KISS NOTE

KISS NOTE
TUJUH BELAS : Bagian Kedua



“Kenapa kalian berbondong-bondong datang ke sini? Aku sudah baik-baik saja.” protes presdir Kwon melihat keempat sahabatnya berada di teras samping rumahnya.


“Kami tidak ke sini untuk menjengukmu saja, kami datang karena ingin minum wine bersamamu.” bantah presdir Lee sambil mengeluarkan sebotol wine dari tas kotak yang dibawanya tadi.


“Haha, kau tidak akan meminumnya karena aku tidak bisa ikut minum.” Balas presdir Kwon.


“Justru itu bagian yang paling menyenangkan, hyung. Aku bisa menggodamu dengan wine yang kami minum nanti.” Ledek presdir Lee tak mau kalah.


“Kau baik-baik saja?” tanya presdir Dong kemudian.


Presdir Kwon menatap remeh ke presdir Dong, “aku yang seharusnya bertanya lebih dulu, yang punya ginjal satu kan kau, Youngbae.” Presdir Dong hanya tersenyum mendengar protes dari presdir Kwon.


“Kenapa kau melakukan itu?” tanya presdir Kwon tiba-tiba.


“Entahlah. Begitu tahu ginjal kita cocok, aku ingin melakukannya.” jawab presdir Dong santai. Presdir Kwon pun tertawa kecil tak percaya seorang Dong Youngbae bisa berkata non-sense seperti itu.


“Aku hanya ingin menunjukkannya padamu,” sahut presdir Dong yang mengambil spot karena berhasil membuat semua sahabatnya menoleh ke arahnya.


“Daesung lebih memilih menyiksa anaknya demi melindungi kita. Kau memilih bungkam agar kami tidak khawatir. Lalu aku memilih ini sebagai caraku bersahabat dengan kalian. Memberikan apa yang dibutuhkan sahabat ketika aku mempunyainya, bukan memberikan apa yang kalian inginkan.” Jelas presdir Dong yang membuat teman-teman hidupnya tersenyum bangga dan merasakan sesuatu yang lama tak mereka rasakan.


“Haaa. Aku benci ketika kau terlihat lebih keren dariku.” keluh presdir Kwon kepada presdir Dong yang tersenyum.


“Dimana anak-anak?” tanya presdir Choi kemudian. Ia selalu mengkhawatirkan anak bungsunya itu.


“Aku rasa mereka sudah tiba di New York sekarang. Begitu tahu keadaan Jiyong dan Youngbae semakin membaik, mereka memutuskan untuk mengambil libur.” Jelas presdir Kang.


“Kiss Note bersama mereka?” tanya presdir Choi kembali.


“Sepertinya begitu.” jawab presdir Lee.


Senyum mereka seketika sirna setelah tahu Kiss Note dimana.


* * *


New York.


Taehyun, Mino, Seunghoon, Jinwoo dan Seungyoon sengaja mengajak Seunghi dan Eunsoo dalam liburan mereka kali ini, meski awalnya Mino tidak mengizinkan Eunsoo untuk ikut karena kondisi kandungannya yang lemah dan usianya yang muda, tapi Taehyun mengucapkan sesuatu yang akhirnya membuat Mino menyetujui ide Taehyun.


“Tidak akan terjadi sesuatu yang buruk padanya. Pertama karena ada aku, kedua karena dokter pribadinya ikut juga.”Ucap Taehun beberapa hari yang lalu pada Mino.


Mino bingung karena setau dirinya, tak ada dokter yang ikut selain dirinya.


“Siapa?” tanya Mino polos.


“Kau!” jawab Taehyun enteng.


“Haha.Aaiissh.” Kesal Mino.


* * *


“Kenapa kalian lama sekali? Kami sudah hampir mati karena menunggu untuk makan siang.” Protes Mino.


“Apa saja yang kalian beli?” tanya Jinwoo sambil melindungi kepalanya dari terik matahari menggunakan Kiss Note. Seunghi dan Eunsoo langsung menunjukkan barang belanjaan mereka di atas meja dan berhasil membuat para pria yang ada di sana menggeleng ngeri.


“Kenapa tidak sekalian saja beli tokonya?” celetuk Seunghoon yang membuat kedua wanita muda itu tertawa kecil.


“Berikan padaku! Aku akan menyimpannya. Haeehh, harusnya kau membawa supir untuk membawa semua barang ini. Sudah kubilang jangan terlalu lelah, kan?” omel Taehyun melihat barang yang dibawa Eunsoo banyak.


“Eh? Kau siapa? Apa kau benar, Kwon Taehyun?” ledek Mino.


“Entahlah, hahaha. Aku sama terkejutnya denganmu.” Sahut Seungyoon.


“Diam kalian!” bentak Taehyun yang justru membuat teman-temannya tertawa.


Mereka terlihat lebih menikmati liburan kali ini, menjauh dari kepenatan yang berasal dari kekhawatiran para ayah mereka yang berlebihan. Satu minggu jauh dari para ayah, hidup mereka terasa lebih baik, tidak ada hal buruk atau mencekam yang terjadi seperti yang selalu dikhawatirkan para ayah itu. Biar terlihat santai, mereka tak selengah yang dikira. Masing-masing dari mereka mengingat pesan yang diberikan presdir Choi sebelum mereka pergi.


Taehyun menikmati waktunya berdua dengan Eunsoo. Tak pernah menyangka ia akan sangat menikmati berkencan dengan satu wanita saja seperti saat ini, ia berkencan dengan Eunsoo. Ketidakbiasaan ini masih sering membuatnya tersenyum jika sedang mengingat-ingat masa lalu.


Aku bahagia dengannya, pikir Taehyun.


Seunghi mengajak Seunghoon berkencan ke Universal Studio, tentu saja kencan antara kakak dan adik. Apalagi lima tahun terakhir mereka tidak pernah menghabiskan waktu berdua seperti saat ini. Ini juga merupakan hadiah yang harus dibayar Seunghoon karena Seunghi berani melakukan press conference terkait kepulangannya dari Sidney. Bukan hanya sekedar ke Universal Studio, Seunghoon bahkan menjanjikan untuk naik wahana paling mengerikan di Universal Studio. Roller Coaster.


Seunghoon tak bisa menjawab atau menyangkal jika berhubungan dengan wahana itu. Dia akan segera bergidik ngeri mendengar namanya saja, tapi karena ini sebuah janji, tidak bisa untuk diingkarinya. Seunghi tertawa puas karena hal ini.


Pertama. Saat baru akan naik, Seunghi sampai harus menariknya dengan kuat karena Seunghoon terus menggelengkan kepala.


Kedua. Saat wahana berlangsung, Seunghoon tak berhenti memanggil ‘ibu’ dalam bahasa korea.


Yang terakhir. Saat turun dari wahana, wajahnya membiru seperti orang yang terkena serangan jantung.


Menyebalkan memang bagi seseorang yang memiliki ketakutan pada wahana yang menyeramkan seperti itu, tapi asal bisa melihat tawa lepas dari Seunghi maka ia tak masalah jika harus dikerjai adiknya.


Seungyoon dan Jinwoo pergi keluar mencari restoran yang belum mereka kunjungi tapi memiliki makanan yang enak. Kedua orang ini memiliki chemistry yang sangat baik bila berhubungan dengan makanan. Mereka takkan segan memuji dengan menggunakan bahasa inggris jika memang makanannya terasa lezat, dan sepakat mengoceh dalam bahasa korea jika makanan yang dipesan tidak sesuai ekspektasi mereka untuk menghindari konflik dengan juru masak restoran yang mereka mampiri.


Bagaimana dengan Mino?


“Hyung, Mino berada di hotel terus dan terus. Menurutmu apa yang dilakukannya di sana?” tanya Seungyoon sambil melihat setiap baris nama menu yang tertera, ia sedikit pemilih.


“Saat tiba, ia membuka kopernya dengan hati-hati tapi jelas yang ada di sisi atas adalah dvd drama yang itu-itu saja. Jadi kurasa dia sedang menonton itu.” jawab Jinwoo enteng.


“Seolma… Descendant Of The Sun?” tebak Seungyoon yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Jinwoo.


“Astaga! dia sudah menontonnya sejak dvd itu ditemukan di ruang kerja ayahnya setahun yang lalu. Bahkan putera kedua tokoh utama yang menikah itu sudah seumuran dengan kita.” omel Seungyoon.


“Apa maksudmu? Ditemukan di ruang kerja presdir Dong…” tanya Jinwoo bingung.


“Kau tidak tahu? Presdir Dong bahkan punya beberapa judul lagi.” tutup Seungyoon dan disambung dengan tawa lepas Jinwoo yang tak percaya dengan fakta yang dibeberkan Seungyoon.


Dilihat dari luar, Mino seperti orang yang tidak menyukai hal-hal yang membuang waktu, tapi kenyataannya Mino tengah terisak di kamar karena menonton drama. Wajahnya sudah basah oleh air mata.


"Tidak, Mo Yeon-ah. Yoo Shi Jin tidak akan mudah mati seperti itu. Dia akan kembali padamu. Hiks.hiks." tangisan Dong Mino yang sedang menonton drama.


Jika sudah seperti ini, siapapun yang melihatnya takkan percaya dia adalah Dong Mino.


* * *


“Dimana Eunsoo dan Seunghi?” Tanya Jinwoo.


“Mereka sudah berangkat ke LA pagi tadi.” jawab Taehyun sambil menghirup aroma teh sebelum menyeruputnya perlahan.


“Woaaah, sepertinya yang benar-benar berlibur adalah mereka.” tutur Jinwoo.


“Tunggu! Bukankah Mino belum mendapatkan hukuman karena sudah membohongi kita saat operasi kemarin?” Seungyoon tersenyum jahil sambil melihat Mino.


“Ya! apa harus?” protes Mino.


“Tentu saja! apa aku harus menuliskannya di Kiss Note?” Seungyoon yang iseng telah kembali.


“Jangan coba-coba, Choi Seungyoon! Jika kau sampai berani me—” ancaman Mino terpotong karena Seunghoon baru saja menyetujui ide Seungyoon.


"Lakukanlah!".


“Seunghoon-ah” panggilnya dengan nada memelas.


“Bukan ide yang buruk.” Giliran Jinwoo menyetujuinya.


“Hyung!” protes Mino.


“Aku setuju.” tutup Taehyun.


“Aaarrgghh!” Mino mulai frustrasi karena ketiga temannya setuju dengan ide gila Seungyoon.


Seungyoon mulai mengguratkan tinta pena ke atas buku merah muda itu, menulis apa hukuman yang Mino harusjalani untuk kesalahannya. Melihat Seungyoon menulis dengan bahagia, Mino hanya mampu menghela napasnya saja. Namun sepertinya anak itu membuat kesalahan karena saat membaca hukuman yang harus dilakukannya, ekspresi wajah Mino berubah menjadi serius.


“Hal seperti ini kau sebut hukuman? Apa ini caramu bercanda? Seperti kau tak memiliki otak saja, Choi Seungyoon! Kau tahu sampai matipun aku tidak akan melakukan hal seperti ini tapi kau masih berani menulisnya.” Mino melempar buku merah muda itu ke atas meja dan beranjak dari tempatnya.


“Aku kembali ke korea duluan.” Tutup Mino lalu keluar dari ruangan.


Jinwoo mengambil Kiss Note yang dilempar Mino tadi, membuka tepat di bagian Seungyoon menulis hukuman untuk Mino lalu membacanya bersama Seunghoon dan Taehyun yang mendekat.


“Apa kau gila?” tanya mereka bersamaan setelah menemukan ketidakberesan dalam hukuman yang Seungyoon berikan. Seungyoon tersenyum tidak enak lalu menenggelamkan kepalanya karena merasa bersalah.