I Wanna Be A Star

I Wanna Be A Star
Dia Pergi?!



Aku mengawali hariku seperti biasa, hari-hariku berjalan seperti biasa sekarang ini. Hanya saja aku seperti


kehilangan sesuatu, seperti adanya perubahan suasana ketika aku datang


kesekolah. Sudah satu minggu aku bersekolah tanpa Xander disekitarku, satu


minggu lalu Xander tiba-tiba berbicara padaku dan Vera. Dia bilang dia akan


pindah ke pusat kota dan melanjutkan hidup disana, dia bilang dia mau mengejar


impiannya. Sekarang aku sedang pergi bersama Vera disebuah café yang baru saja


jadi, dan kami memutuskan untuk mencoba makanan di café itu.


“Sherly, ini sudah satu minggu


tanpa Xander.” ucap Vera


“Yaa, aku tau.” Jawabku


“Apa kau merasakan sesuatu?”


Tanya Vera dengan sorot mata menyelidiki


“Apa-apaan sorot matamu itu? Dan


lagi kenapa kau bertanya seperti itu?”


“Ayolah, jujur saja!” balas Vera


“Jujur apa?” tanyaku masih tidak


paham


“Apa yang kau rasakan sekarang


ini?”


Aku tidak menjawab pertanyaan


Vera, dan memalingkan wajahku.


“Hei Kau! Apa susahnya jujur


dengan sahabatmu sendiri?” Tanya Vera lagi


“Baiklah, apa yang ingin kau


ketahui?” jawabku menyerah


“Hehehe, gitu dong. Jadi apa yang


kau rasakan selama Xander tidak ada? Selama ini kalian selalu bersama.” Tanya


Vera dengan wajah penasaran


“Kosong?” jawabku sembari


mengangkat bahu


“Kau suka dengannya?” Tanya Vera


lagi


“Tidak.”


“Yah, kau suka dengannya. Sudah


satu minggu Xander pergi dan kau masih murung!” jelas Vera tiba-tiba


“Aku tidak suka dengannya, hanya


merasa bosan karena tidak ada yang menggangguku.”


“Kau tidak mau mengakuinya!”


tegas Vera


“Terserah kau.”


Lagi-lagi aku memalingkan


wajahku, dan terus memutar otak untuk mengganti topik pembicaraan kami. Aku


tidak mau membahas Xander, karena hal itu akan membuatku merasa sesak. Semakin


membicarakannya rasanya aku semakin merindukan sikap jahilnya.


“Kita sudah mau naik kelas


Sembilan, kau akan sekolah dimana?” tanyaku untuk mengganti topik pembicaraan


kami


“Aku ingin melanjutkan di pusat


kota. Bagaimana denganmu?” jawab Vera


“Aku tidak tau!”


“Ikutlah denganku ke pusat kota,


kita akan bersama disana. Tanyakan pada orang tuamu.” Ucap Vera


“Yah, nanti aku tanyakan.


Sekarang ayo kita pulang, ini sudah malam.”


“ya, ayo!”


Aku dan Vera pun bergegas untuk


keluar dari café itu, karena rumah kami satu arah kami hanya memesan satu taxi.


Selama diperjalanan aku hanya tiduran sembari melihat keluar kaca mobil,


sedangkan Vera asik memainkan ponselnya. Sekitar 30 menit kami diperjalanan dan


akhirnya aku tiba dirumah, aku berpamitan dengan Vera dan segera masuk.


Sesampainya didalam aku melihat


kedua orangtuaku sedang duduk menonton tv. Aku menyapa dan menghampiri mereka.


“Hai dad, mom!” sapaku sembari


tersenyum


Mereka membalas sapaanku dan


mengajakku untuk bergabung bersama mereka. Aku pun segera duduk di samping


mamaku.


“Sherly, sebentar lagi kamu kelas


Sembilan dan lulus. Apa kamu sudah tau mau melanjutkan dimana?” Tanya papaku


lembut


Aku teringat perkataan Vera,


bahwa dia akan melanjutkan sekolahnya di pusat kota.


“Apa aku boleh ikut Vera


bersekolah di pusat kota?”


Mendengar apa yang aku ucapkan


sontak kedua orang tuaku terkejut. Papaku yang tadinya duduk santai, langsung


duduk dengan tegap dan memberikan tatapan serius. Aku sedikit takut dengan


tatapan itu.


“Kenapa kau ingin ikut Vera


bersekolah di pusat kota?” tanyanya dengan wajah serius


“E-eemmm aku hanya ingin mengejar


cita-citaku.” Jawabku asal


“Apa kau serius?” Tanya mamaku


“Ya! Tentu saja aku serius!”


jawabku meyakinkan


“Baiklah, kami akan pertimbangkan.”


Jawab papaku


Setelah berbincang-bincang


sebentar dengan kedua orangtuaku, mereka menyuruhku untuk beristirahat. Karena


besok aku akan kembali bersekolah. Aku pergi menuju kamarku, dan merebahkan


diriku dikasur kesayanganku. Aku menatap langit-langit kamarku, dan berharap


Keesokan paginya ketika kami


sedang makan pagi.


“Sherly, apa kau serius ingin


melanjutkan ke pusat kota? Itu sangat jauh dan kau akan hidup sendiri disana.”


Tanya papaku tiba-tiba


“emm, ya aku yakin.” Jawabku sembari


memakan makananku


Mendengar jawabanku papaku hanya


manganggukan kepalanya dan kembali memakan makanannya. Setelah kami semua


selesai makan, kamipun berangkat kesekolah. Beberpa saat kemudian aku tiba


disekolah dan segera berjalan masuk. Sesampainya di kelas aku segera duduk, dan


mengikuti pelajaran.


“Huh, sangat membosankan bukan?”


tanyaku pada teman sebangkuku


“Ya, kelas ini menjadi sepi


setelah Xander pindah.” Jawabnya


“hmm.” Kataku sambil mengangguk


“apa kau kesepian? Biasanya kalian


yang selalu membuat ulah dikelas.” Tanyanya


“sedikit, memang kenapa?” ucapku


“apa kau suka dengannya?” Tanya tiba-tiba


“yah, kalian sangat serasi!”


tiba-tiba temanku yang lain menyahut


“tidak, aku tidak menyukainya. Kami


hanya bersahabat” balasku meyakinkan


“kau tidak meyakinkan” ucap


temanku diikuti tawa


Beberapa saat kemudia bel


istirahat berbunyi, dan aku segera keluar menemui Vera. Semenjak Xander pergi


aku selalu berdua bersama Vera. Aku dan Vera pergi ke kantin


“Vera apa kau sudah daftar


sekolah SMA?” tanyaku pada vera saat kami sedang makan


“nanti saat awal kelas sembilan,


apa kau ikut?” balasnya


“ya, aku ikut.” Jawabku meyakinkan


“orang tuamu?” tanyanya


“mereka sepertinya mengijinkan.”


“kenapa kau ikut denganku kesana?


Apa mau mencari Xander?” tanyanya menggoda


“Mungkin, hahaha” jawabku dengan


tertawa


“kau suka dengannya?” tanyanya


lagi


“sepertinya, aku sedikit


merinduknnya.”


“akhirnya! Kau mengakuinya,


kalian cocok.” Ucap Vera


“aku akan membantumu agar mendapat


ijin dari orang tuamu.” Tambahnya


“Kau memang yang terbaik Veraa…”


ucapku


Kami pun bercanda-tawa, hingga


bel masuk pun berbunyi. Setelah bel berbunyi kami segera kembali kekelas kami


masing-masing, dan kami mengikuti pelajaran seperti biasa. Oh iya! Biar kuberitahu


kalian satu hal, selama Xander pindah sekolah baik aku maupun Vera tidak pernah


membuat ulah. Kami menjadi anak yang taat peraturan, dan orangtua kami sudah


tidak pernah mendapatkan panggilan kesekolah.


Setelah kami mengikuti


pembelajaran seharian ini, dan sekarang sudah waktunya pulang. Aku pulang dan


mamaku sudah menjemputku, aku segera menghampirinya dan kamipun pulang. Sekitar


dua puluh menit kami diperjalanan, akhirnya kami sampai rumah.


“apa daddy belum pulang?” tanyaku


“belum, oh iya soal sekolah SMA


mu. Tadi mommy sudah berbicara dengan mamanya Vera, mommy akan bilang ke daddy.”


Ucap mamaku


“Serius mom?” tanyaku dengan


bahagia


“iya sayang, tapi janji satu hal


sama mommy.”


“apa itu?” tanyaku lagi


“jaga diri dan jangan nakal.” Kata


mommy


“oh, tenang sajaa.” Kataku bersemangat


“Oh Iyaa!! Sherly akhir-akhir ini


mommy sudah tidak mendapat panggilan, kenapa kamu tiba-tiba berubah?” Tanya mommy


penasaran


“Hah? Ohh aku hanya ingin tobat


mom, aku sudah besar sekarang.” Jawabku meyakinkan


“kau serius? Tidak sepertimu yang


biasanya.” Ucap mamaku sembari meninggalkanku


“ya, aku serius!” jawabku sedikit


teriak


“hahaha, baiklah minggu depan kau


ujian. Sekarang istirahatlah!” ucap mamaku


“hmm” kataku malam sambil pergi


menuju kamar.


Aku berjalan menuju kamarku,


sesampainya didalam kamar aku meletakkan tasku di sofa kecil yang berada di sudut


kamar. Kemudian aku merebahkan diriku di Kasur, lagi-lagi aku memandangi


langit-langit kamarku dan akupun tertidur.