
Xiao Fan terbangun dari tidur nyenyaknya ketika sinar matahari menyentuh kulitnya.
Dia sebenarnya berniat tidur lebih lama lagi, tapi dia mengurungkan niatnya ketika mengingat hari ini di sekolahnya akan ada PAT ( Penialaian Akhir Tahun ), jadi dia tidak boleh terlambat.
Dengan malas dia beranjak ke kamar mandi untuk mandi sekaligus ganti baju.
Setelah selesai mandi dan ganti baju, dia membuat Sandwich sebagai sarapannya, sembari makan dia sesekali membaca novel untuk mengurangi kebosanannya.
”Apa orang ini gila?” Xiao Fan mengerutkan dahinya saat membaca salah satu novel bertema System.
Hal yang membuatnya terganggu adalah bagian dimana mc dari novel yang dia baca menikahi Systemnya sendiri. membuat dia langsung berhenti membaca novel dan melanjutkan sarapan paginya.
Tak berselang lama, seorang laki-laki yang terlihat sebaya dengan Xiao Fan datang menghampirinya.
”Seperti biasa masakanmu selalu menggugah selera.” Dia tersenyum kepada Xiao Fan lalu duduk berhadapan dengannya.
Nama orang itu adalah Ni Juang, saudara angkat Xiao Fan. berbeda dengan tampang Xiao Fan yang seperti laki-laki tampan yang ramah dan baik hati, Ni Juang merupakan kebalikannya, terlihat seperti laki-laki tampan yang suka memainkan wanita dan nakal, meskipun kenyataannya memang begitu.
Mereka berdua memang sudah akrab dari kecil, keduanya juga sama-sama anak yatim piatu dan beruntung bisa mendapatkan orang tua angkat yang baik.
Biasanya Xiao Fan dan Ni Juang akan makan bersama kedua orang tua angkatnya, tapi mereka saat ini memiliki urusan di luar kota dan akan kembali beberapa hari lagi.
”Fan...Kau belum belajar kan?”
"Sudah, lagipula hari ini kan matematika...tak terlalu sulit juga.”
Ni Juang tersedak Sandwich mendengar itu, dia cukup yakin hanya Xiao Fan yang berani bilang seperti itu di sekolah mereka, padahal sekolah mereka merupakan salah satu sekolah elit di negeri ini dan setiap ujian mata pelajarannya amatlah sulit terutama matematika.
”Sudah, daripada banyak bicara lebih baik kau habiskan sarapan mu.”
Ni Juang mengangguk lalu mempercepat makannya.
**
Dalam perjalanan menuju sekolah, Ni Juang terus mengoceh tentang hubungan asmaranya dengan salah satu bunga sekolah yang kandas karena dirinya ketahuan selingkuh.
Xiao Fan hanya bisa menggeleng kepala pelan sambil mendengarkan cerita Ni Juang.
’Apasih yang dipikirkan oleh orang-orang ini? Ah sudahlah, bukan urusanku juga.’
Mereka berdua terus berjalan sampai tiba di depan jalan besar, di depannya sudah ada bangunan megah yang bertingkat-tingkat, itu adalah tempat Xiao Fan dan Ni Juang bersekolah.
”Fan, apa cuma perasaanku saja...Tapi jalan depan sekolah hari ini terasa ramai sekali ya?” Ni Juang menelan ludahnya ketika melihat mobil dan kendaraan bermotor lainnya yang tak terhitung jumlahnya melintas di depan mereka.
”Perasaanmu saja, memang jalanan di kota besar selalu seperti itu...Mungkin...”
”Mungkin?!”
”Sudah, tak usah khawatir, selama kita berhati-hati pasti aman.”
”Ya, aku berharap begitu.”
Mereka berdua menyeberang setelah merasa aman untuk menyeberang, dengan penuh kewaspadaan mereka menyeberang.
Meskipun pada akhirnya mereka terjebak di tengah kemacetan itu.
”Sial, harusnya aku pakai motor saja hari ini!” Ni Juang mulai berteriak layaknya orang gila.
Meskipun dia terlihat tenang, sebenarnya Xiao Fan khawatir apakah mereka bisa kembali menyeberang dalam waktu dekat, sepertinya akan memakan waktu sampai tengah hari jika mereka ingin jalanan lebih sepi dan menyeberang.
”Kita sudah terlambat.” Xiao Fan menghela nafas panjang, sementara muka Ni Juang memucat, membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya.
”Apa yang harus kita lakukan sekarang, kau punya ide Juang?”
”Kalau kau tak tau, aku harus bertanya pada siapa!”
**
Tak terasa sudah beberapa menit mereka terjebak di kemacetan, mereka dari tadi menunggu di bagian tengah jalan yang biasa di tanam tanaman maupun rerumputan.
Ni Juang semakin lesu saja, sementara keringat dingin sudah membasahi punggung Xiao Fan.
”Kita tak bisa berlama-lama lagi, nekat saja.”
”Kau benar Fan, ayo!”
Mereka bisa menyeberang sejauh beberapa meter dengan aman, semakin lama mereka semakin dekat dengan tujuan.
Tapi, suara klakson mobil yang hendak menabrak Ni Juang mengangetkan keduanya, Ni Juang berusaha untuk menghindarinya tapi dia terlambat menyadarinya.
”Juang!”
Untungnya Xiao Fan mendorongnya ke depan, jadi Ni Juang selamat. tapi Xiao Fan membayar dengan mahal, yaitu dia yang ditabrak oleh mobil itu sampai terdengar suara beberapa tulang yang patah.
”Fan!” Ni Juang berlari menuju Xiao Fan yang terbaring di aspal dengan berlumuran darah, di saat yang bersamaan pengendara mobil yang menabraknya langsung melarikan diri.
Orang-orang di sekitar juga mulai berkumpul di sana, ada salah satu dari mereka yang menelfon ambulans dan meminta Ni Juang untuk tenang dan membiarkan Xiao Fan menunggu di tempat yang lebih aman.
Tapi Xiao Fan menolaknya.
”Tak perlu repot-repot, tabrakan tadi langsung menghancurkan tubuh bagian bawahku.” Xiao Fan berusaha tersenyum.
”Apa kau gila! Kau ingin mati?” Ni Juang meninggikan suaranya, rasanya tak rela dia membiarkan saudaranya itu mati begitu saja, setidaknya mereka harus mencoba untuk menyelamatkannya.
Tak peduli dengan perkataan Xiao Fan, Ni Juang membawanya menuju ke ruang Uks.
Semua murid-murid yang melihat keduanya memberi reaksi yang beragam, tapi Ni Juang tak mempedulikannya.
Untungnya saat sampai di Uks, ada banyak perawat yang berkumpul di sana, jadi Xiao Fan langsung ditangani oleh mereka sementara Ni Juang menunggu di sebelah Xiao Fan.
Ni Juang sempat ditanyakan oleh beberapa orang tentang kronologi dari kejadian itu, tapi dia menolak untuk memberitahukannya selain kepada para perawat dan guru yang terlibat.
**
Saat Xiao Fan sadar, dia sudah berada di ruangan yang asing dengan infus yang terpasang di tangannya.
”Ini...dimana.” Xiao Fan ingat terakhir kali dirinya berada di jalan.
”Kau sudah sadar!”
Suara parau seseorang menyadarkan Xiao Fan, saat dia menoleh ke sumber suara dia bisa melihat laki-laki tampan berambut hitam yang memakai seragam sekolah, dia segera mengenalinya sebagai saudara angkatnya, Ni Juang.
Ni Juang terlihat sangat senang ketika Xiao Fan siuman. dia mulai menceritakan kejadian-kejadian yang dilewatkan Xiao Fan, seperti salah satu gadis tercantik di sekolah mereka yang mengkhawatirkan kondisi Xiao Fan, rumor mengatakan bahwa gadis itu memang sudah lama menyukai Xiao Fan.
Xiao Fan hanya bisa tersenyum canggung mendengar kabar itu, dia tidak pernah tertarik pada yang namanya percintaan setelah kejadian beberapa tahun lalu yang menimpanya.
”Oh iya, beristirahatlah...Dokter bilang kau harus banyak istirahat dan makan setelah operasi, aku pergi dulu!” Ni Juang melambaikan tangannya sebelum keluar dari ruangan itu, sekarang Xiao Fan sendirian di dalamnya, hanya ditemani bel kecil di sampingnya.
Tadinya dia pikir dirinya sudah tak terselamatkan, mengingat luka yang ia derita sangat parah, bahkan bisa benar-benar membuat nyawanya melayang kalau tidak di selamatkan Ni Juang.
”Apa yang telah kulakukan, aku hampir saja membunuh diriku sendiri.” Xiao Fan terpikir kembali perkataannya sebelum kehilangan kesadarannya, kalau saja Ni Juang menurutinya maka dirinya saat ini bisa dipastikan sudah tidak bernafas lagi.
Xiao Fan waktu itu tidak bisa berfikir jernih, meskipun dia merasa sedikit aneh karena rasanya bukan dia yang berbicara itu.
Tak ingin terlalu memikirkannya lagi, Xiao Fan menengok ke arah meja di sampingnya dan mendapati medali berwarna hijau dengan berbagai corak.
Di bagian depannya bertuliskan huruf china kuno yang berarti ’Takdir' dan di bagian belakangnya bertuliskan ’Surga'.
”Ini peninggalan orang tuaku.” Xiao Fan tentu saja mengenali medali itu, satu-satunya barang yang ditinggalkan oleh orang tua kandungnya ketika dirinya ditemukan oleh para pengurus panti.
”Sampai hari inipun, aku tak mengetahui wajah mereka.” Terdapat kesedihan yang mendalam terlihat dari sinar mata Xiao Fan.
Xiao Fan kemudian mengambil medali hijau itu, kata orang tua angkatnya ini merupakan sebuah giok yang dibuat dan diukir sedemikian rupa sehingga terlihat begitu indah.
”Le-”
Perkataan dan nafas Xiao Fan terhenti ketika melihat medali giok itu berubah menjadi abu berwarna hijau saat dia menguatkan genggamannya.
Beberapa saat kemudian abu-abu itu memancarkan cahaya terang dan mengelilingi Xiao Fan.
Ditambah dengan setelah mereka mengelilingi Xiao Fan, dirinya melayang setinggi beberapa meter di atas kasur.
”Apa-apaan, seseorang tolong!” Xiao Fan berteriak sekuat tenaganya, tak peduli dengan tenggorokannya yang masih sakit.
**
Ni Juang berniat untuk menghubungi orang tua mereka setelah keluar dari ruangan Xiao Fan.
Dia berjalan menyusuri lorong rumah sakit sampai tiba di balkon, dia menatap pemandangan kota metropolitan yang ramai, lalu sesekali menghela nafas panjang.
Dia menelfon nomor ibunya, berharap mereka akan segera ke sini setelah mendengar kabar Xiao Fan.
”Halo bu.”.
”Ada apa anakku sayang? Tumben kamu nelpon ibu, biasanya anak gadis.”
Ni Juang tersenyum pahit, ibunya memang suka menggodanya seperti ini dengan nada bercanda, dan biasanya dia akan tertawa, tapi untuk kali ini dia terdiam.
”Kenapa nak? Kok kayak lemes gitu?”
”Bu...” Ni Juang ragu untuk mengatakannya, takut bagaimana ibu dan ayahnya akan bereaksi selanjutnya.
”Bilang aja nak, kalau kamu mau apa ibu beliin, gausah malu-malu.”
”Sebenarnya...Fan kecelakaan...”
”Hah!? Fan yang mana?”
”Xiao Fan lah bu, mana mungkin aku telfon ibu kalau yang kecelakaan yang lain.”
”Hah! serius kamu?”
Nada ibunya mulai meninggi, tak terdengar lagi nada bicaranya yang santai.
”Iya bu, Fan sama Juang lagi di Rumah Sakit XX.”
”Seseorang, tolong!”
Suara teriakan mengagetkan Ni Juang, dan itu tidak sekali melainkan berkali-kali, dia langsung mencari arah suara dan mendapati itu dari kamar dimana Xiao Fan berada.
”Kenapa nak?!”
”Tunggu sebentar bu!” Ni Juang langsung berlari ke arah kamar Xiao Fan. Hanya untuk menemukan kamar itu kosong.
”Xiao Fan...Hilang?” Wajah Ni Juang memucat, dia segera mengabari itu ke ibunya dan para petugas rumah sakit.