
Aku mengawali hariku seperti biasa, hari-hariku berjalan seperti biasa sekarang ini. Hanya saja aku seperti
kehilangan sesuatu, seperti adanya perubahan suasana ketika aku datang
kesekolah. Sudah satu minggu aku bersekolah tanpa Xander disekitarku, satu
minggu lalu Xander tiba-tiba berbicara padaku dan Vera. Dia bilang dia akan
pindah ke pusat kota dan melanjutkan hidup disana, dia bilang dia mau mengejar
impiannya. Sekarang aku sedang pergi bersama Vera disebuah café yang baru saja
jadi, dan kami memutuskan untuk mencoba makanan di café itu.
“Sherly, ini sudah satu minggu
tanpa Xander.” ucap Vera
“Yaa, aku tau.” Jawabku
“Apa kau merasakan sesuatu?”
Tanya Vera dengan sorot mata menyelidiki
“Apa-apaan sorot matamu itu? Dan
lagi kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Ayolah, jujur saja!” balas Vera
“Jujur apa?” tanyaku masih tidak
paham
“Apa yang kau rasakan sekarang
ini?”
Aku tidak menjawab pertanyaan
Vera, dan memalingkan wajahku.
“Hei Kau! Apa susahnya jujur
dengan sahabatmu sendiri?” Tanya Vera lagi
“Baiklah, apa yang ingin kau
ketahui?” jawabku menyerah
“Hehehe, gitu dong. Jadi apa yang
kau rasakan selama Xander tidak ada? Selama ini kalian selalu bersama.” Tanya
Vera dengan wajah penasaran
“Kosong?” jawabku sembari
mengangkat bahu
“Kau suka dengannya?” Tanya Vera
lagi
“Tidak.”
“Yah, kau suka dengannya. Sudah
satu minggu Xander pergi dan kau masih murung!” jelas Vera tiba-tiba
“Aku tidak suka dengannya, hanya
merasa bosan karena tidak ada yang menggangguku.”
“Kau tidak mau mengakuinya!”
tegas Vera
“Terserah kau.”
Lagi-lagi aku memalingkan
wajahku, dan terus memutar otak untuk mengganti topik pembicaraan kami. Aku
tidak mau membahas Xander, karena hal itu akan membuatku merasa sesak. Semakin
membicarakannya rasanya aku semakin merindukan sikap jahilnya.
“Kita sudah mau naik kelas
Sembilan, kau akan sekolah dimana?” tanyaku untuk mengganti topik pembicaraan
kami
“Aku ingin melanjutkan di pusat
kota. Bagaimana denganmu?” jawab Vera
“Aku tidak tau!”
“Ikutlah denganku ke pusat kota,
kita akan bersama disana. Tanyakan pada orang tuamu.” Ucap Vera
“Yah, nanti aku tanyakan.
Sekarang ayo kita pulang, ini sudah malam.”
“ya, ayo!”
Aku dan Vera pun bergegas untuk
keluar dari café itu, karena rumah kami satu arah kami hanya memesan satu taxi.
Selama diperjalanan aku hanya tiduran sembari melihat keluar kaca mobil,
sedangkan Vera asik memainkan ponselnya. Sekitar 30 menit kami diperjalanan dan
akhirnya aku tiba dirumah, aku berpamitan dengan Vera dan segera masuk.
Sesampainya didalam aku melihat
kedua orangtuaku sedang duduk menonton tv. Aku menyapa dan menghampiri mereka.
“Hai dad, mom!” sapaku sembari
tersenyum
Mereka membalas sapaanku dan
mengajakku untuk bergabung bersama mereka. Aku pun segera duduk di samping
mamaku.
“Sherly, sebentar lagi kamu kelas
Sembilan dan lulus. Apa kamu sudah tau mau melanjutkan dimana?” Tanya papaku
lembut
Aku teringat perkataan Vera,
bahwa dia akan melanjutkan sekolahnya di pusat kota.
“Apa aku boleh ikut Vera
bersekolah di pusat kota?”
Mendengar apa yang aku ucapkan
sontak kedua orang tuaku terkejut. Papaku yang tadinya duduk santai, langsung
duduk dengan tegap dan memberikan tatapan serius. Aku sedikit takut dengan
tatapan itu.
“Kenapa kau ingin ikut Vera
bersekolah di pusat kota?” tanyanya dengan wajah serius
“E-eemmm aku hanya ingin mengejar
cita-citaku.” Jawabku asal
“Apa kau serius?” Tanya mamaku
“Ya! Tentu saja aku serius!”
jawabku meyakinkan
“Baiklah, kami akan pertimbangkan.”
Jawab papaku
Setelah berbincang-bincang
sebentar dengan kedua orangtuaku, mereka menyuruhku untuk beristirahat. Karena
besok aku akan kembali bersekolah. Aku pergi menuju kamarku, dan merebahkan
diriku dikasur kesayanganku. Aku menatap langit-langit kamarku, dan berharap
Keesokan paginya ketika kami
sedang makan pagi.
“Sherly, apa kau serius ingin
melanjutkan ke pusat kota? Itu sangat jauh dan kau akan hidup sendiri disana.”
Tanya papaku tiba-tiba
“emm, ya aku yakin.” Jawabku sembari
memakan makananku
Mendengar jawabanku papaku hanya
manganggukan kepalanya dan kembali memakan makanannya. Setelah kami semua
selesai makan, kamipun berangkat kesekolah. Beberpa saat kemudian aku tiba
disekolah dan segera berjalan masuk. Sesampainya di kelas aku segera duduk, dan
mengikuti pelajaran.
“Huh, sangat membosankan bukan?”
tanyaku pada teman sebangkuku
“Ya, kelas ini menjadi sepi
setelah Xander pindah.” Jawabnya
“hmm.” Kataku sambil mengangguk
“apa kau kesepian? Biasanya kalian
yang selalu membuat ulah dikelas.” Tanyanya
“sedikit, memang kenapa?” ucapku
“apa kau suka dengannya?” Tanya tiba-tiba
“yah, kalian sangat serasi!”
tiba-tiba temanku yang lain menyahut
“tidak, aku tidak menyukainya. Kami
hanya bersahabat” balasku meyakinkan
“kau tidak meyakinkan” ucap
temanku diikuti tawa
Beberapa saat kemudia bel
istirahat berbunyi, dan aku segera keluar menemui Vera. Semenjak Xander pergi
aku selalu berdua bersama Vera. Aku dan Vera pergi ke kantin
“Vera apa kau sudah daftar
sekolah SMA?” tanyaku pada vera saat kami sedang makan
“nanti saat awal kelas sembilan,
apa kau ikut?” balasnya
“ya, aku ikut.” Jawabku meyakinkan
“orang tuamu?” tanyanya
“mereka sepertinya mengijinkan.”
“kenapa kau ikut denganku kesana?
Apa mau mencari Xander?” tanyanya menggoda
“Mungkin, hahaha” jawabku dengan
tertawa
“kau suka dengannya?” tanyanya
lagi
“sepertinya, aku sedikit
merinduknnya.”
“akhirnya! Kau mengakuinya,
kalian cocok.” Ucap Vera
“aku akan membantumu agar mendapat
ijin dari orang tuamu.” Tambahnya
“Kau memang yang terbaik Veraa…”
ucapku
Kami pun bercanda-tawa, hingga
bel masuk pun berbunyi. Setelah bel berbunyi kami segera kembali kekelas kami
masing-masing, dan kami mengikuti pelajaran seperti biasa. Oh iya! Biar kuberitahu
kalian satu hal, selama Xander pindah sekolah baik aku maupun Vera tidak pernah
membuat ulah. Kami menjadi anak yang taat peraturan, dan orangtua kami sudah
tidak pernah mendapatkan panggilan kesekolah.
Setelah kami mengikuti
pembelajaran seharian ini, dan sekarang sudah waktunya pulang. Aku pulang dan
mamaku sudah menjemputku, aku segera menghampirinya dan kamipun pulang. Sekitar
dua puluh menit kami diperjalanan, akhirnya kami sampai rumah.
“apa daddy belum pulang?” tanyaku
“belum, oh iya soal sekolah SMA
mu. Tadi mommy sudah berbicara dengan mamanya Vera, mommy akan bilang ke daddy.”
Ucap mamaku
“Serius mom?” tanyaku dengan
bahagia
“iya sayang, tapi janji satu hal
sama mommy.”
“apa itu?” tanyaku lagi
“jaga diri dan jangan nakal.” Kata
mommy
“oh, tenang sajaa.” Kataku bersemangat
“Oh Iyaa!! Sherly akhir-akhir ini
mommy sudah tidak mendapat panggilan, kenapa kamu tiba-tiba berubah?” Tanya mommy
penasaran
“Hah? Ohh aku hanya ingin tobat
mom, aku sudah besar sekarang.” Jawabku meyakinkan
“kau serius? Tidak sepertimu yang
biasanya.” Ucap mamaku sembari meninggalkanku
“ya, aku serius!” jawabku sedikit
teriak
“hahaha, baiklah minggu depan kau
ujian. Sekarang istirahatlah!” ucap mamaku
“hmm” kataku malam sambil pergi
menuju kamar.
Aku berjalan menuju kamarku,
sesampainya didalam kamar aku meletakkan tasku di sofa kecil yang berada di sudut
kamar. Kemudian aku merebahkan diriku di Kasur, lagi-lagi aku memandangi
langit-langit kamarku dan akupun tertidur.