I Wanna Be A Star

I Wanna Be A Star
Cinta Pertama!



Aku terbangun dengan semangat


baru pagi ini, kemarin adalah hari yang cukup melelahkan. Walaupun aku hanya


duduk diam mendengarkan para guru berbicara, tetap saja aku merasa lelah. Sekarang


ini… tidak hari ini! Hari pertamaku untuk kembali bersekolah seperti biasa, dan


aku segera bersiap-siap. Aku melangkahkan kakiku menuju kamar mandi, dan segera


mandi.


Setelah selesai mandi, aku segera


turun untuk makan. Kulihat dibawah sudah ada kedua orang tuaku yang menungguku


untuk bergabung bersama mereka.


“Morning mom, dad.”


“hallo sayang, gimana sekolahnya


kemarin?”


Tanya papaku penasaran.


“Asik kok pah, banyak temen baru.”


“papa ngga ke kantor?” –tanyaku


lagi


“Iya papa ke kantor sebentar


lagi, kamu sekolah yang bener ya.”


Mendengar kata itu aku hanya


menganggukan kepalaku, kemudian menyantap makananku. Setelah kami semua selesai


makan, kami berangkat bersama. Kali ini aku diantarkan kedua orang tuaku, yah


namanya juga anak tunggal jadi aku tidak bisa sedikit bebas.


Sekitar 20 menit di perjalanan,


akhirnya aku tiba di sekolah. Aku segera turun dan tidak lupa berpamitan dengan


orang tuaku, setelah selesai berpamitan aku segera masuk ke sekolah dan begitu


juga dengan mereka segera berangkat ke kantor papa.


Aku memasuki koridor sekolah yang


cukup panjang itu, aku merasa semua mata tertuju padaku dan itu membuatku tidak


nyaman. Mungkin, karena aku adalah murid baru dan cukup cantik(?) hahaha aku


terlalu pede, maafkan yah. Sekarang aku sudah berada di depan kelas 7A, aku


ingin masuk dan tentu saja aku masuk ini adalah kelasku.


Aku melangkahkan kakiku secara


perlahan menuju ruangan itu, sesampainya di dalam aku hanya melihat sekeliling


dan mencari sosok temanku itu. “sepertinya dia belum datang, dan kelas cukup


sepi. Apa aku datang terlalu pagi?” batinku saat melihat kesetiap sudut ruangan


itu.


“Sherrllyyyyy…..”


Aku menengok ke sumber suara itu,


aku melihat wanita dengan rambut panjang sebahu melambaikan tangannya padaku.


Aku menghampirinya dengan segera.


“Aku pikir kau belum datang.”


“Ini adalah hari pertama


bagaimana mungkin aku terlambat pada hari pertama?”


“ya, ya suka suka mu lah.”


Itu adalah suara vera, tidak


kusangka dia datang lebih pagi dariku. Ini tidak seperti biasanya, saat di


sekolah dasar dia selalu terlambat pada hari pertama. Setelah berbincang dengan


vera aku baru menyadari ada dua orang perempuan dengan paras cantic tersenyum


kepadaku, dan aku membalas senyuman mereka.


“Sher kenalkan mereka adalah anak


kelas kita, namanya Vika dan Sasha.”


“Oh, Haloo aku Sherly.”


Vera mengenalkanku pada dua orang


yang ada didepanku sekarang ini. Vera memang sangat ahli soal berbaur, karena


itu temannya sangat banyak. Setelah kami berbincang-bincang dan tertawa


bersama, bel untuk masuk pun berbunyi. Bersamaan dengan bel berbunyi, semua


murid yang tadinya diluar kelas segera masuk ke kelas. Tak lama kemudian para


guru masuk ke kelas mereka masing-masing, kelas yang awalnya ramai menjadi


hening seketika.


“Selamat pagi anak-anak, hari ini


adalah hari pertama kalian memulai pembelajar”


Tok.tok.tok


Belum selesai guru itu


menjelaskan, tiba-tiba ada seorang lelaki datang mengetuk pintu. Pakaian yang


berantakan, dan rambut yang acak-acakan disertai nafas yang terengah-engah.


Begitulah penampilan lelaki itu.


“Maaf bu, saya terlambat.” Ucap laki-laki


itu


“Ya, tidak apa-apa. Silahkan masuk.”


Lelaki itupun masuk, dan segera


duduk di bangku yang kosong. Kemudian, guru kami melanjutkan pembicaraannya.


Setelah sekian lama berbicara dan kami sudah memilih pengurus kelas, pelajaran


pun dimulai.


“Anak-anak ibu ingin kalian


membentuk kelompok beranggotakan lima orang, kita akan melakukan presentasi


selama pembelajaran berlangsung setiap minggunya. Sekarang saya beri kalian


waktu lima menit untuk memilih anggota kelompok. Dimulai dari sekarang!”


Mendengar ucapan guru kami semua


langsung mencari teman untuk berkelompok. Aku satu kelompok dengan Vera, Vika


dan sasha. Karena satu kelompok harus beranggotakan lima orang dan kami masih


empat orang, jadi kami mencari satu orang lagi.


“Sher gimana ini? Kurang satu


nih.”


“kita aja cowok itu saja,


sepertinya dia belum memiliki kelompok.”


Ucap Sasha sambil menunjuk lelaki


yang tadi datang terlambat.


“Baiklah, Sher kau yang ajak dia.


Dengan kecantikanmu itu dia pasti mau gabung dengan kita.”


“tidak kau saja, aku tidak cantik.”


“Ayolah sher, kali ini saja.”


Ucap vera tiba-tiba.


Mendengar perkataan vera dan


teman-temanku, akhirnya aku memberanikan diri dan menghampirinya.


“hai, aku Sherly.”


“Xander” jawabnya cuek.


“oh.. emm apa kau sudah dapat


kelompok?” tanyaku sedikit canggung.


“apa aku sudah kelihatan seperti


“Yah, aku tidak tau. Jika belum


apa kau mau sekelompok denganku?”


Balasku dengan nada dingin, aku


sedikit kesal dengan sikapnya yang dingin dan cuek itu. Padahal aku menanyainya


dengan baik-baik.


“sudah berapa anggota kelompokmu?”


“empat, kami kurang satu orang.”


“baiklah aku ikut denganmu.”


Setelah dia menyetujui untuk bergabung


dengan kelompok kami, aku mengajaknya untuk berumpul bersama di tempat kami. Aku


datang dengan raut wajah yang kesal.


“sherly ada apa dengan mukamu?” Tanya


vera


“tidak tau!” jawabku cuek


“Apa kau membuatnya marah?” Tanya


vera pada xander


“Aku tidak membuatnya marah,


mungkin dia sedang pms.” ucap xander santai.


Mendengar kata-kata xander semua


teman-temanku tertawa.


“Bagaiman bisa kau berkata


begitu?” tanyaku ketus pada xander.


“Apa kau marah padaku? Apa salahku?”


“Kau benar-benar tidak tau apa


kesalahanmu?”


“tidak” jawabnya santai


“Aishh, percuma berbicara dengan


orang sepertimu tidak akan ada gunanya!” ucapku sambil pergi meninggalkan


mereka.


“Sherlyyy, kau mau kemana?” Tanya


sasha sedikit berteriak.


“aku akan mengambil kertas di


meja guru.”


“baiklah.”


Aku pergi meninggalkan mereka,


dan pergi menuju meja guru. Aku sangat kesal dengan xander seharusnya aku tidak


mengajaknya untuk bergabung dengan kelompok kami tadi. Bagaimana bisa aku tidak


kesal, sikapnya berubah dalam sekejap saat berada di depan teman-temanku dan


lagi setelah apa yang terjadi dia tidak mersa bersalah sama sekali. “Apa dia


itu manusia?” batinku.


Setelah selesai mengambil kertas


di meja guru, aku segera kembali ke kelompokku. Ketika aku kembali aku tau


xander terus memandangiku, tapi aku tak menghiraukannya.


“Ini kertasnya, siapa yang mau


jadi ketua?” ucapku cuek


“Xander saja, dia laki-laki


sendiri disini.” Kata vika


“yasudah tulis namanya, setelah


itu kumpulkan ke meja guru.”


Setelah berkata seperti itu aku


segera menidurkan kepalaku di meja, sebenarnya aku tidak mengantuk tapi malas


melihat muka Xander yang sedang dudk di depanku.


“Apa kau mengantuk?” tanya xander


padaku.


Aku mendengar perkataan xander


tapi aku tak menghiraukan, aku terus memejamkan mata seolah-olah aku memang


tertidur.


“Sudahlah xander biarkan dia,


jangan mengganggunya.” Ucap vera.


“kenapa?”


“suasana hatinya sedang buruk


karenamu, biarkan saja dia.”


Vera memang mengerti kalau


suasana hatiku sedang buruk, dan saat suasana hatiku sedang buruk aku tidak


ingin di ganggu. Setelah beberapa lama kami berdiku dan aku akhirnya tertidur,


bel istirahat berbunyi.


“Sherly, bangun lah sudah istirahat.”


Vera membangunkanku.


Aku terbangun dan orang pertama


yang aku lihat bukan vera tapi Xander, dia duduk di depanku dan menghadapku


dengan senyumnya yang lumayan tampan itu. Tidak!! Bukan lumayan, dia memang


tampan tapi sikapnya menyebalkan.


“Kenapa orang pertama yang


kulihat kau? ini sungguh menyebalkan.” Ucapku dengan nada kesal.


“Ahahaha, kalian berdamailah. Kita


satu kelompok sekarang.” Kata vera


Aku tidak memperdulikan ucapan


vera, aku melihat kesekeliling dan kelas sedikit sepi.


“kemana vika dan sasha?” tanyaku


pada vera.


“Mereka pergi menemui temannya di


kelas lain.”


“ohh, dank au kenapa kau tidak


pergi?” tanyaku pada xander


“Kau mengusirku?”


“ini sudah istirahat, apa kau


tidak pergi bersama teman-temanmu?” tanyaku lagi pada xander.


“Yah, aku tidak tau mereka


kemana. Jadi, aku ikut denganmu!”


“Apa kau akan jadi budakku?


Mendengar perkataan ku Vera


langsung tertawa, sedangkan Xander kebingungan dengan pertanyaanku. Tapi, sejak


pertemuan ku dengan xander aku benar-benar mengalami hari-hari yang berat.


Kenapa? Karena setiap bertemu dengannya aku selalu bertengkar dan berdebat


bahkan sampai kita akan naik ke kelas delapan, aku masih sering berdebat


dengannya. Tapi karena perdebatan ini juga aku mejadi dekat dengannya, bahkan


dia yang merubah duniaku.