
~
Nathan kembali ke kelas sendirian karna ketiga temannya itu masi betah untuk berada di kantin. Sepanjang perjalanan ia terus memikirkan yang tadi. Nathan sangat penasaran siapa orang itu tadi, mengapa ia begitu sangat familiar.
"Dia... Siapa?" tanya nathan pada dirinya sendiri.
'Kenapa ekpresi wajahnya gitu? Apa benar gw pernah ketemu sama dia dan gak sengaja bikin salah?' batin nathan.
Disaat nathan sibuk memikirkan itu, tiba-tiba ia tidak sengaja menabrak seseorang.
"Duhh! Bisa gak si lu kalo jalan liat-liat! Jatohkan gw nya" marah seseorang pada nathan. Barang-barang yang di bawa orang itu pun jatuh berhamburan.
"Sori gak sengaja" ucap nathan tanpa rasa bersalah membuat orang itu pun kesal.
"Seenggaknya lu bantuin gw kek! Kayak gak berdosa aja lu" ucapnya dan langsung diangguki oleh nathan. Saat nathan ingin memberikan buku itu tiba-tiba mata keduanya bertemu. Dahi nathan berkerut sedangkan orang itu menampilkan wajah terkejut.
"Lu... Vriska?" tanya nathan memastikan. Dan diangguki oleh vriska.
"Lu nathan kan? Nathan yang ketua tim basket itu kan?!" tanya vriska. Nathan mengangguk.
"Ya ampun! Lu kuliah di sini juga? Kok gw baru liat! Eh lu masi kutu buku juga? Hah gw gak nyangka bakal ketemu lagi sama lu, gimana kabar lu?" tanya vriska beruntun. VRISKA ALYSSA MECCA (pacar JHope) atau yang biasa dipanggil vriska. Dia adalah teman satu sekolah dengan nathan. Vriska bahkan sudah menganggap nathan sebagai saudaranya sendiri karena memiliki hobi yang sama. Dia juga berteman dengan reza, zaim dan juga haidar.
"Satu-satu nanyak nya bingung gw" kesal nathan.
"Iya-iya maaf gw kelewat seneng soalnya hehe" cengirnya pada nathan.
"Oh ya lu dari mana? Kayak kesel gitu wajahnya" tanya nathan pada vriska.
"Gw abis putus sama pacar gw"
"Masi kayak dulu? Playgirl?" tanya nathan memastikan.
"Iya, masih kenapa?"
"Gila lu! Sampai kuliah belum pensiun juga"
"Udah ah berisik, siniin barang gw"
"Lu mau kemana?"
"Kantin" ucap vriska dan di angguki nathan.
"Ya udah kalo gitu gw ke kelas dulu, bye" pamit nathan. Sementara itu zacky, dzaka dan juga reyhan sedang berada di taman belakang kampus. Mereka berusaha untuk menenangkan reyhan agar panic attack-nya tidak kambuh karena mereka tidak membawa obat pereda panik itu. Dzaka masi setia memeluk reyhan yang masi gemeteran sedangkan zacky terus mencari topik pembicaraan agar reyhan tidak panik lagi. Mereka berdua merasa kasihan pada reyhan.
"Rey, lu tenang aja kita bakal jagain lu kok, iya gak bang" ucap zacky.
"Iya bener kata zacky, gw sama zacky bakal berusaha melindungi lu dari dia. Udah dong nangis nya masa uda kuliah uda gede masi cengeng si" dzaka berusaha menghibur reyhan.
"Gw ta-takut bang... Gw gak bisa te-tenang hiks..." ucap reyhan sambil sesenggukan.
"Dia tepat di depan gw, dia di sini bang, gw satu kampus sama dia hiks. Ka-kalo seandainya dia tau gw disini hi-hidup gw bakal menderita hiks... Bang~" tangis reyhan makin menjadi kini wajahnya sudah pucat pasi keringat dingin mulai berkeluaran. Zacky yang melihat reyhan semakin panik itu pun juga dibikin panik.
"Rey, lu tenang ok? Ta-tarik napas, jangan diinget lagi yang dulu. Pliss gw mohon gw gak bisa liat lu gini" ucap zacky sedih.
"Hiks... Gw ta-takut zak... Dia masih benci sama gw hiks... Gw takut gw takut! Gw gak mau! Gak! GAAK! JANGAAN AMPUN HIKS" reyhan berteriak histeris sambil melepaskan pelukan dzaka. Trauma nya kembali. Dzaka berusaha menenangkan namun ditepis oleh reyhan. Zacky segera berlari untuk mencari apotek.
"BUKAN GW!BUKAN GW YANG BUNUH!! g-gak... Bukan hiks gw... Gw hiks.." reyhan menangis sambil memeluk tubuhnya sendiri seakan melindungi. Dzaka yang melihat itu pun langsung memegang kedua bahu reyhan dan berteriak.
"REYHAN! SADAR REY! LU GAK BOLEH KUMAT LAGI JANGAN DIINGET LAGI KEJADIAN ITU! plis gw mohon sadar. Gw dzaka..." ucap dzaka pada reyhan. Reyhan pun mengangkat wajahnya untuk melihat dzaka.
"G-gak... Lu bukan bang dzaka... Lu nathan... Hiks gw mau bang dzaka sama zacky hiks... Gw mau mereka..." racau reyhan.
"Liet gw! Gw dzaka! Bang dzaka, rey... Gw disini gw bukan nathan ok? Gw dzaka..." ucap dzaka sambil memeluk reyhan. Reyhan berhenti mengamuk tubuhnya lemas. Tak lama dari itu zacky datang dengan nafas yang tersengal-sengal lalu memberikan obat itu kepada dzaka.
"Minum dulu ok..." dzaka pun memasukan obat itu kedalam mulut reyhan dan segera memberikannya minum.
"Udah tenang?" tanya zacky pada reyhan. Lalu di angguki.
"Lu pulang aja ya? Masalah hari pertama lu ngampus gw bisa urus berkas-berkas nya" ucap zacky dan di setujui oleh dzaka.
"Iya lebih baik lu pulang, gw bakal suruh sopir buat jemput lu, masalah kendaraan biar zacky yang bawa" usul dzaka seraya membujuk reyhan agar pulang. Reyhan hanya bisa mengangguk lemah. Beberapa saat kemudian sopir suruhan dzaka pun sampai dan akhirnya reyhan pulang.
"Gw gak tega bang liat dia kayak tadi" ucap zacky sambil melihat mobil yang ditumpangi reyhan mulai menjauh.
"Bukan cuma lu gw juga, gw kaget liat nathan yang permisi ad di depan mata gw. Begonya gw gak sadar kalo gw selama ini satu kampus sama dia" dzaka menunduk.
"Kalo aja gw tau gw gak bakal usulin kampus ini buat kalian berdua, maafin gw" zacky langsung merangkul pundak dzaka.
"Lu gak salah bang, jadi gak perlu ngerasa bersalah" hibur zacky.
"Pokoknya kita berdua harus jaga reyhan selama dia di kampus nanti, maksimal jangan sampai reyhan ketemu sama nathan. Kita berdua harus lebih hati-hati lagi" ucap dzaka dan diangguki oleh zacky.
"Oh ya, gw ke kelas dulu, bentar lagi kelas gw mulai" ucap dzaka sambil melirik arlojinya.
"Oh ya udah" sahut zacky santai.
"Lu... Gak ke kelas? 7 menit lagi kelas lu mulai loh" tanya dzaka pada zacky yang sudah duduk santai sambil merokok. Ya kebiasaan zacky adalah merokok tapi tidak terlalu.
"Gak bentar lagi, udah sana lu bang telat nanti"
"Lu ngusir gw?"
"Uda tau make nanya lagi lu bang"
"Ck! Ya udah gw duluan"
"Hm" sahut zacky sambil melambaikan tangan pada dzaka. Setelah dzaka pergi ia pun kembali merokok sambil merenung. Lama kelamaan rokok yang ia hisap pun habis lalu membuangnya. Saat sedang merenung tiba-tiba ada seseorang dari belakang yang mengagetkan-nya.
"DORR!"
"Yang sopan lu sama senior! Heran adek bawah jaman sekarang gak ada sopan-sopannya sama senior" sungut orang itu sambil menggeplak kepala zacky. Zacky pun menolehkan kepalanya ke belakang. Reza.
"A-ah maaf kak reflek, abisnya kakak ngagetin jadi lepas deh hehe" cengir zacky.
"Lu kenapa tadi main kabur-kabur aja, lu lupa kalo lu mulai sekarang uda jadi babu gw?" tanya reza sambil mendekatkan wajahnya ke depan wajah zacky.
"Ma-maaf, gw tadi buru-buru ja-jadi lupa kak..." zacky memalingkan wajahnya. Jujur ia sangat deg-deg'an di tatap sedekat itu oleh reza.
"Minta maaf mulu, cepetan angkat barang gw. Cepet!" perintah reza sambil menuding 2 kotak besar disamping kakinya. Zacky menoleh kebelakang untuk melihat barang bawaan yang nanti akan dia bawakan.
'Buset! Ini bener si senior nyuruh gw angkat ni barang? Gede-gede banget njir' batin zacky kaget saat melihat 2 kotak itu dengan terpaksa ia bangkit dan mengangkat 2 kotak itu sekaligus. Agak susah si tapi pada akhirnya dia bisa mengangkat nya.
"Nih, uda gw bawa kak, taroh dimana?" tanya zacky.
"Ikut gw" zacky hanya mengangguk dan berjalan di belakang reza. Persis seperti babu. Hening. Itu yang dirasakan keduanya. Reza melirik ke belakang yang dimana junior nya itu terlihat kesusahan membawa 2 kotak besar itu di tambah tubuhnya yang kecil mengakibatkan kepalanya tenggelam di balik tumpukan 2 kardus itu.
'Kasian si... Tapi bodoamat kapan lagi gw dapet babu yang seimut ini' batin reza sambil terkekeh. Eh tunggu? Imut?
"Ekhem!" dehem reza sambil berhenti. Zacky yang tidak melihat jika reza sudah berhenti itu pun tidak sengaja menabrak reza sampai keduanya...
BRUGH!
DEG
Keduanya jatuh bersamaan dan itu membuat mereka jadi bahan perhatian orang-orang yang berlalu di dekat mereka. Posisinya reza dibawah sambil memegang pinggang zacky, dan zacky yang berada di atas tubuh reza sambil memegang kedua bahu reza. Saat zacky mengangkat kepalanya, tiba-tiba mata keduanya bertemu.
'Imut' batin reza sambil tersenyum tipis.
'Gw... Deg-deg'an... Tapi senior ini kok, ganteng ya...' batin zacky sambil terus menatap lekat wajah reza. Namun tiba-tiba wajahnya memerah. Ia segera bangun dari tubuh reza dan melihat sekeliling orang-orang yang sudah berbisik-bisik.
"E-eh... Ma-maaf kak, tadi gw gak liat kalo kakak be-berhenti... Maaf ya kak gw bener-bener gak sengaja..." ucap zacky panik. Sedangkan reza hanya diam. Lalu berdiri.
"Bangun" zacky mendongak melihat tangan reza. Ia awalnya ragu namun langsung mengulurkan tangannya pada reza.
"Makasih ka-kak..."
"Lu gak pa-pa kan? Gak ada yang sakit?" ucap reza datar namun dengan nada yang sedikit cemas.
"E-enggak... Gw gak kenapa-napa kok kak... Kak-"
"Woy! Apa nih rame-rame ada pembagian sembako?" ucap seseorang memotong pembicaraan zacky.
"Lu kenapa re?" ucap orang itu.
"Gw gak pa-pa, lu berdua kenapa?" reza melihat kedua temannya. Haidar dan zaim.
"Lu ya! Jadi orang main tinggal-tinggal aja! Kita nyariin lu" kesal Haidar.
"Butuh apa nyariin gw?" tanya reza to the poin.
"Ini sebenarnya, eh? Lu zacky kan? Kok lu masi disini?" Haidar melihat zacky yang berada di samping reza, dan melihat sekeliling terdapat 2 kardus besar itu pun langsung berdeca.
"Bubar bubar bubar! Kenapa lu pada liatin!" bubar zaim yang risih dilihat.
"Lu serius nyuruh ni anak buat angkat barang lu?" reza mengangguk santai. Haidar dan zaim langsung menoleh ke arah zacky yang terus menunduk.
"Gila lo?" teriak mereka berdua mengagetkan zacky.
"Gw gak gila, dia sekarang jadi babu gw jadi hak gw atur-atur dia" jawab reza santai sambil merangkul bahu zacky.
"Gila lu re, barang lu gini banyak 2 kotak gede lagi! Lu liat aja badan dia kecil lu suruh dia bawaan lu segini gedenya" sahut zaim.
"Iya, apa lu gak kasian? Btw kelas zacky uda mulai dari 3 menit yang lalu" reza langsung melirik ke arah zacky yang hanya terus menunduk.
"Mending lu sekarang ke kelas aj zak, biar ni batu kita-kita yang urus" usir haidar pada zacky.
"E-eh... Gak pa-pa kok kak gw telat, lagian ini gw mau bantu bawa barang bawaannya kak reza. Jadi gak pa-pa" jawab zacky sambil tersenyum manis.
'Duh kok gw jadi gak enak sama ni anak' batin reza dengan rasa bersalah.
"Udah lu sekarang balik ke kelas, biar gw sama zaim yang tu barang" zaim yang mendengar itupun langsung menggeleng.
"Lah kok gw sih? Gak gw gak mau lu aja yang bawa"
"Enak aja kita bagi rata lah!"
"Eh itu si reza! Lu juga bawa orang ini barang lu!
"Gw? Sori gw mau anter dia ke kelas, dan untuk barang lu-lu pada aja yang bawa gw mah ogah" reza melirik ke arah zacky lalu tersenyum.
"Tunjukin kelas lu biar gw anter sekalian jelasin kenapa lu telat ikut kelas, biarin aja mereka yang bawa barang gw sekarang ayok pergi"
Setelah itu reza dan zacky pun pergi meninggalkan mereka berdua.
"Dasar si reza, main tinggal-tinggal aja" sahut zaim.
"Udah biarin dia emang gitu dari dulu, ya uda deh sekarang ayo kita angkat batangnya. Bentar lagi kelas kita bakal mulai" haidar mulai mengangkat satu kotak itu dan langsung berjalan meninggalkan zaim.
"Ck! Emang si reza suka bener jadiin orang babu" kesalnya sambil mengangkat kotak tersebut dan menyusul haidar.
~
Jangan lupa Like
Komentar
Favorit