
Seketika angin yang tak wajar berhembus, membuat mereka bertiga bergidik. Tak ada dalam bayangan mereka salah satu akan menghadapi kematian sebelumnya apalagi keduanya sekaligus. Memang kemampuan Kiss Note tak bisa diragukan atau dianggap enteng, terlebih Kiss Note memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu yang diinginkannya. Termasuk menyabotasi operasi pimpinan Mino agar terlihat seperti takdir dan alami.
Keberuntungan yang diberikannya memang nyata tapi kesialan yang mengikuti tak kalah nyata.
Presdir Choi terus berusaha mengingat apa yang kira-kira terlewatkan oleh Youngbae dan Jiyong atau bahkan oleh dirinya saat Kiss Note masih dipegang oleh mereka. Namun, hanya helaan napas yang terdengar darinya. Ia tak bisa mengingat apa yang mungkin terlewat agar mereka bisa memperbaiki keadaan. Setidaknya sebagai jaminan kedua presdir yang ada di dalam ruang operasi selamat malam ini.
Sementara para anak, berpikir bagaimana jika mereka benar-benar kehilangan keduanya. Siapa yang lebih membutuhkan mereka? Mino atau Taehyun?
Dalam hati Taehyun terus mengucapkan kata ‘tidak, kumohon’ berulang kali bak mantera sihir yang bisa merubah keadaan. Menatap ke arah pintu ruang operasi, hingga ia melihat pintu otomatis itu bergeser. Seorang perawat keluar dari ruangan itu dan terlihat buru-buru melewati mereka.
“Bukan, kita harus benar-benar hati-hati. Tolong kirimkan saja darahnya. Iya, kami baru saja mengeluarkan ginjal pasien satu. Bagaimana dokter Kim? dokter Dong butuh bantuan dokter Kim untuk membantunya. Awalnya ia tak ingin menggunakan asisten tapi ia agak kerepotan.” Ucap perawat yang melewati keluarga pasien yang disebut olehnya.
Mendengar celetukan perawat itu, Jinwoo kembali mondar-mandir. Taehyun terlihat lebih tertekan dari sebelumnya, presdir Choi menunduk dan yang lain mengusap keringat yang membasahi telapak tangan mereka. Tidak ada yang menyangka operasi yang mereka prediksi akan berlangsung paling lama tiga jam, malah sudah berlangsung dua kali lipat dari prediksi mereka.
“Dokter yang dipanggil Mino sudah masuk dua jam yang lalu tapi tidak ada tanda-tanda mereka akan segera menyelesaikan operasinya.” Keluh Taehyun yang semakin gelisah.
“Kenapa kau tidak memberitahuku, hyung? Jika kau memberitahuku lebih awal, aku tidak akan membiarkan mereka ditangani olehnya. Masih bisa kuatasi jika ayahku yang meninggal, tapi apa yang harus kulakukan jika ayahnya meninggal karena menyelamatkan ayahku? Kau pikir aku masih bisa hidup nyaman dengan keadaan seperti itu?” geram Taehyun yang tiba-tiba berdiri mengcengkeram kerah baju Jinwoo dan mendorongnya ke dinding.
“Taehyun-ah, tenanglah.” Seungyoon mencoba melerai Taehyun dan Jinwoo tapi Seungyoon bukanlah tandingan Taehyun yang sedang marah.
“Kwon Taehyun!” bentak Seungyoon bersamaan dengan pintu ruang operasi yang bergeser terbuka.
Mino keluar dari pintu ruang operasi dan langsung menemukan Taehyun tengah memojokkan Jinwoo dengan Seungyoon yang mencoba melerai mereka, “Apa yang sedang kau lakukan, Taehyun? Kenapa kau mencekiknya?”
Mendengar suara dokter yang sejak enam jam terakhir membuatnya gelisah, Taehyun berjalan dengan cepat ke arahnya dan tanpa mengucapkan sepatah katapun, pria itu melayangkan pukulan ke wajah Mino hingga dokter itu terjatuh ke belakang.
“Aahhkk.” Rintihan Mino yang terjatuh karena memang tubuhnya sedang kelelahan. Taehyun tidak tinggal diam, dia menindih tubuh Mino sambil mencengkeram baju berwarna biru yang selalu difungsikan untuk melakukan operasi.
“Apa yang kau pikirkan masuk ke ruang operasi dengan resiko sebesar itu, hah?” geram Taehyun. Mino hanya menatap Taehyun tanpa memberikan jawaban.
“Taehyun, hentikan!” Seungyoon kembali mencoba memisahkan kedua sahabatnya.
“KAU PIKIR AKU MASIH BISA HIDUP JIKA AYAHMU MATI DI SANA? AIISSH!” teriak Taehyun yang tidak mempedulikan keberadaan Seungyoon.
“Operasinya berhasil, Taehyun. Ayahmu, ayahku, ayah kita selamat. Mereka baik-baik saja.” Mino akhirnya bersuara. Mendengar ucapan Mino, Taehyun melepaskan cengkeramnya, lalu berdiri tertegun dengan penuh rasa syukur atas kabar yang dibawa Mino.
“Ada tumor jinak yang bersembunyi di bagian ginjal sebelah kiri milih ayahku. Karena alasan itulah aku memanggil dokter spesialis lain untuk menangani ayahmu. Aku harus mengangkat tumor itu dari tubuh ayahku sebelum tumornya menjadi aktif dan ganas. Kami memakan waktu hingga enam jam karena memang harus dilakukan dengan hati-hati dan harus teliti. Jika kau tidak sabaran, harusnya kau saja yang mengoperasi mereka. Aku sudah berdiri selama enam jam, setidaknya biarkan aku merebahkan tubuhku sebentar tapi bukan dengan dipukul, Kwon Taehyun.” Oceh Mino dengan raut kesal menatap Taehyun yang balik menatapnya.
“Bantu aku berdiri.” Mino mengulurkan tangannya dan disambut Taehyun sambil tersenyum.
Ya ampun, pikir Taehyun.
Taehyun meraih uluran tangannya dan membantu Mino berdiri lalu saat Mino sudah berdiri, ia menarik Mino untuk dipeluk, “Kau hampir membuatku gila, Dong Mino.” Ada kelegaan dari nada bicara Taehyun kepada Mino.
“Haha, kau tidak tahu aku? Aku Dong Mino. Satu dari 44 dokter jenius sedunia, apa yang harus kau khawatirkan jika aku sudah turun tangan? Aku pasti. biiiisa menyelesaikan semuanya.” Sombong Mino yang menghasilkan senyuman dari para sahabatnya.
“Ya, kau harus menjadi dokter pribadiku, Mino.” Seru presdir Lee tiba-tiba.
“Ayah!” protes Jinwoo.
“Dia hanya bisa mengobati akal sehatku tapi semua organ tubuhku juga harus dijaga, karena itulah kau harusnya menjadi dokter pribadiku. Bagaimana?” tawar presdir Lee dengan senyuman khas miliknya.
“Akan kupertimbangkan, presdir Lee.” Jawab Mino sambil membalas senyum presdir Lee.
Presdir Choi menghampiri Mino, “Kerja bagus. Kau melakukannya dengan baik.” Puji presdir Choi. Mino mengangguk tanda berterimakasih atas pujian presdir Choi.
“Istirahatlah.” Presdir Kang menepuk bahu Mino.
Seunghoon dan Jinwoo mengacungkan ibu jari mereka, Taehyun berjalan menyusul Mino untuk mengantarnya ke apartemen.
“Tunggu!” tiba-tiba presdir Lee menghentikan langkah yang lain.
“Hmm.” Jawab Jinwoo singkat.
“Lalu dimana dia sekarang?” tanya presdir Lee lagi,
“Sedang di rumah bersama ibu.” Timpal Seunghoon.
“Apa?” presdir Lee terkejut membuat yang lain bingung tidak tahu apa maksud presdir Lee.
“Ada sekretaris Cha di sana?” lanjutnya memanggil sekretaris Cha –sekretaris grup Lee yang berada di luar ruang tunggu VIP.
Seorang pria usia 40-an masuk memberi salam dan menunggu perintah, “Ambil berkas yang ada di atas meja kerjaku di rumah lalu jemput Kang Seunghi dan bawa dia ke New Zealand. Berikan berkas pertama kepada pihak universitas, katakan untuk memenuhi semua berkas yang diperlukan seorang mahasiswa yang lulus di sana. Semua dengan nilai yang baik. Lalu pergilah ke sebuah rumah mode milik keluarga Yoon, berikan berkas kedua dan katakan untuk membuat rekam pekerjaan Seunghi. Lakukan dalam dua hari setelah itu bawa kembali Seunghi pulang. Yang aku tahu, Seunghi memiliki riwayat tinggal, kuliah dan bekerja di sana. Kau mengerti kan, sekretaris Cha?” perintah presdir Lee kepada orang kepercayaannya.
“Ah satu lagi, lakukan semua serapi mungkin. Tidak ada media atau paparazzi.” Sambung presdir Lee.
Sekretaris Cha pamit pergi setelah menerima perintah dari presdir Lee. Jinwoo tercengang melihat presdir Lee dengan detil mempersiapkan semua untuk Seunghi. Tidak, bukan hanya Jinwoo, Seungyoon dan Seunghoon yang tercengang, presdir Choi pun dibuat terkejut melihat langkah presdir Lee dalam menangani kasus Seunghi di saat semua orang berfokus pada kondisi presdir Kwon dan presdir Dong.
“Kenapa? Apa kalian pikir aku tidak bisa sekeren Presdir Choi? terutama kau Jinwoo, aku tahu kau sering meremehkanku. Aku ini Lee Seungri, bertindak detil saat yang lain lupa adalah keahlianku.” Ucapnya bangga.
Seungyoon dan Seunghoon tertawa kecil melihat gaya bicara yang sombong dari presdir Lee sementara Jinwoo menahan malu. Presdir Choi? ia hanya tersenyum, bukan kali ini ia melihat presdir Lee bergaya seperti itu.
* * *
Beberapa hari kemudian.
“Seunghoon, jemputlah Seunghi di bandara saat ia tiba. Seungyoon, sebagai seorang public figure kau pasti punya kenalan wartawan. Sebarlah berita tentang kedatangan Seunghi diantara wartawan. Kalian ahli melakukan akting, jadi bersikaplah senatural mungkin. Kalian mengerti?”
Presdir Lee memberikan intruksi kepada Seunghoon dan Seungyoon pagi-pagi sekali untuk memastikan sandiwara yang ia buat terlihat sangat nyata.
Seunghoon keluar dari jalur VIP bersama Seunghi dengan koper yang didorong oleh pengawal keluarga Kang. Seunghi memegang bouqet bunga yang sengaja dibawakan Seunghoon untuk menyambut kepulangannya.
Di depan, deretan wartawan sudah berjajar menunggu Seunghoon tiba untuk melakukan wawancara. Seunghi sebenarnya tak begitu nyaman, karena itu Seunghoon memakaikannya kacamata hitam untuk mengurangi ketidaknyamannya. Kedua kakak-beradik itu tiba di depan belasan wartawan, siap melakukan wawancara.
“Direktur Kang, apakah dengan kepulangan nona muda Kang Seunghi. Kang group akan melakukan pelebaran sayap ke dunia fashion?” seorang wartawan tanpa basa-basi langsung menanyakan tentang bisnis keluarga mereka.
“Aku belum tahu, Seunghi baru tiba di Korea setelah lima tahun menyibukkan diri di New Zealand. Aku rasa adik kecilku ini akan menikmati kimchi jjigae, kimchi fried rice, samgyupsal ibuku dulu baru memikirkan tentang hal itu.” jawab Seunghoon bijak dengan senyuman bahagianya.
“Berita kepulangan nona muda Kang memberikan efek yang positif terhadap harga saham grup Kang, apa langkah anda selanjutnya melihat sikap positif pasar tentang ini?” wartawan lain bertanya pada Seunghoon.
Seunghoon menatap kamera dan membungkuk lalu berdiri tegak lagi, “terima kasih atas sikap positif pasar, semoga Kang group bisa membawa perubahan yang lebih baik sehingga tidak mengecewakan pemegang saham yang sudah percaya kepada kami.”
“Terimakasih semuanya. Kami akan melakukan wawancara tentang langkah selanjutnya nanti, silakan antisipasi ini.” Seunghoon membungkuk bersama Seunghii untuk menutup sesi wawancara, lalu berjalan menuju mobil yang sudah menunggu kedatangan mereka.
Dari jauh, teman-temannya melihat bagaimana Seunghoon menangani wawancara ini dengan sangat profesional. Acungan jempol diberikan dengan mudah oleh teman-temannya yang kemudian pergi seperti tak terjadi apa-apa. Berpencar untuk masuk ke mobil masing-masing.
“Oppa, terimakasih dan maaf karena sudah menyusahkanmu.” Bisik Seunghi.
“Bodoh. Aku ini oppa-mu, tidak ada adik yang menyusahkan oppanya apalagi untuk hal seperti ini.” Seunghoon mengacak rambut Seunghi lembut.
“Mulai hari ini, aku akan menjalani kehidupanku dengan lebih baik. Demi dirimu, Seunghoon oppa.” janji Seunghi.
“Aku tahu. Ayo masuk ke mobil.” Seunghoon membuka pintu mobil dan mempersilakan Seunghi masuk lebih dulu.
* * *
Takdir yang buruk memang tidak bisa diperbaiki, tapi kita bisa mengubahnya dengan berusaha menjadi yang lebih baik kan? Satu-satunya takdir burukku adalah tidak mempercayai orang yang menggenggam tanganku sekarang. Aku bersumpah, mulai saat ini aku tidak akan membuatnya menangis dalam diam lagi.
– Kang Seunghi –