Indigo Girl

Indigo Girl
part 6



Setelah mengatakan hal itu Caca mengajakku untuk pergi ke kelas.


Saat sampai di kelas aku mau melihat Fina, Siska, Dan Tania tertawa bahagia atas apa yang mereka perbuat denganku tadi.


Caca merasa sangat kesal atas apa yang telah mereka lakukan kepadaku. Tetapi aku menahannya untuk tidak menegur mereka, karena aku tau, jika Caca menegur mereka maka akan terjadi hal yang lebih buru dari hari ini.


"Hahahaha..... senang sekali aku bisa mengerjai Fira anak culun itu" ucap Fina kepada temannya.


"Kurang ajar, beraninya mereka berbuat seperti itu dan mentertawakan apa yang telah mereka lakukan, manusia tidak punya hati" Ucap Caca karena amarah nya mulai neningkat.


Aku tidak tega melihat Caca marah marah seperti itu "sudah Ca biarkan saja, dia yang menanam maka dia juga yang menuai"


"Tapi Fir, mereka tidak bisa di biarkan"


"sudah biarkan saja, berharap saja mereka berubah. Sekarang kamu tahan saja emosimu itu"


"Haaaahhh..... baik lah Fir, aku akan mencoba menahan emosiku" Ia pun menghela nafas dan berusaha menenangkan dirinya.


Aku mengira setelah kejadian itu mereka akan berhenti mengerjaiku. Ternyata tidak, kelakuan mereka makin menjadi, tidak hanya mengunciku di toilet, tetapi mereka juga menyembunyikan buku tugasku, menyiramku dengan air, dan banyak lagi.


Aku tidak kuat dengan sikap mereka yang selalu membullyku tanpa sebab. Aku memutuskan untuk pindah sekolah dan mengajak Caca untuk ikut bersamaku.


"Ca, aku sudah lelah dengan ini semua, aku lelah selalu mengalah, aku lelah untuk terus menerus diam."


"Iya aku faham apa yang kamu rasakan Fir. Sikap mereka sudah melewati batas. Apa kamu ingin aku memberitahu kepala sekolah atas sikap mereka?."


"Tidak perlu Ca, mereka selalu saja memutar balikkan fakta, jadi akan sulit untuk mendapatkan kepercayaan kepala sekolah tanpa adanya bukti yang kuat."


"Lalu apa yang harus kita lakukan saat ini?."


"Biarkan saja mereka seperti itu, kita akan tetap mengalah dari mereka, biarkan kepala sekolah tau sifat asli mereka dengan mata kepalanya sendiri."


"Maksudnya kita pasrah dengan sikap mereka?."


"Tidak."


"Lantas?." Tanya Caca yang mulai penasaran.


"Kita pindah."


"Apa, pindah?."


"Ya nggak lah, dari pada mati gantung diri karena mererek mending mati tertabrak kereta saja" ucapnya ketus.


"Hey ucapan adalah do'a, apa kamu mau ucapanmu di dengan oleh tuhan."


"Eh jangan jangan, aku cuma bercanda lho." ucapnya mulai kesal karena aku mengatakan hal tersebut dan akupun hanya tertawa melihat mukanya yang kusut.


"Iya iya."


"Oh ya, terus sekarang kita harus gimana?."


"Kita pinda sekolah."


"APA, PINDAH SEKOLAH?." Karena terkejut Caca pun menaikan nada suaranya.


"Suuuuttt.... jangan keras-keras nanti ada yang dengar, terutama Tania, Siska, dan Fina."


"Maaf maaf, habisnya kamu berkata seperti itu."


"Yasudah besok setelah pulang sekolah kita urus surat pindah kita agar kita bisa cepat lepas dari penderitaan ini."


"Tapi kenapa harus pindah sekolah?."


"Memangnya kamu mau mati di sini?"


"Ya engga lah, ogah banget mati di sini dengan penuh penderitaan, yang ada aku jadi arwah gentayangan."


"Oke oke besok kita urus surat pindah dan lusa kita bisa ke sekolah baru."


"Nah gitu donk. Yasudah ayo kita pergi ke kelas."


"Oke."


Caca akhirnya setuju untuk ikut pindah sekolah bersamaku.


Awalnya aku tidak begitu mengenalnya, tetapi setelah berbicara dengannya di perpustakaan beberapa bulan yang lalu dan mengalami banyak cobaan dan rintangan bersama akhirnya aku bisa mengenal Caca lebih jauh.


Ternyata Caca tidak seperti yang aku fikiran. Caca adalah teman yang baik dan bukan gadis lugu yang dulu aku fikiran, melainkan seorang gadis bawel dan perhatian.