Husband Beyond Expectations

Husband Beyond Expectations
Kesan Pertama



Sebuah mobil sport putih melaju dengan kecepatan lumayan tinggi. Dikemudikan oleh seorang gadis cantik yang dibalut stelan jas hitam dan kemeja putih di dalamnya. Mobil mulai melambat dan berbelok memasuki gerbang besar dan tinggi yang terbuka.


Rachel memasang kacamata hitamnya dan keluar dari mobil. Ternyata sang Tuan Besar menyambutnya secara langsung. Mereka berjabat tangan sebelum masuk dan pergi ke ruang kerja Yuda.


"Aku senang kalau kau setuju untuk menjaga putraku," ujar Yuda tersenyum lebar hingga wajahnya yang mulai keriput itu makin mengkerut.


"Jika paman Jo yang merekomendasikan saya secara langsung kepada Anda, maka dengan senang hati saya menerimanya." Rachel tersenyum juga karena bisa merasakan Yuda itu orang yang baik. Dia menyimpan kacamatanya ke dalam tas hitamnya.


"Putraku itu memiliki sedikit kekurangan, di mana sikapnya dan otaknya berpikir seperti masih anak kecil. Sebelum ini, dia ada di luar negeri untuk pengobatan. Namun belum ada perubahan sama sekali. Aku memintanya kembali ke sini karena ingin selalu melihatnya sebelum aku tiada," jelas Yuda panjang lebar dengan mata yang berkaca-kaca. Rachel bisa melihat bahwa pria tua itu begitu menyayangi putranya.


'Jadi, bisa dibilang aku akan menjaga anak kecil, kan?'


"Rachel, ini adalah surat perjanjian kita." Yuda meletakkan map coklat di atas meja, di hadapan Rachel. Dia sedikit malu karena ekspresi sedihnya dilihat gadis di depannya.


Rachel membuka map itu dan membaca setiap untaian kalimat di beberapa helaian kertas itu. Perjanjian itu sama sekali tidak merugikannya, bahkan begitu menguntungkan. Namun, ini terlalu berlebihan menurut gadis itu.


"Ada beberapa poin yang menurut saya begitu berlebihan, yaitu tentang bayaran, fasilitas, dan tempat tinggal." Rachel meletakkan surat itu di atas meja dan menatap Yuda untuk meminta penjelasan.


Yuda memperbaiki duduknya dan menghela napas panjang. "Untuk tempat tinggal, aku benar-benar memaksamu untuk tinggal di sini. Aku mempunyai istri kedua dan sepasang anak darinya. Mereka sangat tidak menyukai Axel, jadi dengan adanya kau di sini aku bisa lebih tenang. Untuk bayaran dan fasilitas, aku rasa itu tidak terlalu berlebihan."


'Tidak terlalu berlebihan?'


"Tapi saya juga punya persyaratan, Tuan. Selama saya menjadi bodyguard tuan Axel, jangan pernah mempertanyakan setiap tindakan yang saya lakukan. Saya hanya bekerja untuk orang-orang yang menaruh kepercayaan sepenuhnya pada saya!" ujar Rachel serius.


"Tentu, aku sangat percaya padamu." Yuda langsung setuju.


Mereka menandatangani surat perjanjian itu. Di mana semua keperluan dan kebutuhan Rachel akan menjadi tanggungan Yuda. Dan masa kerja Rachel selama 2 tahun, semua tugas yang Rachel rasa seperti sekretaris pribadi. Serta persyaratan Rachel barusan sudah ditulis tangan oleh Yuda sendiri di kertas bagian belakang.


"Axel ada di kamarnya, mari." Yuda berdiri dan berjalan ke luar, diikuti Rachel di belakangnya.


Mereka berjalan menaiki tangga besar untuk menuju kamar laki-laki yang akan menjadi tanggung jawab Rachel. Tiba di depan kamar dengan pintu besar berwarna hitam, Yuda langsung membuka pintu itu dan mengajak Rachel masuk.


"Ternyata dia masih tidur," ucap Yuda pelan saat melihat tempat tidur.


Rachel melihat punggung laki-laki yang berbaring telungkup itu. Dia memutari ranjang agar bisa melihat wajah laki-laki itu. Rachel kemudian menarik selimut dan sedikit terkejut, pasalnya laki-laki itu hanya memakai celana boxer saja. Merasa matanya akan semakin ternoda, Rachel mundur dan menatap Yuda sebagai kode agar pria itu saja yang membangunkan putranya.


"Axel..." panggil Yuda sambil menggoyang-goyangkan tubuh putranya.


Laki-laki bernama Axel itu membalikkan badannya hingga perut kotak-kotak dan dada bidangnya membuat Rachel mengalihkan pandangan. Rachel sendiri sedikit heran, biasanya orang dengan kasus yang sama dengan Axel akan cuek dengan tubuhnya. Persis seperti anak-anak. Namun, kenapa laki-laki ini berbeda? Tubuhnya begitu sempurna, seperti begitu rajin berolahraga.


"Axel masih ngantuk, Yah!!" rajuk laki-laki itu sambil menendang-nendang udara dan wajah bantalnya yang kesal


Yuda memandang tajam anaknya itu dan mengambil gelas berisi air dari atas nakas. Dipercikkannya air itu pada Axel yang sempat kembali memejamkan matanya. Laki-laki itu langsung duduk dan merajuk lagi.


"Ayah jahat, Axel mau kembali ke luar negeri saja!" ucapnya marah dengan bibir mengerucut. Belum sadar bahwa ada seorang gadis di sana yang sekarang melipat bibirnya menahan tawa.


Rachel biasanya seperti tidak memiliki emosi dalam bekerja, namun kali ini dia begitu tergelitik oleh sikap laki-laki bernama Axel itu.


"Ayah, dia siapa? Dia mama ketiga Axel?" tanya Axel heboh ketika menyadari keberadaan Rachel.


Dia menatap sedih pada Yuda yang baru saja menghadiahinya sebuah pukulan di kepala belakangnya. Tentu saja Yuda kesal karena pertanyaan putranya tersebut.


Rachel sampai terbatuk tadi saking terkejutnya, mana mungkin dia mau menikah dengan pria tua.


"Dia bodyguardmu, kenalan sana!" titah Yuda masih kesal dan menunjuk Rachel dengan dagunya.


Axel dengan mata yang sebenarnya masih belum melihat secara jelas, turun dari tempat tidur dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Tidak menghiraukan perintah Yuda.


"Aku harap kau maklum akan sikapnya," ucap Yuda putus asa.


Akhirnya Yuda membawa Rachel ke ruang keluarga yang berada di lantai dasar. Tak seperti sebelumnya yang sepi, sekarang ada tiga orang beda usia dan gender di sana. Satu wanita yang mungkin berusia 50-an, satu gadis yang masih remaja, dan satu laki-laki yang seumuran dengan Axel.


Melihat kedatangan Yuda, mereka bertiga berdiri dan menatap heran pada Rachel yang berada di samping pria tua itu. Mereka kembali duduk setelah Yuda dan Rachel duduk di hadapan mereka.


"Siapa dia, Sayang?" tanya wanita yang ternyata adalah istri yang Yuda maksud tadi.


"Bodyguard Axel," jawab Yuda acuh tanpa menatap sang istri. Setelah itu wajah wanita yang tadinya ramah berubah menjadi tidak suka.


"Kak Axel udah punya puluhan bodyguard, Ayah. Kakak cantik ini buat Yuna aja, ya..." cerocos gadis remaja yang menyebut namanya Yuna. Dia tampak begitu bersemangat melihat Rachel.


"Tidak bisa, Yuna. Rachel memang khusus untuk Axel," ucap Yuda menatap hangat pada putrinya. Sangat berbeda jika pada istri dan anak laki-laki keduanya.


"Laki-laki lemah. Dia butuh berapa bodyguard lagi agar bisa hidup tenang?" ujar laki-laki yang ditaksir Rachel memang seusia Axel.


"Tuan muda Axel hanya perlu saya untuk memastikan keamanannya. Tampaknya Anda begitu kuat hingga menyebut pewaris keluarga ini lemah." Rachel tersenyum mengejek ke arah laki-laki itu. Dia bisa merasakan kalau laki-laki ini yang akan menimbulkan masalah pada Axel nantinya.


"Sialan kau!!" bentak laki-laki itu dengan mengebrak meja.


"Rion! Beraninya kau berbicara dengan suara keras di hadapanku!" ucap Yuda dengan suara menggelegar. Laki-laki yang bernama Rion itu langsung menunduk karena takut.


"Terlalu kuat, heh..." ejek Rachel lagi yang langsung membuat Rion berdiri dan hendak menamparnya.


Yuda hendak menahan, namun tangan Rachel lebih cepat. Dia menahan tangan Rion dan mencengkramnya dengan kuat hingga laki-laki itu meringis.


"Wanita brengsek! Lepas!" Rion berusaha menarik tangannya, namun cengkraman Rachel begitu kuat.


Yuda dan Yuna menatap takjub pada kekuatan Rachel. Wajah santai gadis itu memberi kesan bahwa dia jauh lebih kuat dari Rion yang sabuk hitam itu.


"Apa-apaan kau! Lepaskan putraku!" Istri Yuda berdiri dan berusaha melepas cengkraman tangan Rachel pada putranya.


Rachel melepaskan tangan Rion, dia tersenyum miring dan menepuk-nepuk kedua telapak tangannya.


"Sayang, aku tidak setuju wanita tidak sopan ini menjadi bodyguard Axel." Wanita itu protes pada Yuda dengan wajah dibuat mengiba.


"Aku tidak butuh persetujuanmu," balas Yuda dingin.


"Tapi, Sayang...."


"Wenny!!" bentak Yuda yang langsung membuat istrinya tersentak kaget dan menutup bibirnya rapat.


"Rachel akan tinggal di sini selama menjadi bodyguard Axel. Aku tidak memerlukan persetujuan kalian. Jika tidak setuju, keluar dari rumah ini!"


Wenny dan Rion tampak begitu kesal, namun jauh berbeda dengan Yuna yang tersenyum lebar mendengar bahwa Rachel akan tinggal di sini. Tampaknya gadis itu sangat menyukai Rachel.


"Ayo, ke kamarmu," ucap Yuda pada Rachel dan dia berdiri, diikuti Rachel.


"Yuna ikut!"


.


.


Mohon dukungannya🤍


.


.