Husband Beyond Expectations

Husband Beyond Expectations
Sang Tuan Muda



Sinar matahari pagi yang hangat datang menyapa. Pagi ini juga terasa sedikit lebih dingin dari biasanya. Tampaknya butiran embun yang membasahi dedaunan itu akan memakan waktu sedikit lebih lama untuk menguap.


Di pagi yang dingin itu, Rachel sedang berada di kamar tuan muda yang mulai detik ini menjadi tanggung jawabnya. Kemaren mereka belum sempat pendekatan karena laki-laki itu yang tidak mau keluar kamar. Dia mengurung diri di kamarnya dengan alasan bahwa dia tidak mau lagi menambah bodyguard.


"Aku tidak mau menerimamu," ujar Axel kesal dengan melempar bantal ke arah Rachel.


Rachel menangkap bantal itu dan berjalan santai ke ranjang di mana Axel duduk di bagian tepi. Dia meletakkan bantal itu kembali ke tempatnya. Kemudian menatap santai laki-laki yang bibirnya mengerucut.


"Kenapa ayah harus menyewa bodyguard lagi untukku? Ini mengesalkan!" Bibir yang tadi mengerucut itu mendumel dengan masih memandang kesal. Kakinya menendang-nendang ruang kosong antara dirinya dengan Rachel yang berdiri tegap.


Rachel mengambil air putih dari atas nakas dan menyodorkannya di depan bibir Axel. Laki-laki itu menatapnya dan gelas itu bergantian sebelum meminum air itu dari tangan Rachel. Persis seperti anak kecil yang langsung luluh jika dimanja.


"Anda harus berpakaian agar kita bisa segera berangkat ke kantor," ucap Rachel setelah meletakkan gelas kosong itu di atas nakas.


"Kau akan ikut?"


"Tentu, Anda adalah tanggung jawab saya."


Axel yang hanya memakai handuk di pinggang itu berdiri dan berjalan menghentakkan kaki memasuki walk-in closetnya. Di dalam sana, semua kebutuhan outfit dan penunjang gaya sudah Rachel siapkan.


Rachel benar-benar takjub dengan laki-laki bernama Axel ini. Walaupun sikapnya seperti anak TK, namun otaknya super duper genius. Yuda juga sudah menjelaskan bahwa putranya itulah yang membuat kerajaan bisnisnya semakin maju dan kuat. Pria tua itu juga menceritakan bahwa sebulan sekali Axel akan melakukan pengobatan. Namun sampai sekarang belum ada perkembangan sedikit pun.


"Hei, tolong bantu aku!"


Terdengar teriakan Axel dari dalam ruang yang tadi dimasukinya. Rachel masuk dan melihat laki-laki itu berdiri dengan dasi abu-abu di tangan kanannya.


"Aku tidak bisa pasang dasi sendiri." Laki-laki itu menyodorkan dasi di tangannya kepada Rachel.


Tanpa bicara, Rachel mengalungkan dasi itu di leher Axel. Dia bisa melihat bibir laki-laki itu merengut masam, namun imut di matanya.


"Ada lagi yang perlu saya bantu, Tuan Muda?" tanya Rachel setelah selesai dengan urusan dasi.


"Tidak," balas Axel singkat dan langsung berlari keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Rachel yang menghela napas pelan dan mengelus dada.


Rachel menyusul keluar dan melihat Axel sedang memegang hp miliknya. Laki-laki itu kemudian menoleh dan melempar hp itu pada Rachel. Gadis itu langsung menangkapnya dengan sebelah tangan dan memeriksa layar hpnya yang memperlihatkan nomor baru yang diberi nama "SULTAN" yang dicapslock.


"Aku mau sarapan di kantor saja." Laki-laki itu berjalan keluar kamarnya, kembali meninggalkan Rachel yang sudah bak pengasuh laki-laki itu saja.


Sambil membawa tasnya, Rachel menyusul Axel yang sudah berada di tangga. Mereka berjalan beriringan menuju pintu di mana sudah terlihat tiga mobil hitam di pelataran rumah.


Rachel sudah memakai alat komunikasi di telinganya yang terhubung dengan semua bodyguard Axel yang berjumlah 40 orang itu. Di mana mereka semua akan selalu melindungi Axel dari dekat ataupun jauh. Yuda memang tidak main-main menjaga keselamatan putranya.


Rachel menjalankan mobil setelah mobil yang berisi bodyguard di depan mereka bergerak. Sedangkan Axel duduk santai di sampingnya, sedang mengemut lolipop yang tersedia sekotak di dashboard mobil.


"Bayaran saya sama besarnya dengan tanggung jawab yang saya emban, Tuan Muda." Rachel menoleh sebentar menatap Axel, kemudian dia kembali menatap lurus ke depan.


Tidak ada lagi pembicaraan setelahnya, Axel sibuk lagi dengan lolipop dan ponsel di tangannya. Entah apa yang dilakukan oleh laki-laki itu, namun wajahnya terlihat begitu serius.


Akhirnya tiba di perusahaan, di mana ini adalah induk dari Pratama Corp. Sebagai pewaris, Axel memimpin di sini. Sebelumnya laki-laki itu memimpin di cabang perusahaan yang pertama yang berada di luar negeri, di mana laki-laki itu juga melakukan pengobatan di sana.


"Anda harus menunggu saya sebelum keluar dari mobil," ucap Rachel setelah membuka sabuk pengaman.


"Kau mau ke mana?" tanya Axel sambil menahan lengan Rachel sebelum gadis itu keluar.


"Memastikan keamanan Anda." Rachel melepaskan tangan Axel dari lengannya dan segera keluar dari mobil. Dia berjalan dengan iringan suara tumit hells yang dia pakai menggema di basement tempat parkir itu.


Prannnkk.....


Suara pecahan kaca terdengar, Axel menggigit kukunya melihat ke arah belakang mobilnya yang terparkir. Di sana Rachel sedang menarik kerah baju laki-laki yang berada di dalam mobil.


Bodyguard yang tadi menggiring Axel segera turun dari mobil. Mereka hendak menolong, namun Rachel mencegahnya. Dia tidak suka bergantung pada orang lain. Jika dia bisa melakukannya sendiri, lalu mengapa harus menerima bantuan orang lain.


Rachel memukul wajah laki-laki sangar itu dengan kuat, darah langsung keluar dari hidungnya. Setelah membenturkan kepala laki-laki itu ke stir mobil hingga pingsan, Rachel mengelap darah di tangannya menggunakan baju laki-laki itu.


"Hapus rekaman CCTV dan urus laki-laki itu!" ujar Rachel pada bodyguard yang mengelilingi mobil. Setelah itu dia kembali ke mobil di mana Axel berada sambil memperbaiki jasnya yang sedikit berantakan.


"Silakan, Tuan Muda." Tangan yang tadi membuat tulang hidung laki-laki kekar itu patah, sekarang membukakan pintu mobil dengan santai.


Axel keluar dengan pelan, ekspresinya terlihat sedikit takut saat menatap Rachel. Laki-laki itu kemudian berjalan lebih dahulu menuju lift, sempat beberapa kali menoleh ke belakang sambil menggigit jari.


Rachel segera menyusul Axel yang sudah masuk ke dalam lift, untungnya dia bisa menahan pintu yang hampir tertutup. Rachel berdiri di samping Axel yang kemudian memberi jarak dari tubuhnya.


"Maaf jika saya membuat Anda takut, namun keselamatan Anda yang terpenting." Rachel sedikit membungkukkan tubuhnya ke arah Axel yang berada di pojok lift di samping tombol sebagai permintaan maafnya.


"Tidak apa-apa," ujar Axel pelan dan keluar setelah pintu lift terbuka. Ruangannya berada di lantai teratas, lantai 50. Gedung ini memang setinggi itu, menyamai kedudukannya di kerajaan bisnis dunia.


.


.


Mohon dukungannya 🤍


.


.