
•••
Keesokan paginya Mama Windy sudah menyiapkan sarapan dan segera menuju ke kamar Alena untuk mengajak mereka sarapan bersama.
Klek..
Saat membuka pintu, hal pertama yang dilihat adalah anak- anaknya yang sedang tidur berpelukan. Ia merasa sangat bersyukur karena putri tersayangnya sudah sehat.
Awalnya Windy tidak tega membangunkan mereka berdua yang masih bergelung dalam selimut. Tapi, waktu sudah menunjukan pukul 9 yang berarti sudah terlambat untuk sarapan.
" Hey ayo bangun, sudah jam 9. Kalian tidak mau sarapan?" ujar Windy
"eungh" lenguh Aiden sambil membuka mata perlahan.
"Mama tunggu di bawah ya, kamu coba bangunin dedek" ucap Windy
"Iya Ma" jawab Aiden dengan suara khas seperti orang bangun tidur.
Windy pun keluar kamar Alena menuju ruang makan keluarga. Dan ternyata sudah ada Bagas sang suami yang sedang libur kerja karena hari Minggu.
•••
Aiden yang melihat sang Adik tidur merasa sangat gemas, pasalnya Alena tidur dengan mulut sedikit terbuka. Aiden pun terkekeh.
"Dek, yuk bangun! Udah siang, kita udah ditunggu sama Papa Mama" ucap Aiden sambil menggoyangkan tubuh Alena dengan perlahan.
Merasa ada yang mengganggu Alena pun mulai mengerjapkan mata, dan tersenyum karena ternyata dihadapannya sudah ada Abangnya.
"Morning" sapa Aiden sambil mencium pipi Alena.
" ahh indahnya, pagi- pagi udah disambut pangeran" batin Alena
"Morning bang" sapa Alena balik.
"Yuk! Kita udah ditunggu Mama Papa di bawah. Kamu mandi dulu sana, Abang juga mau mandi di kamarnya Abang" titah Aiden
"ayeaye captain" jawab Alena dengan bersemangat.
•••
Setelah mandi, Alena langsung menuju walk in closet. Alena langsung terpukau melihat rentenan baju- baju mewah. Selain itu, ada banyak sepatu dan tas yang pasti harganya mahal.
/by pinterest/
" Alena yang asli beruntung banget, udah punya keluarga yang penyayang, hidup mewah juga" batin Alena
Alena langsung bergegas mencari pakaian yang akan digunakannya. Alena memilih pakaian rumahan.
/by pinterest/
" Oh iya, gue kan belum lihat wajah yang sekarang" batin Alena dan langsung menuju ke depan tempat rias.
Saat Alena berkaca, ia terpukau dengan kecantikan tubuh Alena. Benar- benar seperti dewi Yunani.
"Bagaimana bisa Juna tidak menyukai Alena yang jelas- jelas memiliki wajah yang sangat cantik ini?" batin Alena dengan ketidakpercayaannya
Seakan tersadar, Alena langsung bergegas menuju ke ruang makan. Saat ia sudah menuju ruang makan, ternyata sudah ada Papa, Mama, dan Abangnya. Selain itu, juga ada para maid yang sedang menyiapkan hidangannya.
"Pagi semua" sapa Alena sambil mengecup pipi mereka satu- persatu dengan senyuman yang lebar.
"Pagi Princess" balas mereka serempak.
Alena langsung duduk disebelah Aiden. Posisi Alena dan Aiden sekarang berseberangan dengan Mama dan Papanya.
"Ale mau makan apa nak?" tanya Windy
Alena yang melihat banyaknya lauk jadi bingung mau makan apa. Dan akhirnya iya memutuskan untuk makan Ayam goreng serta sayur. Mereka yang bisa makan bersama Alena merasa sangat senang.
Mereka makan dengan kesunyian, karena di keluarga Jareda tidak boleh ada yang berbicara saat acara makan berlangsung.
Saat selesai makan Alena ingin menanyakan sesuatu ke keliarganya.
"Pah,Mah,bang kapan Ale bisa sekolah? Ale besok mau sekolah" tanya Ale
"Dedek belum boleh sekolah!" tegas Aiden
Ale yang mendengar ucapan sang kakak hanya diam.
" Bang, jangan gitu lihat dedek jadi takut sama kamu. Besok Ale udah boleh sekolah kok. Tapi harus jaga kesehatan, biar Papa yang suruh Juna buat jagain Ale" ucap Bagas sambil tersenyum
Ale yang awalnya tersenyum lebar langsung melengkungkan bibir kebawah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan sang Papa.
" Gue kan mau menjauh dari Juna, kenapa mereka malah ngedeketin ?" kesal Alena dalam hati.
" Kenapa harus Juna? Ale gak mau sama Juna" ucap Alena lirih
Mereka yang mendengar ucapan Alena langsung mengernyitkan kedua alis, mereka sangat bingung dengan Alena.
" Loh kenapa? Bukannya kamu paling suka jika dekat dengan Juna?" tanya Windy dengan keheranan.
" Ale lagi males ketemu sama Juna, gak tau deh kenapa" ucap Alena sambil mengendikkan kedua bahu.
" Gak boleh, kamu harus dijaga sama Juna. Kamu dulu udah abang ajak satu sekolah sama Abang malah gak mau dan lebih milih bareng Juna" cibir Aiden
"Benar kata Abang. Kalau Ale gak mau dijaga sama Juna, Ale gak kita izinin buat masuk sekolah dulu" ancam Windy
Alena yang mendengarnya langsung mengerutkan bibir. Mereka yang melihat itu langsung gemas dengan kelakuan Alena.
Ding dong...
Bel rumah pun berbunyi. Mereka bingung siapa tamu yang datang siang- siang begini.
Tiba- tiba ada Bi Surti yaitu salah satu maid di mansion ini yang memberi laporan.
" Permisi Tuan, ada den Juna di depan mau bertemu dengan non Alena" ucap Bi Surti. Setelah memberi laporan tersebut, Bi Surti bergegas menuju halaman belakang.
" Ya sudah, Ale temuin Juna dulu ya. Mama sama Papa mau keluar ada urusan" pamit Windy sambil mencium pipi kedua anak mereka.
" Abang mau lanjut kerjain tugas ya dek. Kamu temuin Juna dulu. Siapa tau Juna kangen sama kamu haha" goda Aiden
" Apaan sih bang, gak jelas banget" bantah Alena.
Alena langsung meninggalkan Aiden yang sedang tertawa terbahak- bahak melihat ekspresi Alena yang menurutnya sangat lucu. Dengan rasa dongkolnya Alena langsung menuju ke ruang tamu. Bisa dilihat bahwa Juna sedang duduk di salah satu sofa dengan bermain ponselnya. Juna belum menyadari bahwa sudah ada Alena yang sudah duduk si hadapannya.
"ehemm" dehem Alena yang menyadarkan Juna
Juna yang mendengar orang berdehem langsung mengangkat pandangannya dan terkejut karena ada Alena dihadapannya.
Alena yang melihat Juna terkejut hanya bisa menaikkan satu alis pertanda dia bingung dengan keadaan ini. Juna yang melihat Alena memasang ekspresi tersebut langsung berdehem.
"Ehm. Gimana kabar lo? Udah baikan?" tanya Juna kikuk.
"Bukan urusan lo" jawab Alena dengan nada dingin.
Juna yang melihat balasan dari Alena hanya kikuk. Suasana menjadi canggung, Alena hanya melihat Juna yang sedang gelisah.
" Gue kesini disuruh sama Mami" kata Juna
"Terus?" tanya Alena dengan wajah dingin
"Lo kenapa jadi berubah gini? Atau ini salah satu trik lo biar cari perhatian sama gue?" tuduh Juna
" Gak usah nuduh" ketus Alena
"Cari perhatian katanya? Ogah banget gue cari perhatian sama dia. Ganteng sih tapi sayang minus akhlak. Mending cari perhatian sama oppa Suho" batin Alena
" Yakin? Tumben banget lo cuek kalo bareng sama gue. Biasanya lo bakal ngerecokin gue dan bikin gue risih" tuduh Juna
" Ck, kalau lo kesini cuman buat nuduh gue, mending lo pulang deh. Ganggu banget" kesal Alena
Juna yang mendengar nada bicara Alena semakin tinggi pun langsung pamit pulang. Tapi sebelum dia menuju pintu keluar, ia langsung berbalik menyampaikan sesuatu.
"Kata bokap lo, gue harus jagain lo di Sekolah. Ngerepotin banget sih lo" cerocos Juna
"Kalau gak ikhlas tinggal tolak aja kan" jawab Alena
" Mana bisa gue nolak, bisa- bisa Mami bakal marah besar ke gue" gumam Juna yang bisa didengar oleh Ale
"Ya udah besok gue jemput lo, jangan sampai telat!" perintah Juna
"Ck, iya-iya sana pulang!" jawab Alena dengan kesal.
Dengan perasaan dongkon, Juna langsung keluar dari kediaman keluarga Jareda.
"Cuma gitu doang? gak jelas banget tuh orang" gumam Alena
•••