Hurted

Hurted
Chapter 5



Lidia adalah seorang wanita ber-usia 29 thn yang hidup sebatang kara,sang ayah meningal karena tabrak lari saat ia ber-umur 11 thn dan ibu Nya meninggal 4 thn lalu karena stroke.


Lidia berprofesi sebagai jaksa umum yang diberi kewenangan dari pemerintahan sebagai


(1)penuntut terhadap seseorang yang berstatus terdakwa.


(2) melaksanakan penetapan hakim dan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.


(3) melakukan terhadap pelaksanaan putusan pidana bersyarat,putusan pidana pengawasan,dan keputusan bersyarat.


Hari ini diruangan Nya,Lidia tengah sibuk mempelajari tumpukan kertas dimana ia akan menangani kasus Mr wiratama yang ditemukan meninggal dalam kamar hotel bintang lima bersama wanita muda.


Awal nya Lidia berpikir kasus nya kali ini hanya seorang Wanita yang memilki skandal bersama Mr wiratama yang terkenal sebagai pengusaha Tekstil dan Kulit binatang yang sudah mengantongi izin dari pihak berwenang.


Wiratama berjabat sebagai komisaris sekaligus pemilik dan pendiri Perusahaan WTM yang berpusat dijakarta bergerak di industri Fasio. yang mendesain Tas,ikat pinggang,jaket dan sepatu berbahan kulit bintang asli.


Kulit binatang sengaja dikembang biakan sendiri berada di kalTim(Balik papan). (penangkaran buaya,peternak ular,domba,kambing,sapi,dan kelinci)lalu Kulit Nya dikirim ke jakarta dimana pabrik WTM Akan Mengolah Nya menjadi Barang dengan harga jual tinggi.


Wiratama juga Retailer sukses dengan 50 toko tersebar di setiap negara.


dan seorang investor jenius keuangan yang berinvestasi diperusahan lain lewat investasi saham dibidang industri teknologi,Farmasi,perbankan, dan hiburan dengan saham 57 % rata² di setiap perusahaan yang diinvestasi kan.


Tapi Pikiran Lidia berubah setelah Ia dipanggil ke ruang pimpinan (Jaksa Agung).


Didalam ruangan pimpinan,Lidia dikenalkan dengan seorang pria paruh baya yang berprofesi sebagai Asisten Wiratama.


(Tok,,Tok,,Tok) Jaksa agung:"Masuk.


Lidia masuk ke ruang pimpinan Nya dan melihat pria paruh baya seumuran dengan pimpinan Nya duduk di sofa bersama Pimpinan Nya.


JakGung:" Dia adalah jaksa yang menangani Kasus Mr wiratama, nama Nya adalah Lidia".(Menoleh ke Lidia memperkenalkan dengan isyarat tangan )


Alvero:"Senang bertemu anda Nona Lidia perkenal kan nama saya Alvero dan saya adalah asisten Tuan wiratama."(Mengulur kan tangan sambil tersenyum)


Lidia:"Senang bertemu Anda Tuan Alvero".(Menjabat uluran tangan Alvero dengan Ramah)


Alvero:"Niat saya kemari,karena Saya berharap Kejaksaan adil untuk memberi hukuman yang berat terhadap Tersangka yang membunuh Tuan Saya Wiratama.(Tukas Alvero the to poin)


Lidia:"Tentu saja.tapi kewajiban saya sebagai jaksa hanya berkewajiban sebagai penuntut terdakwa atas bukti yang ada,dan semua keputusan berada di tangan hakim."


Alvero:"Saya paham maksud anda nona Lidia,Anda hanya perlu memberikan tuntutan seberat mukin untuk pembunuh tuan saya Wiratama.(Tegas Alvero kembali)


JakGung:"Anda tidak perlu khawatir tuan Alvero,itu adalah tanggung jawab kejaksaan untuk penuntut dan meng-uraikan bukti² kesalasalahan Terdakwa juga memberi keadilan terhadap Korban, dan keluarga Korban yang ditinggalkan.


Alvero:"Terima kasih,kalau begitu saya akan pamit."(Ucap Alvero sedikit membungkuk)


Setelah Alvero pergi Jaksa Agung memberi


saran dan peringatan untuk Lidia.


JakGung:"Kali ini kita dihadap kan dengan tuan Wiratama yang dikenal sebagai pengusaha ternama di indonesia,Jadi kamu harus Hati² menangani kasus ini..karena saya yakin Putra tunggal Tuan Wiratama tak akan puas jika menyerahkan kasus ini begitu saja kepada aparat Hukum.


Lidia:"Saya mengerti Maksud Anda dan saya akan melakukan tugas saya dengan sebaik² Nya.(Membungkuk sedikit menghadap pimpinan lalu undur diri dari ruangan.)


.


.


.


Setelah dari ruang Pimpinan,Lidia dan sekretaris Nya bernama Lala mendatangi Dokter Forensik yang mengidentifikasi Korban(Tuan Wiratama) di rumah sakit kepolisian.


Sekarang mereka(Lidia dan Lala,juga dokter Opik pria paruh baya ahli DNA forensik bersama 2 penyidik pria) berda di kamar mayat.


Lidia:"Bagai mana hasil identifikasi jenazah dan Tkp."(Tukas Lidia melihat penyidik dan dokter)


DokPol Opik memberi kan Kertas hasil Pemeriksaan visum dari jenazah.


Lidia:"Lalu Bagai mana TKP.?"(Tanya Lidia melihat penyidik)


Penyidik 1:" Kami menemukan Vas yang di gunakan untuk memukul Korban, juga sisa air digelas sudah diberi obat tidur(Zaleplon) dan berdasarkan kesaksian tersangka dia mengatakan bahwa Adik Nya yang bernama Sartika memberi minum ke tersangka."


Penyidik 2:" Sekarang Sartika berstatus menjadi saksi,dan kami juga masih menyelidki Keluarga Tersangka.(Sambil menyerah kan Bukti Nota pembelian obat,copy cctv hotel,Foto Vas bunga dan foto segelas air.)


Lidia:"Baiklah saya akan membawa ini.terimakasih Dr opik,kalau begitu saya permisi.(senyum ramah meinggalkan Dr Opik pergi bersama 2 penyidik dan Lala)


Lala:"Mba Lidia Dr. Opik Kok diam aja,Bisu Ya?"(Sambil mengekori Lidia)


Lidia Diam dan menatap Lala :"Apa kau pernah menemui doter bisu!"(Geram Lidia)


Lala hanya mengeleng:"Tidak,.tapi sudah berapa kali kita bertemu Dr. Opik dan saya belum pernah mendengar Dr Opik berbicara,seharus Nya sebagai Dokter,beliau harus menerangkan sejelas² Nya pada kita hasil pemeriksaan visum dari jenazah."(keluh Lala)


Baru saja Lidia ingin mecerca Lala, tapi kedua Detektif menjelaskan ke Lala:"Dr.Opik memang irit bicara tapi semua yang ingin kamu tahu sudah berada di laporan Nya yang begitu detail, mulai dari hal sepele sampai yang amat terpenting Karena Dr.Opik tak akan melewat kan Nya."(Jelas penyidik 2)


Lala:"Benar kah..?


Lidia:"Kamu kembalilah duluan ke kantor,Aku harus menemui tersangka!"(Ucap Lidia meninggal kan Lala dan 2 polisi yang menyelidiki kasus wiratama.)


.


.


.


Diruangan interogasi Lidia memperhatikan Khirani, entah mengapa jauh didalam diriNya ada rasa yang ia pun Tidak mengerti dengan perasaan Nya sendiri.


Lidia merasa rindu dan ingin memeluk Khirani padahal ia baru bertemu dan tidak mengenal Khirani sebelumNya juga rasa iba.Saat Lidia melihat dua manik coklat terang Khirani mengingat kan Nya pada Mendiang sang Ayah yang meninggal saat ia ber-umur 11 thn.


Lidia datang membawa Bungkusan berisi 2 kotak makanan :"Apa kau sudah makan.?Akh,maksud Ku,karena Aku Lapar jadi lebih baik kita makan dulu biar punya tenaga saat menginterogasi Mu nanti..dan Aku tak mau Kau mati kelaparan saat interogasi berlangsung,karena menahan lapar."(Jenaka dengan senyum)


Khirani hanya tersenyum tulus,bagi Nya Lidia adalah orang yang baik..walau Khrani tahu Lidia akan meyudut kan Nya di perisidangan.


Sembari menikmati makan Lidia mencoba memulai obrolan"Siapa yang menjadi pengacara Mu?"(Selidik Lidia sambil mengambil aqua untuk minum)


Khirani mengeleng pelan dengan senyum tipis sambil mengunyah makanan.


Lidia:"Kenapa Kau tak menghubungi seorang pengacara untuk membela?"(Menatap Khirani dengan Heran)


Khirani:"Aku tak mengenal siapa pun pengacara dan tak akan mampu membayar." (Kata Khirani degan senyum tipis)


Khirani hanya tersenyum ramah yang ia bisa berikan terhadap Lidia, karena bagi Khirani Lidia sudah ia anggap sebagai teman pertama Nya.


Lidia berpikir keluarga Khirani bukan lah orang tak mampu, apa lagi hanya untuk menyewa pengacara itu bukan lah satu hal yang akan membuat keluarga Nya jatuh miskin,tapi kenapa khirani mengatakan tak mampu menyewa pengacara.,alasan yang sangat tak masuk akal pikir Lidia.


Lidia mengetik tombol off dibawah meja, untuk mematikan layar monitor yang terhubung diluar ruang interogasi.


Lidia mencoba berbicara pelan:"Bukan kah alasan Mu tak masuk akal,?jika Kau mengatakan tak ada yang bersedia menjadi pengacara Mu,mungkin Aku akan lebih percaya."


Mengingat kekuasaan keluarga Wiratama tentu membuat pengacara berpikir dua kali untuk mengambil Kasus membela Khirani yang menjadi tersangka atas kematian Wiratama.


Lagi² Khirani tersenyum walau sebenar Nya perasaan Nya Pilu berada dalam kondisi buruk, dengan keluarga yang tak menghiraukan diri Nya.


Pasrah, YA,,hanya pasrah pada nasip,hanya itu yang bisa Khirani lakukan sekarang.


Ia bersyukur Seorang Lidia dengan jabatan Jaksa bisa membuat Nya tenang,Bagi Khirani Lidia adalah orang ramah dan baik pada diri Nya selain Bi Ana dan Pak Adi.


Khirani:"Sebagai seorang jaksa Kau sangat baik karena mengkhawatir kan Ku yang berstatus tersangka..Bukan kah tugas mu mencari kesalahan Ku dan menuntut ku agar aku di hukum seberat mukin."(Senyum pahit)


Lidia :"Anggap saja Kau beruntung karena Aku yang menangani kasus Mu."(Sambung Lidia dengan senyum)


Melihat senyum dari Khirani hati Lidia merasa ngilu,ia tahu banwa senyum Khirani hanya topeng untu menutupi sakit dan sedih didalam hati Khirani,,membuat Lidia semakin Iba terhadap Khirani.