
Kematian Aeri merupakan pukulan terbesar untuk Mino. Seberapa keras pun Mino mencoba, kenyataan bahwa Aeri telah tiada, tidak pernah masuk akal baginya.
“Sebelum Aeri tak bisa bicara, ia merekam ini untukmu.” Sebuah recorder diberikan oleh nyonya Jung –ibu dari Aeri kepada Mino yang langsung diterimanya.
Mino memandang recorder yang ada di tangannya, membawanya menemui para sahabatnya yang sedang berada di ruang duka, “temani aku mendengarkan ini."
Mereka sudah berada di ruang kerja Mino. Menanti Mino untuk memutar recorder, namun pria itu masih ragu apakah ia siap mendengar suara wanita yang dicintainya saat ini atau tidak? pada akhirnya, Mino menekan tombol play dengan jantung yang berdegup tak beraturan.
“Oppa.” sapa suara yang ada dalam rekaman yang merupakan suara Aeri.
“Jika kau mendengar ini, artinya aku sudah tak lagi berada di sampingmu. Aahh.” sambungnya.
Mino menarik napas dan menahannya untuk beberapa saat, kerinduan dengan mudah menguasainya. Mino menundukkan kepala untuk membiarkan suara Aeri menguasai dirinya.
“Aku sadar dan sangat mengerti bagaimana posisi dan keadaanku, oppa. Aku sangat berterima kasih dan bersyukur kau masih tetap mencintaiku hingga saat ini, dan aku sangat menyesal kau harus berjuang seorang diri untuk menyembuhkanku. Jika saja aku punya kekuatan untuk mengatakannya langsung padamu, mungkin akan jauh lebih baik, tapi aku tahu kau tidak akan mendengarkan kata-kataku tentang ini.” Lanjut Aeri.
Jinwoo yang duduk bersebelahan dengan Mino, menepuk pundak pria itu pelan untuk memberinya kekuatan.
“Semua belum berakhir, Oppa. Aku masih akan hidup dengan para pasien yang memiliki hal yang sama denganku, Ataxia. Jadi, jangan menyerah, Oppa. berjanjilah kau akan berjuang membuat obat untuk mereka. dengan begitu, cinta kita masih tetap bisa kau kenang meski aku tak lagi ada di dekatmu.” Suara Aeri terdengar berat karena ia mulai terisak.
“Kau tahu aku juga sangat mencintaimu, kan? Jadi, jangan tangisi kepergianku, Oppa. aku mohon. Jangan larut dalam kesedihan ini. Aku tidak bisa melihatmu menangis, karena aku yakin kau terlihat jelek saat menangis.”
Aeri terdengar menarik napas, “Aku mencintaimu, Dong Mino.” Gadis itu mencoba terdengar ceria untuk menutup pesan terakhir untuk kekasihnya.
Air mata Mino kembali tumpah, ia menangis di depan para sahabatnya dengan memegang dada yang terasa sesak baginya karena kesedihan yang tak berkesudahan. Mino menangis lebih lama, Jinwoo yakin Mino melakukannya untuk menguras semua kesedihan.
Benar saja keyakinan Jinwoo. Saat pemakaman Aeri dilakukan, Mino tak lagi menangis seperti dua hari yang lalu. Ia hanya memandang kosong ke foto Aeri. Mino ingin memenuhi keinginan kekasih hatinya untuk tidak menangis setelah ini.
Satu persatu para pelayat mulai meninggalkan tempat peristirahatan Aeri, “Kalian duluan saja, aku masih ingin di sini sebentar lagi.” Mino menatap keempat sahabatnya, meminta pengertian mereka.
Saat yang lain meninggalkan Mino, Seungyoon tidak benar-benar meninggalkan Mino. Ia bersembunyi untuk tetap memperhatikan Mino dari jauh karena rasa khawatir jika Mino melakukan sesuatu yang tidak diharapkannya.
Mino beranjak dari tempatnya dan mulai berpindah ke tempat yang memiliki kenangan antara dirinya dan Aeri. Berjalan menyusuri tempat yang penuh kenangan membuat Mino banyak menghela napas. Masih sulit baginya menerima kenyataan Aeri tak lagi bersamanya.
Mino duduk di sebuah kursi panjang menatap langit yang mulai jingga, kemudian ia merasakan sesuatu menyentuh punggung tangannya dengan lembut dan dingin. Sore ini, salju pertama turun di Seoul. Mino menengadahkan kepalanya untuk melihat langit dengan butiran salju yang turun.
“Apa kau sekarang kau melihat salju pertama turun? Tidakkah kau ingin bersamaku saat ini untuk menikmati salju yang turun?” bisik Mino kepada langit dimana ia percaya Aeri berada tepat di sana.
Mino kembali menatap ke depan, tangannya tak lagi terbuka untuk menangkap salju, “Keluarlah, Choi Seungyoon. Aku tahu kau mengikutiku.” Ucap Mino tanpa mengalihkan pandangannya.
Seungyoon yang ketahuan, menelan kasar salivanya. Ia tak keluar agar Mino merasa salah mengira.
“Kau tidak mau keluar?” tanya Mino.
Seungyoon mendengus, ia keluar dan berjalan mendekat ke tempat Mino yang kini sudah berdiri menunggu kedatangannya. Saat Seungyoon tiba di depan Mino, sebuah pukulan ringan mendarat di kepala Seungyoon membuat pria itu meringis sambil mengusap kepalanya.
“Harusnya kau keluar sejak tadi bukannya menguntitku seperti kekasih yang posesif.” Omel Mino.
“Maaf.” Jawab Seungyoon yang cemberut.
“Biasanya kau ahli dalam mencampuri urusan orang lain termasuk urusanku.” Sindir Mino yang malah membuat Seungyoon menghela panjang dan menundukkan kepalanya.
Mino menunggu Seungyoon untuk menanggapi sindirannya namun pria itu hanya tertunduk diam. Mino merunduk untuk menemukan wajah Seungyoon yang menyembunyikan rasa bersalahnya pada Mino.
“Eii~ ini bukan salahmu.” Mino menepuk pundak Seungyoon.
Seungyoon langsung mengangkat kepalanya, “Hyung.”
“Memang masih sulit kuterima, tapi itu terjadi karena kesalahanku sendiri. Keserakahanku yang ingin bersama Aeri selamanya membuatku nekat bertanya pertanyaan dengan resiko yang sangat besar. Jadi, jangan sulitkan dirimu dengan merasa bersalah seperti ini. Aku akan melakukan tantanganmu itu, hanya dengan satu orang kan? Aku hanya perlu berkencan dengan satu orang saja kan?” tanya Mino dengan tersenyum tipis.
“Hyung!!” seru Seungyoon yang terkejut mendengar pertanyaan Mino.
“Kenapa? Aku hanya tidak ingin kesialan sekecil apapun dialami orang-orang di sekitarku hanya karena aku tak memenuhi tantangan yang tertulis di Kiss Note itu. Ini adalah permainan kita, kenapa harus orang lain yang menerima akibatnya?” jelas Mino.
“HYUNG!” teriak Seungyoon dengan wajah sumringah lalu memeluk Mino.
Sontak Mino langsung mendorong tubuh Seungyoon dan mengambil jarak, “YA! aiisshh!”
"Aku mencintaimu, hyung."
“Aku tidak! Aku mencintai, Jung Aeri.” Ucap Mino sembari menatap langit.
Seungyoon menatap harap pada Mino, namun Mino langsung berjalan menuju parkiran mobil, “Hanya kencan sekali bukan berarti aku akan mengencani wanita lain dengan cepat.” Ucapnya.
Menaiki mobil yang berbeda, keduanya sampai di villa, rumah yang selalu mereka gunakan untuk berkumpul. Keduanya masuk ke dalam dan kedatangan keduanya sudah ditunggu oleh Seunghoon, Jinwoo dan Taehyun.
“Kalian sudah tidak apa-apa?” tanya Jinwoo begitu Mino dan Seungyoon tiba.
“Eh? Memangnya kami kenapa?” tanya Mino kepada Seungyoon yang langsung dijawab Seungyoon dengan mengangkat bahu sambil tersenyum. Melihat itu, tiga orang yang tadinya berwajah khawatir mulai terdengar menghela napas lega lalu kembali pada kegiatan mereka sebelumnya.
“Oppa!” suara Seunghi menggema di koridor, membuat yang lain memasang telinga dan menebak pemilik suara itu adalah adik Seunghoon.
Seunghi masuk ke dalam ruang utama dan terkejut melihat ada Jinwoo dan Seunghoon di tempat yang sama. Jinwoo yang menangkap keterkejutan Seunghi segera memberi kode pada Seunghi untuk datang lebih dulu ke Seunghoon. Gadis muda itupun merentangkan kedua tangannya dan berjalan untuk memeluk Seunghoon.
“Cih, tidak perlu berpura-pura mengalah padaku.” keluh Seunghoon.
“Begitu?” Jinwoo tersenyum lalu menarik tangan Seunghi yang masih memeluk Seunghoon hingga badan gadis itu berputar dan dengan manis Jinwoo menangkap pinggang Seunghi lalu memeluk kekasihnya di depan teman-teman termasuk di depan Seunghoon yang membuatnya menggeleng-gelengkan kepala dan menunjukkan ekspresi ‘ya ampun’ atas sikap Jinwoo.
Mino dan Seungyoon terkejut melihat Jinwoo yang biasanya kalem menjadi agresif kepada Seunghi, “Ho~ Aku tahu Jinwoo hyung memiliki sisi ini. Yeoksi, si pengendali emosi! Dia menutupinya terlalu lama.” Seru Seungyoon.
“Kau benar-benar lelaki sejati, hyung. Tidak takut mati di depan kakak kekasihmu.” Timpal Mino.
Taehyun tersenyum melihat keadaan yang terjadi di depannya. Jinwoo tersenyum bangga, jelas ia sedang memamerkan hal yang pertama terjadi dalam hidupnya. Jatuh cinta.
* * *
Sedangkan Seunghoon, ia selalu sibuk dengan goal-goal perusahaan dan kini ia menambah kesibukannya dengan mengisi waktu yang hilang bersama Seunghi. Lain lagi dengan Jinwoo yang hari-harinya diisi dengan visit ke ruangan perawatan pasien-pasiennya dan menerima konsultasi di sela kesibukannya. Sementara Seungyoon, dalam penantian lagunya rilis malam ini. sebuah lagu yang ia produksi khusus untuk ayahnya.
Selagi menunggu, Seungyoon menyempatkan diri untuk bertemu kakek Go yang baru-baru ini keluar dari rumah sakit. Kakek Go adalah seorang penjual sayur yang tak sengaja mengalami insiden dimana Seungyoon terlibat dalam insiden itu, karena itulah Seungyoon merasa ia bertanggung jawab atas semua tindakan medis kakek Go. Mereka berjanji untuk bertemu di dekat rumah sakit.
“Seungyoon-ah!” panggil kakek Go yang datang tergopoh-gopoh sambil membawa bungkusan di tangannya.
“Oh! Pelan-pelan saja, kek.” Seungyoon meraih lengan kakek Go lalu memapahnya masuk ke dalam sebuah café untuk menghangatkan diri lebih dulu.
“Harusnya kau hanya perlu menuliskan alamatmu lalu aku akan ke sana. Kakimu masih tidak boleh banyak bergerak dan udara musim dingin benar-benar tak mengenal umur.” Seungyoon sedikit mengomel kepada kakek Go tapi kemudian ia tersenyum dengan lembut.
“Tidak apa. Aku tidak apa-apa. Ayo kita pergi.” jawab kakek Go.
Seungyoon telah sampai di rumah kakek Go, perjalanan tiga jam membawanya ke kota kecil dengan pemandangan yang masih asri. Kakek Go membawa Seungyoon melihat kebun yang ada di belakang rumahnya, membuatnya berpikir bahwa kakek Go menjual hasil kebunnya sendiri.
Di tempat lain, Mino mendapat panggilan telepon dari presdir Choi yang menanyakan keberadaan Seungyoon saat sedang melakukan penelitian yang kesepuluh sejak ia memulai penelitian sebulan yang lalu. Bunga yang tadinya dibawa untuk mengobati Aeri pada akhirnya ia teliti untuk membuat obat bagi penderita Ataxia, seperti pesan Aeri.
“Seungyoon? Aku juga mencarinya dua hari ini, presdir.” Jawab Mino terkejut.
“Dia tidak mengatakannya padamu kemana dia akan pergi? atau dengan siapa?” tanya presdir Choi kembali.
“Tidak.” jawab Mino singkat. Tentu saja Mino tidak tahu siapa yang mungkin Seungyoon temui di luar sana.
Tidak bisa menghubungi Seungyoon, tidak tahu siapa teman-teman Seungyoon selain keempat chaebol itu, dan tidak ada yang mereka curigai membuat semua mengambil langkah yang sama, melakukan pencarian dan penyisiran tempat yang mungkin Seungyoon datangi.
Di kediaman kakek Go, Seungyoon memeriksa ponselnya dan baru sadar batre ponselnya telah habis, “kakek, aku lupa membawa charger ponsel, apa kau tidak punya ponsel yang bisa kupakai?” tanya Seungyoon sopan, dan kakek Go hanya menggeleng sambil tersenyum.
“Begitu. Aku lupa menghubungi keluarga dan teman-temanku.” Ucapnya kecil sambil melihat-lihat ponselnya.
* * *
“Seungyoon tidak ada dimanapun, presdir.” Jinwoo dan ketiga temannya berada di rumah Seungyoon, bertemu dengan presdir Choi untuk membicarakan tentang hilangnya Seungyoon.
“Presdir, ada panggilan video di line pribadi.” Sekretaris Hong langsung menyalakan tv untuk menyambungkan dengan panggilan di line pribadi. Seorang kakek muncul di layar tv.
“Apa kau ingat denganku, Choi Seunghyun?” tanya kakek yang membuat presdir berpikir dengan keras siapa pria tua yang menghubunginya ini.
“Kau pasti tidak ingat. Sudah 27 tahun berlalu, tapi kau pasti tahu siapa yang ada di belakangku?” lanjutnya sambil menggeser tubuhnya agar kamera bisa menangkap tubuh yang familiar untuk mereka.
“CHOI SEUNGYOON!”
* * *
Beberapa jam sebelumnya. . .
Saat Seungyoon tengah melihat-lihat ponselnya, kakek Go mendekati Seungyoon dengan sapu tangan yang ada di tangannya bersiap membekap Seungyoon. Dengan mudah, Seungyoon pingsan karena bius yang diberikan kakek Go, “anak bodoh.”
Seungyoon dipindahkan ke sebuah rumah tua yang berada di pelosok. Kakek Go langsung mengikat tangan dan kaki Seungyoon untuk memastikan dirinya aman bila Seungyoon tiba-tiba terbangun. Sebelum memindahkan Seungyoon, ia membersihkan jejak Seungyoon di rumah itu. Kakek Go sudah merencanakannya selama 27 tahun jadi ia yakin, jikapun Seungyoon mati hari ini, tidak ada yang bisa melacak keberadaan kakek Go.
* * *
Presdir Lee, presdir Kang, presdir Kwon dan presdir Dong turut hadir setelah mendapat pesan dari anak-anak mereka untuk datang. Kini kelima presdir itu bersama anak-anak mereka memperhatikan wajah kakek itu, ruangan yang mereka pakai termasuk keadaan Seungyoon sebelum akhirnya kakek itu memutus panggilan video mereka.
“Go Hyunki.” Bisik presdir Lee membuat yang lain terkejut.
“Siapa kau bilang?” tanya presdir Choi.
“Ketua Go Hyunki dari grup Go.” Jawab presdir Lee yakin.
“Jangan-jangan...” tebak presdir Kang.
“Benar! Dia adalah ayah dari direktur Go Hyunjung yang bunuh diri setelah kalah dalam lelang proyek J Royal Corporation. sua puluh tujuh tahun lalu.” Sambung presdir Lee.
“Kudengar, perusahaannya bangkrut tanpa sisa setelah sahamnya merosot tajam. Investor menarik kembali uang mereka dan pada akhirnya grup Go terlilit hutang. Meski hutang dibayar lunas tapi tidak ada yang tersisa. Ketua Go jatuh miskin dengan penderitaan yang tak terkira karena anaknya memilih bunuh diri.” Cerita presdir Lee lagi.
Panggilan video kembali tersambung, “Kau sudah ingat aku?” tanyanya yang mendapati wajah presdir Choi terlihat stress.
“Apa maumu?” tanya presdir Choi kemudian dengan nada yang dingin.
“Pembatalan sepihak atas kontrak kerjasama kalian dengan J Royal Corporation!” kakek itu memberikan senyum yang mengerikan saat menyatakan keinginannya.
“Apa kau gila? Kontrak kerjasama itu sudah berjalan 20 tahun lebih, apa kau pikir mungkin membatalkannya?” nada bicara presdir Choi meninggi setelah mendengar tuntutan sang kakek.
“Apa kau pikir kematian anakmu bukan suatu hal yang tidak mungkin?” balas si kakek.
Kegeramanan dari setiap orang yang ada di ruang kerja presdir Choi menguap bersamaan membuat suasana menjadi tegang.
“Aku ingin tahu berapa harga nyawa anakmu? Semua harus sepadan Choi Seunghyun. Hancurkan Bigbang Corporation atau kau akan melihat mayat anakmu dalam beberapa jam lagi. Waktumu satu jam dari saat aku memutus sambungan ini. Aku akan memberikan kejutan lain untukmu.” Kemudian sambungan pribadi terputus.
J Royal Corporation adalah sekutu terbaik Bigbang Corporation. Perusahaan ini adalah pemain lama dalam dunia bisnis, tidak akan menguntungkan mencari masalah dengan perusahaan besar seperti mereka. satu pertiga saham dari seluruh aset Bigbang Corporation, jika kontrak kerjasama dihentikan sepihak oleh mereka maka tak ada bedanya dengan mereka menggali kuburan mereka sendiri.
Memilih antara Bigbang Corporation dan Seungyoon sangat mudah dilakukan presdir Choi jika Bigbang Corporation adalah miliknyapribadi. Ia tak kan berpikir dua atau bahkan berkali-kali jika semua adalah miliknya, yang membuat keputusan ini berat adalah ada empat orang lainnya yang juga berhak membuat keputusan untuk Bigbang Corporation. Karena Bigbang Corporation dimiliki oleh lima group dan memiliki lima Presdir.
* * *
“Kami akan mencarinya lagi, presdir. Ayo teman-teman!” ajak Mino kepada teman-temannya. Mereka berempat pergi dengan tujuan yang belum ditentukan.
“Kenapa Seungyoon tidak berkutik? Pria tua itu hanya seorang kakek-kakek, bukankah lawannya sangat mudah?” Seunghoon mendumel didalam mobil.
“Tidak, jika kakek itu tahu bahwa Seungyoon memiliki...” Mino menggantung kalimatnya.
“… Amathophobia!” sambung Taehyun.
“SIAL!” umpat Seunghoon.