I'M An Antagonist Mother

I'M An Antagonist Mother
3. Keluarga Tiri



Ayra merasakan dirinya tidak nyaman dan nyari pada selangkangannya ketika berjalan ia juga tidak sempat mandi karena memang harus buru-buru.


hubungan Ayra dan ibu nya sangat tidak akrab karena sama-sama keras kepala dan memiliki pendapat bertolak belakang.


"Ada apa mama menyuruhku kesini"


"Tunggu, Mama ingin mengenalkan seseorang pada mu"


Ternyata mamanya ingin mengenalkan seseorang pada dirinya. ia mengira mamanya datang hanya sendiri dan ingin bertemu pada nya.


ia sangat hapal mamanya ini karena mamanya pesti memiliki pacar yang akan ia poroti untuk menyuntikan dana pada perusahaanya yang mengalami penurunan.


"siapa lagi yang mama pacari sekarang"


"orang baik... Ah itu dia "


Mama ayra melambaikan tangan dan tersenyum pada orang itu, Ayra juga ikut menoleh. Rahang Ayra menggera, ia sama sekali tidak menyangka gadis itu yang melambaikan tangan itu adalah Aluna pacarnya Kenzo.


Ayra menatap tajam ke arah mamanya yang tersenyum bahagia menyambut datangnya Aluna. Ia masih belum percaya dengan apa yang di hadapannya bagaimana mareka bia saling mengenal, bahkan sudah terlihat sangat akrab.


"Maaf Luna telat, Tan" Ucap aluna dan menyambut pelukan seraya cipika cipiki


"Gak papa kok cantik. Tante tau kamu pesti sibuk"


Kini tatapan terkejut pada Aluna saat melihat Ayra.


"Ayra?"


Ayra menanggapi tidak peduli, ia malah ingin meminta penjelasan dari mamahnya.  ia kira mamahnya sedang menunggu seorang pacar barunya, ternyata seorang saingan yang tidak penting.


"Kalian saling kenal?" tanya mamahnya tapi tidak ada yang merespon


"oh iya, Ku dengar kalian kuliah di kampus yang sama, jadi kalian sudah saling mengenal?"  Namun lagi dan lagi tidak ada yang merespon mareka asik dengan pikirannya mareka masing-masing.


"Ayra, Aluna ini anak kedokteran di kampus kamu loh"


"Tidak penting, tapi bukan itu yang ingin ku dengar"


Aluna hanya diam dan tidak berani menyela, ia masih mengerti sopan santun. dia memilih untuk tenang dan memperhatikan.


Mata Ayra masih menatap mamahnya ia tidak sama sekali melihat ke Aluna, jadi Aluna merasa tidak perlu dirinya menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut Ayra.


Ayra salama ini tidak pernah bersikap ramah padanya, jutek dan sombong. ia juga mendengar dari beberapa orang tentang wanita di sampingnya ini yang mengejar Kenzo, pacarnya. ia tidak marah sama sekali ia percaya kenzo sangat setia padanya.


"Oke, aku sangat tidak perduli bagaimana kalian bisa saling mengenal. yang ingin ku tanyakan sekarang, kenapa mamah mempertemukan kami disini?"  Tanya Ayra


"Baik, mama akan jawab pertanyaan mu itu langsung ke intinya. ... Sebenarnya mama ingin memutuskan untuk kembali menikah dan membangun rumah tangga, bersama papanya Aluna"


Seluruh tubuh Ayra melemas tak berdaya. dari seluruh orang pria di ibukota ini yang kaya kenapa takdir harus mempersatukan dengan orang yang sangat Ayra benci yaitu Aluna. Ia sangat tidak ingin menjadi saudara tiri dengan Aluna.


Ia sangat tidak peduli kalau Aluna dan mamanya saling kenal tapi asalkan tidak melibatkan dirinya dan masuk dalam keluarga Aluna.


"Aku tidak Setuju!"


"Apa maksud mu Ayra?"


"Kau tidak dengar? Aku tidak setuju dan menolak pernikahan ini"


"Ayra kau tidak punya hak untuk melarang mamah. ini baik untuk kita semua. mama akan punya suami, kau dan Aluna juga akan memiliki keluarga lengkap."


"Oh gitu" Ayra tersenyum sinis, sudah sangat tujuan mamahnya bukan untuk membangun rumah tangga seutuhnya yang samawa tapi melainkan untuk menguras harta aluna untuk mendapatkan suntikan dana untuk perusahan mamahnya sendiri. Bagi Mamahnya uang, saham dan investasi adalah harta yang paling penting dan berharga yang harus di perjuangkan.


"Apakah benar tujuan mamah untuk berkeluarga ?" Ayra langsung berdiri dan menghampiri Aluna dan berkata " jika kau tidak ingin miskin dangan biarkan wanita ini menikah dengan Ayahmu"  Ayra langsung pergi karena tidak lama mamahnya akan meneriakinya


"AYRA!!" teriak mamahnya dengan kesal


"Aluna kamu tunggu sebentar, Ayra sangat kaget dengan kabar ini"


*****


"Apa maksud mu berbicara seperti itu Ayra didepan Aluna, kau ingin menghancurkan pernikahan mamah ? hah!" teriak  mamahnya dengan penuh kekesalan.


"Tapi itu benar kan ?"


Ella tidak tau lagi menhadapi anak tunggal nya ini.  Ella berjalan mndekati Ayra agar bisa mendengarkan ucapan anaknya itu


"mamah tidak perlu persetujuan mu itu untuk menikah, itu hanya formalitas agar keluarga dari pak bram tidak salah paham pada keluarga kita. kau bisa tutup mata dan tutuip telinga, tidak usah banyak seakan paling menderita"  ucap mamah Ella penuh pekanan agar Ayra tidak mengaggu pernikahanya.


"Oke.. jika itu keinginan mamah, aku tidak mengaggu pernikahan mamah. mamah tidak perlu repot-repot minta persetujuan ku. kalau mamah menikah tidak perlu menyruh ku datang karena aku tidak perduli" Ayra pergi meninggalkan mamah Ella


Ayra tidak perlu mengemis untuk di anggap anak yang ingin di dengar dan dimengerti. ia juga tidak sudi menjadi saudara tiri dari saingannya itu.


"ah sial" Teriak Ayra saat berada dalam mobil " aku dan Aluna menjadi saudara... dih Najiss"


******


Dion yang semalaman mencari keberadaan Kenzo yang tidak hilang kemana tanpa kabar, informasi yang terakhir diterimanya, kenzo meninggalkan bar dalam keadaan mabyk. mobilnya pun ditinggalkan begitu saja diparkiran. Pagi ini mendapatkan kabar dari orang suruhnya, bahwa Kenzo berada di Apartementnya.


Berulang kali Dion menekan bel, namun tak ada sedikitpun respon dari dalam. Dion langsung menelpon menelpon manager karena ia juga menegenalnya jadi ia bisa meminta bantuan.


"Terima kasih bantuannya"


"Sama-sama. Kau bisa menghubungi ku jika butuh bantuan"


"Iya, kalau ada perlu dan bantuan aku segera menghubungi mu "


Dion memeriksa pakaian yang tergeletak di sofa.  Seketika ia menghembuskan napasnya lege. Itu adalah pakaian yang di pakai Kenzo semalam, untuk lebih jelas Dion langsung melihat Kenzo di kamarnya.


dugaannya benar kenzo masih terlelap dibalik selimut tebal dengan keadaan telanjang, itu yang ia simpulkan karena setelan yang pakai kenzo semalam sudah berserakan di sofa dan lantai kamar.


"Bagun, Ken. Mau sampai  jam berapa kau tidur?"


Dion menggoyangkan tubuhnya dengan cukup keras.


"kENZOO"  teriak Dion ditelinganya


Tubuh polos itu mulai mengeliat karena merasa terganggu. dia justru berpindah posisi dengan mata masih tertutup


"Kenzo!"  Panggil Dion lagi


mata kenzo sedikit terbuka "Kau ngapain disini ?"


"Ngapaian ? Aku mencari mu semalaman, dan ternyata kau malah tidur dengan nyaman disini. Liatlah dirimu?  Apa semalam kau mimpi basah hingga tidur dengan telanjang bulat seperti ini ?"


Kenzo terkejut, dia baru menyadari bahwa dibalik selimut dirinya telanjang bulat


"Apa terjadi sesuatu?"


"Ya, dari informasi kau mabuk berat dan meninggalkan bar tanpa  pamit "


"lalu ini aku kenapa?"


Dion mengedikkan bahu " Ya mungkin semalam mandi terus kau lupa mengenakkan pakaian mu langsung tidur saja"


Kenzo mengacak rambutnya, dia sama sekali tidak ingat apapun yang terjadi semalam. yang ia ingat terakhir adalah membalas pesan dari aluna di bar dan menikmati minuman.


Toleransi alkoholnya cukup baik, setiap minum tidak mudah untuk mabuk, entah kenpa semlam ia tiba-tiba saja bisa mabuk berat.


"Cepat sana mandi, kita harus seger ke kampus "


Kenzo mengangguk. dia menutupi tubuhnya dengan selimut menuju kamar mandi.


.....Bersambung......