KISS NOTE

KISS NOTE
TIGA BELAS : Bagian Pertama



Seungyoon sudah menceritakan apa yang diceritakan presdir Choi kepada teman-temannya, tapi Mino masih menyimpan pertanyaan yang ditanyakannya pada Kiss Note mengenai obat untuk Ataxia dimana itu menjadi pertanyaan yang mustahil.


Sekarang ia sudah berada di depan pintu ruangan yang di dalamnya ada orang-orang yang akan mencari bunga anggrek seperti yang diberitahukan Kiss Note kepadanya. Wajahnya terlihat serius memikirkan jalan yang ditempuhnya sekarang demi Aeri, meski Seungyoon sudah memperingatkan untuk tidak menerima bantuan apapun dari Kiss Note. Sekarang dibanding dengan peringatan Seungyoon, ia lebih memprioritaskan Aeri.


Mino memegang gagang pintu dan membukanya, di dalam ia disambut oleh sekretaris Han –orang yang menghubungi Mino, “Profesor,” sapa sekretaris Han.


“Gentlement, this is professor Dong Mino, the owner of the mission you will do.” Kenal sekretaris Han. Orang-orang yang tadinya berdiri membelakangi Mino mulai berbalik dan menatapnya.


“Profesor, mereka adalah orang-orang yang akan melakukan misi ini. Dia Mark dari mississipi,” Sekretaris Han menunjuk pria berkulit putih nan kekar yang berada di ujung kiri Mino.


“Dia Takeshi dari Jepang. Dia Blues dari Mexico dan yang di ujung kanan anda adalah Joe Taslim dari Indoneisa.” Sambung sekretaris Han.


Mendengar asal dari Joe Taslim, Mino berjalan menghampirinya, “Are you sure, you know Borneo very well?” selidik Mino.


“I was born there and also have some good friends there, especially people near Mandarang river.” Jawab Joe Taslim percaya diri.


“Okay, you can flight tomorrow, I’ve prepared all you need for the mission. All. You just need to search the flower and bring it to me. It will more good if you bring with the root too, I’ll pay more for it.” Mino menatap mereka sembari menaruh harapan agar misi ini berhasil sebelum waktu habis.


“The flower only bloom for three days, stick my words in your head.” Mino memberikan peringatan.


“Oh, you are not going with us?” tanya seseorang yang bernama Blues.


“No, I have much to do here,” Jawab Mino.


“Never try to bring the flower to other. I will find and kill you for sure.” Ancam Mino.


“How about the payment?” pria dari Jepang menyela.


“When the flower arrive in my hand, I’ll pay you as much as you want, just say the nominal and I’ll transfer it to your bank account. And for your information, I already transfer five hundread thousands dollar as downpayment.” Mino berbalik dan keluar dari ruangan bak seorang bos besar dan meninggalkan decakan kagum pada tim itu.


* * *


Beberapa hari sebelumnya


Jinwoo membuat janji dengan presdir Kang dan istrinya sebagai dokter Seunghi dengan tidak memasukkan Seunghoon dalam janji pertemuan itu.


Presdir Kang dan istrinya tiba di ruangan Jinwoo yang langsung dipersilakan Jinwoo untuk duduk. Seorang perawat datang membawakan dua cangkir teh lavender untuk tamu Jinwoo. Presdir Kang menunjukkan raut wajah bersalah, begitupun istrinya. Jinwoo memahami perasaan mereka karena itulah ia memberikan teh lavender untuk menenangkan pikiran dan mengurangi kecemasan keduanya.


Setelah memastikan presdir Kang dan istrinya mulai rileks, perlahan Jinwoo menarik napas sambil tetap menatap mereka, “kalian baik-baik saja?”


“Seharusnya kau tidak perlu bertanya.” Jawab presdir Kang.


“Sudah menjadi pekerjaan seorang psikiater bertanya seperti ‘ada apa? kenapa begitu? kau baik-baik saja? bagaimana perasaanmu?’ semacam itulah, Presdir Kang.” Tanggap Jinwoo dengan mengukirkan senyuman khasnya.


“Jangan dengarkan dia. Kau bisa bertanya padaku, Jinwoo.” Ujar Kang Jiyoung, ibu dari Seunghoon dan Seunghi yang disambut dengan senyuman dari Jinwoo.


“Aku meminta waktu kalian untuk bertemu karena kurasa kalian lebih berhak mengetahui kondisi Seunghi saat ini walaupun presdir Choi mengambil penuh tanggung jawab ini,” buka Jinwoo yang mulai mendapatkan perhatian sepasang suami istri itu.


“Kupikir Expressive Writing akan lebih efisien untuk Seunghi menjalani terapinya tapi tak begitu berhasil. Aku ingat dia sempat kuliah di jurusan desain, jadi aku mengubah dari Expressive Writing menjadi Expressive Drawing agar dia lebih bebas berekspresi. Ternyata benar, Seunghi menggambar beberapa gambar yang sepertinya mewakilinya bercerita kepadaku.”Jinwoo menyerahkan sebuah kliping dokumen kepada presdir Kang dan istrinya setelah menjelaskan apa yang didapatnya selama perawatan Seunghi.


Kang Jiyoung –istri presdir Kang menerima kliping dokumen yang diberikan Jinwoo. Tangannya meraba gambar pertama yang dilihatnya, “itu adalah gambar tempat makan yang sama dengan yang kulihat di dalam ruangan Seunghi di rumah kalian.”


“Tapi Seunghi menggambar sangat berbeda dari yang kulihat di ruangan waktu itu. Tempat makan itu terlihat rapi dengan makanan yang tertata di atasnya, seperti nyata dan berbeda dari aslinya yang berantakan. Hal itu memiliki arti, apa kalian tahu artinya?” penjelasan Jinwoo membuat mata nyonya Kang berkaca. Dengan perlahan, nyonya Kang menggeleng tidak tahu sementara presdir Kang hanya diam.


“Melalui gambar itu, Seunghi berkata ‘ibu, masakanmu begitu enak. Meski ditaruh di tempat yang membuatku menangis, tapi tak mengubah rasanya.’” Jinwoo menyebutkan pesan dari gambar yang dibuat Seunghi. Nyonya Kang tak bisa menahan laju air matanya yang semakin memenuhi pelupuk matanya, isak tangisnya pecah seiring perasaan yang selama ini ditahan kepada Seunghi.


Jinwoo menunjuk gambar yang ada di sisi kanan kliping, “gambar setelan tuxedo ini adalah gambar yang ditujukan Seunghi untuk anda.” Lanjut Jinwoo.


“’Ayah, kau menjadi sangat tampan dan gagah jika memakai pakaian yang kubuat khusus untukmu.’” Jinwoo memberikan pesan dibalik gambar yang dibuat Seunghi. Pesan itu membuat presdir Kang kehilangan tenaganya dan mencoba menyembunyikan kesedihannya.


Nyonya Kang membalikkan lembar kliping sembari menangis, hingga ia menemukan sebuah gambar yang membuat hatinya semakin terenyuh. Jinwoo melihat tangan nyonya Kang yang berhenti pada sebuah gambar, ia menarik napas cukup dalam.


“Seunghi menggambar itu dua hari yang lalu, aku menduganya sebagai potret keluarga kalian. Presdir Kang, bibi Jiyoung, Seunghoon dan dirinya. Pesan yang kutangkap dari gambar ini adalah pada akhirnya kalian akan bersama seperti dulu. Tak peduli berapa lama waktu yang Seunghi butuhkan untuk anda, presdir Kang, menerimanya kembali, ia akan tetap menunggu dan yakin suatu hari anda akan memeluknya dan berkata ‘putriku’.” Jelas Jinwoo yang membuat kesedihan presdir Kang pecah.


Bukan hanya terisak, presdir Kang menangis pilu karena rasa bersalah yang sangat besar pada Seunghi. Ia menunduk untuk menyembunyikan wajah menangisnya dari nyonya Kang dan Jinwoo, presdir Kang bahkan memukul dadanya yang terasa menyesakkan. Jinwoo tak berencana menenangkannya, karena satu-satunya cara agar perasaan presdir Kang lepas adalah dengan membiarkannya menangis.


* * *


Memaafkan jauh lebih sulit dari meminta maaf. Jika kau mampu memaafkan kesalahan orang yang menyakitimu, yakinlah dirimu sudah menjadi pribadi yang lebih baik. Jadilah pribadi yang pemaaf agar hidupmu menjadi lebih baik lagi.


– Lee Jinwoo –