I Wanna Be A Star

I Wanna Be A Star
Satu Kelas Lagi?!



Setelah satu tahun berada di kelas tujuh dan dengan segala hal yang kulakukan, ku kerjakan, ku harapkan


akhirnya aku naik ke kelas delapan. Hari ini aku datang untuk melihat kelas yang baru, sekaligus bertemu dengan teman-teman.


“Semoga aku bisa sekelas dengan vera lagi!”


Yupp! Ini adalah harapanku, sekitar lima tahun aku selalu sekelas dengan vera dan aku berharap kali ini aku


sekelas dengannya lagi. Aku tidak akan pernah bosan untuk sekelas dengannya, karena kita bisa melakukan hal konyol bersama.


Aku mengawali pagiku dengan semangat, hingga aku melihat papan pengumuman itu.


“Vera, apa kau sudah melihat mading?” –tanyaku pada vera


“Belum, kita akan melihatnya bersama setelah ini.”


“Sekarang saja, madingnya sudah sepi.” –ajakku


“Tidak! Kau harus mengantarkanku ke toilet dulu sekarang.”


“Kau selalu saja seperti ini, hilangkan kebiasaanmu itu.” –jawabku sedikit kesal


“Hanya sebentar saja, ayolah!” –Vera menarik tanganku


Aku sedikit kesal dengan sikapnya yang selalu pergi ke toilet, tidak bisakah dia menunda hal alaminya itu


sebentar saja. Bahkan saat kami makan pun, dia bisa-bisa saja pergi ke toilet dan mendekam lama disana. Aku menunggu vera sekitar sepuluh menit di toilet, setelah vera menyelesaikan urusannya kami pergi ke mading sekolah.


“Vera, aku tidak bisa menemukan namaku. Bagaimana denganmu?”


“Aku menemukannya!” –jawab vera


“Mana? Apa kita sekelas?” –tanyaku penasaran


“Sepertinya tidak, aku tidak menemukan namamu di kelasku.”


“Apa kau yakin? Biarkan aku melihatnya.”


Aku melihat selembar kertas yang di tempel itu, aku menelusuri namanya satu persatu. Ada nama Vera disitu, tapi


tidak dengan namaku.


“Sherly, aku menemukan namamu, kemarilah!” ucapnya sedikit teriak.


Mendengar hal itu, aku segera menghampiri Vera. Aku membaca nama murid di kelas itu satu persatu, dan memang benar ada namaku disana. Aku membaca daftar nama itu sampai habis, siapa sangka di urutan terakhir tertera nama Xander.


“Vera, ini pertama kalinya kita tidak sekelas.”


“Ya, tak apa kau bisa mencari teman baru dikelas nanti.” Ucap vera santai


“Itu adalah hal yang sulit, aku tidak sepertimu yang pandai bergaul.”


“Ada Xander di kelasmu, bertemanlah dengan dia saat istirahat kau datanglah ke kelasku.” –ucap vera menjelaskan.


“Apa kau gila? Aku tidak akan bersamanya, bisa naik darah jika aku bersamanya.”


Saat aku dan Vera sedang berbicara didepan mading, tiba-tiba ada suara yang menyapa kami. Aku sangat


kenal dengan suara itu, dan lagi itu adalah suara orang paling menyebalkan di dunia.


“Yooo guys!!” sapa Xander menghampiri kami


“Hmm” jawabku cuek


“Hai Xander, apa kabar?” ucap vera membalas sapaan Xnader


“Aku baik, dan kau Sherly apa kau harus secuek itu?”


Aku hanya diam, dan tidak menjawabnya.


“Kau sangat kejam Sherly, kita teman sekelas kau tidak boleh bersikap seperti itu padaku. Jika kau terus bersikap seperti itu, kau akan suka denganku.” Ucap Xander kelewat pede


“Itu tidak akan pernah terjadi, bagaimana bisa aku sekelas dengamu lagi? Ini sungguh neraka bagiku.” Balasku


“kalau tidak ada aku dihidupmu barulah neraka. Apa kau tau?”


Saat aku hendak membalas ucapan Xander, Vera lebih dulu menghentikan kami.


“Sudahlah kalian ini, apa kalian tidak bisa damai? Ini adalah hari pertama bersekolah.”


“Xander tolong jaga Sherly, dia tidak pandai mencari teman baru.”


“Tidak, aku akan mencari teman baru.”


“Kalian benar-benar cocok!” ucap Vera tiba-tiba


“Vera? Apa kau gila? Kami tidak cocok dan tidak akan pernah cocok! Apa kau paham?” ucapku pada Vera


Mendengar hal itu xander hanya terkekeh, dan beberapa saat kemudian bel masuk kelas berbunyi. Vera segera


pergi ke kelasnya, sedangkan aku dan Xander pergi ke kelas kami. Selama perjalan menuju ke kelas pembicaraan kami hanya perdebatan saja, tidak ada hal lain. Bahkan kami harus duduk bersama.


“Kenapa aku harus duduk bersamu?”


“Tentu saja harus, aku akan selalu menjagamu!” ucapnya sambil mengacak rambutku


“Jangan menyentuhku, aku bosan melihatmu.”


“Aku tampan, coba lihat wajahku! Ada yang yang salah dengan matamu.”


“Bukan mataku tapi matamu, sebaiknya kau pergi untuk periksa!”


“Mataku sehat, matamu yang salah!”


“Tidak, Kau bodoh. Kacamu dirumahmu rusak, aku yakin itu.”


“Kau mengataiku bodoh?” ucapnya sedikit kesal


“Ya! Kau bodoh, sangat bodoh!” balasku santai


“kau bilang ….. “


Belum sempat dia melanjutkan kata-katanya aku segera mengatainya lagi dengan kata bodoh. Mendengar hal itu Xander sama sekali tidak bisa membalasku, tentu saja aku senang dan tertawa lepas. Ngomong-ngomong ini pertama kalinya aku tertawa lepas saat berdebat dengan Xander, perdebatan kali ini aku tidak kesal sama sekali itu hal yang aneh.


“kau cantik saat tertawa.” Ucap Xander tiba-tiba


“Ya, tentu saja, aku memang cantik!” jawabku pede


Mendengar ucapanku Xander menyubit pipiku seperti sedang menyubit kucing yang menggemaskan dan dia juga berkata


“Apa kita harus selalu berdebat setiap bertemu?”


mendengar ucapannya tentu saja aku melihat wajahnya dan menatap matanya. Aku menatap matanya, ada tatapan yang sangat dalam dimata Xander.


“Tidak, jika kau tidak memulainya.”


Jawabku sembari memalingkan muka, aku memang menatapnya beberapa detik. Hanya beberapa detik dan itu membuat jantungku berdebar, seolah-olah jantungku akan lepas jika aku melihatnya lagi. Sepertinya benar kata orang cinta itu hanya butuh waktu tiga detik, tidak lebih tidak kurang.


Setelah percakapan itu, aku dan Xander sedikit berbaikan dan kami tidak selalu berdebat. Sekitar 45 menit berlalu dan ini waktunya istirahat. Aku melihat Xander tertidur di sebelahku dan aku membangunkannya, setelah dia bangun aku mengajaknya ke kantin. Sesampainya dikantin, aku bertemu dengan vera sudah menungguku. Aku dan Xander segera menghapiri Vera.


“Yakkk!!! Kalian apa yang terjadi? Bagaimana kalian bisa bersama?” Tanya Vera


“Kita sudah berbaikan.” Ucap Vander


“Bagaimana kelasmu ver?” tanyaku pada Vera


“Nothing special. Apa kau sudah mendapatkan teman baru?” Vera balik menanyaiku


“Ya, sudah.” Jawabku santai


“Siapa teman barumu? dari tadi kau bersamaku dikelas!” Tanya Xander bingung


“Kau adalah teman baruku.” Jawabku sembari tersenyum kecil


“Yakk!!! Sherlyy, apa selama ini kau tidak menganggapku teman?”


“Tidak, kau musuhku!” jawabku santai kemudian tertawa lepas


Melihatku tertawa lepas seperti itu, Vera dan Xander ikut tertawa. Tanpa kusadari tangan Xander sudah memeluk


bahuku, dan Vera terkejut melihat hal itu.


“Sebentar lagi kalian akan jagi pasangan!” kata Vera


“Tidak, kita hanya teman.” ucapku sembari melepaskan tangan Xander


“Lihat saja, kau akan jatuh kepelukanku sebentar lagi.” ucap Xander sambil menatapku


Semenjak kejadian itu, aku dan Xander semakin dekat. Kami ber-tiga selalu bersama kemana-mana, aku juga sudah bisa dengan cara Xander memperlakukanku. Maksutnya dia memang suka memelukku, dan menjahiliku. Tapi, kami sudah jarang berdebat dan lebih banyak canda-tawa ketika kami bertemu dan berkumpul.