INEVITABLE DESTINY

INEVITABLE DESTINY
AMLI 5.



~


Saat dalam perjalanan kembali ke rumah, reyhan terus menerus memikirkan nathan. Ia yang sudah lama tidak melihat nathan itu pun sedikit ada rasa senang. Hampir saja ia ingin memeluk nathan, namun tiba-tiba sekilas kejadian dulu melintas di ingatannya.


'Apa... Lu udah maafin gw nat?'


'Gw berharap lu bakal lupain dan maafin gw...'


'Gw mau kita kaya dulu lagi nat... Gw kangen sama lu' batin reyhan sambil menatap kedepan dengan tatapan kosong. Lama dia diperjalanan sampai akhirnya ia sampai di depan rumah. Sopir langsung bergegas pergi. Reyhan berjalan ke dalam halaman rumah sambil terus melamun. Pikirannya kosong. Setelah sampai di dalam rumah ia langsung menjatuhkan dirinya di atas sofa dan menatap langit-langit atap. Berkali-kali ia menghela napas.


"Huft..."


"Seandainya... Waktu bisa berputar kembali gw mau, gw aja yang mati dari pada mama lu nat... Andaikan gw bisa ulang waktu itu..." lirih reyhan.


"Ulang waktu apa?" tanya seseorang mengagetkan-nya.


"Ya ampun raf! Lu ngagetin gw aja" kesal reyhan sambil melempar bantal sofa.


"Yee kakak aja yang mudah kagetan" sahut rafli.


"Eh bentar, lu gak sekolah? Lu bolos?" tanya reyhan yang bingung melihat adiknya yang sudah pulang, padahal jam pulang kan masi lama (jam 3 sore).


"Mana ada gw bolos kak! Hari ini di suruh pulang cepet karna guru-guru mau rapat" jelas rafli pada reyhan.


"Terus? Lu pulang naik apa?"


"Dianter sama temen gw" reyhan mengangguk sebagai jawaban.


"Eh bentar deh... Kakak kenapa pulang? Ini kan hari pertama kuliah. Hooo gw tau ni" seringai jahil rafli pada reyhan.


"Apa?"


"Kak rey bolos hari pertama kuliah kan! Awas aja kalo bang dzaka sm kak zacky pulang gw aduin lu kak kalo lu bolos"


"Eh! Enak aja gw pulang karna ada masalah, dan justru bang dzaka sendiri yang nyuruh gw buat pulang"


"Oh kirain gw lu bolos kak" cengir rafli.


"Makanya jadi orang jangan main nuduh aja" reyhan menempiling kepala rafli gemas. Rasa khawatir-nya sedikit berkurang berkat rafli.


"Ish! Eum... Kak..." panggil rafli pada reyhan.


"Apa?"


"Gw laper, bosen makan makanan rumahan, boleh ya gw pesen makanan"


"Huft, ya udah sana pesen sekalian sama gw. Tapi inget jangan bilang sama bang dzaka kalo kita delivery makanan"


"Okeh kak! Uhh sayang gw sama lu kak" ucap rafli sambil memeluk gemas sangat kakak.


"Udah sana gw mau ke kamar, mau ganti baju makanan buat gw samain aja sama punya lu"


"Ok, gw pesen dulu" rafli pun langsung membuka aplikasi memesan makanan.


"Gw kekamar, kalo udah dateng panggil gw. Awas lu kalo makan sendiri" peringat reyhan. Soalnya adiknya itu jika tidak di kasi tau bakal kebablasan. Rafli pun sontak mengangguk. Setelah itu reyhan pun pergi ke arah kamar. Di dalam kamar ia sempat duduk terpegun memikirkan hal yang baru saja terjadi. Ia pun beranjak pada lemari mencari pakaian yg enak untuk di pakai, setelah itu ia membanting diri ke arah kasur.


~20 menit kemudian


"KAK! MAKANANNYA UDAH DATENG INI CEPET TURUN" teriak rafli dari bawah.


"IYA BENTAR! PINGGANG GW SAKIT INI GAK BISA BANGUN" teriak reyhan sambil berusaha untuk bangun, namun sial punggungnya terlalu sakit untuk bangun.


"BURUAN TURUN, KALO GAK GW BAKAL ABISIN MAKANANNYA!!"


"****** lu, ENAK AJA! TUNGGU BENTAR GW RILEKS'IN PUNGGUNG GW"


"YA UDAH CEPET! KEBURU DINGIN, GW GK MAU MAKAN MAKANAN YANG UDAH DINGIN!"


Reyhan pun muncul dari balik tangga sambil memijat punggung belakangnya. Rafli melihat itupun terkekeh.


"Kenapa lu ketawa?"


"Gak, gw cuma ngerasa kakak gw udah tua banget ya sampai udah sakit punggung kekeke"


"****** lu! Punggung gw sakit karena kambuh setan!"


"Masi sering kambuh kak?" nada bicara rafli terdengar sedih saat mendengar kakak-nya itu mengeluh tentang punggungnya yang selalu kambuh.


"Uda si beberapa minggu ini, tapi kakak udah minum obat kok tenang aja" ucap reyhan menenangkan adiknya itu. Rafli beranjak dari sofa lalu berlari memeluk reyhan.


"Kak, jangan sakit... Kakak gak boleh sakit biar gw aja yang sakit jangan kakak" lirih rafli pada reyhan.


"Kenapa kalo kakak sakit? Lu di apain sama dia?"


"Gak, cuma lebih baik gw aja yang sakit..." reyhan yang melihat itupun hanya bisa menghela napas sambil memeluk erat adiknya itu.


"Kakak yang harusnya jagain lu buka lu yang jagain gw... Maaf kalo lu terbebani jagain gw karena dia" rafli mendongak ke atas melihat wajah sang kakak.


"Gak kok! Gw hepi-hepi aja jagain lu kak hehe" reyhan mencubit kedua pipi adiknya itu karena gemas.


"Ya udah yuk makan, keburu dingin nanti lu-nya gak mau makan"


"Ayooo!"


~Sementara itu


"Oke, pelajaran saya cukup sampai di sini. Silahkan istirahat" ucap dosen itu sambil membereskan buku lalu keluar.


"Emm, akhirnya kelar juga" ucap zaim sambil merenggangkan otot-otot badan.


"Eh.. ke kelas nathan yok, ajak dia ke bar" sahut zaim sambil melirik ke arah haidar dan reza.


"Kuy" ucap haidar sambil membereskan buku. Sedangkan reza hanya mengangguk. Setelah semua selesai mereka bertiga pun langsung melesat ke arah kelas nathan. Setelah sampai mereka pun menoleh ke seluruh arah untuk mencari keberadaan nathan.


"Tu bocah mana?" tanya haidar.


"Gak tau gw... Tu bocah bolos lagi ntar?" sahut zaim sambil mengedikkan bahu. Reza menoleh kearah kedua temannya itu lalu menghela nafas.


"Lu-lu pada kenal nathan baru kemarin hah? Tuh! Di belakang kali noh dia ny" zaim dan haidar menoleh secara bersamaan dan benar saja mereka melihat nathan sedang tertidur di depannya terdapat handphone serta buku dan alat-alat praktek. Mereka menghela napas. Ketiganya langsung menghampiri nathan dan membangun.


"Nathan"


"Woy nat! Bangun"


"Bangun, kita² mau ngomong nih"


"Ngomong ap?"


"Ke bar kuy"


Nathan langsung bangun dari tidurnya lalu menatap ketiganya dengan senyum yang sudah pasti diketahui ketiganya.


"Boleh, jm?"


"Gimana kalo jam 10, lebih awal dri biasanya" saran Haidar.


"Ok" reza mengangguk setuju.


"Gw juga, gimana lu mau gak?" tanya zaim pada nathan. Nathan hanya mengangguk sambil membereskan barang-barangnya.


"Kumpul di rumah gw" ucap reza yang sedang memainkan HP.


"Asekk!! Uda lama gak ke bar!! Party kita coy!!" heboh Haidar.


"Norak lu" sindir reza yang sedang duduk di meja.


"Misi..." suara seseorang mengalihkan atensi mereka. Dari belakang Zain terdapat seseorang. Zaim menoleh.


"Y?"


"Boleh minggir dikit? Ini meja gw 15 menit lagi bakal ada praktek di kelas ini" sebut orang itu.


"Kenapa gak meja lain?"


"Gw gak suka, gw mending di belakang"


"Lu penyendiri?" zaim bertanya. Orang itu menatap lekat zaim.


"Gw gak suka keramaian ataupun terlalu mencolok, minggir"


Zaim reflek langsung berdiri. Haidar dari tadi sibuk mengingat sesuatu sampai..


"Lu... Dzaka kan? Temennya si... Siapa za?"


"Zacky"


"Nah! Si zacky"


"Kalo iya kenapa?"


"Gak gw cuma nanya doang aelah"


Dzaka tidak menghiraukan mereka, ia sibuk dengan peralatan yang harus di siapkan. Haidar, nathan dan reza sibuk membicarakan kegiatan yang akan mereka lakukan di bar, namun berbeda dengan zaim. Ia terus memperhatikan gerak gerik dzaka. Zaim sedikit terpana dengan dzaka, penampilan yang dewasa namun soft, postur tubuh yang bisa si bilang yah agak pendek, wajah datar namun perhatian dan rambut sedikit panjang. Jika di lihat dari jauh bisa saja orang-orang salah megira jika dzaka adalah cewe tomboy.


Haidar yang melihat itu pun langsung memberi kode pada kedua temannya dan untungnya keduanya paham.


"Ekhem!"


"Dzaka, lu mau ikut ke bar?" tanya Haidar pada dzaka. Dzaka dan zaim kompak menoleh.


"Boleh, jam berapa?" tanya dzaka.


"Jam 10" sahut reza.


"Gw boleh ajak temen gw?"


"Boleh, ajak aja biar rame" sahut Haidar antusias.


"Gw langsung ke sana, atau gimana?"


"Kumpul di rumah gw, masi inget kan?" tante reza.


"Masi lah! Daya inget gw tajem"


"Oke, Kira-kira tunggu tapi jangan sampai telat ya" dzaka mengangguk.


"Kantin" ucap reza yang di angguki Haidar dan nathan. Lalu mereka bertiga melirik ke arah zaim yang masi diam di tempat.


"Ikut gak?" tanya nathan.


"Ka-kalian aja dulu gw bisa nyusul, gw masi ada urusan sama dia"


"Ok" mereka bertiga pun pergi meninggalkan keduanya. Zaim melirik dzaka yang sedang menghitung jumlah barang.


"Lu mau ngomong sama gw?" tanya dzaka pada zaim.


"Ha? Eh.. Iya..." dzaka menoleh lalu menatap zaim.


"Gw bo-boleh minta nomor HP lo?"


"... Boleh, sini HP lu" zaim langsung memberikan Hp-nya pada dzaka.


"Nih uda gw masukin"


"Thanks"


"...."


"Lu masi ada perlu apa?"


"E-eh... Engga uda selesai kok, ya udah gw pamit ya"


"Hm"


Zaim langsung keluar kelas dengan buru-buru.


'Akhirnya gw dapet nomor HPnya!!'


♡♡♡


Jangan lupa like


Komen


Favorit