
Melupakan kejadian pagi tadi di basement, semua kembali berjalan dengan baik. Salah satu bodyguard Axel sudah menghapus rekaman CCTV kejadian tersebut, sesuai permintaan Rachel.
Rachel tidak menyukai jika dirinya terdokumentasikan, itulah mengapa dia meminta agar rekaman saat kejadian itu di hapus. Rachel memiliki alasan sendiri. Dia tidak ingin keahliannya dalam bela diri diketahui musuh terlebih dahulu, itu bisa membuat setiap gerakannya terbaca dan musuh menyiapkan banyak siasat nantinya.
Dan sang Tuan Muda yang tadi sedikit ketakutan, sudah membaik setelah menyantap nasi goreng seafood sebagai sarapannya. Sekarang dia sedang duduk di kursi kebesarannya, begitu sibuk dengan laptopnya.
Rachel yang sedang duduk di sofa dengan posisi menghadap lurus ke arah Axel. Matanya tak berkedip menatap laki-laki istimewa itu.
"Andai dia benar-benar laki-laki dewasa, pasti aku akan jatuh cinta padanya." Gadis itu bergumam sambil menyisir rambut sepunggungnya dengan jemarinya.
"Tunggu, apa yang aku katakan tadi?" Rachel mengerutkan keningnya dan menepuk bibirnya beberapa kali.
Entahlah, Rachel merasa aneh pada dirinya sendiri. Sudah ratusan pria muda tampan sempurna yang menyewanya, namun tidak ada satupun yang membuatnya memuji mereka semua. Jangankan memuji, memperhatikan mereka seperti saat ini saja, dia tidak pernah. Namun, kenapa dengan Axel berbeda?
"Rachel!" panggil Axel dengan suara lumayan keras hingga Rachel tersadar dari lamunan. Dia sedikit terkejut melihat Axel yang sekarang sudah berada di depannya sambil bertolak pinggang.
"Aku sudah memanggilmu tiga kali. Apa yang kau pikirkan sampai melamun? Kau tidak bisa menjagaku jika melamun seperti itu." Laki-laki itu mengomeli Rachel seperti anak kecil yang kesal dengan ibunya. Namun wajah marahnya malah membuat Rachel gemas, pengin nyubit itu pipi.
Rachel berdiri dan memperbaiki jasnya. "Maaf atas ketidakbecusan saya, Tuan Muda. Apa Anda butuh sesuatu?"
"Ayo makan siang, aku sudah lapar." Laki-laki itu memegang perutnya dan menatap memelas pada Rachel.
"Mari, Tuan Muda." Rachel meraih tasnya dan berjalan berdampingan dengan Axel keluar dari ruangan. Mereka turun ke lobi karena supir sudah menyiapkan mobil di sana.
Mungkin karena Axel yang masih seperti anak-anak, jadi banyak yang tidak menghormatinya. Ada yang memandang rendah dan tersenyum sinis, namun ada juga yang tersenyum ke arah mereka. Tampaknya dari semua karyawan di sini, banyak yang tidak memiliki attitude dan menyepelekan atasan.
Rachel membukakan pintu untuk Axel, setelah itu dia masuk ke bagian kemudi. Mobil segera melaju menuju arah restoran yang sering Rachel kunjungi. Berharap semoga si tuan muda moodyan ini menyukai menu-menu di sana.
"Rachel, kenapa kau memilih menjadi bodyguard? Bukankah seharusnya perempuan itu bekerja yang sewajarnya saja?" Axel sampai mencondongkan tubuhnya ke arah Rachel saking penasarannya.
"Saya menyukai bela diri, dan ini jenis pekerjaan yang menurut saya cocok dengan passion saya. Dan sebenarnya setiap perempuan itu bebas mengekspresikan diri mereka, terutama dalam hal pekerjaan." Rachel menjelaskan tanpa menatap Axel, dia begitu fokus menatap ke depan.
Axel memegang sabuk pengamannya karena mobil tiba-tiba melaju begitu kencang.
"Jangan ngebut! Aku takut, Rachel!" pekik Axel heboh dan hampir menangis. Merasakan elusan di kepalanya, Axel menoleh ke arah Rachel.
"Percaya pada saya," ujar Rachel memberikan senyum manisnya yang langka.
Axel mengangguk kecil, masih dengan wajah ketakutannya.
Rachel memberi kode pada dua mobil bodyguard di depan agar berbelok ke arah gedung kosong di bagian kiri. Mobil mereka berhenti di bagian samping gedung.
"Rachel, aku takut!" ucap Axel gemetaran menatap Rachel yang sedang membuka sabuk pengamanan. Dia melihat beberapa mobil berhenti tak jauh dari posisi mereka sekarang.
"Tutup mata Anda sampai saya kembali. Jangan buka walau Anda mendengar suara apa pun itu!" ujar Rachel menenangkan Axel yang sekarang menggenggam tangannya. Rachel sedikit merasa prihatin terhadap laki-laki itu, begitu banyak orang-orang yang mengharapkan dia mati.
"Baik, tapi kau harus segera kembali!" pinta Axel melepaskan tangan Rachel dengan ragu.
Rachel mengangguk sebelum keluar dan menyuruh dua orang bodyguard menjaga Axel. Dia berjalan sambil menyanggul asal rambut hitamnya. Mata Rachel tak beralih dari dua puluh orang berpakaian rapi di hadapannya.
"Apa tuan kalian begitu lemah hingga mengirim pasukan, heh?" cibir Rachel dengan wajah julidnya. Dia menatap mereka satu per satu dengan senyum miring dewi iblisnya.
"Wanita memang suka berkata sombong, tapi kenyataan bahwa mereka lemah tidak bisa terlepas dari diri mereka." Seorang laki-laki maju dan berhadapan langsung dengan Rachel yang mengangguk kecil mengejek.
Yang namanya laki-laki pastinya begitu anti dengan kata lemah. Semua pria itu, terutama yang sekarang berhadapan dengan Rachel, hati mereka memanas mendengar ucapan Rachel itu. Mereka langsung mengeluarkan pistol dan membidik ke arah Rachel yang masih saja bersikap santai.
"Nah, kan. Apa kalian mengakui kalau kalian lemah? Dua puluh lawan satu, udah keroyokan masih aja pake senjata. Tangan kosong kalau berani, Sayang!" ucap Rachel dengan suara lantang yang terdengar sampai ke telinga Axel di dalam mobil. Dia ingin membuka mata, namun mengurungkan niat kala mengingat pesan Rachel sebelum keluar dari mobil tadi.
Bunyi puluhan pistol yang membentur beton terdengar, membuat senyum iblis Rachel kembali terlihat. Dia memberi kode pada bodyguard di belakangnya untuk bersiaga di mobil Axel, karena dia merasa akan ada kejutan dari orang-orang ini nantinya.
Laki-laki yang tadi berdiri di hadapan Rachel, berjalan mundur dan memberi kode jari menyuruh setengah dari anak buahnya maju. Sepuluh orang langsung maju dan siap melayangkan tinju serta tendangan ke arah Rachel.
Rachel sudah siap dengan kuda-kudanya. Baru saja dia akan maju, sepuluh orang itu jatuh dan teriakan kesakitan menggema memenuhi indera pendengarannya. Rachel mendongak ke arah lantai atas di mana puluhan orang berpakaian hitam layaknya ninja dengan senjata laras panjang. Tidak terdengar suara tembakan, berarti mereka memakai peredam agar tidak terdengar orang-orang di luar kawasan gedung.
Rachel memasukkan tangan ke dalam jasnya, berniat mengeluarkan pistolnya. Dia belum tahu, apakah orang-orang berpakaian hitam itu kawan atau lawan.
"Nona Rachel!"
Rachel langsung berbalik ketika seseorang memanggilnya tepat dari arah belakangnya.
"Siapa?" tanya Rachel singkat dan siaga. Matanya menatap tajam mengintimidasi.
Laki-laki itu membuka penutup wajahnya dan membungkukkan tubuhnya. "Saya hanya mendapat tugas untuk melindungi mobil yang Anda bawa."
Rachel mendekat dan mencengkram leher laki-laki itu. Dia tidak bisa percaya begitu saja, keamanan Axel lebih utama dan tidak bisa disepelekan. "Siapa?" tanyanya lagi dengan penuh penekanan.
"Rachel!!"
Terdengar teriakan Axel yang berlari ke arahnya, Rachel mendorong laki-laki tadi dengan keras hingga mundur beberapa langkah. Jangan sepelekan kekuatan gadis ini, dia bahkan sudah berlatih sejak umur 5 tahun.
"Kenapa Anda keluar?" tanya Rachel setelah Axel berdiri di sampingnya. Dia meraih tangan laki-laki itu dan menariknya agar lebih dekat dengannya. Dia marah, bagaimana kalau semua orang di sini adalah musuh? Dia tidak akan bisa melawan sendirian.
"Aku takut, kenapa kau lama sekali?" ujar Axel dengan wajah ketakutan yang membuat Rachel tak jadi marah.
"Rachel, ayo pulang!" Axel merengek sambil memegang tangan Rachel dan dia genggam.
Rachel menatap laki-laki yang masih berdiri tak jauh di depannya. "Jangan sampai kita bertemu lagi," ucapnya pada laki-laki itu sebelum menarik tangan Axel kembali menuju mobil.
Rachel menyuruh agar satu mobil tinggal untuk mengurus orang-orang di sana. Dia akan pulang dikawal satu mobil lainnya karena Axel yang sudah begitu ketakutan. Bahkan dalam perjalanan, laki-laki malang itu selalu memegangi lengannya.
"Rachel,"
"Anda sudah aman, Tuan Muda." Rachel menatap Axel dengan senyuman mengembang di bibirnya yang dipoles lipstik nude.
Axel mengangguk kecil, namun jelas terlihat kalau dia masih ketakutan. Rachel memutar musik agar laki-laki itu tenang.
.
.
Mohon dukungannya 🤍
.
.