
Aku terbangun dengan semangat
baru pagi ini, kemarin adalah hari yang cukup melelahkan. Walaupun aku hanya
duduk diam mendengarkan para guru berbicara, tetap saja aku merasa lelah. Sekarang
ini… tidak hari ini! Hari pertamaku untuk kembali bersekolah seperti biasa, dan
aku segera bersiap-siap. Aku melangkahkan kakiku menuju kamar mandi, dan segera
mandi.
Setelah selesai mandi, aku segera
turun untuk makan. Kulihat dibawah sudah ada kedua orang tuaku yang menungguku
untuk bergabung bersama mereka.
“Morning mom, dad.”
“hallo sayang, gimana sekolahnya
kemarin?”
Tanya papaku penasaran.
“Asik kok pah, banyak temen baru.”
“papa ngga ke kantor?” –tanyaku
lagi
“Iya papa ke kantor sebentar
lagi, kamu sekolah yang bener ya.”
Mendengar kata itu aku hanya
menganggukan kepalaku, kemudian menyantap makananku. Setelah kami semua selesai
makan, kami berangkat bersama. Kali ini aku diantarkan kedua orang tuaku, yah
namanya juga anak tunggal jadi aku tidak bisa sedikit bebas.
Sekitar 20 menit di perjalanan,
akhirnya aku tiba di sekolah. Aku segera turun dan tidak lupa berpamitan dengan
orang tuaku, setelah selesai berpamitan aku segera masuk ke sekolah dan begitu
juga dengan mereka segera berangkat ke kantor papa.
Aku memasuki koridor sekolah yang
cukup panjang itu, aku merasa semua mata tertuju padaku dan itu membuatku tidak
nyaman. Mungkin, karena aku adalah murid baru dan cukup cantik(?) hahaha aku
terlalu pede, maafkan yah. Sekarang aku sudah berada di depan kelas 7A, aku
ingin masuk dan tentu saja aku masuk ini adalah kelasku.
Aku melangkahkan kakiku secara
perlahan menuju ruangan itu, sesampainya di dalam aku hanya melihat sekeliling
dan mencari sosok temanku itu. “sepertinya dia belum datang, dan kelas cukup
sepi. Apa aku datang terlalu pagi?” batinku saat melihat kesetiap sudut ruangan
itu.
“Sherrllyyyyy…..”
Aku menengok ke sumber suara itu,
aku melihat wanita dengan rambut panjang sebahu melambaikan tangannya padaku.
Aku menghampirinya dengan segera.
“Aku pikir kau belum datang.”
“Ini adalah hari pertama
bagaimana mungkin aku terlambat pada hari pertama?”
“ya, ya suka suka mu lah.”
Itu adalah suara vera, tidak
kusangka dia datang lebih pagi dariku. Ini tidak seperti biasanya, saat di
sekolah dasar dia selalu terlambat pada hari pertama. Setelah berbincang dengan
vera aku baru menyadari ada dua orang perempuan dengan paras cantic tersenyum
kepadaku, dan aku membalas senyuman mereka.
“Sher kenalkan mereka adalah anak
kelas kita, namanya Vika dan Sasha.”
“Oh, Haloo aku Sherly.”
Vera mengenalkanku pada dua orang
yang ada didepanku sekarang ini. Vera memang sangat ahli soal berbaur, karena
itu temannya sangat banyak. Setelah kami berbincang-bincang dan tertawa
bersama, bel untuk masuk pun berbunyi. Bersamaan dengan bel berbunyi, semua
murid yang tadinya diluar kelas segera masuk ke kelas. Tak lama kemudian para
guru masuk ke kelas mereka masing-masing, kelas yang awalnya ramai menjadi
hening seketika.
“Selamat pagi anak-anak, hari ini
adalah hari pertama kalian memulai pembelajar”
Tok.tok.tok
Belum selesai guru itu
menjelaskan, tiba-tiba ada seorang lelaki datang mengetuk pintu. Pakaian yang
berantakan, dan rambut yang acak-acakan disertai nafas yang terengah-engah.
Begitulah penampilan lelaki itu.
“Maaf bu, saya terlambat.” Ucap laki-laki
itu
“Ya, tidak apa-apa. Silahkan masuk.”
Lelaki itupun masuk, dan segera
duduk di bangku yang kosong. Kemudian, guru kami melanjutkan pembicaraannya.
Setelah sekian lama berbicara dan kami sudah memilih pengurus kelas, pelajaran
pun dimulai.
“Anak-anak ibu ingin kalian
membentuk kelompok beranggotakan lima orang, kita akan melakukan presentasi
selama pembelajaran berlangsung setiap minggunya. Sekarang saya beri kalian
waktu lima menit untuk memilih anggota kelompok. Dimulai dari sekarang!”
Mendengar ucapan guru kami semua
langsung mencari teman untuk berkelompok. Aku satu kelompok dengan Vera, Vika
dan sasha. Karena satu kelompok harus beranggotakan lima orang dan kami masih
empat orang, jadi kami mencari satu orang lagi.
“Sher gimana ini? Kurang satu
nih.”
“kita aja cowok itu saja,
sepertinya dia belum memiliki kelompok.”
Ucap Sasha sambil menunjuk lelaki
yang tadi datang terlambat.
“Baiklah, Sher kau yang ajak dia.
Dengan kecantikanmu itu dia pasti mau gabung dengan kita.”
“tidak kau saja, aku tidak cantik.”
“Ayolah sher, kali ini saja.”
Ucap vera tiba-tiba.
Mendengar perkataan vera dan
teman-temanku, akhirnya aku memberanikan diri dan menghampirinya.
“hai, aku Sherly.”
“Xander” jawabnya cuek.
“oh.. emm apa kau sudah dapat
kelompok?” tanyaku sedikit canggung.
“apa aku sudah kelihatan seperti
“Yah, aku tidak tau. Jika belum
apa kau mau sekelompok denganku?”
Balasku dengan nada dingin, aku
sedikit kesal dengan sikapnya yang dingin dan cuek itu. Padahal aku menanyainya
dengan baik-baik.
“sudah berapa anggota kelompokmu?”
“empat, kami kurang satu orang.”
“baiklah aku ikut denganmu.”
Setelah dia menyetujui untuk bergabung
dengan kelompok kami, aku mengajaknya untuk berumpul bersama di tempat kami. Aku
datang dengan raut wajah yang kesal.
“sherly ada apa dengan mukamu?” Tanya
vera
“tidak tau!” jawabku cuek
“Apa kau membuatnya marah?” Tanya
vera pada xander
“Aku tidak membuatnya marah,
mungkin dia sedang pms.” ucap xander santai.
Mendengar kata-kata xander semua
teman-temanku tertawa.
“Bagaiman bisa kau berkata
begitu?” tanyaku ketus pada xander.
“Apa kau marah padaku? Apa salahku?”
“Kau benar-benar tidak tau apa
kesalahanmu?”
“tidak” jawabnya santai
“Aishh, percuma berbicara dengan
orang sepertimu tidak akan ada gunanya!” ucapku sambil pergi meninggalkan
mereka.
“Sherlyyy, kau mau kemana?” Tanya
sasha sedikit berteriak.
“aku akan mengambil kertas di
meja guru.”
“baiklah.”
Aku pergi meninggalkan mereka,
dan pergi menuju meja guru. Aku sangat kesal dengan xander seharusnya aku tidak
mengajaknya untuk bergabung dengan kelompok kami tadi. Bagaimana bisa aku tidak
kesal, sikapnya berubah dalam sekejap saat berada di depan teman-temanku dan
lagi setelah apa yang terjadi dia tidak mersa bersalah sama sekali. “Apa dia
itu manusia?” batinku.
Setelah selesai mengambil kertas
di meja guru, aku segera kembali ke kelompokku. Ketika aku kembali aku tau
xander terus memandangiku, tapi aku tak menghiraukannya.
“Ini kertasnya, siapa yang mau
jadi ketua?” ucapku cuek
“Xander saja, dia laki-laki
sendiri disini.” Kata vika
“yasudah tulis namanya, setelah
itu kumpulkan ke meja guru.”
Setelah berkata seperti itu aku
segera menidurkan kepalaku di meja, sebenarnya aku tidak mengantuk tapi malas
melihat muka Xander yang sedang dudk di depanku.
“Apa kau mengantuk?” tanya xander
padaku.
Aku mendengar perkataan xander
tapi aku tak menghiraukan, aku terus memejamkan mata seolah-olah aku memang
tertidur.
“Sudahlah xander biarkan dia,
jangan mengganggunya.” Ucap vera.
“kenapa?”
“suasana hatinya sedang buruk
karenamu, biarkan saja dia.”
Vera memang mengerti kalau
suasana hatiku sedang buruk, dan saat suasana hatiku sedang buruk aku tidak
ingin di ganggu. Setelah beberapa lama kami berdiku dan aku akhirnya tertidur,
bel istirahat berbunyi.
“Sherly, bangun lah sudah istirahat.”
Vera membangunkanku.
Aku terbangun dan orang pertama
yang aku lihat bukan vera tapi Xander, dia duduk di depanku dan menghadapku
dengan senyumnya yang lumayan tampan itu. Tidak!! Bukan lumayan, dia memang
tampan tapi sikapnya menyebalkan.
“Kenapa orang pertama yang
kulihat kau? ini sungguh menyebalkan.” Ucapku dengan nada kesal.
“Ahahaha, kalian berdamailah. Kita
satu kelompok sekarang.” Kata vera
Aku tidak memperdulikan ucapan
vera, aku melihat kesekeliling dan kelas sedikit sepi.
“kemana vika dan sasha?” tanyaku
pada vera.
“Mereka pergi menemui temannya di
kelas lain.”
“ohh, dank au kenapa kau tidak
pergi?” tanyaku pada xander
“Kau mengusirku?”
“ini sudah istirahat, apa kau
tidak pergi bersama teman-temanmu?” tanyaku lagi pada xander.
“Yah, aku tidak tau mereka
kemana. Jadi, aku ikut denganmu!”
“Apa kau akan jadi budakku?
Mendengar perkataan ku Vera
langsung tertawa, sedangkan Xander kebingungan dengan pertanyaanku. Tapi, sejak
pertemuan ku dengan xander aku benar-benar mengalami hari-hari yang berat.
Kenapa? Karena setiap bertemu dengannya aku selalu bertengkar dan berdebat
bahkan sampai kita akan naik ke kelas delapan, aku masih sering berdebat
dengannya. Tapi karena perdebatan ini juga aku mejadi dekat dengannya, bahkan
dia yang merubah duniaku.