
Keesokan paginya, Alena sudah mematut diri di depan cermin dengan seragam yang lengkap. Tidak lupa ia juga memakai sedikit bedak serta polesan bibir yang terlihat natural agar terlihat lebih fresh.
"Waw, cantik banget" pekik Alena dalam hati
/by pinterest/
Setelah bersiap, Alena pun bergegas turun menuju ruang makan dan sudah mendapati keluarnyanya yang duduk manis menunggu kedatangannya.
"Morning semua" sapa Alena dengan bersemangat sambil mencium pipi mereka satu- persatu.
"Morning Princess" sapa balik mereka dengan bergantian.
Mereka pun memulai acara sarapan pagi ini dengan senyum yang lebar. Beberapa menit kemudian satu- persatu dari mereka sudah selesai makan.
Tak lama ada Bi Surti yang melaporkan bahwa ada Juna yang sudah ada di ruang tamu, dan mereka menyuruh Juna agar menuju ke ruang makan.
" Pagi Ma, Pa, Bang" sapa Juna sambil salim ke Windy dan Bagas.
" Ma? Pa?" tanya Alena di dalam hati sambil menaikkan satu alisnya, pertanda ia bingung. Bagaimana bisa Juna memanggil Mama Papa juga?
" Pagi" sapa balik mereka sambil tersenyum, Alena yang melihat keakraban mereka hanya bisa diam.
"Ma? Pa? kenapa Juna panggilnya begitu? kalian akrab banget ya?" tanya Alena heran.
" Oh iya, Ale mungkin gak ingat. Juna dari dulu udah panggil Mama Papa juga dek, kamu juga panggil orang tua Juna, Mami Papi" jelas Aiden.
" Berarti selama ini keluarga Alena dan Juna deket banget ya. Jadi sedikit susah nih ngejauh dari Juna" kesal Alena dalam hati.
•••
" Ma, Pa, Bang aku sama Ale mau berangkat sekarang ya, takut telat" pamit Juna
" Oh iya, Abang juga mau berangkat" sahut Aiden
" Papa juga mau berangkat karena ada meeting pagi ini" kata Bagas
" Yaudah dedek berangkat dulu ya Ma, Pa, Bang" pamit Alena sambil mencium tangan serta menciun pipi mereka satu persatu (kecuali Juna)
" Jangan nakal ya dek, jangan sampai lecet lagi, kalau sakit bilang ke Juna biar diizinin pulang" peringat Bagas
"Iya Pa" jawab Alena sambel mengerucutkan bibir karena merasa kesal, ia seperti masih anak SD yang sedang dinasehati.
•••
Juna memberikan helm ke Alena, tapi Alena masih bengong karena memikirkan bagaimana ia menaiki motor Juna yang tinggi ini, sedangkan badannya saja pendek.
"Woy! malah bengong, ini helmnya ambil" kesal Juna
"Ck, gue naiknya gimana ini?" gerutu Alena sambil memakai helm yang diberikan oleh Juna.
Juna melihat helm yang dipakai Alena terlihat kebesaran pun merasa gemas .
"Gemes deh" batin Juna sambil terkekeh.
Seakan tersadar dengan kelakuannya, Juna langsung menetralkan raut mukanya.
"Sini pegang tangan gue, terus lo naik pelan- pelan" jelas Juna
Alena pun menuruti perintah Juna dengan perlahan ia menaiki motornya Juna, dan berhasil!
"Pegangan" perintah Juna
" Dih, ogah lo mau modus kan biar gue peluk?" tolak Alena
" Mau modus pala lo peyang! kalo lo jatuh gue gak mau tanggung jawab ya" peringat Juna
" Udah deh cepetan jalan!" perintah Alena
Juna yang mendengar ucapan Alena pun langsung mengegas motor dan membuat Alena hampir terjungkal ke belakang dan otomatis Alena langsung melingkarkan tangannya ke perut Juna dengan erat sambil menutup kedua mata sambil ketakutan.
" Gila ya lo!" teriak Alena dengan kesal
Juna yang melihat ekspresi Alena yang ketakutan merasa gemas sendiri.
•••
Juna dan Alena sudah memasuki gerbang SMA Angkasa. Alena belum sadar bahwa mereka sekarang sedang menjadi pusat tontonan, karena Alena yang masih memeluk Juna dengan erat. Juna yang merasa risih karena menjadi pusat perhatian pun langsung berdehem. Seakan tersadar, Alena pun langsung melepaskan pelukannya dan langsung turun dari motor Juna. Dan ia hanya bisa menahan malu karena menjadi pusat perhatian.
" Ale!" panggil seseorang
•••