Indigo Girl

Indigo Girl
Prolog



Andhyta Putrika Swaradana, adalah anak satu satunya dari keluarga Swaradana yang merupakan keluarga berada dan sangat berpengaruh.


Saat kelahiran Dhyta, putri pertamanya, yang dilahirkan dengan normal, juga sehat jasmani dan rohani, dia ditempatkan di ranjang kecil, disebelah ranjang tempat ibunya tidur, Anita adalah nama Ibunya.


    Seusai Anita melahirkan anaknya yang pertama, Anita begitu lemah dan tak cukup bertenaga untuk menyusui bayinya, Anita pingsan selama ± 1,5 jam, jam menunjukkan pukul 01.00, tepat tengah malam, disaat itu Ayah Dhyta sedang pergi ke kamar mandi yang berada disisi kiri tempat ibunya tidur, Dhyta terlihat sangat senang dengan teman baru yang menghampirinya, juga sangat senang akan kehadiran Ananthasya yang merupakan seorang gadis kecil yang masih berumur 5 tahun, dia menghibur Dhyta saat Dhyta terbangun di tengah malam, Ayahnya mendengar suara bayinya yang baru berusia beberapa jam itu tertawa, tetapi matanya masih tertutup, dan saat Ayahnya membuka pintu kamar mandi dan hendak mendekatinya, Dhyta tersenyum manis kepada ayahnya, meskipun Dhyta belum bisa membuka mata, Dhyta sangat sangat tau siapa yang ada didekatnya, entah itu keluarga maupun keberadaan makhluk halus.


     Saat jam menunjukkan jam 03:00 pagi, Dhyta membuka matanya untuk pertama kali. Namun, yang ia lihat bukan Ayah ataupun Ibunya, melainkan Ananthasya gadis kecil berambut hitam lebat dan terurai, tetapi anak itu tidak lagi hidup.


 


Ananthasya meninggal dari 1 jam sebelum Dhyta dilahirkan, dirumah sakit yang sama.


 


 


Ananthasya meninggal dikarenakan kecelakaan yang menimpa keluarganya saat dia hendak pergi ke rumah neneknya.


 


Tapi siapa yang mengira, saat keluarganya sampai disebuah tikungan, ada sebuah truk yang menabrak mobilnya, sehingga mereka meninggal bersamaan.


Karena yang Dhyta lihat pertama kali adalah makhluk halus maka seterusnya dia akan bisa melihat makhluk halus lainnya, karena itu juga Dhyta menjadi anak "INDIGO" sejak hari dimana Indra ke-6 nya dibuka dengan sengaja oleh Ananthasya.


Inilah Awal Dari Kisah Andhyta Putrika Swaradana yang berusaha untuk menutup indra ke-6 nya.


*Beberapa tahun kemudian...


Disaat Andhyta menginjak


usia 7 tahun, ia mulai masuk ke Sekolah Dasar Negeri yang dipilihkan oleh orang tuanya.


Dalam hari pertama ia masuk, ia sudah medapatkan perhatian teman" baru di kelasnya, gadis mungil yang memiliki rambut panjang dan warnanya yang hitam pekat, juga matanya yang berwarna biru laut itu telah menarik perhatian semua teman-temannya yang melihatnya.


"Hai teman - teman, namaku Andhyta Putrika Swaradana, biasa dipanggil Dhyta, aku harap kalian bisa menjadi teman ku mulai sekarang dan untuk masa yang akan datang" ucapnya dengan senyum simpul dan kepala yang ia miringkan.


Perkenalan yang disambut hangat oleh seluruh teman-teman baru dikelasnya.


Dhyta memperkenalkan dirinya dengan menatap semua teman baru, dengan malu" dan lalu ia menundukkan wajahnya lagi, sehingga teman-temannya tidak dapat melihat senyum simpulnya.


 


~Singkat cerita.


Satu tahun begitu cepat berlalu, Dhyta merasakan kebahagiaan dengan teman-teman seusianya, sampai hari itu tiba.


Hari dimana seorang perempuan yang menemaninya saat ia baru lahir, Dhyta sangat senang dengan kehadiran Ananthasya dirumahnya, dia pikir Ayah dan Bundanya yang menyuruhnya datang, jadi Dhyta tidak kepikiran untuk menanyakanya.


Kapan kamu datang kerumahku?...", tanya Dhyta dengan tersenyum lebar sambil menyentuh bahu Sia.


"Aku datang baru saja Dhyta, bagaimana kabarmu?...", tanya Sia dengan suara serak dan berat.


"Sia, kenapa bahumu sangat dingin?..."


"Ahhh...


Mungkin karna perjalanan ku kesini tadi, aku berlari sepanjang jalan", jawab Sia dengan tersenyum


"Aku pikir bunda yang menjemputmu", tingkahnya bingung, sembari ia menaruh tas ranselnya di meja belajar.


"..." bagaimana bundamu menjemputku, menjemputku di TPU?..., dalam batin Sia


"Sia...


Kau sekolah dimana?..." tanya Dhyta


"Kenapa kau tidak sekolah dengan ku saja?..., dan tinggal disini bersamaku", sambungnya


"Aku tak tahu, mungkin aku akan tinggal bersamamu, tapi aku tak perlu sekolah denganmu", jelasnya


"Pasti Sia adalah anak yang pintar ya?..."


"Aku tak tahu, dan berhentilah bertanya, aku sedang kesal sekarang", jawab Sia, dengan cemberut.


"Oke...Baiklah"


"Kau mau ikut aku kesekolah besok?..., aku akan memperkenalkan mu kepada teman - teman baruku", tanya nya sambil duduk ditepi kasur, disamping Sia.


"Benarkah!!!..."


"Tentu saja aku mau", sambungnya.


     Disaat itu, mereka hanyalah anak anak dibawah umur, yang belum mengerti yang ghaib dan yang tidak, mereka hanya memikirkan apa yang mungkin membuatnya bahagia.


Keesokanya disekolah...


"Hai teman-teman, aku membawa teman baru, namanya Sia, dia sangat pandai" dengan senyum lebarnya, ia memperkenalkan Sia di depan kelas.


"Dimana temanmu itu?...", tanya Bima, dengan memiringkan kepala dan memegangi ujung dagunya.


"Hey..., apa tak ada yang melihat dia, dia disampingku kau tau?...", jawab Dhyta dengan menunjuk kearah sampingnya tempat Sia berdiri.


"Sepertinya tidak, karna kami hanya melihatmu, tidak ada orang disampingmu", jawab Jack dengan jelas dan rinci.