
Beberapa hari setelah kejadian penyerangan itu, Axel tidak pergi ke kantor. Dia diminta oleh Yuda agar stay di rumah beberapa hari, sampai keadaan kembali kondusif. Laki-laki tampan itu juga uring-uringan di dalam kamar karena bosan di rumah terus selama beberapa hari ini.
"Rachel!" teriak laki-laki itu disertai gedoran pada pintu kamar orang yang dia panggil.
Pintu yang terkunci itu terbuka dan menampilkan gadis cantik yang memakai baju kaos kebesaran berwarna hitam dan celana pendek. Dikarenakan mereka hanya di rumah saja, maka Rachel memutuskan untuk memakai baju santai.
"Ada apa, Tuan Muda?" tanya Rachel seraya menutup pintu kembali karena sang Tuan Muda itu langsung masuk tadi. Axel itu anak kecil, jadi Rachel tidak keberatan jika laki-laki itu masuk ke dalam kamarnya seperti ini. Bahkan Axel sering masuk tanpa mengetuk pintu atau ketika Rachel sedang mandi.
Axel menghempaskan tubuhnya di ranjang Rachel dengan posisi tengkurap, bibirnya yang mengerucut itu menandakan dia benar-benar kesal. Kedua kaki panjangnya menendang-nendang kasur.
"Rachel, ayo kita jalan-jalan," ucap Axel dengan memasang wajah memelasnya ke arah Rachel yang duduk di karpet di samping tempat tidur.
Rachel menoleh dan menutup buku yang sedang dia baca, kemudian meletakkannya di atas nakas. Beralih menatap Axel, Rachel berdiri dan mengambil hpnya yang berada tepat di atas kepala Axel.
"Saya baru saja menerima laporan kalau ada beberapa orang yang mengintai di sekitar rumah. Jadi kita tidak bisa keluar, Tuan Muda." Rachel memperlihatkan rekaman CCTV yang disambungkan pada hpnya tersebut pada Axel yang meringsut ke pinggir ranjang.
"Aaaaaa..... Rachel!! Tapi aku bosan dikurung di rumah seperti ini." Laki-laki itu berguling-guling tanda merajuk, bahkan sprei sudah kusut dibuatnya.
"Anda bisa melakukan kegiatan seperti berenang atau berkebun. Itu sangat bagus dilakukan agar Anda tidak stress," saran Rachel sambil meletakkan hpnya di tempatnya semula.
Axel hanya diam hingga Rachel penasaran dan mendekat. Namun tiba-tiba laki-laki itu mendudukkan tubuhnya membuat Rachel terkejut.
"Ayo kita bermain ular tangga!" seru Axel semangat dengan menatap Rachel yang terduduk di karpet.
Rachel mengernyitkan dahinya. Dia menyarankan agar laki-laki itu berenang atau berkebun, namun pilihannya adalah bermain ular tangga. Tapi kemudian Rachel memaklumi karena Axel itu bukanlah laki-laki dewasa.
"Baiklah, tapi saya tidak punya permainan itu," ucap Rachel menyetujui.
"Aku punya," balas Axel dan segera beranjak keluar dari kamar Rachel.
Rachel memilih menunggu sambil membereskan tempat tidurnya yang awut-awutan karena ulah Axel tadi. Rachel tersenyum mengingat semua tingkah Axel sejak dia bekerja menjadi bodyguard laki-laki itu. Ada saja yang membuatnya menyukai laki-laki telat dewasa itu.
"Apa aku menyukainya? Secepat ini?" gumam Rachel tak sadar bahwa Axel sudah berdiri di belakangnya dengan memeluk papan ular tangganya.
"Siapa yang kau suka?" tanya Axel yang langsung membuat Rachel terkejut. Matanya menyipit menatap gadis yang sedang mengelus dada di depannya itu.
"Tidak ada, mungkin Anda salah dengar," balas Rachel agak kikuk sambil memperbaiki sprei yang sebenarnya sudah rapi.
Axel mengangguk kecil dan menarik tangan Rachel untuk duduk di atas karpet. Mereka duduk berdampingan dengan papan permainan sudah terbentang di depan.
"Aturannya?" tanya Rachel menoleh menatap Axel yang begitu dekat dengannya. Laki-laki itu sedang memegang dua bidak dengan warna biru dan merah.
'Tampan, imut....'
"Siapa yang turun, coret pakai ini." Axel mengeluarkan spidol hitam dari saku celananya. "Dan yang kalah harus jongkok sampai skor kita sama," imbuhnya sambil meletakkan satu dari dua spidol di tangannya ke depan Rachel.
"Setuju." Rachel mengambil spidol itu dan mereka mulai mengocok dadu.
"Aku duluan!" seru Axel girang karena dia yang bisa jalan terlebih dahulu. Kemudian barulah Rachel menyusul dengan bidak merahnya.
*****
"Aaaakhh....." geram Rachel karena sejak babak pertama hingga babak ke enam ini, dia hanya menang satu kali. Dia harus memenangi empat babak lagi agar bisa mengalahkan Axel yang juga berjongkok di sampingnya.
Wajah mereka sama-sama dipenuhi coretan, namun Rachel yang lebih parah. Axel terlalu hebat bermain hingga gadis itu kewalahan.
"Turun lagi!"
"Lagi."
"Nah, lagi."
Dan lagi, Rachel mengacak rambutnya kesal karena dadu di tangannya itu seolah tidak pernah berpihak padanya. Rachel kembali mengocok dan holla, akhirnya dia bisa memenangkan babak enam ini. Tak sia-sia dia berdoa tadi sebelum melempar.
"Yes, menang!" ujar Rachel berteriak dan mendudukkan tubuhnya. Kakinya sudah mati rasa karena sudah lebih dari satu jam berjongkok. Sedangkan Axel bermain sesukanya, mau dia jongkok atau duduk, itu terserah dia.
"Hei, kau belum boleh duduk. Harus dicoret!" ucap Axel yang melihat Rachel duduk. Dia mengarahkan spidol pada wajah Rachel disertai senyum jahilnya.
"Tidak ada peraturan seperti itu sebelumnya, Tuan Muda." Rachel berusaha menahan dan menghalangi Axel yang ingin mencoret wajahnya.
"Itu peraturan baru," balas Axel tidak mau berhenti dan mendesak tubuh Rachel.
Tubuh mereka ambruk dengan Axel yang menindih tubuh Rachel. Mata Rachel terbelalak dan tubuhnya menegang tatkala bibir mereka saling bersentuhan. Axel menatap Rachel dengan tatapan intens.
Rachel yang tadi terbengong, kini tersadar. Dia mendorong tubuh Axel agar menjauh dari tubuhnya. Dia duduk dan memegang bibirnya, tidak, itu ciuman pertamanya.
"Rachel, manis."
Rachel sontak menoleh menatap Axel yang juga memegang bibirnya. Ucapan laki-laki itu membuat wajah Rachel memerah dan segera beranjak menuju kamar mandi. Dia malu.....
Axel mengikuti Rachel yang sudah masuk ke kamar mandi, gadis itu sedang mencuci wajahnya yang dipenuhi coretan. Dia berdiri di samping Rachel.
"Tuan Muda, ini tidak bisa hilang." Rachel memutar tubuhnya menghadap Axel.
"Cuci lagi, Rachel!" balas Axel polos dan menyalakan air untuk mencuci wajahnya sendiri. Tak lupa mengambil sabun cuci muka Rachel dan memijat pelan wajahnya.
"Rachel, tidak bisa hilang!!" seru Axel heboh sambil mengusap wajahnya yang masih terdapat coretan.
"Kita menggunakan spidol permanen," ucap Rachel frustrasi. Bagaimana dengan wajahnya sekarang? Akkhhh..... Menjengkelkan. Namun setidaknya ini membuat mereka lupa tentang kejadian tadi.
"AYAHHHHH!!!" teriak Axel begitu keras dan berlari keluar. Bisa dipastikan kalau laki-laki itu akan merengek pada Yuda tentang wajahnya yang sekarang dipenuhi coretan spidol permanen.
"Mau marah, tapi dia imut. Gimana dong?" gumam Rachel membentur-benturkan jidatnya ke marmer kamar mandi.
.
.
Mohon dukungannya 🤍
.
.