Hurted

Hurted
Chapter 1



"Ya Tuhan aku mohon,buka kan pintu hati keluarga Ku agar mereka bisa menerima dan menyangi diriku".


Doa Itu selalu menjadi kebiasaan ku setiap malam sebelum tidur dengan berharap, hari esok akan lebih baik dari sebelum Nya.


💐💐💐


Seorang ibu yang melahirkan bayi mungil nan cantik namun keberadaan nya tidak diinginkan siapa pun.


bayi mungil itu tumbuh menjadi gadis yang cantik tanpa pernah merasa kehangatan dan kasih sayang keluarga,terutama sang Bunda yang melahir kan diri nya ke muka bumi bahkan memandang dengan tatapan jijik.


Berbeda sekali perlakuan Bunda(Azrina) dan Ayah(Purnawan) kepada sang adik yang selalu dimanja dan mendapat kasih sayang dari keluarga seperti saat ini, Sang adik (Sartika 15 thn)sedang makan malam bersama Bunda dan sang Ayah .


Seorang Gadis dari kejauhan memperhatikan keluarga Nya tengah makan malam bersama diisi dengan obrolan dan tawa kecil.


Terlihat seperti keluarga bahagia namun orang diluar tidak ada yang tahu, bagai mana perih nya hati seorang gadis yang berumur 18 thn menjalani kehidupan Nya selama ini, hanya ada air mata,caci maki dan hukuman dari sang Bunda sedangkan sang Ayah hanya acuh, seakan-akan tak melihat saat Bunda memukul Ku.


"Nona Khirani kita makan malam dulu nanti non sakit."Tegur Bi Ana mengajak Ku untuk kedapur, makan malam bersama dengan pak Adi sebagai supir sekaligus suami Bi ana.


Yaaa mereka seperti keluarga Ku, karena mereka yang menceamas kan dan merawat ku selama 18 tahun ini.


Aku Khirani anak pertama dari keluarga Purnawan kusuma tapi keberadaan Ku seperti kotoran yang ditutup rapat-rapat dari kehidupan luar.


Tak ada yang mengenal ku selain keluarga dan pekerja di rumah mewah yang ku diami selama bertahun-tahun ini.


Rumah tempat diamana Aku beranjak dari tahun ke tahun menerima perlakuan buruk dari keluarga Ku sendiri.Disaat anak lain bersekolah aku harus membersih kan rumah yang besar ini jika Aku menolak,Bunda tak akan segan untuk mencambuk dan mengikat Ku di gudang.


Setiap kesalahan yang aku perbuat hanya berakhir dengan hukuman dari Bunda, etah tidak diberi makan atau makan-makanan sisa mereka, sudah menjadi hal biasa selama ini.


Sartika sebagai adi ku bahkan tak segan-segan mengadukan Ku pada Bunda agar Aku menerima hukuman, yang lebih menyakit kan lagi Ayah hanya melihat Bunda dan Sartika saat meghukum Ku, tanpa membela atau menghentikan mereka menyiksa Ku.


Cerita ku di mulai dari pertama kali Bunda dan ayah memanggil ku dengan sebutan ANAK KU.


"Apa nyonya memanggil Ku."Tutur Ku sopan dengan menunduk,jika kalian mempertanyakan, kenapa aku memanggil wanita yang melahir kan ku dengan sebutan nyonya, itu karena Bunda tak ingin Nama Nya keluar dari mulut Ku yang dianggap kotor.


"Duduk lah nak, kemari."Ucap Bunda lembut sambil menepuk sofa.


Deg,,ingin air mata ku keluar saat ia memanggil ku dengan sebutan NAK terdengar lembut ,yang selama ini tak pernah aku dapat kan dari Nya.


"Terimakasih nyonya saya berdiri saja."jawab ku kembali.


"Ka Khirani duduk bareng Aku sama bunda sini." Sartika merangkul membawa ku duduk di sofa.


Ada apa dengan mereka kenapa mereka memperlakukan Ku sebaik ini.


"Duduk lah Khirani,ada yang ayah ingin bicarakan."


Saat Ayah telah bersuara aku baru berani duduki sofa mahal,yang selalu mereka sering katakan bahwa sofa dan barang yang berada di rumah ini jauh lebih berharga dari diri Ku.


"Ayah sudah menjodoh kan Mu dengan sahabat baik Ayah, minggu depan Kau akan menikah!"Ucap Sang Ayah tegas.


Aku meng-ankat kepala Ku melihat Ayah dan Bunda, juga senyum sartika,Ku lihat sangat bahagia.


"Jadi ini alasan kalian memperlakukan ku baik saat ini."Lirih Ku menahan air mata.


"Kami tidak mengajak mu untuk berdiskusi tapi Kami meminta mu bersiap-siap karena seminggu lagi kau harus menikah dengan sahabat ayah Mu.!" Perkatan dari Bunda bagai ujung pisau yang menancap di dada Ku,tak terlihat namun mampu melukai Ku.


"Kenapa kalian tidak pernah menyangi Ku,,SEDIKIT SAJA.!"Dengan Suara lirih disertai butiran air mata tak dapat ku bendung lagi memperhatikan mereka yang kembali melihat Ku sinis.


"Bersedia atau tidak.!Kau harus menikah minggu depan.!!!"Tegas Sang Ayah lalu beranjak pergi bersama Bunda dan Sartika.