Join The Game

Join The Game
Episode 3 A Miracle



Aiden dengan lembut mengusap punggung gadis yang kini tengah ketakutan, mencoba menyalurkan ketenangan di dalam diri gadis itu. Setelah beberapa menit, akhirnya Nikita mencoba melepas dekapan dan menatap Aiden.


"Maaf, aku udah bikin salah lagi" ucap Nikita pelan. Membuat Aiden hanya bisa menghembuskan napas dan menepuk bahu gadis di hadapannya "Mereka mencari mu, ayo kembali"


Ketika mereka hendak bangkit, mereka dikejutkan dengan 3 laki² yang juga terkejut melihat gadis yang ada di depan mereka.


"Yuki?"


Nikita terdiam dan membungkuk "Maaf ngerepotin kalian, aku janji bakal kontrol diriku" ucapnya dengan ragu².


Hikaru menghela napas panjang "Yang penting kau udah ketemu" Ucapan laki-laki itu tidak berhasil menenangkan gadis yang menatap kakaknya dengan rasa bersalah, Takeru dengan kesal menjitak dahi Nikita, membuat korban meringis pelan.


"Kau ini! kenapa selalu bikin kakak khawatir, hah? mulai sekarang kau harus terus di dekat kakak, kemanapun kau pergi, ngerti?" tegas Takeru.


"Maaf kak"


Kazuto hanya diam memperhatikan interaksi itu, tidak, lebih tepatnya ia memperhatikan wajah Nikita yang sangat cantik. Entah kenapa setiap menatap wajah gadis itu, jantungnya selalu berdetak lebih kencang.


"Baiklah, tapi mungkin kita harus cari cara untuk keluar dari hutan ini" potong Hikaru dengan tatapan serius. Membuat mereka menoleh dan terdiam.


Tiba-tiba samar² Nikita mendengar ada sesuatu yang bersiap menyerang mereka dari belakangnya, sontak Nikita berbalik dan segera menembakkan panah api ke arah sosok yang tak jauh dari mereka.


Bum! blar!


Seketika api merambat dari pohon ke pohon, ternyata sosok itu menghilang dengan cepat hingga anak panah mengenai pohon. Mereka pun terkejut dan menoleh, Nikita berdecak kesal dan kembali menembakkan panah air ke arah api di sana.


"Yu-Yuki? ke-kenapa kau.." pertanyaan Hikaru tergantung, tatapannya masih sama, terkejut melihat tingkah aneh gadis itu.


Nikita tak menghiraukan pertanyaan Hikaru dan bergegas ke tempat sosok itu memantau mereka, 4 laki-laki itu segera menyusul di belakang Nikita. Seketika keempat laki-laki itu terkejut ketika melihat pemandangan indah di dalam hutan berkabut, di depan mereka terlihat bebatuan sungai dan cahaya matahari yang menembus di sela² pohon.


Nikita perlahan berjalan di bebatuan tepi sungai "Ini tempat yang cocok buat latihan, dan bagus buat peningkatan level" ucapnya.


Kazuto berjalan ke samping Nikita, matanya tertuju pada tanda di punggung tangan gadis itu. Dahinya mengerut samar, Tanda apa itu? sejak kapan tanda itu muncul di tangan Nikita?


"Indah, kan? ini tempat favoritku buat latihan" ucap Nikita tiba².


Kazuto reflek mengangguk "ya, aku baru tau ada tempat sebagus ini di hutan kabut, kau tau darimana?" tanyanya.


Mata gadis itu membulat sempurna, tubuhnya menegang, seketika ia terdiam sejenak dan tersenyum tipis.


"cuma pernah dengar dari pemain lain" bohong Nikita. Yang sebenarnya adalah tempat ini merupakan tempat latihan Nikita hingga mencapai level sekarang.


Tiba-tiba muncul beberapa kristal dengan warna yang berbeda mengelilingi Nikita dan membentuk anak panah dengan berbagai macam sihir, gadis itu fokus mengetuk² layar berisi data panah² itu. Semua yang dilakukannya tak luput dari tatapan Kazuto.


"Siapa dia sebenarnya? Bagaimana dia bisa dapat skill baru itu?" gumam Kazuto.


Setelah meng-upgrade level panah² itu, Nikita merenggangkan badan dan duduk di tepi sungai. Kazuto pun ikut duduk dengan tatapan yang tertuju ke arah sungai.


"aku tau apa yang kau pikirkan" sontak Kazuto menoleh ke arah Nikita yang tengah menatap dirinya "akan kuberi tau rahasiaku, tapi dengan syarat jangan kasih tau pada yang lain" lanjutnya.


Kazuto terdiam sejenak sebelum mengangguk pelan, membuat terukir senyuman di bibir gadis itu.


"Pertama, aku tau tempat ini sejak awal aku main. Sejak waktu itu, inilah tempat latihanku. Kedua, aku tau identitasmu dan Hikaru. Kalian adalah pemain master yang menolong pemain lain secara diam²"


Deg!


Tubuh Kazuto menegang saat tahu bahwa Nikita mengetahui rahasia mereka berdua, Nikita terkekeh kecil ketika menyadari perubahan raut wajah laki-laki di sampingnya.


"Gk usah kaget, aku juga tau ketua yang asli adalah," sudut bibir gadis itu terangkat, menampilkan senyuman manis pada Kazuto "kamu, kan, Kirito?"


Kazuto terdiam, tangannya mengepal kuat "sebenarnya siapa kau? kau terlihat seperti bukan pemain pemula kayak yang lain" tanyanya.


Nikita mengedikan bahu lalu memandang busur miliknya yang berada di pangkuannya "aku udah main sejak awal keluarnya game ini, aku punya teman yang merupakan anak dari pembuat game ini. Karakter game-ku juga dibuat secara khusus untukku buat hadia perpisahan" tuturnya.


"Perpisahan?" tanya Kazuto.


Nikita mengangguk pelan. "Setelah memberiku ini, dia sakit dan meninggal. Dan id-ku sengaja ku buat dengan namanya biar aku selalu ingat dirinya"


"a-apa?"


"Keempat, level dan tingkatku juga dibuat khusus oleh ayahnya untukku, jadi jangan kaget kalo lihat level dan tingkatku setara dengan kalian berdua" lanjut Nikita.


Pandangan Kazuto seketika menjadi kosong, ia menjadi teringat adiknya yang sangat mirip dengan gadis yang diceritakan Nikita. Adiknya juga bernama Yuki, ia juga pernah bercerita tentang teman baiknya yang bernama Nikita. Sebenarnya dirinya mulai curiga jika gadis di sampingnya ini adalah teman baik adiknya.


"apa nama aslimu Nikita?"


Mata Nikita melebar saat mendengar pertanyaan dari Kazuto, bagaimana laki-laki itu bisa mengetahui nama asli dirinya?


"Ya, bagaimana kamu bisa tau?" tanya gadis itu. Kini laki-laki itu yang terkejut karena dugaannya benar, gadis di sampingnya ternyata orang yang diceritakan adiknya, orang yang adiknya minta dirinya untuk menjaganya, sebelum pergi.


Tak jauh di depan mereka, terlihat sosok yang tengah bersembunyi di balik pohon. Sosok itu tersenyum ketika melihat keduanya tengah berduaan.


"Selamat kak, kakak udah nepatin janjimu" gumamnya.


Nikita yang tak sengaja mendengar suara dari dalam kabut pun menatap lurus, matanya tertuju pada sosok itu. Dalam sekejap Nikita menghilang dan muncul di belakang sosok itu.


"Siapa kamu? kenapa kamu mantau kami dari sini?" tanya Nikita singkat. Membuat sosok itu terkejut dan berbalik, sudut bibirnya terangkat dan mengukir senyuman tipis di bibirnya.


"Lama gk ketemu ya, Nikita. Kamu belum berubah sejak terakhir aku liat kamu" gumamnya, namun masih bisa terdengar oleh Nikita yang terkejut melihat siapa yang berada di hadapannya.


"Ka-kamu, Yu-Yuki?"


Yuki menggeleng pelan "Id-ku Sharu, jangan panggil namaku di game" ujarnya.


"Ba-bagaimana kamu bisa.."


Yuki mengedikan bahu santai "waktu itu aku koma bukan meninggal"


Nikita terdiam sejenak "Kapan kamu bangun? dan kenapa dulu aku liat kamu dikubur- Aduh!" seketika ia meringis sambil mengusap dahinya yang di sentil oleh Yuki.


"Aku baru bangun tadi, dan masih lakuin pemeriksaan lanjut. Sekarang aku tanya, kenapa selama aku koma kamu gk jenguk aku?" balas Yuki kesal.


Nikita menyeringai pelan "Gomenne, sejak kabar meninggal mu, aku lebih sering ke perusahaan ayahmu dan kuburanmu"


Terdengar samar² suara yang memanggil Nikita, keduanya pun menoleh. Seketika Nikita tersadar dan menepuk dahinya.


"S*alan! aku lupa ngasih tau mereka dan asal lari lagi" gumam gadis itu. Dahi Yuki mengerut samar, ternyata gadis itu bukan hanya bersama dengan kakaknya.


Tiba-tiba muncul anak laki-laki di samping Yuki, sontak gadis itu terkejut dan bergegas sembunyi di balik punggung Nikita. Sedangkan Nikita terkekeh pelan saat melihat Aiden yang muncul tiba² di samping Yuki.


"Lagi² kau asal pergi tanpa ngasih tau kami, apa kau tau kami khawatir denganmu?" tanya Aiden singkat.


Nikita hanya terdiam dan menunduk, kedua tangannya menyatu "maaf, aku cuma mastiin sesuatu" jawabnya. Mata Aiden tertuju pada Yuki yang masih bersembunyi di belakang Nikita.


Nikita yang tahu arah tatapan Aiden pun sedikit bergeser untuk memperlihatkan Yuki "Ini Sharu, temen dekatku di dunia nyata"


Aiden hanya menoleh sekilas lalu kembali menatap Nikita yang masih diam, tiba-tiba..


"Yuki!!"


Terlihat Kazuto dan Takeru yang muncul di belakang Aiden, disusul dengan Hikaru. Sontak Kazuto terkejut ketika melihat sosok yang selama ini ia rindukan di samping Nikita, Yuki ikut mematung saat melihat sang kakak muncul di depannya.


"ka-kau? ba-bagaimana kau.."


"o,one-san.."


Tatapan Nikita beralih ke arah sang kakak yang menatap dirinya kesal "gomenne, oni-san.. aku cuma mau ketemu temen lamaku, aku gk bermaksud-"


Grep!


Mata gadis itu melebar saat sepasang tangan kekar melingkar di pinggangnya, Takeru mendekap erat tubuh mungil adiknya.


"kau ini! kenapa gk nurut aja sih? gk bisa ya diam aja? kakak macam apa aku yang biarin adiknya berkeliaran sendirian"


Nikita terdiam lantas balas memeluk tubuh sang kakak, ia tahu alasan perubahan sifat kakaknya. Dan ia paham kekhawatiran kakaknya terhadap tubuh rapuhnya.


"Iya, kak.. aku gk bakal mengulanginya lagi, maaf karena aku pergi gk bilang kalian" ucap Nikita. Keduanya pun melepas pelukan dan menoleh ke arah Yuki yang tengah mengobrol dengan Kazuto.


"ka-kau.."


Yuki tersenyum kecil "ayah juga kaget waktu liat aku sadar dari koma, sekarang tubuhku masih dalam proses pemeriksaan. Ayah bilang kakak di dalam game, jadi aku kesini buat ngasih tau kakak"


"apa ayah ngasih ijin? kau baru sadar dan langsung main game, apa kau tau kalo game ayah-"


Yuki mendengus kesal dan memalingkan wajah "Iya tau kok, ayah juga sempat ngasih tau dan lagi nyoba perbaiki sistem gamenya. Kata ayah, selama perbaikan, kita juga harus kalahin bos game" jawabnya.


Kazuto menghembuskan napas panjang "jadi bener² gak ada cara lain, ya? repot banget" balasnya singkat. Mata Yuki tertuju pada Nikita yang tengah menatap mereka berdua, ia berbalik menghadap gadis itu.


"Oh ya, Yuki, apa kekuatanmu udah meningkat?" tanya Yuki pada Nikita. Gadis itu hanya mengangguk dan memandang busur di genggamannya. "Berkat dirimu, aku bisa sekuat ini. Arigato gozaimasu, Sharu-chan"


Yuki tersenyum dan menggeleng pelan "gak, itu semua hasil kerja kerasmu sendiri. Aku cuma minta tambahan pertahanan di karaktermu setelah tau kondisi tubuhmu, sisanya karena kamu sendiri, Yuki" jawab Yuki, membuat gadis di depannya terkejut mendengar penjelasannya.


"ja-jadi level dan tingkatku ini.. benar² hasil latihanku? bukan kamu atau ayahmu?"tanya Nikita, yang dibalas Yuki dengan gelengan.


Terasa sesuatu yang menyentuh puncak kepala Nikita, membuat gadis itu mendongak dan menatap sang kakak.


" Makasih karena udah bantu adikku selama ini, Sharu. Aku berutang budi padamu" ucap Takeru. Yuki terkekeh dan tersenyum manis "gak usah, itu juga tanda pertemanan kami. Aku senang bisa jadi teman dekat Yuki, dia jadi temanku aja udah cukup kok" balasnya.