-bata berusaha mengucapkan kata sebelum buangan napasnya yang terakhir. Jantungnya sudah pada tahap pertahanan terakhir.


Mino sudah kembali dengan pisau bedah di tangannya saat ia kemudian menjatuhkan pisau bedah ketika melihat Seungyoon menghembuskan napas terakhirnya. Tidak mungkin. Ucap Mino dalam hati bersamaan dengan air mata yang menetes keluar dari matanya.


“Seungyoon-ah. kenapa? Bangunlah, brengsek! CHOI SEUNGYOON! BANGUNLAH!!” teriak Taehyun menarik-narik baju Seungyoon hingga jenazahnya ikut terguncang. Tangis pria paling tegar itu pecah seketika, bahkan ia tak merasakan sakitnya lengan yang tertembak.


"Hyung, jangan bercanda. Aku paling tidak suka kau bercanda seperti ini. Bangun! Ayo kita pulang, Seungyoon hyung. Aku berjanji akan memangilmu hyung dan bersikap hormat padamu. Tapi bangunlah!". Tangis seorang Kwon Taehyun yang pecah.


Bayangan kenangan pun mulai muncul...


"Ya! Tidak bisa kah kau hormati aku sedikit? Meski tahun kelahiran kita sama tapi aku tetap lebih tua darimu. Panggil aku hyung!".


"Aku tidak mau." ketusnya. Seungyoon pun terlihat kesal kala itu.


"Kalian bertiga itu tidak ada yang memiliki kharisma menjadi seorang kakak. Sebutan yang pantas untuk anak manja seperti kalian itu... Bayi raksasa!".


"YAK!!". Teriak Seunghoon, Mino dan Seungyoon bersamaan. Itu membuat Jinwoo tergelak, karena hanya Jinwoo yang dipanggil hyung oleh Taehyun. Mengingat itu membuat Taehyun semakin histeris.


Jinwoo terisak sambil memandang tubuh kaku Seungyoon yang tak lagi memiliki ruh di dalamnya, dan Seunghoon memukul tembok sambil menangis. Nyonya Choi tiba dengan dipapah Jiho, ia sudah menangis bahkan sebelum melihat jenazah Seungyoon. Ia pun terjatuh pingsan melihat tubuhnya putranya kaku.


Presdir Choi sembari menangis, berjalan dengan gontai ke ruang tunggu dan mengambil kasar remote tv lalu mengganti saluran tv menjadi CBC seperti yang disebutkan Seungyoon tadi.


“Annyeonghaseyo yeorobun, Tablo ibnida. Ah, aku sangat tegang hari ini karena aku harus menyampaikan pesan milik penyanyi kesukaanku, Choi Seungyoon.”


“Sebuah lagu darinya dijadwalkan rilis dua hari yang lalu, tapi saat kutanyakan alasannya menunda, Seungyoon-ssi bilang ingin merilis di hari yang sama dengan ulang tahun ayahnya. Karena itulah aku menjadi lebih tegang, bahkan lebih tegang dibanding saat aku merilis musikku sendiri. Hahaha. Jadi, lagu Seungyoon-ssi yang akan kutayangkan akan mengiringiku dalam membaca surat yang ditulis khusus untuk Ayahnya.” Tablo membuka acaranya dengan langsung menyebutkan tentang Seungyoon.


“Ayah dari penyanyi Seungyoon-ssi, kalau anda menonton acara ini. Anda memiliki putra yang luar biasa hebat.” Sambung Tablo.


“’Ayah, kau tahu selalu ada jarak diantara kita bukan? Karena jarak itulah aku tidak pernah bisa mengatakan semuanya di hadapanmu. Aku menyayangimu. Aku bangga mempunyai ayah yang keren sepertimu. Saat kau bilang kau tidak pernah sekalipun tidak mengkhawatirkanku, aku melompat kegirangan, kenyataan bahwa kau menyayangiku itulah yang membuatku terlalu girang. Aku berjanji, tidak akan pernah menyesal telah menjadi bagian keluarga Choi. Seperti katamu, meski aku matipun nama keluargaku tetap Choi. Maaf, dan Selamat ulang tahun, ayahku. Saranghaeyo.’” Tablo membacakan surat dari Seungyoon untuk presdir Choi.


Lagu baru yang dibuat Seungyoon diputar penuh begitu Tablo selesai membaca surat dari Seungyoon. Sebuah lagu dengan genre ballad ini dibuat Seungyoon dengan judul ‘I Will Write A Letter’. Presdir Choi terhuyung ke lantai mendengarkan setiap lirik yang Seungyoon nyanyikan.


Ia menangis. Terisak. Tersedu. Histeris.


Penyesalan pun muncul, seandainya ia tak mengulur waktu dan membuat Go Hyunki –kakek yang menyekap Seungyoon kesal, mungkin sekarang ia tengah menikmati lagu itu bersama seluruh anggota keluarganya. Penyesalan yang sama juga dirasakan oleh keempat sahabat Seungyoon. Jika saja mereka lebih cepat bergerak, Seungyoon takkan hanya jasad yang dingin dan kaku seperti sekarang.


Penyesalan juga menyergap presdir Kwon. Ia terus berpikir bagaimana ia akan menebus rasa bersalahnya pada presdir Choi karena ia tak memberikan dukungan kepada presdir Choi untuk membatalkan kontrak dengan J Royal Corporation.


Dan penyesalan memang selalu datang terlambat. Meski semua akan baik-baik saja di masa depan, tapi penyesalan tetaplah penyesalan yang selalu menjadi duri dalam daging.


* * *


Kiss Note


Ingatkah kalian?


27 tahun yang lalu.


Saat Jang Sohee sedang berada di ambang maut karena tubuhnya yang dililit sebuah bom oleh Jang Jihyun, ibunya Choi Jiho, saudaranya sendiri.


Saat itu kalian bertanya padaku kabel mana yang harus dipotong untuk menyelamatkannya. Kuberikan jawaban kabel biru akan menyelamatkannya.


Memang Seungri yang menanyakannya padaku, tapi Seunghyunlah yang menggunakan jawabanku dan kematian Seungyoon adalah bayaran yang harus dibayarnya karena aku telah menyelamatkan ibunya 27 tahun yang lalu.


Seperti itulah kehidupan putra-putri kalian jika tetap dibiarkan bersahabat. Keadaan itu juga yang menjadi dasar dari awal aku mengatakan kalian untuk melarang anak kalian bersahabat, agar nasib buruk ini tidak menimpa salah satunya.